Tes Buta Warna

25 Jun 2020|Nurul Rafiqua
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Tes buta warna dilakukan melalui tes IshiharaTes buta warna dijalani dengan tes Ishihara

Apa itu tes buta warna?

Tes buta warna adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mengukur kemampuan pasien dalam membedakan warna.

Buta warna itu sendiri adalah suatu kondisi yang terjadi ketika seseorang tidak mampu melihat perbedaan di antara warna-warna tertentu. Terdapat dua jenis kondisi buta warna, yakni buta warna total (monochromacy) dan parsial.

Sesuai namanya, buta warna total membuat penderitanya hanya bisa melihat warna hitam, putih, dan abu-abu. Sementara itu, buta warna parsial menyebabkan penderitanya keliru mengenal suatu warna dengan warna yang lain. 

Buta warna parsial dibagi lagi ke dalam beberapa jenis, antara lain:

  • Buta warna merah-hijau (deuteranopia)
  • Buta warna biru-kuning (tritanopia)

Tes buta warna disarankan bagi seseorang yang merasa mengalami gangguan dalam membedakan atau melihat warna. Biasanya tes buta warna dilakukan ketika menjalani pemeriksaan mata rutin. 

Namun, banyak juga orang yang baru melakukan tes buta warna apabila hendak mendaftar ke suatu instansi. Beberapa profesi dan jurusan studi, seperti dokter, tentara, pilot, apoteker, atau desainer memang mensyaratkan pendaftarnya tidak boleh buta warna. 

Jenis-jenis tes buta warna

Ada beberapa jenis tes buta warna yang mungkin dilakukan untuk menilai kemampuan Anda dalam mengenali warna, yaitu:

1. Tes Ishihara

Tes Ishihara adalah salah satu tes buta warna yang paling sering digunakan. Umumnya, tes ini digunakan untuk mendeteksi buta warna parsial merah-hijau.

Pemeriksaan buta warna Ishihara dilakukan dengan menggunakan kartu berisi titik dengan warna tertentu dan kepadatan berbeda yang membentuk angka atau pola tersembunyi. Kartu-kartu ini disebut lembaran pseudoisokromatik (plate). 

Jika mengalami buta warna, pasien akan kesulitan untuk melihat beberapa angka atau pola tersebut.

2. Tes Farnsworth Munsell 100 Hue 

Tes Farnsworth Munsell adalah salah satu cara mengecek buta warna secara kuantitatif. Jadi, tidak hanya dapat mendeteksi kemampuan seseorang untuk mengenali warna, tapi juga bisa mengukur tingkat keparahannya. 

Pasien akan diminta untuk menyusun suatu palet warna berdasarkan gradien warna tersebut (hue). Jika pasien menempatkan suatu balok di urutan yang salah, kesalahan tersebut akan dihitung dan dianalisis hasilnya oleh software komputer.

3. Tes penyusunan warna (tes Dikotomi Farnsworth D-15)

Tes penyusunan warna D-15 ini merupakan versi singkat dari tes 100 Hue. Balok yang disediakan hanya berisi 15 keping dengan warna berbeda. Berbeda dengan tes Farnsworth Munsell, pemeriksaan ini tidak dapat mengukur tingkat keparahan buta warna yang diderita seseorang. 

Farnsworth Panel D-15 juga tidak memiliki sensitivitas sebaik Ishihara. Pasien dengan buta warna yang ringan mungkin dapat lulus pada pemeriksaan ini, walau sebenarnya tidak lulus pemeriksaan Ishihara.

4. Tes warna Cambridge

Tes ini sangat mirip dengan tes buta warna Ishihara, yakni dengan menggunakan gambar tes buta warna. Perbedaan di antara keduanya terletak pada media yang digunakan. 

Tes Cambridge tidak menggunakan lembaran kartu, tetapi layar komputer. Pasien akan diminta untuk mengenali huruf "C" yang memiliki warna berbeda dengan latar belakangnya. 

5. Tes Anomaloscope 

Anomaloskop adalah suatu alat mirip mikroskop yang digunakan untuk cek buta warna, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.  Pasien akan diminta untuk melihat lingkaran warna yang ada pada anomaloskop dan mencocokannya dengan lingkaran warna di sebelahnya dengan menggeser tombol yang disediakan agar warna yang ada di kedua sisi menjadi warna yang sama. Tes ini digunakan untuk mendeteksi buta warna merah-hijau. 

Tes anomaloskop biasanya dilakukan oleh petugas yang telah mendapatkan pelatihan khusus agar hasilnya valid. Pemeriksaan ini jarang dilakukan sebagai pemeriksaan mata rutin karena prosesnya cukup rumit dan durasinya panjang. Itu sebabnya, tes ini lebih sering digunakan dalam penelitian klinis.

6. Tes Hardy-Rand-Rittler (HRR)

Tes ini termasuk pemeriksaan yang menggunakan gambar untuk mengecek buta warna. Pemeriksaan ini dapat menentukan jenis buta warna parsial yang dialami. Pasien akan diminta untuk melihat sejumlah kartu yang diisi titik dengan warna dan bentuk seperti lingkaran atau segitiga. 

Tes HRR terdiri atas 4 bagian besar. Hasil pengujian dari masing-masing bagian dapat menentukan diagnosis kelainan warna yang seseorang miliki.

Siapa saja yang membutuhkan tes buta warna?

Tes buta warna diperlukan untuk semua orang yang bidang pekerjaannya membutuhkan persepsi warna yang akurat. Sebab, buta warna bisa saja memengaruhi pekerjaan.

Sebagai bagian dari pemeriksaan mata, tes buta warna perlu dilakukan jika seseorang memiliki anggota keluarga dengan riwayat buta warna.

Pasien yang mengalami perubahan dalam kemampuan melihat warna juga perlu berkonsultasi dengan dokter spesialis mata. Gejala ini dapat menandakan adanya kondisi medis yang lebih serius.

Selain itu, tes buta warna juga dibutuhkan bagi orang-orang yang akan memasuki bidang karir berikut ini:

  • Pilot
  • Dokter
  • Pemadam kebakaran
  • Angkatan laut
  • Militer
  • Montir listrik
  • Sopir umum
  • Apoteker
  • Penegak hukum
  • Polisi
  • Pengemudi truk
  • Koki
  • Perangkai bunga (florist)
  • Perancang
  • Desainer grafis
  • Desainer web
  • Desainer interior 
  • Pelukis
  • Insinyur atau yang berkecimpung di dunia teknik, terutama teknik kimia, listrik dan mesin di mana penglihatan berwarna sangat diperlukan.

Kondisi buta warna umumnya dimiliki sejak lahir. Oleh karena itu kebanyakan pasien tidak sadar bahwa dirinya mengalami buta warna.  Selain karena keturunan, beberapa faktor yang dapat menyebabkan buta warna adalah proses penuaan, obat-obatan atau penyakit tertentu, dan paparan terhadap zat kimia.

                     

Apa saja persiapan untuk menjalani tes buta warna?

Tidak ada persiapan khusus yang perlu dilakukan saat akan menjalani tes buta warna. Jika Anda menggunakan alat bantu penglihatan, seperti kacamata atau lensa kontak, Anda perlu tetap menggunakannya selama pemeriksaan. 

Sebelum pemeriksaan dimulai mungkin dokter akan mengajukan pertanyaan terkait obat-obatan atau suplemen yang sedang dikonsumsi, kondisi medis yang sedang diderita, dan riwayat buta warna dalam keluarga.

Bagaimana tes buta warna dilakukan?

Dokter spesialis mata akan melakukan pemeriksaan buta warna dengan cara berikut:

Tes Ishihara

Tes dilakukan dalam ruangan dengan pencahayaan cukup terang (biasanya di siang hari) dengan sinar matahari langsung. Prosesnya singkat dan tidak memerlukan banyak waktu. 

Dokter akan melakukan tahapan berikut: 

  • Pasien akan diminta untuk duduk tegak di kursi.
  • Dokter akan menunjukkan serangkaian kartu yang berisi pola berbentuk titik-titik aneka warna. Terdapat angka atau simbol di dalam pola tersebut.
  • Pasien akan diminta untuk menyebutkan angka atau simbol tersebut. Penderita buta warna akan mengalami kesulitan dalam membedakan pola dengan angka atau simbol tersebut.
  • Dokter mungkin akan meminta pasien memberi deskripsi intensitas warna yang dilihat oleh satu mata dan mata lainnya. Hal ini dilakukan karena pasien mungkin mengalami gangguan dalam melihat intensitas warna.
  • Satu set gambar dalam tes Ishihara biasanya berjumlah 38. Beberapa versi tes Ishihara memiliki gambar yang lebih sedikit (24,14, dan 10 plates). Umumnya, Anda akan diberikan waktu tidak lebih dari tiga detik untuk mengenali masing-masing gambar. 

Tes Farnsworth Munsell 100 Hue 

Tes dilakukan dalam ruangan dengan pencahayaan memadai. Proses dan waktu prosedur ini umumnya lebih panjang dan lama dari tes dengan menggunakan gambar. 

Pada prosesnya, dokter akan melakukan tahapan berikut: 

  • Pasien akan diminta untuk duduk tegak di kursi.
  • Pasien akan diminta untuk menyusun balok yang memiliki warna berbeda hingga membentuk suatu gradasi. Balok tersebut harus disusun ke dalam empat baris kotak panel, masing-masing baris diisi 25 balok warna.
  • Kotak panel pertama berwarna merah hingga hijau kekuningan, panel kedua dari warna hijau kekuningan hingga hijau toska, panel ketiga dari hijau toska ke ungu kebiruan, panel keempat dari biru keunguan hingga merah. 
  • Dokter mata akan meminta pasien menyusunnya dalam urutan pelangi, misalnya dari merah ke ungu.
  • Jika pasien menempatkan suatu balok di urutan yang salah, kesalahan itu akan dihitung dan dijumlahkan menjadi suatu data. 
  • Data tersebut kemudian akan dianalisis oleh sebuah software. Semakin tinggi skor kesalahan yang didapat, kemungkinan pasien itu mengalami gangguan penglihatan warna juga semakin besar. 
  • Jenis buta warna juga bisa diketahui dengan bantuan software tersebut dengan cara memetakan spektrum warna yang salah susun. 

Tes penyusunan warna (tes Dikotomi Farnsworth D-15)

Farnsworth Panel D-15 merupakan pemeriksaan modifikasi dari Farnsworth-Munsell 100 hue. Langkah pemeriksaannya meliputi:

  • Pasien akan diminta untuk duduk tegak di kursi.
  • Pemeriksaan Farnsworth Panel D-15 terdiri dari sebuah kotak dengan 16 buah balok warna-warni. 
  • Dokter akan meletakkan satu balok warna sebagai referensi, kemudian pasien akan diminta untuk menyusun 15 balok warna lainnya berdasarkan urutan gradasi dari balok referensi.
  • Pemeriksaan ini biasanya lebih singkat. Rata-rata pasien dapat menyelesaikan pemeriksaan ini dalam waktu dua menit.

Tes warna Cambridge

Tes warna Cambridge dilakukan menggunakan teknologi komputer, dengan cara:

  • Pasien akan diminta untuk duduk tegak di kursi.
  • Pasien kemudian akan diperlihatkan pada layar komputer yang sudah diatur untuk menampakkan target yang disebut landolt C (huruf C) dengan latar belakang titik warna akromatik (warna gradasi dari hitam ke putih).
  • Warna  Landolt C dalam layar akan bervariasi menyesuaikan aksis warna merah, hijau, dan biru. 
  • Pasien kemudian akan diminta untuk menyebutkan ke arah mana bukaan huruf C yang ditampilkan.

Tes Anomaloscope

Pemeriksaan Anomaloscope dilakukan menggunakan alat anomaloskopi dengan langkah sebagai berikut:

  • Pasien akan diminta untuk duduk menghadap alat anomaloskop
  • Setelahnya, pasien akan diminta untuk melihat dua lingkaran warna yang terletak bersebelahan di dalam anomaloskop.
  • Bagian atas alat akan diterangi oleh campuran lampu merah dan hijau, dan bagian bawah piringan diterangi oleh cahaya kuning dengan spektrum warna yang sempit. Dua sumber cahaya yang berbeda tersebut harus dicocokkan menjadi warna yang sama. 
  • Di bagian bawah lensa, terdapat knob atau tombol khusus yang dapat diputar. Pasien akan diminta untuk menyamakan warna di kedua sisi panel dengan memutar tombol tersebut.

Tes Hardy-Rand-Rittler (HRR)

Pemeriksaan plates Hardy-Rand-Rittler kurang lebih mirip langkahnya dengan pemeriksaan Ishihara, antara lain:

  • Pasien akan diminta untuk duduk tegak di kursi.
  • Dokter akan menunjukkan serangkaian kartu yang berisi pola berbentuk titik-titik aneka warna. Terdapat angka atau simbol di dalam pola tersebut.
  • Pasien akan diminta untuk mengidentifikasi kartu yang diisi titik dengan warna dan bentuk seperti lingkaran atau segitiga. 
  • Pemeriksaan ini mencakup 4 pelat demonstrasi, 6 pelat untuk skrining, 14 pelat untuk mendiagnosis defisiensi warna.

Seperti apa hasil tes buta warna?

Tes Ishihara

Interpretasi atau kesimpulan hasil pemeriksaan tes buta warna Ishihara dapat dijelaskan sebagai berikut:

  • Mata normal: semua gambar pada tes dapat terbaca dengan benar
  • Buta warna parsial, jika:
    • Plate nomor 1-17 hanya terbaca dengan benar sebanyak 13 plate atau kurang
    • Angka pada plate 18, 19, 20, dan 21 terbaca lebih mudah atau jelas dibandingkan dengan plate nomor 14,10,13, dan 17
  • Buta warna total: tidak dapat membaca semua gambar pada tes.

Tes Farnsworth Munsell 100 Hue 

Hasil pemeriksaan Farnsworth-Munsell 100 hue test berupa skor angka dan grafik lingkaran warna. Skor ini dipengaruhi oleh banyaknya balok warna yang salah diletakkan dan jarak kesalahan peletakkan tablet.

Dari skor angka dan grafik dapat diperoleh informasi mengenai spektrum warna yang paling banyak terjadi kesalahan dan jenis kesalahan penglihatan warna yang dimiliki pasien. 

Grafik melebar horizontal menandakan pasien mungkin mengalami gangguan penglihatan pada warna merah. Jika grafik melebar secara vertikal (tegak lurus), pasien mungkin memiliki kelainan penglihatan warna biru-kuning. 

Grafik yang melebar dengan arah miring menandakan adanya gangguan penglihatan warna hijau.

Hasil kesimpulan penghitungan analisis software komputer dibagi menjadi:

  • Superior: skor kesalahan 0-16, pasien memiliki kemampuan penglihatan warna yang melebihi rata-rata populasi
  • Average: skor kesalahan 16-100, batasan normal.
  • Low: skor kesalahan lebih dari 100, kemampuan penglihatan pasien di bawah rata-rata populasi.

Tes penyusunan warna (tes Dikotomi Farnsworth D-15)

Tes Farnsworth Panel D-15 akan memberikan hasil berupa:

  • Buta warna sedang hingga berat
  • Buta warna ringan dan tidak buta warna

Petugas tes akan menggambar garis pada diagram sesuai urutan balok yang telah disusun pasien dimulai dari titik balok referensi. Apabila garis membentuk lingkaran, pasien mungkintidak buta warna.

Namun, apabila garis yang terbentuk menyilang ke bagian tengah lebih dari 2 kali dapat dikatakan pasien buta warna dengan gangguan penglihatan warna sedang hingga berat.

Tes warna Cambridge

Hasil tes warna Cambridge akan ditampilkan dalam bentuk plot. Bentuk elips memanjang mengikuti aksis warna protan, deutan, atau tritan akan menentukan jenis buta warna pasien.

Tes Anomaloscope

Anomaloskopi dapat menghasilkan kesimpulan bahwa pasien yang tidak buta warna akan menggunakan proporsi warna merah dan hijau yang tepat untuk membentuk warna kuning. Di luar itu, kemungkinan pasien bisa menderita buta warna parsial atau buta warna total.

Tes Hardy-Rand-Rittler (HRR)

Hampir sama seperti tes Ishihara, hasil HRR akan bergantung pada kesalahan yang dibuat pasien saat mengenali plat warna. 

Apa yang harus dilakukan bila hasil tes buta warna positif?

Tidak ada pengobatan spesifik untuk mengatasi buta warna. Akan tetapi, bila gangguan dalam melihat warna disebabkan oleh penyakit tertentu, seperti diabetes atau glaukoma, pengobatan penyakit yang mendasarinya dapat membantu memperbaiki penglihatan pasien.

Dokter dapat menyarankan penggunaan filter berwarna pada kacamata atau lensa kontak untuk memudahkan pasien melihat warna dengan lebih kontras. Akan tetapi, hal ini tetap tidak dapat memperbaiki kemampuan pasien dalam membedakan warna.

Apa saja yang perlu diperhatikan setelah tes buta warna?

Tidak ada hal khusus yang perlu dilakukan setelah pemeriksaan ini. Pasien umumnya langsung pulang atau kembali beraktivitas.

Apa saja risiko tes buta warna?

Tes buta warna termasuk pemeriksaan yang aman dan umumnya tidak memiliki risiko.

buta warna

Healthline. https://www.healthline.com/health/color-vision-test
Diakses pada 25 Juni 2020

WebMD. https://www.webmd.com/eye-health/what-you-need-to-know-about-color-blindness-tests#1
Diakses pada 25 Juni 2020

All About Vision. https://www.allaboutvision.com/eye-exam/color-blind-tests.htm
Diakses pada 25 Juni 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email