Pemeriksaan BTA

09 Nov 2021|Nurul Rafiqua
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Pemeriksaan BTA : Fungsi, Persiapan, Prosedur, dan HasilMycobacterium tuberculosis yang terdeteksi di bawah mikroskop

Apa itu pemeriksaan BTA?

Pemeriksaan BTA adalah tes yang dapat mendeteksi keberadaan bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menjadi penyebab TBC. Bakteri ini mampu bertahan hidup di lingkungan yang asam. Itu sebabnya, pemeriksaan ini disebut dengan pemeriksaan BTA (basil/bakteri tahan asam). Selain bakteri TBC, pemeriksaan ini juga dapat mendeteksi keberadaan bakteri penyebab lepra atau kusta.

Tes ini merupakan pemeriksaan utama mendiagnosis TBC. Umumnya, sampel yang digunakan dalam tes BTA menggunakan dahak (sputum). Namun, bisa juga memakai sampel darah, tinja, urine, atau sumsum tulang jika TB terjadi di luar paru-paru (TB ekstra paru). 

Mengapa pemeriksaan BTA perlu dilakukan?

Dokter biasanya merekomendasikan pemeriksaan BTA jika pasien telah mengalami gejala TBC dalam jangka waktu yang cukup lama (3 minggu lebih). 

Selain itu, orang dengan kondisi berikut juga biasanya disarankan melakukan pemeriksaan dahak untuk TBC:

  • Merasakan gejala infeksi paru-paru, seperti batuk kronis, batuk darah, penurunan berat badan, demam, kedinginan, berkeringat di malam hari, menggigil, dan kelelahan.
  • Memiliki gejala TB di luar paru-paru (TB ekstra paru), seperti nyeri tulang, sakit kepala, muncul benjolan (TB kelenjar).
  • Didiagnosis TB positif dari tes Mantoux atau tes darah.
  • Pernah kontak erat dengan penderita TBC.
  • Orang-orang yang yang berisiko tinggi untuk terpapar TB, seperti orang yang memiliki sistem kekebalan yang lemah, misalnya pengidap penyakit autoimun atau HIV/AIDS, serta petugas rumah sakit, panti jompo, juga lembaga pemasyarakatan yang rentan terpapar TB. 
  • Sebagai langkah evaluasi untuk menentukan apakah pengobatan yang diberikan telah berhasil, serta untuk mengetahui apakah kondisi TB pasien masih memiliki potensi penularan.

Apa yang perlu dipersiapkan sebelum menjalani pemeriksaan BTA?

Pada hari pemeriksaan dilakukan, pasien diminta untuk tidak makan atau minum sebelum tes berlangsung. Pasien dapat menyikat gigi sebelum pemeriksaan, akan tetapi tidak diperbolehkan menggunakan obat kumur antiseptik (mouthwash).

Bagaimana pemeriksaan BTA berlangsung?

Pemeriksaan bakteri tahan asam secara umum terdiri dari proses pengumpulan sampel hingga analisis sampel. Berikut penjelasannya:

1. Pengambilan sampel 

Pemeriksaan sputum BTA dilakukan dengan mengumpulkan 3 sampel dahak yang diambil secara berurutan dalam dua hari kunjungan. Sampel tersebut dinamakan sampel SPS (sewaktu-pagi-sewaktu).

Pengambilan sampel dahak untuk pemeriksaan TBC dilakukan dengan cara:

  • S (Sewaktu): dahak dikumpulkan ke dalam wadah steril (pot dahak) ketika pasien datang berkunjung pertama kali. Pada saat pulang, pasien akan diberikan pot dahak kosong untuk diisi sampel dahak yang kedua di hari selanjutnya.
  • P (Pagi): pada hari kedua, Anda harus mengumpulkan dahak di pagi hari, di rumah setelah bangun tidur. Pot tersebut harus dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di fasilitas kesehatan.
  • S (sewaktu): Anda akan diminta mengumpulkan dahak ketiga di pot terakhir saat Anda datang menyerahkan dahak pagi di fasilitas kesehatan. 

Dahak yang diambil haruslah lendir kental, keruh, dan lengket yang dikeluarkan dari paru-paru. Bukan dari hidung atau air liur dari mulut. Ada beberapa metode pengambilan dahak yang bisa Anda lakukan:

  • Batuk kencang: pasien akan diminta untuk menghirup napas dalam, menahannya 5 detik, dan mengeluarkan secara perlahan. Setelahnya, hirup napas dalam-dalam dan coba untuk batuk dengan keras. Langkah ini akan menarik dahak dari paru untuk berkumpul di mulut. 
  • Induksi dahak: bagi pasien yang tidak bisa mengeluarkan dahak dengan batuk, pengeluaran dahak dapat dirangsang dengan pemberian larutan garam lewat nebulizer
  • Bronkoskopi: cara lain untuk mengumpulkan dahak adalah dengan bronkoskopi. Anda biasanya akan diberikan obat bius. Nantinya. bronkoskop akan dimasukkan melalui hidung atau mulut ke dalam tenggorokan hingga mencapai paru-paru. Dahak yang terdapat di paru-paru akan disedot ke dalam tabung bronkoskopi dan dikumpulkan di pot steril. 
  • Aspirasi lambung: metode ini digunakan pada dahak yang ditelan oleh pasien. Biasanya tindakan ini dilakukan pada pasien yang tidak sadarkan diri atau anak-anak. 

2. Pemeriksaan sampel dahak

Sampel yang telah dikumpulkan selanjutnya akan dianalisis di laboratorium. Ada dua jenis pemeriksaan dahak dalam tes BTA, antara lain:

  • Tes pewarnaan BTA 

    Dalam tes dahak ini, sampel akan dioleskan pada kaca objek untuk selanjutnya diwarnai, dipanaskan, dan disiram dengan larutan asam. Di bawah mikroskop, petugas laboratorium akan mengamati perubahan warna pada sampel tersebut.  Hasil tes biasanya dapat keluar setelah 1-2 hari. 
  • Kultur dahak

    Pada tes dahak untuk TBC ini, sampel akan dimasukkan ke dalam media khusus yang mendukung pembiakkan bakteri tahan asam. Hasil positif dari kultur bakteri tahan asam ini dapat mengkonfirmasi diagnosis TB atau infeksi lain. 

    Akan tetapi, dibutuhkan 6-8 minggu untuk menumbuhkan bakteri dalam jumlah yang cukup agar dapat mendeteksi infeksi.

 

Bagaimana cara membaca hasil pemeriksaan BTA?

  • Hasil negatif

Hasil BTA negatif artinya pasien tidak mengidap TB aktif dan gejala yang dirasakan mungkin disebabkan oleh kondisi lain. 

Akan tetapi, hasil negatif juga bisa didapatkan bila jumlah jumlah bakteri dalam dahak terlalu sedikit. Setelah hasil pemeriksaan BTA dinyatakan negatif, dokter akan meresepkan obat antibiotik non-OAT(obat antituberkulosis). 

Jika gejala pasien mereda dan hilang, dapat dipastikan pasien tidak terinfeksi TB. Namun, jika gejala tidak juga membaik, dokter akan melakukan kembali pemeriksaan sputum BTA yang disertai dengan rontgen thorax

  • Hasil positif

Apabila ketiga sampel dahak pada pemeriksaan sputum BTA menunjukkan hasil positif, artinya, terdapat bakteri pada dahak Anda. Maka, pasien dapat dinyatakan menderita infeksi TB.  Hasil kultur BTA tetap diperlukan untuk memastikan hasil tersebut. 

Kultur bakteri dapat mengidentifikasi jenis infeksi yang dimiliki. Selain itu, apabila hanya salah satu sampel yang menyatakan hasil positif, dokter juga akan melakukan rontgen toraks pada pasien untuk memastikan diagnosis.

Adakah tes lain yang harus dilakukan setelah melakukan pemeriksaan BTA?

Setelah menjalani tes BTA, dokter mungkin saja melakukan beberapa pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis.

Beberapa tes yang mungkin dilakukan, antara lain:

  • Rontgen thorax (dada)

Rontgen dada adalah suatu pemeriksaan pencitraan untuk melihat paru-paru dengan menggunakan sinar-X (X-ray). Paru-paru yang terinfeksi tuberkulosis akan menunjukkan tanda-tanda abnormal seperti adanya infiltrat (dahak), fibrosis (jaringan parut), kalsifikasi, kavitas, dan efusi pleura.

  • Tes resistensi 

Setelah pasien didiagnosis menderita TBC, dokter akan melakukan tes resistensi terhadap antibiotik. Pemeriksaan ini dilakukan untuk membantu dokter menentukan antibiotik mana yang akan memberikan pengobatan paling efektif.

Setelah Anda dinyatakan benar mengalami tuberkulosis, dokter akan menganjurkan Anda untuk patuh untuk taat aturan minum obat TBC selama minimal 6 bulan

Apa risiko dari prosedur pemeriksaan pemeriksaan BTA ?

Pemeriksaan bakteri tahan asam termasuk prosedur yang aman dan minim risiko. Efek samping dari tes ini mungkin muncul saat proses pengumpulan dahak, misalnya iritasi pada tenggorokan atau sensasi pusing saat batuk kencang. 

Sementara itu pengumpulan dahak dengan metode bronkoskopi dapat menimbulkan efek samping berupa:

  • Kadar oksigen yang turun selama prosedur. Apabila ini terjadi, dokter akan memberikan oksigen tambahan
  • Detak jantung tidak teratur
  • Demam atau pneumonia setelah prosedur
  • Perdarahan
  • Tegangnya otot saluran pernapasan
  • Rasa tidak nyaman pada tenggorokan
  • Kesulitan bernapas
  • Demam
  • Batuk berdarah

Meski begitu, efek samping pengambilan dahak dengan bronkoskopi sangat jarang untuk terjadi.

penyakit paru-parutbcinfeksi bakteri

Pedoman Penanggulangan Tuberkulosis (Tb) Menteri Kesehatan Republik Indonesia. https://persi.or.id/wp-content/uploads/2020/11/kmk3642009.pdf
Diakses pada 3 November 2021

National Center for Biotechnology Information. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK537121/
Diakses pada 3 November 2021

Guidance for National Tuberculosis Programmes on the Management of Tuberculosis in Children. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK214438/
Diakses pada 3 November 2021

Minnesota Department of Health. https://www.health.state.mn.us/diseases/tb/basics/factsheets/sputum.html
Diakses pada 3 November 2021

Medline Plus. https://medlineplus.gov/lab-tests/acid-fast-bacillus-afb-tests/
Diakses pada 3 November 2021

Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/972708-overview#a6
University of Rochester Medical Center Rochester. https://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx?contenttypeid=167&contentid=acid_fast_bacteria_culture
Diakses pada 3 November 2021

Francis J. Curry National Tuberculosis Center. https://www.currytbcenter.ucsf.edu/sites/default/files/ga_patient_prep.pdf
Diakses pada 3 November 2021

Jurnal Kedokteran dan Kesehatan. https://journal.umy.ac.id/index.php/mm/article/view/1582
Diakses pada 3 November 2021

Lab Tests Online. https://labtestsonline.org/tests/acid-fast-bacillus-afb-testing
Diakses pada 3 November 2021

CDC. https://www.cdc.gov/tb/publications/factsheets/testing/diagnosis.htm
Diakses pada 3 November 2021

 

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email