Pemeriksaan Kanker Payudara

04 Jun 2020|dr. Levina Felicia
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
SADARI termasuk langkah skrining kanker payudara mandiri di rumahSkrining kanker payudara bisa dimulai di rumah dengan SADARI

Apa itu pemeriksaan kanker payudara?

Pemeriksaan (skrining) kanker payudara adalah suatu prosedur pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi kanker payudara sedini mungkin.

Secara umum, skrining kanker payudara bertujuan untuk:

  • Mengurangi jumlah penderita kanker payudara
  • Menurunkan jumlah kematian akibat kanker payudara
  • Mengidentifikasi pasien dengan risiko tinggi kanker payudara, sehingga dokter bisa menganjurkan frekuensi skrining yang lebih sering

Kanker payudara biasanya menyerang kelenjar penghasil ASI (air susu ibu) dan duktus, yakni saluran yang menyalurkan ASI dari kelenjar ke puting. Kanker ini termasuk jenis kanker yang paling sering dialami oleh wanita.

Melalui pemeriksaan ini, dokter dapat mengidentifikasi kanker payudara sejak dini dan memberikan pengobatan kanker payudara yang sesuai. Semakin cepat kanker terdeteksi, semakin besar pula angka harapan hidup pasien.

Apa saja metode pemeriksaan kanker payudara?

Ada berbagai macam cara untuk melakukan deteksi dini kanker payudara. Beberapa tes bisa Anda lakukan sendiri di rumah, beberapa lainnya memerlukan prosedur medis di fasilitas kesehatan demi mendapatkan hasil yang akurat.

Beberapa cara untuk mendeteksi kanker payudara, antara lain:

1. SADARI

SADARI (pemeriksaan payudara sendiri) adalah salah satu cara deteksi dini kanker payudara yang paling umum dilakukan. Metode pemeriksaan ini memungkinkan Anda melakukannya di rumah tanpa alat bantu apa pun.

Metode periksa payudara sendiri (SADARI) perlu dilakukan oleh setiap wanita mulai usia 20 tahun. Anda sebaiknya melakukan setiap bulan, pada 7-10 hari setelah hari pertama menstruasi terakhir.

Pemeriksaan SADARI membantu hal yang abnormal ditemukan sedini mungkin. Hal ini juga dapat membantu mencegah kanker payudara ditemukan dalam stadium lanjut.

2. SADANIS

SADANIS merupakan kepanjangan pemeriksaan payudara klinis. Pemeriksaan ini serupa dengan SADARI, hanya saja dilakukan oleh tenaga kesehatan, yaitu dokter atau perawat di fasilitas kesehatan.

Dalam pemeriksaan ini, dokter mungkin akan meraba payudara Anda untuk menemukan benjolan atau perubahan lain yang mungkin terjadi pada payudara. Anda perlu melakukan pemeriksaan ini setidaknya 3 tahun sekali ke dokter atau ketika menemukan hal yang tidak biasa.

3. Mammogram

Mammogram atau mammografi adalah rontgen payudara (x-ray) untuk mendeteksi adanya kelainan pada payudara. Umumnya, mammogram menjadi cara terbaik untuk diagnosis kanker payudara.

Melakukan pemeriksaan mammogram secara rutin dapat membantu kanker payudara lebih cepat ditemukan. Dengan demikian, kemungkinan sembuh pun bisa lebih besar.

Meski demikian, mammografi umumnya baru dianjurkan ketika wanita berusia 45 hingga 50 tahun. Sebab, hasil mammografi pada jaringan payudara yang padat (misalnya, pada wanita usia muda) dapat memberikan hasil yang kurang akurat.

4. MRI payudara

Pada wanita dengan risiko tinggi, MRI payudara dan mammografi akan dimulai pada usia 30 tahun dan dilanjutkan selama pasien dalam keadaan sehat.

MRI biasanya memberikan gambaran yang lebih detail dibandingkan dengan rontgen.

5. USG payudara

USG payudara biasanya dilakukan untuk wanita berisiko tinggi yang tidak bisa menjalani MRI atau menerima radiasi lainnya, seperti sedang hamil.

6. Tes genetik kanker payudara

Tes genetik kanker payudara akan mengecek ada tidaknya mutasi gen BRCA. Pasalnya, gen penyebab kanker payudara ini mungkin saja diturunkan dalam keluarga atau terbentuk dengan sendirinya.

7. Biopsi payudara

Apabila hasil pemeriksaan kanker payudara lainnya menemukan bahwa Anda memiliki massa di payudara, ada kemungkinan dokter menyarankan Anda untuk melakukan biopsi payudara. Jadi, pemeriksaan ini hanya dilakukan jika dokter menemukan hal yang abnormal pada payudara.

Biopsi payudara bertujuan untuk memastikan bahwa massa atau benjolan payudara yang Anda miliki adalah kanker atau bukan. Biopsi juga bisa digunakan untuk mengetahui jenis kanker payudara yang Anda alami.

Meski demikian, American Cancer Society menyebutkan bahwa melakukan biopsi bukan berarti Anda pasti mengalami kanker. Namun, biopsi menjadi cara terbaik untuk memastikan massa yang berada di payudara Anda.

Siapa saja yang perlu melakukan skrining kanker payudara?

Menurut U.S. Preventive Services Task Force (USPSTF), pemeriksaan kanker payudara diperlukan setiap dua tahun pada wanita berusia 50-74 tahun. 

Sementara itu, American Cancer Society merekomendasikan tes ini tiap tahun bagi wanita berusia 45-54 tahun, lalu satu sampai dua tahun sekali sejak menginjak usia 55 tahun dan seterusnya.

Selain itu, orang yang memiliki risiko tinggi mengalami kanker payudara juga perlu melakukan pemeriksaan ini, seperti:

  • Punya riwayat keluarga kandung perempuan yang mengidap kanker payudara
  • Adanya mutasi gen yang dapat membantu mencegah pembentukan tumor, yakni gen BRCA1 atau BRCA2 yang dideteksi dari tes BRCA.
  • Pernah mengalami kanker payudara yang didiagnosis sebelum usia 50 tahun.
  • Pernah menderita kanker payudara pada kedua payudara
  • Mengidap kanker payudara dan kanker ovarium
  • Penyakit sindrom genetik, seperti sindrom Li-Fraumeni atau sindrom Cowden.

Anda juga perlu melakukan pemeriksaan kanker payudara jika mendapati gejala kanker payudara, seperti muncul benjolan di payudara atau sekitar ketiak.

Apa saja persiapan untuk menjalani pemeriksaan kanker payudara?

Persiapan untuk menjalani skrining kanker payudara akan bergantung pada jenis pemeriksaan yang akan dilakukan. 

Umumnya, tes kanker payudara lebih baik dilakukan ketika Anda tidak sedang menstruasi. Pasalnya, payudara dapat membengkak ketika siklus menstruasi dimulai. 

Baik SADARI maupun mammogram lebih efektif untuk dilakukan seminggu setelah menstruasi berakhir.

Selain itu, sebelum melakukan SADARI, Anda sebaiknya meminta dokter untuk mendemonstrasikan cara atau teknik SADARI yang benar. Dengan begitu, hasil yang Anda dapatkan akan lebih baik.

Anda juga disarankan untuk tidak memakai deodoran serta mengoleskan losion apa pun di area payudara saat melakukan mammogram atau USG payudara. Biasanya, beberapa kandungan yang ada di dalam jenis produk tersebut dapat mengganggu proses pengambilan gambar. Akibatnya, gambar yang dihasilkan bisa kurang jelas. 

Bagaimana prosedur skrining kanker payudara dilakukan?

Proses pemeriksaan kanker payudara akan bergantung pada prosedur yang Anda jalani. Berikut penjelasannya:

1. SADARI

Prosedur periksa payudara sendiri (SADARI) dapat Anda lakukan secara mandiri di depan cermin. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara meraba payudara Anda untuk memeriksa adanya benjolan yang muncul di payudara ataupun sekitarnya, seperti ketiak.

Anda dianjurkan untuk melakukan SADARI pada 7-10 hari setelah menstruasi. SADARI dapat dilakukan dengan berdiri tegak sambil mengamati perubahan yang mungkin terjadi pada payudara Anda.

Anda juga mungkin melakukan cara ini sambil mandi atau bahkan berbaring.

2. Mammografi

Mammogram menggunakan pencitraan dengan sinar-X untuk memeriksa payudara. Prosedurnya meliputi:

  • Teknisi medis akan memosisikan payudara pada alat mammografi.
  • Payudara akan ditekan dengan kompresor yang terdiri atas piringan plastik.
  • Meski terasa tak nyaman, pasien akan diminta untuk tidak bergerak selama payudara ditekan.

Hasil mammografi berupa gambar payudara dari tampak samping dan atas-bawah.

3. MRI payudara

Dengan MRI, ketidaknormalan pada jaringan payudara yang tidak terdeteksi melalui mammografi atau USG payudara, dapat terlihat.

Prosedur MRI payudara meliputi:

  • Teknisi medis atau perawat akan memasang infus di tangan pasien.
  • Pasien lalu berbaring di atas meja yang akan bergerak masuk ke dalam mesin MRI. Mesin ini berbentuk seperti tabung besar dengan magnet yang mengelilinginya.
  • Mesin akan mengambil gambar payudara yang ditampilkan pada layar komputer.
  • Zat pewarna kontras akan disuntikkan ke dalam saluran infus, lalu gambar akan kembali diambil.

4. USG payudara

Pada USG payudara, gelombang suara digunakan untuk menghasilkan gambar terkait struktur payudara. USG dapat mendeteksi area payudara yang sulit diperiksa dengan mammografi.

Pemeriksaan ini juga dapat menentukan apakah benjolan pada payudara merupakan tumor yang padat atau berisi cairan.

Prosedur USG payudara dilakukan dengan cara-cara berikut:

  • Pasien akan diminta untuk berbaring di atas meja pemeriksaan.
  • Dokter akan mengoleskan gel pada payudara pasien.
  • Alat khusus bernama transducer lalu digerakkan memutar di atas payudara pasien, dan gambar yang dihasilkan akan muncul pada layar monitor.

5. Tes genetik BCRA

Dalam tes BRCA, tenaga medis akan mengambil sampel darah pasien. Prosedurnya pun serupa dengan pengambilan darah pada umumnya dari lengan.

Pengambilan darah hanya akan berlangsung 5 menit. Setelahnya, darah Anda akan dibawa ke laboratorium untuk dianalisis.

Seperti apa hasil tes skrining kanker payudara?

Hasil skrining payudara bisa menunjukkan adanya benjolan atau abnormalitas yang mencurigakan pada payudara. Namun, tidak semua pemeriksaan dapat menentukan bahwa keabnormalan tersebut bersifat jinak atau ganas.

Nantinya, dokter akan memastikan diagnosis kanker payudara lewat biopsi. Dari sana, baru diketahui apakah benjolan yang Anda miliki bersifat jinak (tumor) atau ganas (kanker).

Jika terbukti kanker, biopsi juga dapat menginformasikan jenis dan stadium kanker payudara yang Anda miliki.

Khusus pada tes genetik kanker payudara, hasilnya dapat menunjukkan ada tidaknya mutasi gen BRCA1 atau BRCA2.

Pasien dengan mutasi gen tersebut memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kanker payudara atau kanker ovarium. Demikian pula dengan keluarga kandung pasien.

Apa saja yang perlu diperhatikan setelah skrining kanker payudara?

Tidak ada hal khusus yang perlu diperhatikan setelah skrining kanker payudara. Pasien umumnya bisa langsung pulang atau kembali beraktivitas.

Apa yang harus dilakukan bila hasil skrining kanker payudara tidak normal?

Bila hasil skrining kanker payudara termasuk abnormal dan menandakan risiko kanker, dokter bisa melakukan biopsi payudara.

Biopsi merupakan prosedur pengambilan sampel jaringan yang dilakukan di bawah pengaruh bius lokal. Sampel lalu diperiksa di bawah mikroskop oleh dokter spesialis patologi anatomi. Diagnosis kanker payudara kemudian dipastikan berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium tersebut.

Apa saja risiko skrining kanker payudara?

Risiko tes kanker payudara bervariasi, tergantung pada metode yang Anda jalani. Berikut contohnya:

  • Mammografi membuat Anda berisiko terhadap paparan radiasi dalam jumlah rendah. Ibu hamil lebih sensitif terhadap risiko ini, sehingga perlu menginformasikan kehamilannya pada dokter sebelum menjalani pemeriksaan.
  • Pasien bisa mengalami memar dan nyeri ringan pada lokasi pengambilan darah saat melakukan tes genetik kanker payudara. Namun, keluhan ini akan segera menghilang.

Sementara USG dan MRI payudara tergolong aman untuk dijalani oleh pasien.

kanker payudara


Medline Plus. https://medlineplus.gov/lab-tests/brca-test/
Diakses pada 22 Oktober 2021

Lab Tests Online. https://labtestsonline.org/tests/brca-gene-mutation-testing
Diakses pada 4 Juni 2020

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/breast-exam/about/pac-20393237
Diakses pada 22 Oktober 2021

American Society of Clinical Oncology. https://www.cancer.net/cancer-types/breast-cancer/screening
Diakses pada 4 Juni 2020

CDC. https://www.cdc.gov/cancer/breast/basic_info/screening.htm
Diakses pada 22 Oktober 2021

Risiko dan Deteksi Dini Kanker Payudara. http://www.cdkjournal.com/index.php/CDK/article/download/177/115
Diakses pada 4 Juni 2020

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/brca-gene-test/about/pac-20384815
Diakses pada 22 Oktober 2021

Healthlink. https://www.healthlinkbc.ca/health-topics/hw3791
Diakses pada 22 Oktober 2021

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/breast-cancer-screening/
Diakses pada 22 Oktober 2021

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email