Tes Garpu Tala

12 Mar 2020|dr. M. Helmi A.
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Tes garpu tala perlu dilakukan oleh orang yang mengalami gangguan pendengaran.Tes garpu tala bisa menemukan penyebab gangguan pendengaran yang Anda alami.

Apa itu prosedur tes garpu tala?

Tes garpu tala adalah prosedur pemeriksaan dengan menggunakan bantuan garpu tala, yang digunakan untuk mengevaluasi gangguan pendengaran. Tes ini bisa dilakukan dengan beberapa metode, yaitu Tes Rinne, Tes Weber, dan Tes Schwabah.
Tes Rinne dilakukan untuk memeriksa gangguan pendengaran dengan membandingkan hantaran melalui udara dengan hantaran melalui tulang. Sedangkan tes Weber dilakukan dengan membandingkan hantaran bunyi pada telinga kiri dan kanan. Sementara itu, tes Schwabah dilakukan dengan membandingkan hantaran bunyi pada telinga orang dengan gangguan pendengaran dengan telinga normal.

Mengapa prosedur tes garpu tala perlu dilakukan?

Tes garpu tala, baik Rinne, Weber, maupun Schwabah dapat mengidentifikasi penyebab gangguan pendengaran: gangguan pendengaran konduktif atau gangguan pendengaran sensorineural.Sebab, masing-masing jenis gangguan pendengaran tersebut memiliki tatalaksana berbeda. Beberapa penyebab gangguan pendengaran konduktif dan gangguan sensorineural yang menjadi indikasi dilakukannya tes garpu tala antara lain:
  • Infeksi, menumpuknya kotoran telinga, perforasi atau pecah gendang telinga, menumpuknya cairan di telinga tengah, dan kerusakan pada tulang-tulang kecil di telinga tengah yang menyebabkan gangguan pada hantaran bunyi dari telinga tengah ke telinga dalam.
  • Kerusakan pada saraf-saraf telinga (saraf pendengaran, sel rambut, dan rumah siput) yang dapat menyebabkan timbulnya gangguan pendengaran sensorineural. Paparan bising dan penuaan juga dapat menyebabkan timbulnya gangguan pendengaran sensorineural.

Apa yang harus dipersiapkan sebelum menjalani prosedur tes garpu tala?

Tidak ada persiapan khusus yang diperlukan sebelum menjalani prosedur tes pendengaran dengan garpu tala. Sebelum tes dilakukan, Anda akan mendapatkan instruksi dan pahamilah instruksi tersebut. Sebab, bila Anda tidak mengikuti instruksi yang diberikan, maka misinterpretasi hasil prosedur tes garpu tala dapat terjadi.

Apa yang akan dilakukan tim medis pada prosedur tes garpu tala?

Dokter akan menggunakan garpu tala dengan frekuensi 512-Hz untuk mengevaluasi fungsi respons Anda terhadap bunyi dan getaran di sekitar telinga.

Tes Rinne:

  1. Dokter akan menggetarkan garpu tala dan menempatkannya pada tulang mastoid di belakang telinga.
  2. Bila Anda sudah tidak dapat mendengarkan bunyi, beritahukan hal tersebut pada dokter.
  3. Dokter akan segera memindahkan garpu tala di dekat lubang telinga.
  4. Bila Anda tidak dapat mendengarkan bunyi, beritahukan hal tersebut pada dokter Anda.
  5. Dokter akan mencatat durasi Anda mendengar bunyi dari garpu tala pada setiap pemeriksaan.

Tes Weber:

  1. Dokter akan membunyikan garpu tala dan menempatkannya di tengah kepala Anda di daerah dahi, atas kepala, atau di antara hidung dan pipi.
  2. Anda akan diminta untuk menyebutkan telinga yang mampu mendengar bunyi denganpaling jelas: telinga kiri, telinga kanan, atau keduanya.

Tes Schwabach:

  1. Dokter akan menggetarkan garpu tala berfrekuensi 512 Hz dan meletakkan pangkalnya di puncak kepala pasien.
  2. Lalu, ujung tangkai garpu tala akan ditekankan ke prosesus mastoideus salah sati telinga pasien.
  3. Pasien akan diinstruksikan untuk mendengarkan suara tersebut hingga tidak terdengar apa-apa lagi dan mengacungkan jari saat suara mulai hilang.
  4. Setelah itu, dokter akan segera memindahkan garpu tala ke telinga orang yang pendengarannya normal dan membandingkan dengungan yang didengar.

Apa yang harus dilakukan setelah menjalani prosedur tes garpu tala?

Setelah tes dilakukan, dokter mungkin menyarankan Anda untuk untuk melakukan tes lain atau berdiskusi mengenai pilihan pengobatan yang perlu ditempuh.

Hasil apa yang didapatkan dari tes garpu tala?

Informasi hasil dari tes garpu tala dapat menentukan tipe tuli yang Anda alami.

Tes Rinne:

  • Pendengaran yang normal menunjukkan hantaran bunyi melalui udara lebih lama dua kali dibandingkan hantaran bunyi melalui tulang, atau Anda mendengar bunyi lebih lama bila garpu tala diletakkan di dekat lubang telinga, dibandingkan diletakkan di tulang mastoid.
  • Bila Anda menderita gangguan pendengaran konduksi, maka hantaran bunyi melalui tulang akan lebih lama dibandingkan dengan hantaran bunyi melalui udara.
  • Jika mengalami gangguan pendengaran sensorineural, maka hantaran bunyi melalui udara akan lebih lama dibandingkan dengan hantaran bunyi melalui tulang. Namun, perbedaan lamanya tidak sampai dua kali lipat.

Tes Weber:

  • Pendengaran dikatakan normal bila bunyi garpu tala terdengar seimbang di kedua telinga.
  • Anda dinyatakan mengalami gangguan pendengaran konduktif bila bunyi garpu tala terdengar lebih baik di telinga yang sakit.
  • Anda dinyatakan mengalami Gangguan pendengaran sensorineural, jika bunyi garpu tala terdengar lebih baik di telinga yang normal.

Tes Schwabach:

  • Pendengaran dikatakan normal apabila dengungan garpu tala yang tidak bisa didengar oleh pasien, juga tidak bisa didengar oleh orang yang pendengarannya normal.
  • Pendengaran dikatakan tidak normal apabila dengungan garpu tala masih dapat didengar oleh orang yang pendengarannya normal, sedangkan pada pasien dengungan tersebut tidak dapat didengar.

Apa saja risiko dari prosedur tes garpu tala?

Tidak ada risiko dari prosedur tes garpu tala Rinne, Weber, maupun Schwabah karena pemeriksaan ini bersifat noninavasif dan tidak menimbulkan rasa sakit.
gangguan pendengaraninfeksi telingatulitelinga
Healthline. https://www.healthline.com/health/rinne-and-weber-tests
Diakses pada 2 Maret 2020
British Society of Audiology. https://www.thebsa.org.uk/wp-content/uploads/1987/04/Recommended-Procedure-Tuning-Forks-2016.pdf
Diakses pada 2 Maret 2020
Acoustical Society of America. https://asastandards.org/Terms/schwabach-test/
Diakses pada 18 Januari 2021
Kementerian Kesehatan RI. http://bppsdmk.kemkes.go.id/pusdiksdmk/wp-content/uploads/2017/08/Praktikum-Biomedik-dalam-Keperawatan-Komprehensif.pdf
Diakses pada 18 Januari 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email