Pap Smear

14 Jan 2020|Lenny Tan
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Pap smear adalah tes untuk mendeteksi kanker serviks dan dilakukan menggunakan alat bernama cocor bebekPap smear dilakukan dengan menggunakan alat bernama cocor bebek

Apa itu Pap smear?

Pap smear adalah sebuah tes untuk mendeteksi kanker serviks alias kanker leher rahim. Pada proses pemeriksaan Pap smear, dokter akan mengambil sampel sel jaringan serviks (leher rahim) yang akan dianalisis oleh petugas laboratorium.

Dari hasil pap smear, dapat diketahui jika sampel tersebut memiliki sel-sel abnormal yang mungkin berkembang menjadi kanker (sel prakanker) ataupun sel yang sudah menjadi kanker. 

Manfaat pap smear yang paling utama adalah sebagai langkah deteksi dini kanker serviks sebelum stadiumnya bertambah semakin parah. Semakin cepat kanker terdeteksi, maka tingkat keberhasilan pengobatan pun akan semakin tinggi. 

Berapa biaya Pap smear?

Harga pap smear tentu bervariasi dari rumah sakit atau klinik yang menyelenggarakannya. Biaya pemeriksaan pap smear pada umumnya berkisar dari mulai Rp300.000-600.000. 

Di samping itu pap smear juga termasuk prosedur medis yang ditanggung oleh asuransi kesehatan (BPJS Kesehatan), selama pemeriksaannya sesuai dengan indikasi medis yang telah ditentukan dokter.

Kenapa Pap smear diperlukan?

Tujuan pemeriksaan Pap smear adalah mendeteksi kanker serviks sejak dini. Sebagian besar kasus kanker serviks disebabkan oleh virus yang disebut human papillomavirus (HPV). Oleh karena itu, pap smear umumnya dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan panggul maupun tes HPV.

Dengan mengetahui kondisi serviks melalui Pap smear, pengobatan bisa dilakukan sedini mungkin apabila Anda terdeteksi mengalami tanda-tanda kanker sehingga sel-sel kanker tidak menyebar luas. Pemeriksaan ini juga bisa menjadi salah satu upaya pencegahan kanker serviks.

Siapa saja yang membutuhkan Pap smear?

Secara umum, semua wanita yang sudah memasuki usia 21 tahun dan sudah aktif secara seksual perlu melakukan pap smear. Pemeriksaan ini dianjurkan untuk dilakukan tiap tiga tahun sekali. Terlebih, jika sudah aktif secara seksual mengingat HPV paling sering disebarkan melalui hubungan seksual.

Sementara itu, wanita berusia 30-65 tahun perlu melakukan pemeriksaan pap smear setiap 5 tahun sekali, dikombinasikan dengan tes HPV. 

Namun, dokter Anda dapat memutuskan kapan pastinya Anda dapat memulai pap smear dan seberapa sering tes ini harus dilakukan. Kelompok usia dan kondisi tertentu yang dimiliki seorang wanita dapat memengaruhi frekuensi pap smear yang perlu mereka jalani. 

Pap smear wajib dilakukan pada wanita yang berisiko tinggi terkena kanker leher rahim, seperti:

  • Memiliki hasil abnormal yang menunjukkan adanya sel prakanker pada pap smear sebelumnya.
  • Mengidap HIV
  • Terkena paparan dietilstilbestrol (DES) saat masih di dalam kandungan.
  • Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah karena transplantasi organ, kemoterapi, atau penggunaan jangka panjang kortikosteroid.
  • Memiliki anggota keluarga dengan riwayat kanker serviks.
  • Memiliki kebiasaan merokok dan sering berganti pasangan seksual. 
  • Terlalu muda saat berhubungan seksual pertama kali.
  • Memiliki riwayat infeksi menular seksual. 

Umumnya, Anda boleh berhenti melakukan pemeriksaan ini pada usia 65 tahun, jika selama 10 tahun terakhir pemeriksaan berjalan baik dan tidak ditemukan hal yang abnormal.

Apa saja persiapan sebelum menjalani Pap smear?

Hal yang harus dipersiapkan sebelum melakukan pap smear meliputi:

  • Menentukan jadwal tes berdasarkan rekomendasi dokter.
  • Tunda Pap smear jika sedang menstruasi. Waktu terbaik untuk pap smear adalah 5 hari setelah haid selesai.
  • Jangan berhubungan seksual maupun menggunakan krim atau obat untuk vagina dan kontrasepsi selama 1-2 hari sebelum tes. Kontrasepsi berupa pil KB yang mengandung estrogen dan progestin bisa berpengaruh pada hasil tes.
  • Bila Anda mengalami peradangan leher rahim (servisitis), tunggu sampai penyakit tersebut sembuh.
  • Untuk ibu hamil, pap smear masih aman dilakukan hingga usia kehamilan 24 minggu.
  • Untuk wanita yang baru melahirkan, pap smear bisa dilakukan pada 12 minggu setelah proses persalinan.

Sebelum menjalani tes pap smear, sebaiknya Anda buang air kecil terlebih dahulu untuk mengosongkan kandung kemih. Jangan lupa untuk tetap tenang dan tidak tegang agar prosesnya dapat berjalan lancar.

Bagaimana prosedur pap smear dilakukan?

Keseluruhan pemeriksaan Pap smear umumnya berlangsung selama 20-30 menit. Prosedur ini dilakukan dengan memanfaatkan suatu alat yang disebut spekulum dan pemeriksaan laboratorium.

Dokter akan melakukan tes ini dibantu oleh perawat. Berikut langkah-langkahnya:

  • Anda akan diminta untuk melepaskan pakaian bagian bawah, termasuk celana dalam.
  • Anda akan diminta untuk berbaring di meja periksa. 
  • Kaki Anda diletakkan di penyangga kaki selama tes berlangsung.
  • Dokter akan memasukkan spekulum, yakni alat pemeriksaan pap smear berbentuk cocor bebek untuk melebarkan bukaan vagina.
  • Spekulum akan dibuka agar leher rahim bisa terlihat.
  • Dokter akan menggunakan swab khusus untuk mengambil sampel jaringan dari serviks.
  • Setelah swab dikeluarkan, Anda bisa kembali berpakaian dan tes pun selesai.

Sampel jaringan leher rahim akan ditaruh dalam toples kecil dan dikirim ke laboratorium untuk diperiksa. Dokter atau pihak rumah sakit akan menghubungi Anda ketika hasil tes sudah selesai.

Selama tes, Anda mungkin akan merasakan sedikit tekanan atau sensasi seperti dicubit yang dihasilkan dari alat pap smear. Anda juga bisa merasakan kram ringan atau ketidaknyamanan di perut bawah usai menjalani tes. 

Bagaimana cara membaca hasil pemeriksaan pap smear?

Berikut beberapa hasil yang bisa didapatkan dari tes Pap smear:

  • Negatif (normal)

Hasil ini menunjukkan bahwa sel serviks Anda dalam kondisi normal atau negatif dari keberadaan sel kanker dan prakanker. 

Dokter akan menyarankan Anda untuk melakukan tes kembali setelah 3-5 tahun.

  • Hasil tidak jelas atau kurang memuaskan

Kondisi ini bisa disebabkan oleh kurangnya sampel yang diuji atau ada permasalahan lain yang memengaruhi hasil analisis. Oleh sebab itu, Anda biasanya akan diminta untuk mengulangi Pap smear untuk mendapatkan hasil yang lebih valid.

  • Positif (abnormal)

Hasil ini menandakan adanya perubahan yang abnormal pada sel-sel serviks Anda.

Apa yang harus dilakukan bila hasil pap smear positif?

Sebagian wanita yang mendapatkan hasil pap smear positif (abnormal) belum tentu terkena kanker serviks. Namun, Anda sebaiknya menjalani pengujian lebih lanjut untuk memantau kondisi sel-sel serviks Anda.

Salah satu contoh kondisi medis yang bisa memicu hasil abnormal, antara lain peradangan serta displasia (perubahan kecil pada sel-sel). Kedua kondisi ini biasanya akan hilang dengan sendirinya.

Saat mendapatkan hasil tes positif, dokter akan melakukan pemantauan kondisi. Dokter juga akan menyarankan untuk menjalani tes pada beberapa bulan kemudian. 

Hasil pap smear positif bisa jadi disebabkan oleh beberapa hal berikut ini:

  • Sel skuamosa atipikal. Sel skuamosa yang tumbuh pada permukaan leher rahim. Dokter akan melakukan pemeriksaan menggunakan cairan khusus untuk mengetahui keberadaan HPV. Mungkin tak ada yang perlu diperhatikan jika HPV tidak ditemukan
  • Lesi skuamosa intraepitel. Hasil pap smear ini menandakan kemungkinan sel prakanker. Dibutuhkan tes lanjutan untuk mengetahui seberapa cepat kemungkinan sel ini berubah menjadi kanker.
  • Sel glandural atipikal. Sel ini tampak seperti jaringan lendir (mukus) yang berada di bukaan serviks hingga ke dalam rahim (uterus). Dokter akan melakukan tes lanjutan untuk memastikan apakah ini kanker atau bukan.
  • Sel kanker skuamosa atau adenokarsinoma. Hasil pap smear ini menandakan kemungkinan kanker serviks yang besar. Dokter akan mengadakan pemeriksaan lanjutan untuk menentukan stadium kanker serviks yang Anda alami.

Apabila hasil tes tetap menunjukkan keabnormalan, dokter akan merekomendasikan prosedur kolposkopi.

Berbeda dengan pap smear, kolposkopi memungkinkan dokter untuk melihat kondisi serviks untuk mencari bagian yang mencurigakan. Dokter bisa mengambil gambar maupun melakukan biopsi (pengambilan jaringan) dari bagian yang diperiksa.

Untuk proses biopsi, dokter akan menggunakan swab yang sudah diberi cuka atau cairan lain pada bagian tersebut. Cuka berfungsi menyingkirkan lendir di lokasi yang hendak diperiksa, sekaligus memberikan perubahan tertentu pada sel-sel abnormal. Dengan ini, dokter pun bisa lebih mudah untuk mendeteksinya.

Swab yang sudah dioleskan ke leher rahim tersebut kemudian akan dibawa ke laboratorium agar sampel jaringan yang sudah diambil dapat diperiksa lebih lanjut.

Adakah risiko melakukan tes pap smear?

Pemeriksaan dengan spekulum bisa menimbulkan rasa tidak nyaman pada beberapa wanita. Selain itu, Anda juga mungkin akan merasakan kram perut bagian bawah setelah menjalani pemeriksaan.

Perdarahan ringan atau flek juga terkadang dapat terjadi segera setelah tes. Namun, ini adalah hal yang terbilang normal.

Meski begitu, Anda perlu segera menghubungi dokter jika perdarahan dan kram terus berlanjut pada keesokan harinya.

penyakit rahimkanker serviksorgan intim wanita

American Cancer Society. https://www.cancer.org/content/cancer/en/cancer/cervical-cancer/detection-diagnosis-staging/cervical-cancer-screening-guidelines.html
Diakses pada 26 oktober 2021

Healthline. https://www.healthline.com/health/pap-smear
Diakses pada 26 oktober 2021

Healthline. https://www.healthline.com/health/colposcopy-directed-biopsy#procedure
Diakses pada 26 oktober 2021

Medline Plus. https://medlineplus.gov/lab-tests/pap-smear/
Diakses pada 9 Januari 2019

Mayo clinic. https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/pap-smear/about/pac-20394841/
Diakses pada 26 oktober 2021

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/pap-smear/expert-answers/pap-smear/faq-20057782
Diakses pada 26 oktober 2021

Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/1947979-overview#
Diakses pada 9 Januari 2019

WebMD. https://www.webmd.com/women/guide/pap-smear#1
Diakses pada 9 Januari 2019

Hopkins Medicine. https://www.hopkinsmedicine.org/signature_obgyn/patient_information/ask_expert/gynecology-q-a/how-often-do-I-need-a-pap-smear.html#
Diakses pada 26 oktober 2021

Women's Health. https://www.womenshealth.gov/a-z-topics/pap-hpv-tests#8
Diakses pada 26 oktober 2021

WebMD. https://www.webmd.com/women/guide/abnormal-pap-test-results
Diakses pada 27 Oktober 2021

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email