Operasi Usus Buntu

Operasi usus buntu merupakan penanganan utama untuk radang usus buntu (apendisitis)
Operasi usus buntu dilakukan untuk mengatasi radang usus buntu (apendisitis)

Apa itu operasi usus buntu?

Appendectomy atau operasi usus buntu adalah prosedur bedah bertujuan mengangkat usus buntu yang telah terinfeksi atau mengalami peradangan (apendisitis).

Usus buntu (apendiks) merupakan organ berbentuk kantong tipis yang menempel pada usus besar. Organ yang juga dikenal dengan nama umbai cacing ini terletak di perut bagian kanan bawah.

Ketika usus buntu mengalami peradangan dan membengkak, kuman dapat berkembang dengan cepat serta nanah bisa terbentuk. Kumpulan kuman dan nanah akan menimbulkan rasa nyeri di sekitar pusar yang menyebar hingga perut kanan bawah.

Berjalan dan batuk dapat menyebabkan nyeri makin memburuk. Penderita juga bisa mengalami mual, muntah, dan diare.

Pasien dengan gejala apendisitis perlu segera menghubungi dokter, karena radang usus buntu yang tidak ditangani dapat menyebabkan perforasi (pecahnya usus buntu).

Sebagai akibatnya, kuman dan nanah dapat masuk ke rongga perut. Kondisi ini berbahaya dan dapat mengancam nyawa.

Kenapa operasi usus buntu diperlukan?

Operasi usus buntu dilakukan untuk menangani apendisitis. Kondisi ini cukup sulit didiagnosis, terutama pada anak-anak, orang berusia lanjut, dan wanita usia reproduksi.

Gejala awal radang usus buntu umumnya berupa rasa nyeri di sekitar pusar. Nyeri akan makin parah seiring berjalannya waktu. Seringkali, rasa nyeri berpindah ke perut bagian kanan bawah kemudian terpusat di area tersebut.

Selain nyeri perut, gejala apendisitis di bawah ini juga bisa Anda alami:

Ketika Anda ke dokter, dokter akan melakukan pemeriksaan perut dan rektum. Serangkaian pemeriksaan lain di bawah juga dapat dilakukan untuk memastikan diagnosis:

  • Pemeriksaan darah

Pemeriksaan jumlah sel darah putih dalam darah akan dilakukan untuk memeriksa adanya infeksi.

  • Tes urine

Untuk menyingkirkan kemungkinan diagnosis lain seperti infeksi saluran kemih atau gangguan ginjal. Selain itu, pada wanita, sekaligus akan di tes kehamilan karena gejala usus buntu yang mirip dengan gejala hamil.

  • CT scan atau USG

Ketika diagnosis belum jelas, dokter mungkin akan melakukan tes pencitraan berupa CT scan atau USG untuk memastikan ada tidaknya gangguan pada usus buntu Anda.

  • Appendicogram

Walaupun sudah jarang digunakan, appendicogram mungkin masih ditemui di Indonesia. Pemeriksaan radiologis ini dilakukan dengan pasien meminum cairan kontras (barium), lalu menjalani rontgen perut.

Setelah itu, dokter akan menilai apakah ada filling atau non-filling. Anda dapat didiagnosis mengidap radang usus buntu jika terdapat non-filling, yaitu kondisi di mana barium tidak mengisi usus buntu karena adanya peradangan.

Setelah meninjau gejala dan hasil pemeriksaan, dokter umum bisa merujuk Anda ke dokter spesialis bedah jika memang dicurigai adanya apendisitis. Dokter bedah lalu akan menentukan apakah operasi usus buntu diperlukan atau tidak.

Tujuan operasi usus buntu adalah mengangkat usus buntu sebelum mengalami perforasi atau pecah. Pecahnya usus buntu yang meradang bisa terjadi dalam 48 hingga 72 jam sesudah gejala muncul

Jika usus buntu pecah, akan terjadi peritonitis. Infeksi berat rongga perut pasien ini termasuk kondisi serius yang bisa berujung fatal.

Apa saja jenis operasi usus buntu?

Terdapat dua teknik operasi usus buntu, yaitu bedah terbuka dan laparoskopi. Berikut penjelasannya:

  • Teknik bedah terbuka

Teknik bedah terbuka merupakan operasi standar apendisitis. Pada operasi ini, dokter akan membuat sayatan sebesar 5-10 cm di perut bagian bawah kanan. Usus buntu kemudian diangkat melalui sayatan tersebut.

  • Laparoskopi

Laparoskopi merupakan teknik operasi yang lebih baru dan invasif minimal, yakni tidak melibatkan sayatan yang besar dalam prosedurnya.

Teknik operasi ini hanya memerlukan 1-3 buah sayatan kecil. Dokter lalu memasukkan alat bernama laparoskop ke dalam salah satu sayatan.

Bagian ujung laparoskop memiliki instrumen bedah dan kamera. Gambar dari kamera akan ditampilkan pada layar dan dokter akan melakukan proses pengangkatan usus buntu dengan panduan gambar tersebut.

Usus buntu yang telah dipotong akan diangkat dan dikeluarkan melalui salah satu sayatan kecil lain yang telah dibuat di perut pasien.

Kelebihan operasi usus buntu laparoskopi dibanding teknik bedah terbuka adalah rasa nyeri dan bekas luka yang lebih sedikit.

Di tengah operasi laparoskopi, dokter mungkin saja memutuskan untuk melakukan bedah terbuka. Misalnya, pada pasien dengan usus buntu yang pecah dan infeksi yang telah menyebar ke area sekitarnya.

Apa saja persiapan untuk menjalani operasi usus buntu?

Sebelum menjalani apendektomi, beberapa persiapan berikut akan dilakukan:

Pada beberapa hari sebelum operasi

  • Penjelasan operasi

Dokter akan menjelaskan prosedur operasi secara rinci pada pasien, termasuk proses, risiko, serta komplikasinya. Anda juga bisa berdiskusi apabila pasien memiliki pertanyaan terkait operasi.

  • Formulir persetujuan operasi

Pasien akan diminta untuk menandatangani formulir persetujuan operasi. Bacalah formulir dengan saksama dan tanyakan pada tenaga medis jika ada hal yang kurang jelas.

Untuk pasien yang tidak bisa menandatangi formulir, dokter akan meminta persetujuan dari anggota keluarga pasien.

  • Tanya jawab

Dokter akan melakukan tanya jawab mengenai riwayat kesehatan pasien. Misalnya, penyakit yang sedang dan pernah diderita, kehamilan atau kemungkinan hamil, alergi, dan lain-lain. Beritahukan juga mengenai obat-obatan, obat herbal, dan suplemen yang sedang dikonsumsi.

  • Pemeriksaan fisik dan penunjang

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk memastikan kondisi pasien sehat sebelum operasi. Pemeriksaan penunjang lain juga mungkin dilakukan, misalnya tes darah.

Pemeriksaan darah memungkinkan dokter untuk melihat ada tidaknya kelainan pada bleeding time dan clotting time. Dengan ini, komplikasi pendarahan bisa dicegah.

  • Rontgen dada

Pemeriksaan ini bertujuan mendeteksi ada tidaknya kelainan pada rongga dada pasien.

Menjelang operasi

Pasien akan diminta untuk berpuasa (tidak makan maupun minum) selama delapan jam sebelum operasi. Tujuan berpuasa adalah mengurangi risiko aspirasi, yaitu masuknya konten makanan ke dalam paru-paru selama operasi. Lambung yang kosong juga akan memudahkan dokter dalam melihat bagian dalam rongga perut.

Bagaimana prosedur operasi usus buntu dilakukan?

Pada sebagian besar kasus, operasi usus buntu merupakan penanganan gawat darurat dan penderita perlu dirawat di rumah sakit. Jenis prosedur yang dilakukan bisa berupa bedah terbuka atau operasi laparoskopi. Hal ini tergantung pada kondisi pasien dan preferensi dokter.

Secara umum, prosedur operasi usus buntu meliputi:

  • Pasien akan diminta untuk melepaskan perhiasan atau aksesoris lainnya yang dapat mengganggu kelancaran
  • Pasien akan diminta untuk melepaskan pakaian dan menggantinya dengan gaun rumah sakit.
  • Infus akan dipasang di tangan atau lengan pasien.
  • Pasien berbaring di meja operasi.
  • Rambut yang menutupi lokasi operasi akan dicukur terlebih dahulu.
  • Pasien akan menjalani pembiusan total, sehingga akan tertidur dan tidak sadarkan diri selama operasi.
  • Selang oksigen lalu dipasang melalui tenggorokan untuk membantu pernapasan pasien.
  • Dokter spesialis anestesi akan memantau denyut jantung, tekanan darah, pernapasan, dan kadar oksigen darah selama operasi berlangsung.
  • Dokter bedah kemudian melakukan operasi usus buntu, baik terbuka maupun laparoskopi.

Prosedur bedah terbuka

  • Dokter akan membuat sayatan pada perut bagian kanan bawah.
  • Otot perut pasien akan dipisahkan dan dokter akan membuka perut pasien.
  • Usus bantu akan diikat dengan jahitan lalu diangkat.
  • Apabila usus buntu sudah pecah, perut akan dibersihkan dengan larutan garam (saline).
  • Dinding perut dan otot perut akan ditutup kembali dengan jahitan.
  • Selang kecil akan diletakkan pada sayatan untuk mengeluarkan cairan dari dalam rongga perut.

Operasi laparoskopi

  • Beberapa sayatan kecil akan dibuat.
  • Gas karbondioksida kemudian akan dialirkan ke dalam perut untuk memperlebar ruang dalam rongga. Dengan ini, dokter dalam melihat organ dalam perut dengan lebih jelas dan memiliki lebih banyak ruang untuk bekerja.
  • Alat laparoskop akan dimasukkan lewat salah satu sayatan untuk mencari lokasi usus buntu.
  • Alat lain yang diperlukan dalam operasi akan dimasukkan melalui sayatan lain.
  • Usus buntu lalu diikat dengan jahitan dan diangkat lewat sayatan.
  • Laparoskop dan peralatan lainnya akan dikeluarkan.
  • Gas karbon dioksida akan keluar melalui sayatan, dan selang kecil akan diletakkan pada sayatan untuk mengeluarkan cairan dari dalam rongga perut.

Setelah operasi selesai, usus buntu akan dikirim ke laboratorium untuk diperiksa. Sayatan akan ditutup dengan jahitan, dan perban akan digunakan untuk menutup luka.

Apa saja yang perlu diperhatikan setelah operasi usus buntu?

Waktu pemulihan pascaoperasi usus buntu tergantung pada tingkat keparahan infeksi dan pecah tidaknya usus buntu.

  • Usus buntu yang belum pecah

Jika usus buntu belum pecah, pasien biasanya sudah bisa pulang setelah dirawat selama 1-2 hari pascaoperasi.

  • Usus buntu yang sudah pecah

Bagi pasien dengan usus buntu yang sudah pecah, pemulihan membutuhkan waktu lebih lama. Pasien akan diberi antibiotik dan berada di bawah pengawasan dokter guna memastikan tidak ada tanda-tanda komplikasi yang mungkin terjadi.

Umumnya, pasien dapat kembali melakukan aktivitas normalnya dalam 2-4 minggu setelah operasi.

Anda juga perlu segera menghubungi dokter apabila mengalami gejala-gejala di bawah ini selama masa pemulihan:

  • Demam di atas 38,30C
  • Tidak bisa buang gas (kentut) atau buang air besar selama tiga hari
  • Nyeri yang tidak kunjung hilang atau memburuk
  • Sakit perut yang parah
  • Muntah

Apa saja risiko dan komplikasi operasi usus buntu?

Sama seperti prosedur bedah lain, operasi usus buntu juga memiliki beberapa risiko. Dokter bedah perlu menyampaikan risiko yang mungkin terjadi sebelum Anda menjalani operasi.

Beberapa komplikasi yang bisa terjadi setelah operasi usus buntu meliputi:

Obstruksi usus

Obstruksi usus akan menyebabkan gangguan pergerakan feses, gas, dan cairan dalam usus. Kondisi ini bisa memicu komplikasi lebih lanjut jika tidak ditangani.

Kelahiran prematur

Pada sebagian kasus, operasi usus buntu saat pasien sedang hamil dapat menyebabkan kelahiran prematur. Risiko ini akan semakin besar bila usus buntu pasien sudah pecah.

Infeksi pada bekas luka sayatan

Komplikasi ini lebih sering dialami oleh pasien yang menjalani teknik operasi terbuka dibandingkan operasi usus buntu laparoskopi.

Komplikasi lain

Meski sangat jarang, komplikasi-komplikasi di bawah ini juga dapat timbul:

  • Terbentuknya gumpalan darah
  • Komplikasi jantung, seperti serangan jantung
  • Pneumonia
  • Infeksi saluran kemih
  • Kematian

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/323805.php
Diakses pada 12 Februari 2020

Mount Sinai. https://www.mountsinai.org/health-library/surgery/appendectomy
Diakses pada 12 Februari 2020

Johns Hopskins Medicine. https://www.hopkinsmedicine.org/health/treatment-tests-and-therapies/appendectomy
Diakses pada 12 Februari 2020

Medline Plus. https://medlineplus.gov/ency/article/002921.htm
Diakses pada 12 Februari 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/appendectomy
Diakses pada 12 Februari 2020

Artikel Terkait

Pada anak dan ibu hamil, ternyata ada gejala usus buntu yang berbeda

6 Gejala Usus Buntu dan Perbedaannya pada Ibu Hamil serta Anak-anak

Usus buntu bukan penyakit yang asing bagi masyarakat Indonesia. Penyakit usus buntu dapat terjadi pada segala usia, baik dewasa maupun anak-anak. Ketika Anda mengalaminya, ada beberapa gejala usus buntu yang dapat dirasakan. Namun, pada anak-anak dan wanita hamil, terdapat gejala yang berbeda.