Terapi Biofeedback

28 May 2020|dr. Levina Felicia
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Sensor listrik dipasang di kepala pasien yang menjalani terapi biofeedbackTerapi biofeedback menggunakan sensor listrik yang dipasang di kepala pasien

Apa itu terapi biofeedback?

Biofeedback adalah jenis terapi atau teknik yang dilakukan mengontrol beberapa fungsi tubuh seperti denyut jantung, suhu tubuh, dan tekanan darah guna mengobati dan meredakan penyakit tertentu. Terapi ini dapat digunakan untuk menangani berbagai kondisi medis mulai dari nyeri kronis, tekanan darah tinggi, sakit kepala tegang (tension headache), inkontinensia urine, hingga migrain.
Dalam kondisi normal, aktivitas tubuh ada yang dapat dilakukan secara terkendali (sadar) dan ada juga yang terjadi diluar kendali (otomatis). Aktivitas terkendali contohnya berjalan, mengambil barang, makan, minum, duduk, dan berdiri. Sementara itu yang termasuk aktivitas di luar kendali (otomatis terjadi) antara lain bernapas, jantung berdetak, dan naik turunnya suhu tubuh maupun tekanan darah.Fungsi tubuh yang tidak dapat dikendalika atau terjadi secara otomatis tersebut normalnya diatur oleh sistem saraf dan terjadi sebagai respons terhadap berbagai keadaan atau kegiatan yang kita lakukan. Misalnya, ketika pasien merasa cemas, gembira, atau sedang berolahraga, detak jantung otomatis akan naik.Meski tidak bisa sepenuhnya diatur secara sadar, namun dengan melakukan terapi biofeedback, Anda akan memiliki kendali yang lebih besat terhadap fungsi-fungsi tersebut. Saat Anda memiliki kendali yang lebih besar, maka detak jantung yang berdetak berlebihan, tekanan darah yang naik terlalu tinggi, atau suhu tubuh yang tiba-tiba naik, bisa Atur dengan teknik tertentu.Saat menjalani terapi biofeedback, tubuh Anda akan dihubungkan dengan sensor listrik yang akan mengeluarkan informasi tentang seberapa baik fungsi tubuh berlangsung. Setelah mengetahui kondisi tubuh saat berfungsi, terapis kemudian membantu pasien untuk mengatur fungsi-fungsi tersebut agar bisa berjalan normal.Misalnya, jika detak jantung tercatat lebih tinggi dari normal, terapis akan membantu pasien melakukan latihan relaksasi untuk mengendalikannya dan membuatnya kembali normal.Meski begitu, terapi biofeedback sebaiknya dijalani oleh pasien sebagai langkah penanganan tambahan, dan bukan pengobatan yang utama. Pasien juga perlu berkonsultasi dengan dokter sebelum menjalaninya.

Kenapa terapi biofeedback diperlukan?

Terapi biofeedback dapat dilakukan untuk membantu pasien dalam memegang kendali terhadap berbagai fungsi tubuhnya. Contohnya, denyut jantung, pernapasan, pengeluaran keringat, tekanan darah, ketegangan otot, bahkan gelombang otak.Ketika pasien dapat mengendalikan fungsi-fungsi tubuh tersebut, berbagai kondisi medis (baik fisik maupun mental) dapat diatasi.

Siapa yang membutuhkan terapi biofeedback?

Terapi biofeedback bisa digunakan untuk menangani kondisi-kondisi medis berikut:

Seberapa sering Anda harus menjalani terapi biofeedback?

Satu sesi terapi biofeedback biasanya berlangsung selama 30 menit hingga satu jam. Durasi dan jumlah sesi yang diperlukan akan tergantung pada berbagai faktor, seperti respons pasien terhadap terapi, kondisi medis pasien, dan target pengobatan.Terapi ini umumnya dilakukan sebanyak 4-6 sesi. Pada beberapa kasus, jumlah terapi yang diperlukan bisa lebih banyak, yakni 8-10 sesi.

Apa saja persiapan untuk menjalani terapi biofeedback?

Tidak ada persiapan khusus yang perlu dilakukan sebelum melakukan terapi biofeedback.

Apa saja jenis terapi biofeedback?

Beberapa jenis terapi biofeedback yang umum dilakukan meliputi:

Bagaimana prosedur terapi biofeedback dilakukan?

Pada sesi terapi biofeedback, elektroda atau sensor listrik akan dipasang pada kulit pasien. Elektroda ini akan mengirim sinyal ke monitor dan menampilkan suara, gambar, atau cahaya yang menandakan denyut jantung, pernapasan, tekanan darah, suhu tubuh, keringat, atau aktivitas otot pasien.Dalam keadaan stres atau kondisi medis tertentu, fungsi-fungsi tubuh tersebut akan mengalami perubahan. Misalnya, otot yang menegang, denyut jantung dan tekanan darah yang meningkat, laju pernapasan yang semakin cepat, dan pasien yang mulai berkeringat.Respons tubuh pasien akan tampak pada monitor. Ketika pasien mencoba untuk menghentikan respons ini, hasilnya juga akan tampak pada monitor.Terapis akan membantu pasien dalam melakukan latihan relaksasi guna mengontrol perubahan fungsi tubuh tersebut agar kembali normal.Beberapa latihan relaksasi yang biasanya dilakukan dalam terapi biofeedback meliputi:
  • Latihan pernapasan dalam
  • Latihan peregangan atau relaksasi otot
  • Memfokuskan pandangan pada gambar untuk membuat pasien lebih relaks
  • Meditasi

Seperti apa hasil terapi biofeedback?

Jika terapi biofeedback berhasil, pasien dapat mengendalikan gejala yang disebabkan oleh kondisi medis atau mengurangi jumlah pengobatan yang dikonsumsi. Seiring waktu, pasien bisa melakukan teknik biofeedback secara mandiri.Akan tetapi, perlu diingat bahwa pasien tidak boleh menghentikan konsumsi obat-obatan tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dulu.

Apa saja risiko terapi biofeedback?

Terapi biofeedback tergolong aman selama dilakukan dengan bimbingan terapis profesional dan dokter. Terapi ini juga merupakan langkah penanganan tambahan, dan bukan pengobatan medis yang utama.Selain itu, terapi biofeedback pun tidak dapat dilakukan bagi pasien dengan kondisi medis tertentu. Misalnya, aritmia (gangguan irama jantung) atau kelainan kulit.Pastikan Anda berdiskusi dahulu dengan dokter bila memiliki kondisi-kondisi medis tersebut. Jangan sampai terapi biofeedback yang bertujuan membantu Anda malah berbalik merugikan kesehatan Anda.
nyeritekanan darah tinggijantung berdebar
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/biofeedback/about/pac-20384664
Diakses pada 28 Mei 2020
WebMD. https://www.webmd.com/pain-management/biofeedback-therapy-uses-benefits#1
Diakses pada 28 Mei 2020
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/265802
Diakses pada 28 Mei 2020
Harvard Health Publishing. https://www.health.harvard.edu/medical-tests-and-procedures/biofeedback-a-to-z
Diakses pada 28 Mei 2020
Very Well Mind. https://www.verywellmind.com/what-is-biofeedback-2794875
Diakses pada 28 Mei 2020
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2939454/
Diakses pada 28 Mei 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email