Spirometri (Tes Fungsi paru)

10 Mar 2020|dr. Levina Felicia
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Tes fungsi paru atau spirometri adalah pemeriksaan untuk mengetahui kerja paru-paruTes fungsi paru dilakukan menggunakan alat bernama spirometer

Apa itu spirometri?

Spirometri adalah tes untuk mengukur seberapa baik kerja paru-paru dengan mesin spirometer. Itu sebabnya, pemeriksaan ini juga disebut sebagai tes fungsi paru.

Spirometer bekerja dengan memperhitungkan kapasitas paru-paru yang dilihat dari seberapa banyak udara yang masuk dan keluar, serta kecepatan napas yang dimiliki. 

Tes fungsi paru dilakukan untuk membantu dokter mengetahui kondisi kesehatan atau mendiagnosis gangguan pada paru-paru pasien. Tes ini juga dianjurkan secara berkala guna memantau efektivitas pengobatan penyakit paru kronis.

Jika dirangkum, tujuan pemeriksaan spirometri, antara lain:

  • Mendiagnosis sebuah penyakit
  • Memantau kondisi pasien
  • Mengevaluasi keberhasilan pengobatan                                                               

Kondisi apa saja yang membutuhkan pemeriksaan spirometri?

Dokter biasanya merekomendasikan spirometri untuk mendeteksi gangguan pernapasan yang menimbulkan gejala. Pemeriksaan ini juga disarankan pada pasien yang berisiko tinggi mengalami penyakit paru-paru. Misalnya, orang dengan batuk yang tak kunjung sembuh, sesak napas, atau perokok berusia di atas 35 tahun.

Beberapa penyakit yang bisa didiagnosis menggunakan tes fungsi paru, antara lain: 

  • Asma, yakni kondisi yang ditandai dengan pembengkakan dan penyempitan saluran napas pada waktu-waktu tertentu
  • Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), seperti bronkitis kronis dan emfisema
  • Cystic fibrosis, yakni penyakit genetik ketika paru-paru dan saluran pencernaan tersumbat oleh lendir lengket dan tebal
  • Fibrosis paru, yakni terbentuknya jaringan parut pada paru-paru
  • Alergi
  • Infeksi saluran pernapasan
  • Bronkiektasis, yakni suatu kondisi di mana saluran udara di paru meregang dan melebar
  • Asbestosis, yakni suatu kondisi yang disebabkan oleh paparan asbes
  • Sarkoidosis atau radang paru-paru, hati, kelenjar getah bening, mata, kulit, atau jaringan lainnya
  • Scleroderma, yakni penyakit yang dapat memengaruhi jaringan ikat 
  • Tumor paru-paru
  • Kanker paru
  • Kelemahan otot dinding dada

Jika Anda sudah didiagnosis dengan penyakit di atas, spirometri biasanya dilakukan untuk memeriksa tingkat keparahan penyakit dan keberhasilan pengobatan yang diberikan.

Tes menggunakan spirometer juga berfungsi sebagai pemeriksaan standar yang dilakukan sebelum operasi dan merupakan bagian dari pemeriksaan umum pada pasien dengan kondisi medis lain, seperti rematik.

Siapa yang sebaiknya tidak menjalani spirometri?

Spirometri dapat menyebabkan tekanan pada kepala, mata, dada dan perut. Itu sebabnya, Anda sebaiknya berkonsultasi ke dokter sebelum menjalani pemeriksaan ini. 

Beberapa orang dengan riwayat penyakit di bawah ini tidak disarankan untuk menjalani pemeriksaan spirometri: 

Seberapa sering Anda harus menjalani spirometri?

Spirometri yang digunakan untuk memantau gangguan pernapasan kronis, seperti asma dan PPOK yang terkontrol. Biasanya dilakukan satu kali setiap 1-2 tahun. 

Sementara pada pasien dengan masalah pernapasan yang lebih berat atau tidak terkontrol, spirometri perlu dilakukan lebih sering.

Apa saja persiapan untuk menjalani spirometri?

Anda perlu melakukan langkah-langkah persiapan di bawah ini:

  • Ikuti instruksi dokter terkait penggunaan obat-obatan yang perlu dihindari sebelum tes fungsi paru ini
  • Gunakan pakaian yang longgar agar dapat menarik napas dalam dengan leluasa
  • Hindari konsumsi makanan dalam porsi besar beberapa jam sebelum tes supaya tidak kekenyangan dan dapat bernapas dengan lebih mudah
  • Berhenti merokok dan menghindari mengonsumsi alkohol, setidaknya selama 24 jam sebelum tes dilaksanakan
  • Hindari melakukan aktivitas atau olahraga berat setidaknya 30 menit sebelum prosedur spirometri karena dapat memengaruhi keakuratan hasil.

Bagaimana prosedur spirometri dilakukan?

Spirometri biasanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit dan dilakukan di ruang periksa dokter. Prosedurnya meliputi:

  • Pasien akan diminta untuk duduk di tempat yang telah disediakan
  • Dokter atau tenaga medis akan memasang sebuah klip penjepit di hidung untuk menutup kedua lubang hidung
  • Dokter juga akan memasang sungkup atau masker pernapasan  yang terhubung dengan mesin spirometer di mulut pasien
  • Pasien akan diminta untuk menarik napas dalam, menahan napas selama beberapa detik, lalu mengembuskannya kuat-kuat ke dalam sungkup atau masker pernapasan.
  • Proses menarik dan mengembuskan napas ini biasanya dilakukan setidaknya tiga kali untuk memastikan hasil yang konsisten. Spirometri akan diulang apabila hasilnya bervariasi.

Bila pasien mengalami gangguan pernapasan, dokter akan memberikan obat jenis bronkodilator hirup. Obat ini akan melebarkan jalan napas setelah pemeriksaan spirometri pertama. Setelah 15 menit, Anda akan diminta untuk mengulangi spirometri.

Dokter kemudian akan membandingkan hasil kedua pengukuran tersebut untuk menilai efektivitas obat bronkodilator pada pasien.

Apa saja yang perlu diperhatikan setelah spirometri?

Tidak ada hal khusus yang perlu dilakukan setelah pemeriksaan spirometri. Anda bisa pulang sesudah menjalaninya. 

Namun, jika Anda merasa lelah begitu tes selesai, biasanya tim medis akan menginstruksikan pasien untuk berisirahat terlebih dahulu sebelum pulang.

Dokter akan memberitahukan hasil spirometri beberapa saat kemudian. Hasil normal setiap orang bisa berbeda-beda, tergantung dari usia, tinggi badan, dan jenis kelamin.

Jika anda mendapati hasil spirometri yang tidak normal, itu tandanya ada gangguan pada sistem pernapasan. Beberapa hal juga bisa memengaruhi hasil tes fungsi paru, seperti:

  • Seberapa baik Anda mengikuti instruksi selama melakukan pemeriksaan
  • Riwayat konsumsi obat yang dapat memengaruhi kerja sistem pernapasan
  • Konsumsi obat antinyeri
  • Kehamilan
  • Perut kembung
  • Kelelahan yang parah

Cara membaca hasil spirometri

Hasil pemeriksaan spirometri normal dan abnormal akan muncul dalam bentuk grafik. 

Ada dua parameter utama yang diukur dalam hasil grafik tersebut, yaitu forced vital capacity (FVC) dan forced expiratory volume in one second (FEV1). Keduanya menunjukkan berapa persen kapasitas udara pada paru-paru dalam satu detik. 

1. Forced vital capacity (FVC)

Forced vital capacity (FVC) adalah volume udara terbesar yang dapat Anda embuskan setelah menarik napas sedalam mungkin. 

Kisaran FVC normal adalah:

  • Orang dewasa: Sekitar 80% dari total kapasitas paru, yakni antara 3,0 dan 5,0 L.
  • Anak-anak: FVC standar untuk anak laki-laki prasekolah yang memiliki berat dan tinggi rata-rata adalah 1,16 L, dan 1,04 L untuk anak perempuan.

Total volume FVC dapat dibandingkan dengan standar FVC berdasarkan jenis kelamin, tinggi, berat badan, serta usia. Sebab, FVC biasanya menurun sekitar 0,2 liter per 10 tahun, bahkan untuk orang sehat yang tidak pernah merokok.

Hasil FVC pada spirometri yang lebih rendah dibanding angka normal mengindikasikan adanya gangguan pernapasan jenis restriksi.

Bagi pasien yang tengah menjalani pengobatan, FVC juga dapat dibandingkan dengan nilai FVC sebelumnya untuk menentukan apakah kondisi paru pasien yang sedang diobati membaik atau malah memburuk. 

2. Forced expiratory volume in one second (FEV1)

Sesuai namanya, FEV1 adalah volume udara terbesar yang dapat diembuskan pasien dalam satu detik. Nilai FEV1 biasanya direpresentasikan sebagai rasio (perbandingan) terhadap FVC. 

Rasio FEV1/FVC yang normal adalah:

  • Orang dewasa: 70-80% atau lebih tinggi 
  • Anak-anak: 85% atau lebih tinggi

Rasio FEV1/FVC yang lebih rendah dari angka normal dapat membantu dokter mengidentifikasi apakah pasien mengalami kondisi paru obstruktif (seperti pada PPOK) atau restriktif (seperti pada fibrosis paru). 

Gangguan pernapasan restriktif dapat membatasi asupan udara sehingga volumenya bisa berkurang, tapi tidak memengaruhi kekuatan pernapasan. 

Sebaliknya, penyakit paru obstruktif membuat seseorang sulit bernapas sehingga memengaruhi kekuatan pernapasan, tetapi tidak serta-merta mengubah volume saluran udara.

Selain itu, Rasio FEV1/FVC juga dapat membantu dokter untuk menilai tingkat keparahan gangguan pernapasan yang dialami oleh pasien. Keparahan kondisi paru yang abnormal dari hasil spirometri dikelompokkan menjadi:

  • Ringan : 60-69%
  • Sedang: 50-59%
  • Parah: kurang dari 50%

Apa saja risiko tes fungsi paru?

Secara umum, spirometri adalah pemeriksaan yang aman. Namun, beberapa pasien mungkin mengalami efek samping seperti:

  • Sesak napas ringan
  • Pusing setelah pemeriksaan
  • Batuk-batuk
  • Serangan asma

Efek samping ini biasanya akan menghilang beberapa saat sesudah spirometri selesai dilakukan.

penyakit paru-paruasmainfeksi paru-parupenyakit paru obstruktif kronisppok

Healthline. https://www.healthline.com/health/spirometry
Diakses pada 10 November 2021

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/spirometry/about/pac-20385201
Diakses pada 10 Maret 2020

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/spirometry/
Diakses pada 10 November 2021

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/317268
Diakses pada 10 Maret 2020

WebMD. https://www.webmd.com/lung/types-of-lung-function-tests
Diakses pada 31 Juli 2021

Johns Hopkins Medicine. https://www.hopkinsmedicine.org/health/treatment-tests-and-therapies/pulmonary-function-tests
Diakses pada 31 Juli 2021

MDapp. https://www.mdapp.co/fev1-fvc-ratio-calculator-456/
Diakses pada 10 November 2021

Worker Health. http://www.worker-health.org/breathingtestresults.html
Diakses pada 10 November 2021

Verywellhealth. https://www.verywellhealth.com/forced-expiratory-capacity-measurement-914900#interpreting-results
Diakses pada 10 November 2021

Respilogi. https://www.respirologi.com/upload/file_1455185923.pdf
Diakses pada 10 November 2021

American Lungs Association. https://www.lung.org/lung-health-diseases/how-lungs-work/lung-capacity-and-aging
Diakses pada 10 November 2021

American Academy of Family Physicians. https://www.aafp.org/afp/2004/0301/p1107.html
Diakses pada 10 November 2021

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email