Tes tekanan darah perlu bantuan stetoskop pada lipatan siku pasien
Dokter akan meletakkan stetoskop pada lipatan siku pasien sambil mengukur tensi

Apa itu tes tekanan darah?

Tes tekanan darah adalah pemeriksaan dengan alat khusus bernama sphygmomanometer, yang bertujuan mengukur tekanan pada pembuluh darah arteri ketika jantung berdenyut. Tes ini biasanya dilakukan sebagai bagian dari pemeriksaan dokter rutin guna mendeteksi adanya tekanan darah tinggi (hipertensi).

Tekanan darah merupakan salah satu tanda vital yang dapat menggambarkan fungsi tubuh seseorang. Tanda vital yang terdiri atas tekanan darah, suhu tubuh, denyut jantung, dan pernapasan yang berada di atas atau di bawah angka normalnya menandakan gangguan pada kondisi kesehatan pasien.

Kenapa tes tekanan darah diperlukan?

Tes tekanan darah biasanya dilakukan sebagai bagian dari pemeriksaan rutin kesehatan. Pada pasien dengan kondisi medis tertentu, seperti tekanan darah yang meningkat, hipertensi, hipotensi, atau gangguan jantung, tekanan darah akan diperiksa secara khusus dan lebih sering.

Tekanan darah penting diperiksa karena kebanyakan pasien dengan tekanan darah tinggi maupun rendah tidak mengalami gejala apapun. Hipertensi dapat meningkatkan risiko penyakit serius, seperti serangan jantung dan stroke. Sementara tekanan darah rendah dan menyebabkan pusing dan pingsan pada beberapa pasien.

Siapa yang butuh tes tekanan darah dan seberapa sering frekuensinya?

Semua pasien berusia 18 tahun ke atas perlu melakukan tes tekanan darah secara rutin sebagai bagian dari medical check up. Berikut penjelasannya:

  • Bagi pasien berusia 40 tahun ke atas, tes tekanan darah perlu dilakukan satu kali setahun.
  • Pada pasien dengan risiko hipertensi, yaitu memiliki berat badan berlebih atau tekanan darah sistolik 130-139 mmHg atau tekanan darah diastolik 85-89 mmHg, tes tekanan darah perlu dilakukan satu kali setahun.
  • Untuk pasien berusia 18-39 tahun dengan tensi di bawah 130/85 mmHg dan tidak memiliki faktor risiko tekanan darah tinggi, tes tekanan darah perlu dilakukan 3-5 tahun sekali.
  • Pada pasien yang telah didiagnosis mengalami peningkatan tekanan darah, hipertensi, atau hipotensi, tes tekanan darah akan dilakukan lebih rutin.

Apa saja persiapan untuk menjalani tes tekanan darah?

Sebelum melakukan tes tekanan darah, beberapa persiapan yang perlu dilakukan oleh pasien meliputi:

  • Beristirahat setidaknya 5-10 menit sebelum tes
  • Menghindari konsumsi kopi, merokok, dan beraktivitas berat (seperti olahraga) setidaknya 30 menit sebelum tes

Bagaimana prosedur tes tekanan darah dilakukan?

Dokter atau petugas medis akan menggunakan alat pengukur tekanan darah (sphygmomanometer), baik jenis elektronik maupun manual. Pada beberapa kondisi, dokter bisa menyarankan pasien untuk mengukur tekanan darah sendiri di rumah.

Secara umum, prosedur tes tekanan darah meliputi:

  • Pasien diminta duduk dengan tangan diletakkan di atas meja.
  • Petugas medis lalu memasang manset alat pengukur tensi di lengan pasien
  • Petugas medis kemudian meletakkan stetoskop pada lipatan siku pasien.
  • Setelah itu, petugas medis akan menekan balon karet sambil mengukur tekanan darah pasien.
  • Suara seperti dentuman akan terdengar di stetoskop dan menandakan tekanan darah sistolik.
  • Sesudah tekanan darah sistolik ditemukan, manset akan dikempeskan.
  • Angka ketika suara dentuman hilang menandakan tekanan darah diastolik.

Seperti apa hasil tes tekanan darah?

Hasil tes tekanan darah akan ditunjukkan dalam satuan milimeter per satuan raksa (mmHg) dalam dua angka. Angka ini disebut sistolik dan diastolik.

Angka pertama dikenal dengan tekanan darah sistolik, yakni tekanan darah pada pembuluh darah arteri ketika jantung berdenyut.

Sementara angka kedua dikenal dengan tekanan darah diastolik, yaitu tekanan darah pada pembuluh darah arteri di antara denyut jantung.

Menurut American Heart Association (AHA), ukuran tekanan darah diklasifikasikan sebagai berikut:

  • Normal: Di bawah 120/80 mmHg
  • Meningkat: Di antara 120-129 mmHg untuk tekanan sistolik dan di bawah 80 mmHg untuk tekanan diastolik
  • Hipertensi tingkat 1: 130/80 mmHg hingga 139/89 mmHg
  • Hipertensi tingkat 2: 140/90 mmHg atau lebih

Apa yang harus dilakukan bila hasil tes tekanan darah tidak normal?

Apabila hasil tes tekanan darah meningkat, dokter biasanya akan merekomendasikan terapi perubahan gaya hidup untuk menurunkan tekanan darah. Langkah-langkah modifikasi pola hidup ini bisa berupa:

Bagi pasien yang telah didiagnosis dengan hipertensi, obat-obatan penurun tekanan darah dari dokter mungkin diperlukan.

Apa saja yang perlu diperhatikan setelah tes tekanan darah?

Tidak ada hal khusus yang perlu diperhatikan setelah pemeriksaan ini dilakukan. Anda biasanya bisa langsung kembali beraktivitas dengan normal.

Apa saja efek samping tes tekanan darah?

Pada umumnya, tidak ada risiko serius yang ditimbulkan dari tes tekanan darah. Pasien mungkin akan merasa sedikit tidak nyaman ketika manset tensi menekan lengan, namun hal ini hanya berlangsung selama beberapa detik.

Pada beberapa pasien, bintik-bintik kemerahan tanpa rasa nyeri bisa muncul pada lengan tempat tes tekanan darah dilakukan. Bintik-bintik ini lebih sering terjadi pada pasien yang mengonsumsi obat pengencer darah jenis antiplatelet.

Mayo Clinic.https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/blood-pressure-test/about/pac-20393098
Diakses pada 18 Maret 2020

WebMD. https://www.webmd.com/hypertension-high-blood-pressure/guide/high-blood-pressure-tests
Diakses pada 18 Maret 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/how-to-check-blood-pressure-by-hand
Diakses pada 18 Maret 2020

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/blood-pressure-test/
Diakses pada 18 Maret 2020

Medline Plus. https://medlineplus.gov/ency/article/007490.htm
Diakses pada 18 Maret 2020

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/321429#checking-pressure-manually
Diakses pada 18 Maret 2020

Artikel Terkait

Perbedaan simvastatin dan atorvastatin sebagai obat penurun kolesterol antara lain berasal dari cara kerjanya.

Sama-sama Turunkan Kolesterol, Ini Perbedaan Simvastatin dan Atorvastatin

Meski sama-sama menurunkan kolesterol, pola kerja dan efek samping simvastatin dan atorvastatin sedikit berbeda. Anda pun harus jeli memahami perbedaan keduanya.