Kemoterapi

26 Feb 2020|dr. Levina Felicia
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Salah satu cara kemoterapi adalah melalui infusObat kemotrapi bisa diberikan melalui infus

Apa itu kemoterapi?

Kemoterapi adalah prosedur untuk mengobati penyakit kanker dengan menggunakan obat-obatan yang mengandung bahan kimia. Kanker terjadi ketika ada sel abnormal yang tumbuh lebih cepat hingga jumlahnya tidak terkendali. 

Obat kemoterapi digunakan untuk mencegah penyebaran sel kanker dengan cara membunuh, memperlambat, atau menghentikan pertumbuhan sel kanker.  

Secara umum ada lima kelompok utama obat kemoterapi:

  • Agen alkilasi: paling efektif ketika sel kanker dalam fase istirahat dan tidak aktif membelah. Contohnya, chlorambucil atau busulfan.
  • Plant alkaloid: bekerja saat sel kanker membelah. Sesuai dengan namanya, obat kemoterapi golongan ini berasal dari tumbuhan.
  • Antibiotik-antitumor: berasal dari jamur dan bekerja pada berbagai fase siklus hidup sel kanker. Misalnya, doxorubicin atau mitoxantrone.
  • Antimetabolit: meniru komponen sel kanker dan bekerja pada fase tertentu dari siklus hidup sel kanker untuk mengganggu kemampuannya membelah. Contohnya, antagonis purine dan folat.
  • Inhibitor topoisomerase: bekerja dengan melemahkan struktur sel kanker yang diperlukan untuk membelah

Tergantung jenis kanker dan tingkat keparahannya, obat kemoterapi bisa terdiri atas satu jenis saja atau kombinasi beberapa obat. 

Meskipun kemoterapi dianggap cara yang efektif untuk mengobati banyak jenis kanker, metode ini juga bisa menimbulkan efek samping yang beragam. Hal ini dikarenakan banyak dari jenis obat kemoterapi yang tidak hanya memberantas sel kanker tapi juga ikut merusak sel-sel sehat dalam tubuh. 

Apa manfaat kemoterapi?

Umumnya, kemoterapi dilakukan untuk:

  • Menyembuhkan kanker dengan menghancurkan sel kanker hingga jumlahnya menurun dan akhirnya tidak terdeteksi sama sekali.
  • Memperlambat pertumbuhan dan mengontrol sel kanker agar tidak menyebar ke bagian tubuh lain
  • Mengurangi ukuran tumor yang dapat meningkatkan keberhasilan tindakan medis lain, seperti operasi
  • Meredakan gejala yang ditimbulkan kanker, seperti nyeri yang dirasakan oleh penderita kanker stadium akhir.
  • Membasmi sisa sel kanker yang mungkin tersisa setelah operasi pengangkatan tumor
  • Sebagai persiapan sebelum radioterapi agar hasilnya lebih baik
  • Sebagai persiapan sebelum prosedur transplantasi sumsum tulang belakang 
  • Kemoterapi dosis rendah dapat membantu mengendalikan respons sistem kekebalan tubuh yang berlebihan pada beberapa penyakit, seperti lupus dan rheumatoid arthritis.

Seberapa sering Anda harus menjalani kemoterapi?

Umumnya, kemoterapi akan dilakukan dalam beberapa fase atau siklus. Dokter akan menentukan frekuensi kemoterapi yang perlu Anda jalani. 

Penentuan berapa lama kemoterapi dilakukan berdasarkan jenis obat, karakteristik kanker, dan respons tubuh pasien terhadap kemoterapi.

Dalam satu siklus pengobatan biasanya terdiri dari periode pengobatan selama waktu tertentu dan rehat beberapa beberapa waktu. Waktu rehat ini diperlukan agar tubuh dapat membentuk sel-sel baru yang sehat.

Apa saja persiapan untuk menjalani kemoterapi?

Persiapan kemoterapi tergantung pada jenis obat yang digunakan dan bagaimana cara pemberian obat. Dokter akan memberikan instruksi spesifik terkait persiapannya. Beberapa langkah persiapan yang mungkin dilakukan meliputi:

1. Pemeriksaan kesehatan

Dokter mungkin akan menganjurkan beberapa pemeriksaan medis untuk mengetahui kesiapan tubuh Anda sebelum melakukan kemoterapi. 

Beberapa pemeriksaan yang mungkin dilakukan sebelum kemoterapi, seperti tes darah untuk mengevaluasi fungsi hati dan ginjal, serta pemeriksaan kesehatan jantung.

Apabila terdapat masalah dari hasil pemeriksaan tersebut, dokter bisa menunda pengobatan atau memilih obat kemoterapi lain.

2. Pemeriksaan kesehatan gigi

Dokter juga akan merekomendasikan pasien untuk pergi ke dokter gigi dan mengecek kesehatan giginya. 

Berbagai masalah gigi seperti infeksi gusi, gigi berlubang yang perlu ditambal, gigi palsu yang tidak pas, atau sariawan perlu dirawat terlebih dahulu sebelum menjalani kemoterapi. Hal ini dilakukan untuk menghindari komplikasi lebih lanjut dari kemoterapi.

Dokter gigi juga akan memberi tahu langkah perawatan gigi saat menjalani kemoterapi dan efek samping yang mungkin ditimbulkan pada gigi dan mulut. 

3. Merencanakan penanganan efek samping kemoterapi

Kemoterapi memiliki efek samping yang cukup terasa dan beragam. Tanyakan pada dokter mengenai efek samping yang mungkin terjadi saat dan setelah kemoterapi.

Dengan demikian, Anda mengetahui rencana penanganan lebih lanjut. Misalnya, apabila kemoterapi mengganggu kesuburan padahal pasien berencana untuk memiliki anak.

4. Menjadwalkan kemoterapi dan aktivitas sehari-hari

Sebagian besar pengobatan kemoterapi dilakukan secara rawat jalan. Itu sebabnya, kebanyakan pasien masih bisa bekerja dan melakukan aktivitas seperti biasa selama menjalaninya.

Namun, respons tubuh terhadap pengobatan berbeda-beda pada tiap penderita dan sulit diprediksi. Jadi, diskusikan dengan dokter jika Anda membutuhkan waktu untuk bekerja atau melakukan aktivitas lainnya.

5. Persiapan untuk jadwal kemoterapi pertama

Pasien disarankan untuk cukup beristirahat sebelum melakukan kemoterapi. Konsumsi makanan ringan juga dianjurkan sebelum prosedur. Pasalnya, beberapa obat kemoterapi dapat memicu rasa mual.

Pasien pun sebaiknya meminta bantuan keluarga atau teman untuk menemani setelah kemoterapi. Beberapa jenis obat dapat memicu rasa kantuk sehingga pasien akan kesulitan untuk berkendara sendiri pascapengobatan.

6. Operasi pemasangan alat sebelum kemoterapi intravena

Jika kemoterapi dilakukan lewat intravena (obat langsung dimasukkan ke dalam pembuluh darah vena), dokter dapat merekomendasikan pemasangan alat tertentu, seperti kateter.

Kateter akan dipasang ke dalam vena besar melalui prosedur operasi. Obat kemoterapi lalu dimasukkan ke dalam tubuh lewat alat ini.

Bagaimana prosedur kemoterapi dilakukan?

Ada beberapa cara melakukan kemoterapi, di antaranya:

1. Intravena

Kemoterapi intravena paling umum dilakukan. Metode ini umumnya dilakukan di rumah sakit dengan menyalurkan sekantung cairan obat kemoterapi ke dalam vena (intravena) pasien, persis seperti infus rumah sakit. 

Selain dengan cara seperti infus, cara pemberian obat ke dalam vena dapat diberikan melalui beberapa cara, antara lain:

  • Kanula, yakni tabung pendek dan tipis yang dimasukkan ke dalam pembuluh darah di lengan atau punggung tangan pasien.
  • PICC (kateter vena sentral perifer) yang dimasukkan ke dalam vena di lengan dan disambungkan ke vena di dada
  • Port implan (portacath) yang dimasukkan ke dalam vena dengan lubang (port) di bawah kulit di dada atau lengan pasien.

Ketika kanula, PICC atau port telah terpasang, obat kemoterapi akan dimasukkan ke dalamnya melalui suntikan, sebagai infus atau melalui pompa.

Perawat akan memeriksa apakah kanula, saluran atau port berfungsi dengan baik sebelum memberi kemoterapi.

2. Langsung ke area tubuh tertentu

Menggunakan metode yang sama dengan intravena, sebagian obat kemoterapi bisa diberikan langsung ke perut (intraperitoneal), rongga dada (intrapleural), sistem saraf pusat (intraarterial), atau kantung kemih (intravesikal).

3. Suntikan

Obat kemoterapi cair dapat diberikan dalam bentuk suntikan. Biasanya, suntikan  diberikan di otot atau bawah kulit pada area lengan, kaki, atau perut. 

4. Obat minum 

Dokter bisa meresepkan obat kemoterapi dalam bentuk pil atau kapsul yang akan diminum oleh penderita.

5. Krim

Beberapa obat kemoterapi untuk mengobati kanker kulit dapat berbentuk krim. Obat ini diberikan dengan cara mengoleskannya ke area kulit yang terjangkit. 

6. Intraarterial 

Kemoterapi dapat diberikan langsung ke sel kanker, atau pada bagian tubuh yang menjadi tempat sel-sel kanker. Biasanya obat ini diberikan secara intra-arteri, yaitu pemberian obat dengan mengalirkan obat ke arteri terdekat dengan tumor. Prosedur ini lebih sering untuk menangani tumor otak.

Dengan begitu, obat dapat bekerja lebih efektif karena tidak perlu melewati jantung dan paru-paru seperti pada kemoterapi biasa.

Seperti apa hasil kemoterapi?

Pemeriksaan pascakemoterapi akan memberi gambaran terkait respons tubuh pasien terhadap kemoterapi. Dengan ini, dokter akan mengevaluasi apakah perlu penyesuaian pengobatan atau pengobatan mungkin selesai. 

Hasil yang didapat dari kemoterapi mencakup:

  • Respons lengkap, berarti semua kanker atau tumor menghilang, tidak ada sel kanker yang terdeteksi. Hal ini termasuk tanda kemoterapi yang berhasil.
  • Respons parsial, menandakan sel kanker telah menyusut jumlahnya tetapi masih tetap ada dalam tubuh.
  • Kanker stabil. Pada kondisi ini kanker tidak tumbuh ataupun menyusut, jumlah sel kanker pun tidak berubah. 
  • Kanker berkembang, di mana sel-sel kanker telah berkembang lebih banyak dibandingkan sebelum menjalani pengobatan. 

Apa saja efek samping kemoterapi?

Kemoterapi dapat menyebabkan efek samping yang bervariasi, tergantung pada tipe dan jumlah obat yang diberikan. Beberapa orang mengalami sedikit efek samping, bahkan ada yang tidak sama sekali.

Sederet efek samping kemoterapi yang dapat terjadi meliputi:

1. Mual dan muntah

Mual dan muntah adalah efek samping yang paling umum terjadi. Dokter biasanya meresepkan obat antimual untuk mengatasinya.

2. Gangguan pada rambut, kuku, dan kulit

Sebagian pasien dapat mengalami rambut rontok atau rambut yang menjadi lebih tipis dan rapuh pada beberapa minggu setelah memulai kemoterapi. Kuku juga dapat menjadi rapuh serta mudah retak.

Sedangkan kulit pasien bisa menjadi kering, terasa nyeri, dan lebih sensitif bila terkena sinar matahari. 3. Rasa lelah

Keluhan ini dapat dirasakan setiap saat atau ketika melakukan aktivitas tertentu. Untuk menguranginya, dokter akan menyarankan pasien untuk cukup beristirahat dan menghindari kegiatan yang terlalu melelahkan.

4. Gangguan pendengaran

Toksin dari beberapa obat kemoterapi dapat mempengaruhi sistem saraf dan menyebabkan telinga berdengung (tinnitus), hilangnya pendengaran untuk sementara atau permanen, dan gangguan keseimbangan.

5. Infeksi

Kemoterapi dapat menyebabkan penurunan kemampuan sistem kekebalan tubuh sekaligus menurunkan jumlah sel darah putih. Akibatnya, risiko terjadinya infeksi akan meningkat. Beberapa langkah dapat Anda lakukan untuk mencegah infeksi meliputi:

  • Cuci tangan secara rutin
  • Menjaga luka agar tetap bersih
  • Mengonsumsi makanan yang bersih dan sehat
  • Segera berobat apabila mengalami gejala infeksi

Bila perlu, dokter dapat meresepkan obat antibiotik untuk membantu dalam mengurangi risiko infeksi.

6. Gangguan perdarahan

Obat kemoterapi bisa mengurangi jumlah trombosit dalam darah, sehingga proses pembekuan darah tidak berjalan dengan normal. Gangguan perdarahan yang dapat terjadi berupa:

  • Mudah mengalami memar
  • Berdarah lebih banyak dari biasanya, padahal hanya mengalami luka kecil
  • Sering mimisan atau mengalami gusi berdarah

Jika jumlah trombosit darah sangat rendah, pasien mungkin membutuhkan transfusi darah.

7. Anemia

Kemoterapi dapat mengurangi jumlah sel darah merah yang menyebabkan anemia. Kondisi kurang darah ini meliputi kelelahan, sesak napas, dan jantung berdebar.

Pasien akan disarankan untuk mengonsumsi makanan yang kaya zat besi guna menambah jumlah sel darah merah dalam tubuhnya.

8. Mukositis

Mukositis adalah peradangan pada membran mukosa yang dapat terjadi di sepanjang saluran cerna. Kondisi ini bisa terjadi dari rongga mulut hingga ke dubur.

Mukositis yang terjadi di mulut biasanya muncul 7-10 hari pasca kemoterapi, dan dapat membuat pasien kesulitan untuk makan atau berbicara. Sensasi seperti terbakar juga dapat dirasakan di sekitar mulut maupun bibir.

9. Tidak nafsu makan

Kemoterapi dapat memicu hilangnya nafsu makan pada pasien yang menjalaninya. Jadi, mereka rentan mengalami gangguan penyerapan nutrisi.

Pasien yang terus mengalami kesulitan makan dapat dirawat di rumah sakit untuk mendapatkan asupan gizi lewat selang atau infus.

10. Gangguan kesuburan (infertilitas)

Beberapa jenis obat kemoterapi dapat mengganggu kesuburan pada pria maupun wanita. Pasien wanita juga tidak disarankan untuk hamil ketika menjalani kemoterapi karena prosedur ini dapat memengaruhi perkembangan janin.

11. Gangguan pencernaan

Kemoterapi dapat menyebabkan diare atau sembelit yang muncul beberapa hari setelah pengobatan dimulai.

12. Gangguan mental dan kognitif

Beberapa gangguan kognitif dapat terjadi selama kemoterapi. Misalnya, sulit konsentrasi, masalah pola pikir, dan daya ingat jangka pendek. Selain itu, kemoterapi juga dapat menyebabkan gangguan suasana hati (mood) serta depresi.

Berapa biaya kemoterapi?

Biaya kemoterapi dapat beragam tergantung jenis obat dan jumlah siklus kemoterapi yang dijalani, serta fasilitas kesehatan yang menyelenggarakannya. 

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 69 tentang standar tarif pelayanan disebutkan bahwa harga kemoterapi berkisar antara Rp500.000-11.000.000. 

Namun Anda yang telah menjadi anggota Jaminan Kesehatan Nasional - Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) tidak perlu cemas. Pasalnya, biaya kemoterapi termasuk dalam tanggungan program asuransi tersebut, selama memenuhi diagnosis dan peraturan yang berlaku.

mualkankermuntahkemoterapi

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/chemotherapy/
Diakses pada 19 Desember 2021

Medline Plus. https://medlineplus.gov/cancerchemotherapy.html
Diakses pada 9 Desember 2021

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/chemotherapy/about/pac-20385033
Diakses pada 9 Desember 2021

National Cancer Institute. https://www.cancer.gov/about-cancer/treatment/types/chemotherapy
Diakses pada 9 Desember 2021

WebMD. https://www.webmd.com/cancer/chemotherapy-what-to-expect#1
Diakses pada 26 Februari 2020

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/158401.php#side_effects
Diakses pada 26 Februari 2020

American Society of Clinical Oncology. https://www.cancer.net/navigating-cancer-care/how-cancer-treated/chemotherapy/understanding-chemotherapy
Diakses pada 20 Desember 2021

Healthline. https://www.healthline.com/health/chemotherapy#procedure
Diakses pada 20 Desember 2021

Chemocare. https://chemocare.com/chemotherapy/what-is-chemotherapy/how-to-tell-if-chemotherapy-is-working.aspx
Diakses pada 20 Desember 2021

Macmillan Cancer Support.
https://www.macmillan.org.uk/cancer-information-and-support/treatment/types-of-treatment/chemotherapy/how-chemotherapy-is-given
Diakses pada 20 Desember 2021

Stanford Healthcare. https://stanfordhealthcare.org/medical-treatments/c/chemotherapy/about-this-treatment/types.html
Diakses pada 20 Desember 2021

Cancer Research UK. https://www.cancerresearchuk.org/about-cancer/cancer-in-general/treatment/chemotherapy/how-you-have/where-you-have
Diakses pada 20 Desember 2021

Cancer Center. https://www.cancercenter.com/community/blog/2016/06/four-reasons-cancer-patients-should-get-to-know-their-dentist
Diakses pada 20 Desember 2021

Kementerian Kesehatan RI. http://bprs.kemkes.go.id/v1/uploads/pdffiles/peraturan/32%20PMK%20No.%2069%20ttg%20Standar%20Tarif%20Pelayanan%20Kesehatan%20Program%20JKN.pdf
Diakses pada 20 Desember 2021

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email