Tes IVA

Asam asetat dalam tes IVA dioleskan dengan swab panjang pada leher rahimSwab panjang digunakan untuk mengoleskan asam asetat ke leher rahim pada tes IVA

Apa itu tes IVA?

IVA test adalah kepanjangan dari inspeksi visual dengan asam asetat. Tes IVA ini bertujuan untuk mendeteksi dini kanker serviks.  

Sesuai namanya,  IVA test adalah pemeriksaan visual yang dapat dilakukan dengan mata telanjang dengan memanfaatkan asam asetat dalam prosesnya.

Asam asetat yang dioleskan ke jaringan serviks (leher rahim) dapat menyebabkan sel-sel abnormal di leher rahim berubah warna. Perubahan warna yang muncul bisa jadi tanda keberadaan sel kanker.

Meski sama-sama bertujuan untuk mendeteksi kanker leher rahim, IVA test berbeda dengan  pap smear. Pemeriksaan IVA dianggap lebih efisien karena tidak hanya dokter yang bisa melakukannya, tapi juga bidan ataupun tenaga kesehatan yang sudah mendapatkan pelatihan terkait pemeriksaan ini. 

Tes IVA juga dapat memberikan hasil yang lebih cepat dibandingkan pap smear, yakni sekitar 15 menit. Harganya pun lebih murah. 

Walau tingkat akurasinya tidak setinggi pap smear, pemeriksaan ini dianggap cukup baik untuk mendeteksi sel abnormal dengan tingkat akurasi mencapai 61%.  

Dengan segala kelebihannya, IVA test sering digunakan di negara-negara berkembang yang sumber dayanya masih terbatas. 

Siapa yang membutuhkan tes IVA?

Jenis kanker dengan kasus tertinggi pada perempuan adalah kanker payudara dan kanker serviks. Tes IVA dilakukan sebagai skrining untuk deteksi dini kanker serviks. Langkah ini dibutuhkan karena gejala kanker serviks stadium awal sering kali tidak begitu jelas. 

Pemeriksaan IVA dianjurkan pada perempuan berusia 20 tahun ke atas, terutama yang sudah pernah berhubungan seksual. Pasalnya, kanker serviks paling sering disebabkan oleh virus yang disebut human papillomavirus (HPV). Virus ini biasanya disebarkan melalui hubungan intim.

Pemeriksaan IVA setidaknya perlu dilakukan satu kali ketika seorang wanita memasuki usia 35-40 tahun. Setelahnya, tes ini bisa diulang setiap satu atau lima tahun sekali pada rentang usia 35-55 tahun.

 Di samping itu, IVA test perlu dilakukan oleh wanita berisiko kena kanker leher rahim. 

Sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena kanker serviks di antaranya adalah:

  • Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah karena transplantasi organ, kemoterapi, atau penggunaan jangka panjang kortikosteroid.
  • Memiliki anggota keluarga dengan riwayat kanker serviks.
  • Memiliki kebiasaan merokok dan sering berganti pasangan seksual. 
  • Terlalu muda saat berhubungan seksual pertama kali.
  • Memiliki riwayat infeksi menular seksual. 
  • Mengidap HIV

Syarat melakukan pemeriksaan IVA

Untuk melakukan pemeriksaan IVA, Anda harus memenuhi syarat berikut:

  • Termasuk ke dalam kelompok yang dianjurkan menjalani IVA test.
  • Tidak sedang hamil
  • Bagi para ibu yang baru melahirkan, pemeriksaan IVA bisa dilakukan setelah enam minggu pascapersalinan.
  • Tidak sedang menstruasi
  • Sudah pernah melakukan hubungan seksual
  • Tidak berhubungan seks 24 jam sebelum tes IVA

Tes IVA tidak perlu dilakukan pada wanita dengan kondisi:

  • Telah menjalani operasi pengangkatan rahim
  • Tidak memiliki tanda prekanker atau kanker pada pemeriksaan pascaoperasi.

Apa saja persiapan untuk menjalani tes IVA?

Persiapan yang dapat dilakukan sebelum menjalani pemeriksaan IVA meliputi:

  • Menentukan jadwal tes berdasarkan rekomendasi dokter atau petugas kesehatan terkait.
  • Memastikan bahwa menstruasi Anda sudah selesai ketika prosedur akan dilakukan
  • Menghindari hubungan intim pada 24 jam sebelum menjalani tes
  • Menginformasikan pada dokter bila Anda sedang hamil atau baru saja melahirkan

Bagaimana prosedur pelaksanaan IVA test?

Pemeriksaan IVA cenderung mudah, murah, dan cepat. Secara garis besar, cara pemeriksaan tes IVA dilakukan dengan langkah-langkah berikut:

  • Anda mungkin akan diminta untuk buang air kecil terlebih dahulu untuk mengosongkan kandung kemih.
  • Setelahnya, dokter akan meminta Anda berbaring atau berada dalam posisi duduk bersandar dengan kedua kaki terbuka lebar. 
  • Dokter akan mengevaluasi keadaan bagian luar kelamin dan melihat ada tidaknya cairan yang keluar dari vagina.
  • Dokter kemudian akan memasukkan spekulum untuk membuka dan menahan mulut vagina sehingga dokter dapat melihat leher dan mulut rahim.
  • Setelahnya, dokter akan mengusapkan semacam cotton bud yang sudah dicelupkan ke dalam larutan asam asetat 3-5% dan mengoleskannya ke permukaan jaringan serviks..
  • Dokter akan menunggu sekitar satu menit, lalu mengevaluasi ada tidaknya perubahan warna putih (acetowhite) pada area pengolesan.
  • Bila terdapat acetowhite, dokter akan mencatat lokasi, karakteristik tepi, dan ketebalannya.
  • Setelah pemeriksaan IVA selesai, spekulum akan dikeluarkan dari vagina dan pemeriksaan selesai.

Cara membaca hasil IVA test

Hasil IVA test bisa langsung diketahui beberapa saat setelah prosedur dilakukan. Ada tiga kemungkinan hasil yang dapat diperoleh, yaitu negatif, positif, dan diduga kanker serviks. Ketiganya dilihat dari berubah atau tidaknya warna jaringan serviks yang sudah diolesi larutan asam asetat.

Negatif (normal)

Hasil tes IVA yang negatif menandakan tidak ditemukannya bercak putih). Hal ini terlihat dari leher rahim yang tidak menunjukkan warna merah atau merah muda.

Artinya, tidak ditemukan sel prakanker atau kanker pada serviks Anda. Ini menandakan sel serviks (leher rahim) Anda dalam keadaan sehat.

Positif (abnormal)

Hasil positif pada IVA test menandakan keberadaan sel prankanker atau kanker serviks. Hasil tes positif ditandai dengan adanya bercak putih yang tebal pada leher rahim (acetowhite positif). 

. Dugaan akan semakin kuat bila ditemukan gejala lain di sekitar vagina Anda, seperti kutil kelamin dan bercak putih (leukoplakia).

Diduga kanker serviks

Hasil pemeriksaan ini mungkin saja karena acetowhite tidak terlihat jelas, tapi ada tanda peradangan lainnya. Bisa juga, dokter menemukan polip atau luka yang membutuhkan pengobatan.

Jika hal ini terjadi, dokter akan melakukan pengobatan terlebih dulu. Setelah gejalanya membaik, dokter akan mengulang tes agar hasilnya akurat. Dalam kasus lain, dokter mungkin saja merekomendasikan tes lanjutan untuk memastikan penyebab pastinya.

Apa yang harus dilakukan bila hasil IVA test positif?

Bila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya dugaan maupun positif kanker serviks, Anda mungkin harus menjalani pemeriksaan tambahan. Hal ini dilakukan untuk memastikan diagnosis kanker dan menghindari perawatan yang tidak perlu.

Tes tambahan yang mungkin direkomendasikan dokter adalah tes HPV (untuk mendeteksi keberadaan DNA virus di leher rahim), pap smear (untuk mendeteksi perubahan sel di leher rahim), atau biopsi

Dokter juga bisa menganjurkan tindakan penanganan jika memungkinkan. Misalnya, krioterapi untuk membekukan jaringan abnormal atau elektrokauterisasi guna membakar jaringan tersebut dengan energi panas dari aliran listrik.  

Apa saja efek samping pemeriksaan IVA?

Efek samping yang mungkin timbul setelah pemeriksaan IVA meliputi nyeri dan rasa tidak nyaman pada vagina atau perut bawah. Keluhan ini dapat berlangsung selama 1-2 hari setelah pemeriksaan. Ini bisa jadi disebabkan oleh penggunaan spekulum.

Apabila efek samping tersebut tidak kunjung hilang atau disertai keluhan lain, segera periksakan diri ke dokter

Berapa biaya tes IVA? 

Harga IVA test tentu bervariasi tergantung pada rumah sakit atau fasilitas kesehatan lain yang menyediakan layanan ini. Dilansir dari situs Kementerian Kesehatan Indonesia, Tes IVA dapat dilakukan di puskesmas dengan biaya maksimal Rp25.000.

Di samping itu pemeriksaan IVA  juga termasuk prosedur medis yang ditanggung oleh asuransi kesehatan (BPJS Kesehatan), selama memenuhi ketentuan dan indikasi medis yang telah ditentukan dokter.

kanker serviks

Kementerian Kesehatan RI. http://p2ptm.kemkes.go.id/artikel-sehat/penapisan-kanker-leher-rahim-lewat-kunjungan-tunggal-tes-iva
Diakses pada 26 Oktober 2021

Kementerian Kesehatan RI. http://p2ptm.kemkes.go.id/uploads/2016/10/Panduan-Program-Nasional-Gerakan-Pencegahan-dan-Deteksi-Dini-Kanker-Kanker-Leher-Rahim-dan-Kanker-Payudara-21-April-2015.pdf
Diakses pada 26 Oktober 2021

WHO. https://www.who.int/docs/default-source/searo/tobacco/trainees-handbook.pdf?sfvrsn=6778145d_2
Diakses pada 28 Mei 2020

Kementerian Kesehatan RI. http://p2ptm.kemkes.go.id/kegiatan-p2ptm/nusa-tenggara-timur/screening-iva-test-di-puskesmas-onekore-kabupaten-ende-provinsi-ntt
Diakses pada 26 Oktober 2021

National Library of Medicine. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/21326031/
Diakses pada 26 Oktober 2021

Alliance for Cervical Cancer Prevention. https://screening.iarc.fr/doc/RH_via_evidence.pdf
Diakses pada 26 Oktober 2021

WB Health. https://www.wbhealth.gov.in/NCD/uploaded_files/all_files/VIA_Module_NICPR.pdf
Diakses pada 26 Oktober 2021

Indian Journal of Community Medicine.
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4478664/
Diakses pada 26 Oktober 2021

Geneva Foundation for Medical Education and Research. https://www.gfmer.ch/ccdc/victest.htm
Diakses pada 26 Oktober 2021

BPJS Kesehatan. https://bpjs-kesehatan.go.id/bpjs/index.php/post/read/2017/555/Oppose-Cervical-Cancer-with-Early-Detection-IVA-Pap-Smear
Diakses pada 26 Oktober 2021 

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email