Tubektomi

23 Mar 2020|dr. Levina Felicia
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Tubektomi adalah operasi penutupan tuba falopi sehingga tidak bisa hamilTubektomi adalah operasi penutupan saluran tuba falopi untuk mencegah kehamilan

Apa itu tubektomi?

Tubektomi adalah prosedur memotong dan menutup tuba falopi (saluran rahim) sebagai salah satu metode kontrasepsi bagi wanita yang bersifat permanen. Pada laki-laki, prosedur semacam ini disebut dengan vasektomi.

Tuba falopi berfungsi sebagai saluran yang menghubungkan indung telur (ovarium) dan rahim, sekaligus tempat bertemunya sel sperma dan sel telur untuk pembuahan. 

Jika saluran ini ditutup, sel telur tidak bisa menuju rahim dan sel sperma tidak bisa bertemu sel telur. Dengan demikian, kehamilan pun dapat dicegah secara permanen.

Meski begitu, wanita yang telah menjalani tubektomi tetap dapat menstruasi seperti biasa. Proses ovulasi (keluarnya sel telur dari ovarium) pun tetap berlanjut hingga waktu menopause tiba.

Tindakan ini dilakukan dokter spesialis kandungan

Siapa yang bisa melakukan tubektomi?

Biasanya, beberapa orang melakukan tubektomi karena beberapa alasan berikut:

  • Anda dan pasangan sudah yakin dan setuju untuk tidak memiliki atau menambah anak.
  • Anda dan pasangan ingin mencegah penyakit bawaan tertentu dalam keluarga, sehingga memutuskan untuk tidak memiliki anak.
  • Anda ingin menghindari kehamilan yang berisiko bagi kesehatan Anda.
  • Anda atau pasangan punya kelainan genetik yang tidak ingin diturunkan ke anak.
  • Tubektomi juga dapat mengurangi risiko kanker ovarium

Apa saja yang perlu diperhatikan sebelum menjalani tubektomi?

Sebelum menjalani tubektomi, ada beberapa hal yang perlu Anda pertimbangkan dan diskusikan, yaitu:

1. Ketahui risiko dan keuntungannya

Tubektomi, atau KB steril pada wanita, punya keuntungan utama, yakni praktis. Sebab, Anda tidak perlu jenis KB lain untuk mencegah kehamilan. 

Tingkat keberhasilan tubektomi pun paling tinggi dibandingkan metode kontrasepsi lainnya, yakni mencapai lebih dari 99%, sebagaimana disebutkan dalam Planned Parenthood

Meski begitu, ada risiko yang perlu Anda pertimbangkan. Sebagian besar steril pada wanita tidak dapat dibatalkan. 

Mengembalikan tuba falopi seperti semula mungkin bisa dilakukan tapi membutuhkan operasi besar dengan tingkat keberhasilannya yang sangat kecil. 

Oleh karena itu, Anda harus benar-benar yakin bahwa memang Anda dan pasangan tidak ingin memiliki anak.

  1. Tidak semua orang bisa menjalani tubektomi 

Meski proses steril pada wanita termasuk prosedur yang aman, tidak semua bisa menjalaninya.

Wanita hamil atau memiliki penyakit tertentu tidak dianjurkan melakukan KB steril ini. Selain itu, Anda juga tidak perlu melakukan tubektomi, bila pasangan Anda sudah menjalani vasektomi

  1. Pertimbangkan metode kontrasepsi lain

Sebelum menjalankan tubektomi, dokter biasanya akan mengajak Anda berdiskusi terlebih dahulu mengenai pilihan alat kontrasepsi yang lain. Ada beberapa pilihan kontrasepsi jangka panjang yang bisa digunakan, salah satunya KB spiral atau IUD.

Apa saja persiapan untuk menjalani tubektomi?

Sebelum tubektomi, beberapa persiapan yang bisa dilakukan meliputi:

  • Informasikan pada dokter mengenai alat kontrasepsi yang digunakan sebelum operasi dan kondisi medis yang dimiliki.
  • Dokter akan melakukan pemeriksaan panggul dan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh.
  • Dokter akan menjelaskan prosedur tubektomi pada pasien maupun pasangan.
  • Beri tahu dokter mengenai obat-obatan yang sedang dikonsumsi. Beberapa jenis obat yang dapat meningkatkan risiko perdarahan, seperti aspirin, warfarin, atau ibuprofen perlu dihentikan sebelum operasi. 
  • Berhenti merokok dapat membantu penyembuhan pascaprosedur lebih cepat. 
  • Pasien akan diminta untuk berpuasa (tidak makan dan minum) beberapa jam sebelum operasi dimulai.
  • Pasien akan diminta untuk mengenakan pakaian longgar dan nyaman pada hari operasi. Pastikan pula ada yang mengantar dan menjemput karena pasien tidak diizinkan berkendara setelah operasi.

Bagaimana prosedur tubektomi dilakukan?

Tubektomi dilakukan oleh dokter spesialis kandungan. Umumnya, prosedur ini membutuhkan waktu sekitar 30 menit dan dapat dilakukan dengan dua metode berikut ini:

1. Tubektomi dengan laparoskopi

Pada tubektomi dengan laparoskopi, prosedurnya meliputi:

  • Infus akan dipasang untuk memasukkan cairan dan obat anestesi umum ke dalam tubuh pasien.
  • Selang juga akan dipasang pada tenggorokan untuk membantu pernapasan selama operasi.
  • Dokter akan membuat beberapa sayatan kecil pada perut pasien, tepatnya di dekat pusar.
  • Dokter akan memompa gas ke dalam perut pasien agar organ-organ di dalamnya terlihat lebih jelas.
  • Alat laparoskop akan dimasukkan melalui sayatan lain.
  • Dokter akan membuat sayatan kecil untuk mencapai tuba falopi.
  • Kemudian, tuba falopi pasien akan dijepit, diikat, dipotong, atau disumbat.
  • Sayatan-sayatan tersebut akan dijahit dan ditutup.

2. Tubektomi dengan minilaparotomi 

Metode minilaparotomi biasanya dilakukan tepat setelah persalinan, baik secara normal maupun caesar. Jenis tubektomi ini dapat dilakukan di bawah pengaruh obat bius umum atau bius lokal

Berikut ini proses tubektomi yang dilakukan tepat setelah persalinan: 

  • Dokter akan membuat sayatan kecil di dekat pusar. Pada wanita yang menjalani operasi caesar, dokter akan menggunakan sayatan yang telah dibuat sebelumnya untuk mengeluarkan bayi. 
  • Dokter akan menarik tuba falopi untuk dijepit, diikat, dipotong, atau disumbat. 
  • Tuba falopi akan dimasukkan kembali ke tempatnya dan sayatan akan ditutup dengan jahitan. 

Selain dilakukan tepat setelah proses persalinan, metode ini juga direkomendasikan untuk pasien yang memiliki riwayat operasi perut atau panggul, infeksi panggul, serta obesitas.

2. Tubektomi dengan sterilisasi histeroskopi

Jenis tubektomi ini dilakukan melalui panggul atau leher rahim. Umumnya tidak membutuhkan sayatan ataupun obat bius dalam pengerjaannya. 

Langkah tindakan histeroskopi meliputi:

  • Dokter akan memasukkan alat bernama histeroskop ke dalam vagina dan leher rahim.
  • Dari dalam rahim, alat kecil akan diletakkan pada tuba falopi.
  • Jaringan parut akan terbentuk dan menyumbat tuba falopi.

Apa saja yang perlu diperhatikan setelah tubektomi?

Setelah tubektomi, dokter akan memantau kondisi pasien selama 15 menit hingga satu jam. Pemantauan ini bertujuan memastikan pemulihan dan tidak ada komplikasi yang terjadi.

Sebagian besar pasien dapat pulang ke rumah pada hari yang sama dengan prosedur. Umumnya, dua jam pascaoperasi tubektomi. Selama di rumah, pasien perlu melakukan beberapa hal berikut:

  • Merawat luka bekas operasi dengan benar. Jaga agar area sayatan tetap kering selama beberapa hari. Ikuti instruksi dokter tentang perawatan mandi dan berpakaian.
  • Kurangi aktivitas setelah pembedahan. Anda sebaiknya beristirahat total selama 24 jam setelah pembedahan.
  • Hindari aktivitas berat selama seminggu, seperti olahraga yang membutuhkan mengangkat beban berat atau pekerjaan berat. 
  • Sebaiknya tidak melakukan hubungan seksual terlebih dulu selama setidaknya selama satu hingga dua minggu
  • Anda dapat makan dan minum seperti biasanya. 
  • Rasa nyeri atau tidak nyaman di area operasi adalah hal yang normal, dokter mungkin akan meresepkan pereda nyeri untuk mengatasinya. 
  • Anda mungkin mengalami nyeri bahu selama beberapa hari. Berbaring sebentar dapat mengurangi rasa sakit ini.
  • Secara bertahap melanjutkan aktivitas normal seperti biasanya. Mulailah dari aktivitas yang ringan dalam 2-3 hari setelah prosedur tubektomi selesai. 

Pemulihan membutuhkan waktu sekitar dua hingga lima hari. Pasien akan diminta untuk kembali melakukan konsultasi dengan dokter setidaknya satu minggu setelah operasi. Akan tetapi segera periksakan ke dokter jika Anda mengalami beberapa gejala seperti berikut:

  • Terjadi perdarahan di area operasi
  • Demam dan muncul ruam
  • Kesulitan bernapas
  • Rasa nyeri di perut yang tak kunjung hilang
  • Keluar cairan berbau tidak biasa dari vagina. 
  • Pingsan 

Perlu diingat, prosedur tubektomi hanya berperan sebagai alat kontrasepsi. Tindakan ini tidak dapat mencegah infeksi menular seksual. Jadi, jika Anda atau pasangan memiliki penyakit menular seksual dan ingin berhubungan seksual, penggunaan kondom tetap diperlukan.

Apa saja efek samping tubektomi?

Steril pada wanita atau tubektomi memiliki beberapa risiko komplikasi dan efek samping. Berikut adalah beberapa efek samping KB steril pada wanita:

  • Kerusakan pada usus, kandung kemih, atau pembuluh darah besar
  • Reaksi alergi terhadap anestesi
  • Penyembuhan luka yang kurang baik atau infeksi
  • Nyeri panggul atau perut menetap
  • Kegagalan prosedur, yaitu munculnya kehamilan yang tidak diinginkan
  • Kehamilan ektopik

Kondisi-kondisi di atas bisa meningkat jika Anda pernah memiliki riwayat operasi panggul atau operasi perut, obesitas, dan diabetes.

penggunaan kbkanker ovariumkontrasepsi

Planned Parenthood. https://www.plannedparenthood.org/learn/birth-control/sterilization
Diakses pada 23 Maret 2020

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/tubal-ligation/about/pac-20388360
Diakses pada 22 November 2021

Verywellhealth. https://www.verywellhealth.com/mini-laparotomy-906945
Diakses pada 22 November 2021

Verywellhealth. https://www.verywellhealth.com/is-tubal-ligation-a-safe-procedure-3522620
Diakses pada 22 November 2021

Hopkins Medicine Center. https://www.hopkinsmedicine.org/health/treatment-tests-and-therapies/tubal-ligation
Diakses pada 22 November 2021

Chapel Hill Obgyn. https://chapelhillobgyn.com/blog/best-options-for-permanent-birth-control/
Diakses pada 22 November 2021

Women’s Health Journal. https://journals.sagepub.com/doi/full/10.2217/whe.15.69
Diakses pada 22 November 2021

Planned Parenthood. https://www.plannedparenthood.org/learn/birth-control/sterilization/what-can-i-expect-if-i-get-tubal-ligation
Diakses pada 22 November 2021

Planned Parenthood.
https://www.plannedparenthood.org/learn/birth-control/sterilization/how-effective-tubal-ligation
Diakses pada 22 November 2021

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email