Tes Herpes

11 Aug 2020|dr. Levina Felicia
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Tes herpes bisa dilakukan dengan mengambil sampel darah pasienTes herpes dapat dilakukan melalui sampel darah pasien

Apa itu tes herpes?

Tes herpes adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi dan mendiagnosis infeksi herpes simplex virus (HSV) atau virus herpes. Infeksi ini dapat menyebabkan luka atau gelembung kecil pada kulit yang terasa nyeri.
Secara umum, terdapat dua jenis infeksi HSV berikut ini:
  • HSV-1

Herpes simplex virus 1 juga dikenal dengan istilah herpes oral. Infeksi virus ini ditandai oleh sariawan atau bintil  kecil yang timbul di sekitar mulut penderita.
  • HSV-2

Herpes simplex virus 2 juga disebut herpes kelamin. Infeksi virus ini menyebabkan gejala berupa luka atau bintil kecil pada area kemaluan penderita.Virus herpes menyebar lewat kontak langsung dengan area yang terinfeksi. HSV-2 biasanya menyebar lewat hubungan seksual. Pada beberapa kasus, infeksi virus herpes juga dapat menular meski tidak ada luka yang nampak.Secara umumnya, infeksi virus herpes tidak menyebabkan masalah medis serius. Namun meski jarang, virus ini dapat menginfeksi bagian tubuh lainnya, termasuk otak dan sumsum tulang belakang.Herpes juga dapat ditularkan dari ibu pada bayinya selama persalinan. Infeksi virus ini bisa mengancam nyawa bayi yang baru lahir.Oleh karena itu, menjalani tes herpes sangatlah penting. Khususnya bagi orang yang memiliki risiko tinggi serta sebagai bagian dari pemeriksaan sebelum kehamilan.Tes herpes biasanya dilakukan dengan pengambilan sampel darah, jaringan pada luka herpes, atau cairan tulang belakang dan otak (serebrospinal). Jenis tes ini akan ditentukan oleh dokter berdasarkan gejala dan riwayat penyakit pasien.

Kenapa tes herpes diperlukan?

Tes herpes dibutuhkan untuk:
  • Mencari tahu apakah luka pada mulut atau kemaluan pasien disebabkan oleh infeksi virus herpes.
  • Mendiagnosis infeksi virus herpes pada wanita hamil.
  • Mendeteksi infeksi virus herpes pada bayi baru lahir.

Siapa yang membutuhkan tes herpes?

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), tes herpes tidak diperlukan bagi pasien yang tidak bergejala. Pemeriksaan ini direkomendasikan bagi pasien dengan kondisi-kondisi berikut:
  • Memiliki gejala herpes, seperti luka atau bintil kecil pada kemaluan dan bagian tubuh lainnya
  • Memiliki pasangan seksual yang mengidap herpes
  • Ibu hamil dan pasangan yang mempunyai riwayat penyakit herpes atau mengalami gejala herpes
  • Bayi yang lahir dari ibu dengan hasil tes herpes positif
Herpes simplex virus tipe 2 (HSV-2) dapat meningkatkan risiko HIV dan penyakit menular seksual lainnya. Karena itu, tes herpes juga perlu dilakukan bagi orang yang memiliki risiko tinggi mengalami penyakit menular seksual di bawah ini:
  • Orang yang mempunyai pasangan seksual lebih dari satu
  • Pria yang berhubungan seksual dengan sesama jenis
  • Orang yang memiliki pasangan seksual yang mengidap HIV atau penyakit menular seksual
Walau jarang terjadi, infeksi virus herpes dapat menyebabkan komplikasi serius, contohnya penyakit meningitis atau ensefalitis. Jadi tes herpes juga disarankan bagi pasien dengan gejala kedua penyakit ini.Beberapa gejala meningitis atau ensefalitis tersebut meliputi:
  • Demam
  • Kaku leher
  • Kebingungan
  • Sakit kepala hebat
  • Lebih sensitif terhadap cahaya

Apa saja persiapan untuk menjalani tes herpes?

Tidak ada persiapan khusus bila pemeriksaan herpes dilakukan dengan menggunakan sampel darah atau jaringan pada luka herpes. Namun jika tes ini membutuhkan prosedur pungsi lumbal, pasien akan diminta untuk buang air kecil dan buang air besar sebelum prosedur.

Bagaimana prosedur tes herpes dilakukan?

Pemeriksaan herpes bervariasi dan tergantung pada jenis tes yang disarankan oleh dokter. Berikut penjelasannya:

1. Pengambilan sampel jaringan pada luka herpes

Bila sampel yang digunakan adalah luka herpes, tes dilakukan dengan metode swab. Dokter akan mengambil cairan dan sel dari luka herpes untuk diperiksa di laboratorium.

2. Pengambilan sampel darah

Pada tes herpes ini, tenaga medis akan mengambil sampel darah dari lengan pasien dengan prosedur berikut:
  • Tenaga medis akan membersihkan area pengambilan darah dengan cairan antiseptik. Langkah ini bertujuam membunuh kuman di permukaan kulit.
  • Lengan atas akan diikat dengan torniquet agar aliran darah di lengan dapat terkumpul dan pembuluh darah vena mudah ditemukan.
  • Setelah vena ditemukan, darah akan diambil dengan cara menyuntikkan jarum steril ke pembuluh darah.
  • Tabung khusus kemudian dipasang di belakang jarum untuk menampung darah.
  • Ketika jumlah darah sudah cukup, jarum akan dilepas dan bagian yang disuntik akan ditutup dengan perban.
Prosedur pengambilan darah ini biasanya hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit. Pasien mungkin akan merasa sedikit nyeri saat jarum disuntikkan atau dilepaskan.

3. Pungsi lumbal

Bila dokter menduga infeksi herpes sudah menyebar hingga ke otak dan saraf tulang belakang, pungsi lumbal (lumbar puncture) akan dilakukan. Prosedur ini bertujuan mengambil sampel cairan serebrospinal dan dilakukan dengan cara:
  • Pasien diminta untuk duduk atau berbaring miring di meja pemeriksaan.
  • Area lumbal (punggung bawah) akan dibersihkan dengan cairan antiseptik.
  • Obat bius lokal kemudian disuntikkan.
  • Ketika pasien sudah merasa baal, jarum khusus akan dimasukkan menembus kulit di antara dua ruas tulang belakang.
  • Cairan serebrospinal akan mulai keluar dari jarum dan ditampung dalam tabung pemeriksaan.Tabung ini akan dibawa ke laboratorium untuk diperiksa lebih lanjut.
  • Dokter akan meminta pasien untuk berbaring selama 1-2 jam pascaprosedur untuk menghindari komplikasi berupa sakit

Seperti apa hasil tes herpes?

Hasil tes herpes dapat berupa:
  • Hasil negatif

Hasil negatif menandakan tidak adanya virus herpes dalam tubuh pasien. Namun harap diingat bahwa infeksi herpes masih mungkin dialami oleh pasien meski hasil tesnya negatif. Misalnya, ketika jumlah virus dalam sampel masih sangat sedikit hingga tidak terdeteksi. Apabila pasien kemudian mengalami gejala herpes, tes herpes perlu diulangi.
  • Hasil positif

Hasil positif menandakan adanya virus herpes dalam sampel yang diambil. Hasil ini dapat menunjukkan bahwa pasien memiliki infeksi yang sedang aktif atau pernah terinfeksi virus herpes.

Apa yang harus dilakukan bila hasil tes herpes positif?

Infeksi herpes tidak dapat disembuhkan, namun dapat dikendalikan. Bila hasil tes positif, dokter akan membantu pasien untuk mengendalikan gejala yang dialami dan memberikan obat antivirus.Obat-obatan juga akan diberikan untuk mencegah kambuhnya infeksi, meringankan gejala, dan mengurangi risiko penularan virus terhadap pasangan seksual pasien.

Apa saja yang perlu diperhatikan setelah tes herpes?

Tidak ada hal khusus yang diperhatikan setelah tes herpes. Pasien biasanya bisa pulang atau kembali beraktivitas.

Apa saja komplikasi tes herpes?

Risiko komplikasi tes herpes tergantung pada jenis pemeriksaan yang dilakukan. Berikut penjelasannya:
  • Pada pemeriksaan swab, tidak ada risiko yang berarti.
  • Pada pengambilan sampel darah, pasien mungkin akan merasa sedikit nyeri atau memar pada lokasi penusukan jarum. Keluhan ini akan hilang dengan sendirinya dalam beberapa hari.
  • Pada prosedur pungsi lumbal, pasien mungkin akan merasa nyeri di punggung tempat penusukan Pasien juga dapat merasa sakit kepala pascaprosedur.
herpesherpes genitalherpes simplex tipe 1
Lab Tests Online. https://labtestsonline.org/tests/herpes-testing
Diakses pada 11 Agustus 2020
WebMD. https://www.webmd.com/genital-herpes/herpes-tests-what-you-should-know#1
Diakses pada 11 Agustus 2020
Medline Plus. https://medlineplus.gov/lab-tests/herpes-hsv-test/
Diakses pada 11 Agustus 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email