Proses cuci darah dapat dilakukan dengan mesin khusus
Cuci darah bisa dilakukan dengan mesih khusus

Apa itu cuci darah?

Pada kondisi normal, ginjal bertugas menyaring limbah sisa produk yang berbahaya dan cairan berlebih dari darah. Limbah ini akan dibuang dalam bentuk urine yang akan dikeluarkan dari tubuh.

Apabila ginjal mengalami kerusakan, prosedur medis berupa cuci darah diperlukan untuk menggantikan fungsi ginjal tersebut.

Cuci darah adalah suatu prosedur yang dilakukan untuk membuang limbah sisa dan cairan berlebih dari darah ketika ginjal seseorang tidak lagi berfungsi dengan baik. Dalam dunia medis, teknik medis ini disebut dialisis. 

Terdapat dua metode cuci darah, yakni hemodialisis dan cuci darah peritoneal. Keduanya memiliki fungsi yang sama, namun caranya berbeda.

  • Hemodialisis

Prosedur ini melibatkan proses pemindahan darah ke suatu mesin di luar tubuh untuk ‘membersihkan’ darah. Pasien biasanya perlu datang ke klinik atau rumah sakit beberapa kali dalam seminggu guna melakukannya.

  • Cuci darah peritoneal

Pada cuci darah peritoneal, jaringan tubuh pasien pada rongga perut digunakan untuk menyaring darah. 

Berapa biaya cuci darah?

Untuk satu kali menjalani prosedur cuci darah pada pasien gagal ginjal, biaya yang harus dikeluarkan sekitar Rp 850.000 sampai Rp 1.000.000. Harap diingat bahwa nominal ini belum termasuk biaya bagi pasien yang mungkin butuh rawat inap di rumah sakit.

Namun Anda yang telah menjadi anggota Jaminan Kesehatan Nasional - Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) tidak perlu cemas. Pasalnya, biaya prosedur cuci darah termasuk dalam tanggungan program asuransi tersebut. 

Kenapa cuci darah dibutuhkan? 

Ginjal manusia memiliki fungsi yang sangat penting. Beberapa di antaranya adalah:

  • Mencegah air, zat sisa, dan bahan-bahan berbahaya lain menumpuk di dalam tubuh. 
  • Membantu dalam pengaturan tekanan darah dan menjaga keseimbangan jumlah mineral dalam tubuh, seperti kalium dan natrium. 
  • Mengaktifkan vitamin D untuk penyerapan kalsium.

Cuci darah diperlukan untuk menggantikan fungsi ginjal ketika organ ini tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Misalnya karena adanya kondisi medis tertentu atau cedera.

Tanpa proses dialisis, zat sisa yang berbahaya dapat menumpuk dalam darah, meracuni tubuh, dan merusak organ-organ dalam tubuh.

Umumnya, cuci darah mulai dilakukan sebelum ginjal mengalami kerusakan total dan menimbulkan komplikasi yang mengancam nyawa penderitanya.

Siapa yang membutuhkan cuci darah?

Cuci darah bertujuan menggantikan fungsi ginjal. Fungsi organ ini dinilai dari laju filtrasi glomerulus (LFG) yang dihitung dengan kadar kreatinin darah, usia, jenis kelamin, dan faktor-faktor lainnya. 

Ginjal dikatakan mengalami kegagalan apabila kinerjanya hanya sebesar 10 hingga 15 persen dari fungsi normalnya. Saat inilah dokter akan menganjurkan pasien untuk menjalani cuci darah.

Gejala gagal ginjal:

  • Asidosis: tingginya kadar asam dalam darah
  • Muncul pembengkakan pada tubuh seperti kaki, wajah. Hal ini disebabkan oleh karena tubuh tidak mampu membuang kelebihan cairan tersebut. 
  • Hiperkalemia: tingginya kadar kalium darah
  • Uremia: kadar ureum darah tinggi akibat ginjal tidak dapat membuangnya, gejala berupa mual,muntah,gatal-gatal dan kelelahan.

Gagal ginjal bersifat kronis, sehingga butuh waktu cukup lama hingga gejalanya dirasakan oleh pasien. Beberapa penyakit yang dapat menyebabkan gagal ginjal meliputi:

  • Diabetes
  • Hipertensi
  • Radang pada pembuluh darah (vaskulitis)
  • Radang pada ginjal (glomerulonefritis)
  • Kista pada ginjal (penyakit ginjal polikistik)

Akan tetapi, kerusakan fungsi secara cepat juga dapat terjadi apabila ginjal mengalami cedera. Gejala akan muncul lebih awal dan memburuk lebih cepat.

Selain dari fungsi ginjal, dokter akan menentukan kapan seseorang membutuhkan dialisis dengan mempertimbangkan faktor-faktor berikut:

  • Kondisi kesehatan pasien secara umum
  • Tanda dan gejala yang dialami
  • Kualitas hidup pasien
  • Preferensi pribadi pasien

Seberapa sering Anda harus menjalani cuci darah?

Seberapa sering pasien menjalani cuci darah bervariasi. Hal ini tergantung pada jenis dialisis yang dipilih. 

Hemodialisis

Bagi pasien yang menjalani prosedur hemodialisis, cuci darah biasanya dilakukan tiga kali seminggu. Satu kali proses cuci darah dapat berlangsung dari 2,5 jam hingga 4,5 jam. 

Selama cuci darah, petugas medis akan memeriksa tekanan darah dan memastikan volume darah yang berpindah dari tubuh ke mesin cuci darah sudah tepat.

Cuci darah peritoneal 

Untuk cuci darah peritoneal, pasien perlu lebih terlibat dalam prosedur cuci darah. Pasien bertanggung jawab dalam menjaga kebersihan rongga perut dan kateter, agar infeksi tidak terjadi. 

Terdapat tiga jenis cuci darah peritoneal:

  • Continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD)

Prosedur ini tidak memerlukan mesin khusus cuci darah. CAPD dapat dilakukan tiga hingga lima kali sehari, masing-masing selama 30 hingga 40 menit.

  • Continuous cyclic peritoneal dialysis (CCPD)

CCPD menggunakan mesin khusus cuci darah yang dapat digunakan di rumah. Karena memakai mesin, prosedurnya dapat dilakukan secara otomatis, bahkan ketika pasien tidur.

  • Intermittent peritoneal dialysis (IPD)

Prosedur ini menggunakan mesin khusus cuci darah seperti CCPD. Tetapi waktu yang dibutuhkan lebih lama. Meskipun dapat dilakukan di rumah, IPD lebih sering dijalani di rumah sakit.

Apa saja persiapan untuk menjalani cuci darah?

Persiapan cuci darah dimulai pada beberapa minggu hingga beberapa bulan sebelum prosedur pertama dilakukan. Dokter akan melakukan operasi untuk membuat akses pada pembuluh darah pasien. 

Hemodialisis

Pada hemodialisis, dokter perlu membuat lubang akses ke pembuluh darah di tubuh pasien. Akses ini bisa berupa:

  • Fistula arteri-vena yang umumnya dipasang pada lengan Anda.
  • Kateter vena sentral di dekat tulang selangka Anda. Jenis akses ini biasanya dibuat dalam kondisi gawat darurat
  • Arteriovenous graft (AV graft) yang dapat dipertimbangkan bagi pasien dengan pembuluh darah yang terlalu kecil.

Cuci darah peritoneal

Pada cuci darah peritoneal, dokter akan memasukkan kateter ke dalam rongga perut lewat sayatan kecil dekat pusar pasien. Kateter akan berfungsi untuk mengalirkan darah ke rongga perut.

Bagaimana prosedur cuci darah dilakukan?

Sebelum cuci darah dilakukan, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik berupa tekanan darah, suhu, detak jantung per menit, frekuensi pernapasan per menit dan berat badan. Lalu dokter dapat melakukan proses cuci darah.

Prosedur cuci darah pun tergantung dari metode yang digunakan. Berikut penjelasannya: 

Hemodialisis

Pada pasien dengan metode hemodialisis, prosedur dapat dilakukan di rumah, pusat cuci darah, atau rumah sakit oleh tenaga kesehatan yang terlatih. Langkah-langkahnya meliputi:

  • Dokter melakukan operasi untuk memasang akses khusus. Umumnya, akses ini dipasang pada pembuluh darah di tangan (fistula arteri-vena) dan bertujuan menyatukan pembuluh darah arteri dan vena.
  • Akses tersebut kemudian dihubungkan dengan mesin hemodialisis.
  • Mesin hemodialisis akan menyerap darah, lalu akan menyaring darah pada larutan diasilat untuk membuang zat sisa dan cairan berlebih dari darah.
  • Darah yang sudah disaring akan dikembalikan ke dalam tubuh pasien.

Cuci darah peritoneal

Bagi pasien dengan metode cuci darah peritoneal, prosedurnya meliputi:

  • Dokter akan melakukan operasi untuk memasang kateter di perut bagian bawah (dekat pusar).
  • Cairan dialisat akan dimasukan ke rongga peritoneum di perut pasien.
  • Cairan tersebut akan dibiarkan berada di rongga perut dalam jangka waktu tertentu. Cairan ini akan menyerap zat sisa dan racun.
  • Kemudian, cairan dialisat akan ditampung dalam kantung dan dibuang. 

Apa saja yang perlu diperhatikan selama cuci darah?

Selama proses cuci darah berlangsung, gejala seperti mual dan kram perut dapat dirasakan ketika cairan berlebih ditarik dari dalam tubuh. Apabila merasa kurang nyaman selama prosedur, Anda dapat meminta tenaga medis untuk mengatur kecepatan cuci darah serta dosis obat atau cairan hemodialisis untuk mengurangi keluhan yang Anda rasakan.

Selain itu, tekanan darah dan denyut jantung Anda akan terus dipantau selama prosedur dialisis berlangsung.

Pasien juga diharapkan memberikan informasi berkaitan dengan keluhan yang dirasakan pada proses tersebut. Dengan ini, dokter atau tenaga medis dapat membuat catatan selama memantau kondisi Anda. 

Anda juga diizinkan untuk membaca, tidur, atau melakukan aktivitas santai lainnya, asal tidak berpindah dari tempat tidur Anda. 

Setelah cuci darah selesai, perawat akan menimbang berat badan Anda. Langkah ini bertujuan mendeteksi apakah tubuh Anda menyimpan banyak cairan atau tidak. 

Dokter juga akan melakukan pemeriksaan sebulan sekali untuk memantau fungsi ginjal. Pemeriksaan ini bisa berupa:

  • Tes rasio reduksi urea (URR) dan total bersihan urea. Pada tes ini, darah Anda akan diambil untuk melihat apakah hemodialsis berhasil membuang limbah dari tubuh Anda atau tidak.
  • Tes kimia darah.
  • Tes hitung sel darah.
  • Tes untuk mengukur aliran darah melalui akses selama proses hemodialisis.

Untuk mengoptimalkan dampak cuci darah, Anda pun dapat melakukan langkah-langkah berikut:

  • Menerapkan pola makan yang sehat dan seimbang

Makan sehat dengan gizi seimbang tak hanya akan meningkatkan manfaat cuci darah, tapi juga kesehatan Anda secara keseluruhan.

  • Menjaga asupan cairan dan mineral

Anda perlu menjaga asupan cairan, sodium, protein, kalium, serta fosfor yang Anda konsumsi. Anda juga bisa meminta bantuan dari dokter ahli gizi klinis agar kadarnya lebih terjamin dan sesuai dengan kondisi tubuh Anda.

  • Minum obat secara teratur

Patuhilah petunjuk dokter mengenai konsumsi obat-obatan dengan saksama.

  • Mengungkapkan keluhan Anda

Apabila Anda memiliki keluhan atau kekhawatiran tertentu, jangan ragu untuk membicarakannya dengan keluarga maupun orang terdekat. Anda juga bisa mendiskusikannya pada dokter maupun tim medis yang menangani Anda.

Apa saja risiko cuci darah?

Beberapa risiko yang dapat terjadi pada pasien yang menjalani cuci darah antara lain:

  • Tekanan darah rendah (hipotensi)

Penurunan tekanan darah merupakan efek samping yang umum terjadi pada dialisis, terutama pada pasien dengan diabetes. Tekanan darah rendah (hipotensi) juga dapat disertai dengan gejala lain yang berupa sesak napas, kram perut, mual, atau muntah.

  • Kram otot

Meski penyebabnya tidak diketahui dengan pasti, kram otot selama prosedur hemodialisis juga umum terjadi. Gejala ini bisa dikurangi dengan mengatur kadar cairan dan konsumsi sodium sebelum cuci darah.

  • Gatal-gatal

Beberapa pasien yang menjalani cuci darah dapat mengalami gatal-gatal pada kulit. Gejala ini sering memburuk selama atau setelah prosedur hemodialisis dilakukan.

  • Gangguan tidur

Gangguan tidur bisa muncul karena adanya jeda napas selama tidur (sleep apnea). Keluhan ini juga dapat terjadi akibat rasa nyeri, tidak nyaman, atau kaki yang tidak bisa diam selama tidur.

  • Anemia

Anemia atau kurangnya sel darah merah dalam tubuh dapat terjadi selama prosedur cuci darah maupun pada pengidap gagal ginjal.

  • Cairan berlebih

Prosedur hemodialisis melibatkan dikeluarkannya cairan dari dalam tubuh. Prosedur ini bisa saja membuat tekanan darah terlalu rendah, kemudian dialisis harus dihentukan.

Penghentian dialisis kemudian bisa berdampak pada jumlah cairan dalam tubuh. Pasalnya, proses cuci darah yang belum selesai dapat membuat penumpukan jumlah cairan dalam tubuh pasien.

Penumpukan cairan tersebut berpotensi memicu gagal jantung atau cairan menumpuk di paru-paru (edema paru). Kedua kondisi ini bisa berakibat fatal.

  • Peradangan lapisan luar jantung (perikarditis)

Penumpukan cairan akibat prosedur hemodialisis yang dihentikan sebelum waktunya juga dapat berujung pada peradangan di lapisan luar jantung (perikarditis). Kondisi ini kemudian mengganggu fungsi jantung.

  • Komplikasi pada lokasi akses cuci darah

Infeksi atau gangguan pada pembuluh darah dapat terjadi dan mengganggu kualitas hemodialisis.

Sementara bagi pasien yang menjalani cuci darah peritoneal, efek samping yang dapat dialami adalah peritonitis. Peritonitis adalah peradangan pada rongga peritoneum, yang berpotensi fatal.

  • Amiloidosis

Amiloidosis terjadi ketika protein dalam darah menumpuk dalam sendi yang menyebabkan nyeri, kaku, dan mengalami penumpukan cairan. Kondisi ini lebih umum dialami oleh pasien yang telah menjalani prosedur cuci darah selama lebih dari lima tahun.

  • Depresi

Perubahan suasana hati (mood) dapat ditemui pada pasien yang mengalami gagal ginjal. Kekhawatiran akan kondisinya atau ketakutan untuk menghadapi cuci darah bisa saja memicu kondisi ini.

Bila terus dibiarkan, kondisi kejiwaan ini bisa berujung pada depresi. Karena itu, pasien perlu mendiskusikannya dengan dokter atau ekeluarga bisa mengalami gangguan mood.

Keluarga dan orang terdekat pasien juga dianjurkan untuk lebih peka terhadap perubahan mood yang mungkin terjadi. Dengan ini, komplikasi berupa stres maupun depresi bisa dikenali dan segera ditangani.

BPJS Kesehatan. https://bpjs-kesehatan.go.id/bpjs/post/read/2018/1006/Dengan-JKN-KIS-Bisa-Cuci-Darah-Dengan-Tenang
Diakses pada 7 Februari 2020

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/dialysis/
Diakses pada 7 Februari 2020

Stanford Health Care. https://stanfordhealthcare.org/medical-treatments/d/dialysis/types.html
Diakses pada 7 Februari 2020

Medline Plus. https://medlineplus.gov/dialysis.html
Diakses pada 7 Februari 2020

Medicine Net. https://www.medicinenet.com/dialysis/article.htm#what_are_the_types_of_dialysis_how_do_they_work
Diakses pada 7 Februari 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/dialysis
Diakses pada 7 Februari 2020

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/152902.php
Diakses pada 7 Februari 2020

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/hemodialysis/about/pac-20384824
Diakses pada 7 Februari 2020

Verywell Health. https://www.verywellhealth.com/complications-at-hemodialysis-low-blood-pressure-3954431
Diakses pada 7 Februari 2020

Artikel Terkait

Anemia sel sabit pada pria bisa menyebabkan priapismus, infertilitas hingga gangguan ginjal pada pria.

Anemia Sel Sabit pada Pria Picu Infertilitas

Anemia sel sabit dapat dialami oleh pria dan wanita, tetapi pada pria, anemia sel sabit dapat memicu infertilitas dan dampak negatif lainnya. Meskipun belum ada obatnya, anemia sel sabit dapat ditangani dengan pemberian antibiotik.