Tes HIV

26 Feb 2020|dr. Levina Felicia
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Ketika menjalani tes HIV, sampe darah Anda akan diambil oleh petugas medisTes HIV dilakukan dengan pengambilan sampel darah

Apa itu tes HIV?

Tes HIV adalah tes yang digunakan untuk memastikan seseorang terinfeksi HIV atau tidak. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan lewat tes darah, urine, maupun cairan mulut. Tidak hanya untuk diagnosis penyakit, dengan mengetahui hasil tes HIV juga dapat mengurangi risiko seseorang menularkan penyakit tersebut ke orang lain.

HIV atau human immunodeficiency virus merupakan virus yang dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan menyebabkan AIDS (acquired immunodeficiency syndrome).

Tes HIV bisa dilakukan menggunakan tiga metode, yaitu:

1. Tes asam nukleat

Tes asam nukleat bertujuan mendeteksi adanya materi genetik virus HIV dalam darah. Tes ini dapat mendeteksi HIV lebih cepat daripada jenis tes lainnya, sekitar 10 hari setelah pasien  terinfeksi.

Pemeriksaan asam nukleat cenderung mahal dan tidak rutin dilakukan sebagai tes skrining HIV. Biasanya, pemeriksaan HIV ini diberikan pada pasien berisiko tinggi terpapar HIV dan mengalami gejala awal infeksi HIV.

2. Tes antibodi

Tes ini bertujuan mendeteksi antibodi, yakni protein yang dihasilkan oleh tubuh untuk melawan infeksi HIV. Antibodi ini dihasilkan oleh tubuh dalam 2-8 minggu setelah seseorang terinfeksi.

Tes antibodi terdiri dari beberapa jenis yang meliputi:

  • ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay), yaitu tes menggunakan sampel darah yang akan dimasukkan ke wadah yang diberi antigen HIV. Jika ada antibodi HIV pada darah, darah akan diikat oleh antigen tersebut.
  • Rapid HIV test. Pada prinsipnya, rapid HIV test hampir sama dengan tes ELISA. Hasil rapid tes HIV dapat keluar lebih cepat, yakni sekitar 20 menit setelah tes dilakukan.  Namun, rapid HIV test memiliki tingkat akurasi yang rendah. Jadi, jika hasilnya reaktif, pasien disarankan melakukan tes lanjutan untuk memastikan diagnosis.
  • IFA (immunofluorescene antibody assay) adalah pemeriksaan menggunakan pewarna fluoresens untuk mengetahui ada tidaknya antibodi HIV. Tes ini memakai mikroskop.
  • Western blot yang dilakukan dengan memisahkan protein antibodi, tapi pemeriksaan ini sudah jarang digunakan.

3. Tes antigen/antibodi

Tes ini akan mendeteksi antibodi dan antigen HIV dalam darah Anda. Antigen adalah produk asing yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh teraktivasi.

Pada orang yang sudah tertular HIV, antigen p24 akan terbentuk dalam 2-4 minggu pascainfeksi, sebelum antibodi dihasilkan oleh tubuh.

Tes yang biasanya digunakan sebagai pemeriksaan awal atau skrining HIV adalah tes antibodi atau tes antigen/antibodi.

Kenapa tes HIV diperlukan?

Cara memastikan seseorang terinfeksi HIV adalah dengan pemeriksaan HIV. HIV merupakan virus yang dapat menyebabkan penyakit AIDS. Namun sebagian besar orang yang terinfeksi HIV tidak mengalami AIDS.

Penderita AIDS memiliki kekebalan tubuh yang sangat rendah, sehingga berisiko terkena penyakit yang mengancam nyawa. Mulai dari infeksi paru-paru hingga jenis kanker tertentu, seperti Kaposi sarcoma.

Jika HIV dideteksi sejak dini, Anda dapat memperoleh obat untuk menjaga sistem kekebalan tubuh Anda. Obat-obatan HIV ini bisa mencegah AIDS.

Siapa yang membutuhkan tes HIV?

Pemeriksaan HIV disarankan dilakukan setiap tahun, dan sebelum melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang baru. Khususnya jika memiliki kondisi-kondisi berikut:

  • Pernah berhubungan seksual tanpa pelindung, baik lewat vagina, mulut (seks oral), atau dubur (seks anal) dengan lebih dari satu pasangan seksual atau dengan pasangan yang tidak dikenal.
  • Pria homoseksual.
  • Menggunakan obat-obatan yang dimasukkan ke dalam pembuluh darah vena dengan jarum suntik, seperti steroid, hormon, silikon, atau obat-obatan terlarang.
  • Pernah didiagnosis mengidap tuberkulosis atau penyakit menular seksual (seperti hepatitis atau sifilis).
  • Pekerja seks komersial.
  • Pernah berhubungan seks dengan orang yang memiliki kondisi-kondisi di atas.

Tes ini juga perlu dilakukan pada orang yang:

  • Pernah mengalami kekerasan seksual.
  • Sedang hamil atau berencana hamil.

Seberapa sering Anda harus menjalani tes HIV?

Centers for disease control and prevention (CDC) merekomendasikan bahwa cek HIV sebaiknya dilakukan setidaknya satu kali pada orang berusia 13-64 tahun.

Sementara orang yang berisiko tinggi terinfeksi HIV perlu melakukannya setiap tahun. Sedangkan pria homoseksual dan biseksual disarankan menjalani tes HIV setiap 3-6 bulan sekali.

Apa saja persiapan untuk menjalani tes HIV?

Tidak ada persiapan khusus sebelum menjalani tes HIV. Namun, Anda perlu memperhatikan masa jendela HIV (window period of HIV). Masa jendela HIV adalah istilah yang menggambarkan berapa lama HIV bisa terdeteksi setelah berhubungan. 

Pada rentang waktu ini, tubuh akan membentuk antibodi dari sejak pertama kali virus menginfeksi.

Biasanya, masa jendela HIV berlangsung selama 10 hari hingga 3 bulan dari paparan awal sampai bisa terdeteksi oleh tes HIV. Sedangkan mengenai berapa lama periode jendela ini tergantung dari jenis tes HIV yang dijalani. Pasalnya, masing-masing tes HIV memiliki tingkat sensitivitas yang berbeda dalam mendeteksi virus.

Jika seseorang melakukan tes sebelum masa jendela HIV selesai, bisa jadi hasil negatif yang didapat adalah hasil negatif palsu. 

Oleh karena itu, Anda perlu berdiskusi dengan dokter mengenai jenis tes yang paling tepat untuk kondisi Anda. Informasikan juga pada dokter mengenai informasi kesehatan pribadi seperti penyakit yang diderita, terutama penyakit autoimun, leukemia atau sifilis serta obat-obatan, suplemen dan obat herbal yang dikonsumsi sebelum menjalani pemeriksaan HIV

Bagaimana tes HIV dilakukan?

Pengambilan darah untuk tes HIV harus dilakukan di klinik atau fasilitas kesehatan. Prosedur ini biasanya hanya berlangsung selama sekitar lima menit dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  • Tenaga medis akan mengambil sampel darah dengan jarum dari pembuluh darah vena di lengan pasien.
  • Petugas akan memulai tindakan dengan mengoleskan antiseptik untuk membersihkan kulit. Langkah ini penting untuk membantu mencegah infeksi.
  • Lengan Anda kemudian akan dibungkus suatu alat bernama tourniquet agar pembuluh darah terisi penuh. 
  • Lalu, petugas tersebut akan memasukkan jarum ke pembuluh darah Anda, darah kemudian akan mengalir melalui jarum masuk ke dalam tabung yang sudah disiapkan.
  • Pengambilan darah hanya akan memakan waktu beberapa menit. Setelah mengambil darah, teknisi akan memberikan tekanan untuk menghentikan perdarahan.
  • Petugas akan menempelkan plester ke area tusukan dan mengirim sampel darah Anda ke laboratorium untuk pengujian. 
  • Seorang spesialis laboratorium akan menganalisis sampel Anda.

Pada rapid HIV test, pengambilan darah dilakukan petugas dengan menusukkan alat khusus di jari pasien. Sampel ini kemudian ditempatkan pada kaca objek untuk diteteskan bahan kimia khusus yang akan dianalisis di laboratorium.

Seperti apa hasil tes HIV?

Hasil tes HIV terdiri atas:

Negatif atau normal

Hasil tes HIV negatif berarti Anda tidak terinfeksi HIV. Akan tetapi, hasil yang ditunjukkan bisa saja merupakan negatif palsu.

Hasil negatif palsu dapat muncul jika Anda melakukan pemeriksaan terlalu cepat. Artinya, Anda mungkin sedang terinfeksi, tapi antigen dan antibodi dalam tubuh belum terbentuk. Anda juga mungkin berada dalam masa inkubasi virus. Masa inkubasi adalah jeda waktu dari penularan sampai munculnya gejala.

Oleh karena itu, pasien dengan hasil tes HIV negatif umumnya disarankan untuk kembali melakukan tes HIV dengan jarak tiga bulan setelah tes pertama.

Positif

Jika tes HIV menunjukkan hasil positif, yaitu adanya antibodi HIV pada darah pasien, dokter akan melakukan tes lanjutan guna memastikan diagnosis. Jika tes lanjutan ini juga memberikan hasil positif, barulah Anda bisa dinyatakan positif terdiagnosis mengidap HIV.

Positif palsu

Hasil tes HIV positif palsu terjadi ketika seseorang yang tidak terinfeksi HIV mendapatkan hasil pemeriksaan yang positif. 

Hasil tes HIV positif palsu dapat terjadi karena beberapa hal, seperti:

  • Antibodi yang terdeteksi adalah jenis lain yang bukan antibodi terhadap HIV
  • Petugas salah menafsirkan hasil, biasanya hal ini terjadi karena hasil tes berada pada batas interpretasi alat uji.
  • Kesalahan administrasi, seperti kesalahan pelabelan sampel.

Apa yang harus dilakukan bila hasil tes HIV positif?

Hasil tes HIV positif tidak menandakan Anda otomatis terkena penyakit AIDS. Obat-obatan anti-HIV dapat diresepkan oleh dokter untuk mencegah terjadinya AIDS.

Itu sebabnya, dokter akan memulai pengobatan HIV dengan obat-obatan yang dikenal dengan antiretroviral therapy (ART). Di Indonesia, pengobatan ini juga dikenal dengan istilah terapi ARV (antiretrovirus).

ARV akan menurunkan jumlah virus dalam tubuh dan menjaga sistem kekebalan tubuh. Dengan ini, infeksi HIV tidak berkembang dan menimbulkan penyakit AIDS.

Menggunakan kondom saat berhubungan intim juga penting. Kebiasaan ini bisa mencegah penularan HIV maupun penyakit menular seksual.

Hasil yang positif sering kali akan membuat pasien terpuruk bahkan ada yang hingga mengalami depresi. Untuk itu, dokter akan memberikan penjelasan bahwa banyak pasien yang tetap bisa menjalani rutinitasnya dengan:

  • Menjalani ART
  • Menerapkan pola hidup sehat
  • Tidak berganti-ganti pasangan seksual
  • Bergabung dalam support group agar Anda bisa berbagi cerita dengan sesama penderita HIV.

Jika Anda telah memiliki pasangan (suami/istri) dan anak, mereka juga perlu menjalani tes HIV bersama Anda.

Apa saja yang perlu diperhatikan setelah tes HIV?

Pasien perlu berdiskusi dengan dokter atau tenaga medis terkait hasil tes dan pilihan metode pengobatan yang tersedia seandainya terdiagnosis mengidap HIV.

Anda juga bisa melakukan tes lainnya yang berkaitan dengan kondisi Anda, pemeriksaan penyakit menular seksual (seperti tes VDRL/TPHA) guna mengecek ada tidaknya infeksi sifilis, pemeriksaan TORCH, serta tes hepatitis.

Apa saja komplikasi tes HIV?

Risiko yang dapat terjadi setelah tes HIV sangat minim. Anda mungkin akan merasa sedikit nyeri atau memar pada lokasi pengambilan darah. Tetapi keluhan ini akan hilang dengan cepat.

hivpenyakit menular seksualaidsinfeksi menular seksual

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/hiv-testing/about/pac-20385018
Diakses pada 19 Oktober 2021

CDC. https://www.cdc.gov/hiv/testing/index.html
Diakses pada 19 Oktober 2021

WebMD. https://www.webmd.com/hiv-aids/hiv-aids-screening#1
Diakses pada 26 Februari 2020

Medline Plus. https://medlineplus.gov/lab-tests/hiv-screening-test/
Diakses pada 19 Oktober 2021

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/types-of-hiv-tests#types-of-test
Diakses pada 19 Oktober 2021

AIDS Info. https://aidsinfo.nih.gov/understanding-hiv-aids/fact-sheets/19/47/hiv-testing
Diakses pada 19 Oktober 2021

AIDS Map. https://www.aidsmap.com/about-hiv/false-positive-results-hiv-tests
Diakses pada 19 Oktober 2021

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email