Pada prosedur tubektomi, tuba falopi akan ditutup atau dipotong
Tubektomi dilakukan dengan menutup atau memotong tuba falopi

Apa itu tubektomi?

Tubektomi adalah operasi yang melibatkan pemotongan atau penutupan tuba falopi agar tidak terjadi pembuahan pada sel telur. Prosedur yang dikenal juga dengan sterilisasi ini merupakan salah satu bentuk metode kontrasepsi permanen untuk mencegah kehamilan.

Pada kondisi normal, sel telur akan dilepas dari ovarium dan akan diam di dalam tuba falopi selama beberapa hari. Di tuba falopi inilah, sel telur bertemu dengan sperma dan pembuahan terjadi.

Dengan dilakukannya tubektomi, sperma tidak dapat bertemu dengan sel telur sehingga kehamilan dapat dihindari.

Setelah prosedur ini dilakukan, proses ovulasi (keluarnya sel telur dari ovarium) dan menstruasi tetap berlanjut seperti biasa hingga waktu menopause tiba.

Kenapa tubektomi diperlukan?

Tubektomi adalah operasi sterilisasi (KB permanen) yang paling sering dilakukan pada wanita. Karena operasi ini akan mencegah terjadinya kehamilan secara permanen, pasien tidak memerlukan jenis KB lainnya.

Tubektomi juga dapat mengurangi risiko kanker ovarium. Akan tetapi, prosedur ini tidak dapat mencegah infeksi menular seksual.

Siapa yang membutuhkan tubektomi?

Tubektomi disarankan oleh dokter apabila:

  • Pasien tidak ingin memiliki anak di masa depan
  • kehamilan dapat membahayakan nyawa pasien.
  • Pasien memiliki kelainan genetik yang dapat diturunkan

Apa saja persiapan untuk menjalani tubektomi?

Sebelum tubektomi, beberapa persiapan yang bisa dilakukan meliputi:

  • Dokter akan melakukan pemeriksaan panggul dan pemeriksaan kesehatan secara
  • Dokter akan menjelaskan prosedur tubektomi pada pasien maupun pasangan.
  • Pasien perlu memberitahu dokter mengenai obat-obatan yang sedang dikonsumsi. Konsumsi beberapa jenis obat perlu dihentikan sebelum operasi.
  • Pasien perlu menginformasikan pada dokter mengenai alat kotrasepsi yang digunakan sebelum operasi dan kondisi medis yang dimiliki.
  • Pasien akan diminta untuk berpuasa (tidak makan dan minum) pada beberapa jam sebelum operasi.
  • Pasien akan diminta untuk mengenakan pakaian longgar dan nyaman pada hari operasi. Pastikan pula ada yang mengantar dan menjemput karena pasien tidak diizinkan berkendara setelah operasi.

Bagaimana prosedur tubektomi dilakukan?

Tubektomi umumnya membutuhkan waktu sekitar 30 menit dan dapat dilakukan dengan dua metode berikut ini:

1. Tubektomi dengan laparoskopi

Pada tubektomi dengan operasi laparoskopi, prosedurnya meliputi:

  • Infus akan dipasang untuk memasukkan cairan dan obat anestesi umum ke dalam tubuh pasien.
  • Selang juga akan dipasang pada tenggorokan pasien untuk membantu pernapasan selama operasi.
  • Dokter akan membersihkan area sayatan dengan cairan antiseptik, untuk mencegah infeksi.
  • Dokter kemudian membuat beberapa sayatan kecil pada perut pasien, tepatnya di dekat pusar.
  • Dokter akan memompa gas ke dalam perut pasien agar organ-organ di dalamnya terlihat lebih jelas.
  • Alat laparoskop akan dimasukkan melalui sayatan lain.
  • Dokter akan membuat sayatan kecil untuk mencapai tuba falopi.
  • Kemudian, tuba falopi pasien akan dijepit, diikat, dipotong, atau disumbat.
  • Sayatan-sayatan tersebut akan dijahit dan ditutup.

2. Tubektomi dengan sterilisasi histeroskopi

Jenis tubektomi ini dapat dilakukan di bawah pengaruh obat bius umum atau bius lokal. Prosedurnya berupa:

  • Dokter akan memasukkan alat bernama histeroskop ke dalam vagina dan leher rahim.
  • Dari dalam rahim, alat kecil akan diletakkan pada tuba falopi.
  • Jaringan parut akan terbentuk dan menyumbat tuba falopi.

Apa saja yang perlu diperhatikan setelah tubektomi?

Setelah tubektomi, dokter akan memantau kondisi pasien selama 15 menit hingga satu jam. Pemantauan ini bertujuan memastikan pemulihan dan tidak ada komplikasi yang terjadi.

Sebagain besar pasien dapat pulang ke rumah pada hari yang sama dengan prosedur, umumnya dua jam pascaoperasi tubektomi.

Pemulihan membutuhkan waktu sekitar dua hingga lima hari. Pasien akan diminta untuk kembali melakukan konsultasi dengan dokter setidaknya satu minggu setelah operasi.

Apa saja komplikasi tubektomi?

Tubektomi memiliki beberapa risiko komplikasi yang meliputi:

  • Kerusakan pada usus, kandung kemih, atau pembuluh darah besar
  • Reaksi alergi terhadap anestesi
  • Penyembuhan luka yang kurang baik atau infeksi
  • Nyeri panggul atau perut menetap
  • Kegagalan prosedur, yaitu munculnya kehamilan yang tidak diinginkan

Beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi setelah operasi meliputi:

Healthline. https://www.healthline.com/health/womens-health/tubes-tied
Diakses pada 23 Maret 2020

Planned Parenthood. https://www.plannedparenthood.org/learn/birth-control/sterilization
Diakses pada 23 Maret 2020

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/tubal-ligation/about/pac-20388360
Diakses pada 23 Maret 2020

 

Artikel Terkait

Morning after pill bukanlah obat aborsi. Cara kerjanya juga sangat jauh berbeda.

Morning After Pill, Pil Kontrasepsi "Darurat" untuk Suami-Istri

Levonorgestrel, atau yang sering disebut morning after pill, dianggap sebagai pil kontrasepsi “darurat”, yang hanya boleh diminum setelah berhubungan seksual tanpa pengaman. Pil ini tidak boleh rutin dikonsumsi.