Operasi Pengangkatan Ovarium

15 Apr 2020|dr. Levina Felicia
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Bantuan tim dokter dibutuhkan dalam operasi pengangkatan ovariumOperasi pengangkatan ovarium akan dilakukan oleh tim dokter

Apa itu operasi pengangkatan ovarium?

Operasi pengangkatan ovarium merupakan suatu prosedur pembedahan yang melibatkan pengangkatan satu atau kedua ovarium. Ovarium (indung telur) adalah organ reproduksi wanita yang berada pada kedua sisi rahim. Ovarium mengandung sel telur dan menghasilkan hormon yang berperan untuk mengatur siklus menstruasi.
Operasi yang dikenal juga dengan sebutan ooforektomi ini biasanya dilakukan untuk mencegah atau mengobati kondisi medis tertentu, seperti kanker ovarium atau endometriosis. Secara umum, terdapat empat tipe ooforektomi yang dapat dilakukan, yaitu:
  • Ooforektomi unilateral, apabila hanya salah satu ovarium yang diangkat. Prosedur ini biasanya dilakukan bila pasien masih ingin hamil.
  • Ooforektomi bilateral, apabila kedua ovarium diangkat. Prosedur ini biasanya dilakukan untuk mencegah penyakit atau penyebaran dari sel kanker.
  • Salpingo-ooforektomi, apabila ovarium diangkat bersamaan dengan tuba falopi, saluran penghubung rahim dengan ovarium. Prosedur ini biasanya dilakukan untuk mengobati kanker atau kondisi medis lainnya.
  • Ooforektomi profilaksis, yaitu ooforektomi yang dilakukan untuk mencegah atau mengurangi risiko terjadinya penyakit di masa depan.

Kenapa operasi pengangkatan ovarium diperlukan?

Beberapa alasan yang mendasari dilakukannya prosedur ini meliputi:
  • Untuk mengobati pertumbuhan jaringan abnormal pada endometriosis.
  • Mengurangi risiko terjadinya kehamilan ektopik (kehamilan di luar rahim).
  • Mengobati penyakit infeksi radang panggul.
  • Mengangkat kista ovarium, abses, atau sel kanker di dalam ovarium.
  • Mengangkat sumber hormon estrogen yang dapat menstimulasi kanker payudara.
Selain itu, operasi pengangkatan ovarium juga direkomendasikan bagi wanita dengan gen BRCA1 atau BRCA2, yang meningkatkan risiko terjadinya kanker tertentu. Ooforektomi dilakukan sebagi upaya pencegahan terjadinya kanker bagi wanita berisiko tinggi kanker.

Siapa yang membutuhkan operasi pengangkatan ovarium?

Dokter akan menyarankan operasi pengangkatan ovarium bagi pasien dengan kondisi medis tertentu, seperti:
  • Endometriosis, kondisi medis ketika sel dari dalam rahim tumbuh di organ lain dalam tubuh
  • Kista jinak dalam ovarium
  • Kanker ovarium
  • Sebagai operasi profilaksis (pencegahan) bagi pasien dengan risiko tinggi kanker payudara atau ovarium
  • Torsio ovarium, kondisi medis ketika ovarium terpuntir dan menyebabkan nyeri hebat
  • Penyakit infeksi radang panggul atau abses tuba falopi dan ovarium

Apa saja persiapan untuk menjalani operasi pengangkatan ovarium?

Beberapa hal yang perlu dilakukan sebagai persiapan ooforektomi antara lain:
  • Pasien akan diminta minum larutan pencahar untuk membersihkan usus sehari sebelum operasi.
  • Pasien akan diminta berpuasa sehari sebelum operasi.
  • Pasien akan diminta untuk menghentikan konsumsi obat-obatan tertentu.
  • Pasien akan diminta untuk melakukan pemeriksaan pencitraan, seperti ultrasonografi dan computerized tomography (CT scan).
Selain itu, pasien perlu berdiskusi terlebih dahulu dengan dokter terkait kemungkinan infertilitas (mandul) setelah ooforektomi. Bila kedua ovarium pasien diangkat, pasien akan membutuhkan teknologi reproduksi terbantu seperti bayi tabung untuk dapat hamil.

Bagaimana operasi pengangkatan ovarium dilakukan?

Operasi ooforektomi dilakukan di bawah pengaruh obat anestesi (bius) yang membuat pasien tertidur selama prosedur. Prosedur operasi bervariasi tergantung metode yang digunakan. Operasi dapat dilakukan dengan metode laparotomi atau laparoskopi.Pada ooforektomi dengan metode laparotomi, prosedurnya meliputi:
  • Dokter akan membuat satu sayatan panjang di bagian perut bawah hingga mencapai ovarium.
  • Kemudian dokter akan memisahkan ovarium dari pembuluh darah dan jaringan yang mengelilinginya.
  • Pembuluh darah diikat untuk mencegah pendarahan.
  • Ovarium akan diangkat, dan dokter akan menutup luka sayatan dengan jahitan.
Sementara pada ooforektomi dengan metode laparoskopi, prosedurnya meliputi:
  • Dokter akan memasukkan instrumen tipis dengan kamera kecil di ujungnya (laparoskop) melalui sayatan kecil dekat pusar.
  • Dokter akan membuat beberapa sayatan kecil untuk mengikat pembuluh darah.
  • Kemudian, ovarium akan diangkat melalui sayatan kecil di atas vagina atau melalui sayatan kecil di dinding perut.
  • Setelah selesai, dokter akan menutup sayatan dengan jahitan.

Apa saja yang perlu diperhatikan setelah operasi pengangkatan ovarium?

Masa pemulihan pada ooforektomi yang dilakukan dengan metode laparoskopi akan lebih cepat. Pasien biasanya dapat pulang di hari yang sama dengan hari dilakukannya prosedur. Sementara itu, pasien dengan ooforektomi laparotomi memerlukan 2 hingga 4 hari waktu pemulihan di rumah sakit.Pasien biasanya sudah dapat berjalan di hari dilakukannya ooforektomi dan dapat makan dengan normal. Di rumah, pasien akan diminta untuk tidak mengangkat beban berat dan berolahraga selama beberapa minggu. Pasien juga akan diberitahu cara merawat luka secara mandiri di rumah.Dokter mungkin akan memberikan obat pereda rasa sakit untuk dikonsumsi. Beritahu dokter segera bila pasien mengalami nyeri berat atau pendarahan paskaoperasi.

Apa saja risiko operasi pengangkatan ovarium?

Ooforektomi merupakan prosedur yang relatif aman dilakukan. Akan tetapi, setiap prosedur operasi pasti memiliki beberapa risiko. Risiko ooforektomi meliputi:
  • Pendarahan
  • Infeksi
  • Kerusakan organ di sekitarnya
  • Pecahnya tumor, sehingga dapat menyebarkan sel kanker
  • Sel ovarium yang masih tertinggal dan menyebabkan gejala seperti nyeri panggul
  • Tidak bisa hamil lagi bila kedua ovarium diangkat
Pasien yang belum menopause dapat mengalami menopause dini bila kedua ovarium diangkat. Karena tidak ada lagi hormon estrogen dan progesteron dalam ovarium, beberapa komplikasi dapat terjadi, seperti:
  • Tanda dan gejala menopause
  • Depresi atau cemas
  • Penyakit jantung
  • Gangguan memori
  • Menurunnya hasrat seksual
  • Osteoporosis
Pasien akan disarankan untuk mengonsumsi terapi pengganti hormon setelah operasi hingga pasien berusia 50 tahun untuk mengurangi risiko terjadinya komplikasi ini.
kista ovariumkanker ovariumradang panggul
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/oophorectomy/about/pac-20385030
Diakses pada 15 April 2020
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/320555
Diakses pada 15 April 2020
Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/17800-oophorectomy
Diakses pada 15 April 2020                                                                                          
Healthline. https://www.healthline.com/health/womens-health/oophorectomy
Diakses pada 15 April 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email