Splinting

20 Oct 2020|dr. Levina Felicia
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Splinting dapat dilakukan untuk pada bagian yang keseloSplinting bisa menangani terkilir maupun patah tulang

Apa itu splinting?

Splinting adalah pemasangan alat bernama splint atau bidai pada bagian tubuh yang mengalami cedera. Splint akan menjaga bagian cedera untuk tetap diam dan tidak bergerak (imobilisasi), sehingga cedera yang lebih parah bisa dicegah.
Prosedur ini juga dapat memulihkan tulang yang patah dengan menjaga agar kedua bagian tulang tetap sejajar. Pemasangan splint juga akan mengurangi nyeri dan bengkak.Durasi pemakaian splint akan ditentukan oleh dokter sesuai dengan tingkat keparahan cedera yang dialami oleh pasien.

Kenapa splinting diperlukan?

Splinting dilakukan untuk menjaga tulang dan sendi di atas serta bawah lokasi patah tulang agar tidak bergerak. Dengan ini, ujung tulang tidak akan bergerak hingga tidak merusak otot, pembuluh darah, maupun serabut saraf di sekitarnya.Pemasangan splint umumnya dilakukan sambil menunggu penanganan lebih lanjut di rumah sakit. Namun prosedur ini juga dapat digunakan bila pasien mengalami keseleo atau terkilir pada tangan atau kaki.Jika dipasang dengan benar, splint yang kokoh dapat membantu dalam meredakan nyeri pada bagian tubuh yang cedera.

Siapa yang membutuhkan splinting?

Splinting dapat dilakukan sebagai penanganan pada kondisi-kondisi di bawah ini:
  • Terkilir
  • Patah tulang
  • Dislokasi, yakni pergeseran sendi dari posisi semestinya
  • Nyeri pada bagian cedera
  • Carpal tunnel syndrome, yakni kondisi terjepitnya serabut saraf pada pergelangan tangan
  • Patah tulang yang kompleks
  • Tendonitis, yakni peradangan pada tendon

Apa saja persiapan sebelum splinting?

Sebelum memasang splint, dokter atau tenaga medis akan memastikan pasien tidak memiliki kondisi-kondisi berikut:
  • Patah tulang terbuka, yaitu tulang yang patah dan menembus kulit.
  • Sindrom kompartemen,yaitu kondisi peningkatan tekanan di dalam otot kaki, perut, atau lengan. Kondisi ini dapat menurunkan aliran darah dan mencegah oksigen mencapai sel saraf dan oto, sehingg bisa mengancam nyawa.
  • Gangguan neurovaskular, yaitu terputusnya serabut saraf dan pembuluh darah.
  • Reflex sympathetic dystrophy, yaitu nyeri kaki atau tangan kronis karena cedera, operasi, stroke, atau serangan jantung.

Bagaimana prosedur splinting dilakukan?

Secara umum, splinting dilaksanakan melalui cara-cara di bawah ini:
  • Dokter akan memasang bantalan busa untuk melindungi lapisan kulit pasien.
  • Dokter lalu mencelupkan splint ke dalam air dan memasangnya di atas bantalan kapas yang menutupi lokasi cedera.
  • Dokter terkadang akan melapisi bagian atas dan bawah area cedera dengan splint.
  • Dokter akan mengatur pemasangan Pasalnya, bidai harus pas dengan bentuk tangan atau kaki yang cedera.
Splinting biasanya dilakukan pada cedera yang baru terjadi. Setelah bengkak berkurang, splint akan diganti dengan gips.Ketika kondisi patah tulang membaik secara bertahap, gips dapat kembali diganti dengan splint.

Apa saja yang perlu diperhatikan setelah dan selama splinting?

Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pasien setelah splinting meliputi:
  • Pasien disarankan untuk memposisikan bagian cedera agar lebih tinggi dari jantung selama 1-3 hari pascaprosedur. Pasalnya, bengkak dapat meningkatkan tekanan di dalam splint pada 2-3 hari setelah
  • Lakukan gerakan lembut pada bagian cedera yang bengkak untuk mencegah kondisi kaku.
  • Pasien dapat menempelkan kompres dingin pada splint, misalnya es batu.
Hubungi dokter segera bila pasien mengalami gejala berikut pada area tubuh yang menggunakan splint:
  • Nyeri yang makin parah
  • Rasa kebas atau kesemutan pada lokasi cedera dan sekitarnya
  • Rasa terbakar atau tersengat di lokasi cedera
  • Bengkak pada area di bawah splint
  • Jari-jari di dekat cedera yang tidak bisa digerakkan dengan lancar

Apa saja komplikasi splinting?

Komplikasi splinting meliputi gangguan sirkulasi darah atau syok. Setelah splint dipasang, pemeriksaan di sekitar area pemasangan splint perlu dipantau tiap beberapa menit sekali.Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk memeriksa ada tidaknya gejala gangguan sirkulasi darah. Gejala ini dapat berupa tungkai yang tampak pucat, bengkak, atau kebiruan.Bila pasien mengalami tanda-tanda tersebut atau merasa splint terlalu kencang, ia bisa mengendurkan ikatan splint. Demikian pula jika pasien merasakan nyeri.Pastikan pula bahwa tidak ada ikatan yang langsung mengenai area yang cedera. Bila rasa nyeri tetap muncul meski ikatan splint sudah dikendurkan, dokter bisa mempertimbangkan untuk melepas splint.Di samping gangguan sirkulasi darah, komplikasi splinting lainnya adalah syok. Tanda-tanda syok meliputi sensasi mau pingsan atau sesak napas.Bila kondisi syok terjadi, baringkan pasien. Lalu turunkan kakinya agar posisinya berada di bawah jantung. Kepala pasien juga diangkat agar lebih tinggi dari jantung, misalnya menggunakan bantal sebagai pengganjal.Setelah itu, segera bawa pasien ke fasilitas kesehatan terdekat agar mendapatkan penanganan medis yang sesuai.
keseleopatah tulangterkilirpenyembuhan tulang
Healthline. https://www.healthline.com/health/how-to-make-a-splint
Diakses pada 20 Oktober 2020
Medicinenet. https://www.medicinenet.com/what_is_splinting_used_for/article.htm
Diakses pada 20 Oktober 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email