Kraniotomi

Ditinjau olehdr. Reni Utari
Craniotomy adalah prosedur pembuatan lubang pada tulang tengkorak untuk operasi otakCraniotomy adalah prosedur yang dilakukan pada operasi otak

Apa itu kraniotomi?

Kraniotomi (craniotomy) adalah proses operasi dengan membuat lubang pada tulang tengkorak agar dokter dapat melakukan pembedahan otak. Prosedur ini biasanya dilakukan untuk menangani tumor otak, pembengkakan pada otak, perdarahan dalam tulang tengkorak, hingga mengeluarkan darah yang menggumpal di otak.

Prosedur ini dilakukan oleh dokter spesialis bedah saraf. Kraniotomi melibatkan proses pengangkatan satu bagian di tulang tengkorak yang dinamakan bone flap. Dengan demikian, tulang tengkorak terbuka dan dokter memiliki jalan untuk mengakses otak. 

Ukuran tulang tengkorak yang diangkat bisa kecil ataupun besar, tergantung pada tingkat keparahan gangguan otak yang dialami oleh pasien. Biasanya, pengangkatan bone flap dimulai dengan membuat burr holes, yaitu lubang kecil yang dibuat dengan bor. 

Ketika lubang telah terbentuk, tulang tengkorak di sekelilingnya akan dikikis hingga dapat diangkat. Melalui prosedur ini, dokter dapat melihat dan mengevaluasi otak lebih baik.

Kraniotomi dapat dilakukan dengan berbagai metode yang menggabungkan alat-alat tertentu seperti mikroskop bedah, kamera berdefinisi tinggi, atau endoskop. Dokter akan memilih teknik pembedahan yang paling tepat sesuai indikasi yang dimiliki pasien serta bagian otak yang akan dibedah.

Apa tujuan melakukan kraniotomi?

Indikasi atau tujuan utama kraniotomi (craniotomy) adalah untuk menangani berbagai permasalahan pada otak, seperti:

  • Tumor otak
  • Infeksi otak
  • Abses otak 
  • Epilepsi 
  • Pembengkakan (edema) otak 
  • Perdarahan dalam tulang tengkorak
  • Hematoma atau terdapat bekuan darah
  • Aneurisma 
  • Cedera otak traumatik dan benda asing pada kepala, contohnya peluru
  • Penanganan hidrosefalus, yakni pemasangan shunt ke dalam ventrikel otak agar cairan otak yang berlebihan dapat dikeluarkan
  • Pemasangan deep brain stimulator untuk mengobati penyakit Parkinson
  • Pemasangan monitor tekanan intrakranial
  • Biopsi jaringan otak
  • Drainase bekuan darah 
  • Pemasangan endoskopi untuk mengangkat tumor otak 
  • Trauma kepala
  • Stroke hemoragik

Apa saja jenis-jenis kraniotomi?

Ada berbagai jenis kraniotomi yang dapat dokter gunakan. Biasanya, metode yang digunakan akan tergantung dengan tingkat keparahan gangguan yang terjadi serta kondisi lainnya. 

Berikut ini jenis kraniotomi yang dapat dilakukan dokter:

1. Kraniotomi stereotaktik

Stereotactic craniotomy adalah kraniotomi yang dilakukan menggunakan bantuan MRI atau CT Scan. Dokter akan menggunakan salah satu dari kedua teknologi tersebut untuk membuat model tiga dimensi dari otak pasien, sehingga akan lebih mudah untuk membedakan jaringan yang sehat dan yang tidak.

2. Kraniotomi endoskopi

Metode kraniotomi yang dilakukan menggunakan alat endoskop yang berbentuk seperti selang kecil dan dilengkapi dengan kamera serta lampu. Metode ini membuat dokter tidak perlu membuka terlalu banyak jaringan di tulang tengkorak, cukup sesuai dengan diameter endoskop yang digunakan. Dengan demikian, luka yang ditinggalkan juga jadi lebih kecil.

3. Kraniotomi lubang kunci 

Sesuai namanya, pada kraniotomi jenis ini dokter akan membuat lubang kecil seperti lubang kunci di area belakang telinga. Metode ini kerap digunakan bersamaan dengan kraniotomi endoskopi dan umumnya dilakukan untuk menghilangkan tumor otak tanpa harus membuat sayatan terlalu lebar.

4. Kraniotomi supraorbital

Supraorbital adalah area yang berada sedikit di atas alis. Jadi, kraniotomi supraorbital adalah prosedur yang dilakukan dengan mengangkat sedikit tulang tengkorak di area atas alis. 

Biasanya, jenis kraniotomi ini dipilih untuk mengatasi tumor di otak bagian depan. 

5. Kraniotomi frontotemporal

Frontotemporal adalah bagian tulang tengkorak sebelah samping. Pada prosedur ini dokter akan membuat lubang di belakang garis batas tumbuhnya rambut (hairline) agar bisa mengakses lebih banyak bagian otak.

6. Kraniotomi orbizigomatik

Orbizigomatik adalah area tulang tengkorak yang membentuk bagian seperti soket mata dan pipi. Pada proses kraniotomi ini, dokter akan mengangkat tulang di area tersebut agar bisa mendapatkan akses yang lebih luas ke otak sambil mencegah risiko terjadinya kerusakan otak akibat prosedur operasi.

Kraniotomi jenis ini biasanya digunakan untuk mengatasi tumor dan aneurisma yang rumit.

7. Kraniotomi fosa posterior

Kraniotomi jenis ini dilakukan di bagian dasar atau bawah tengkorak. Umumnya dilakukan untuk mengangkat tumor yang muncul di area fosa posterior yang dekat dengan batang otak dan otak kecil, alias cerebellum. Kedua bagian otak tersebut berperan untuk mengatur keseimbangan dan koordinasi.

8. Kraniotomi translabirin

Kraniotomi translabirin dilakukan untuk mengatasi neuroma akustik. Dokter akan membuat sayatan di belakang telinga dan mengangkat tulang mastoid dan kanal semicircular. 

9. Kraniotomi bifrontal

Kraniotomi bifrontal biasanya dipilih dokter untuk menghilangkan tumor parah yang terletak di otak bagian depan.

Metode ini dipilih bila kondisi tumor tidak memungkinkan untuk dihilangkan menggunakan prosedur yang lebih sederhana.

10. Kraniotomi yang dilakukan saat pasien sadar (awake craniotomy)

Umumnya, kraniotomi dilakukan di bawah pengaruh bius total. Akan tetapi, prosedur ini juga bisa dilakukan dengan menjaga pasien tetap sadar. Prosedur ini disebut dengan awake craniotomy.

Tujuan melakukan kraniotomi secara sadar adalah untuk menilai fungsi otak pasien, sembari pembedahan dilakukan. Dalam prosedur ini, tim dokter maupun perawat yang ada di ruang operasi akan mengajak pasien terus berbicara dan bercerita.

Apabila terjadi gangguan pada fungsi tertentu (seperti bicara, bergerak, melihat) pasien dapat langsung memberi tahu atau dokter akan bisa dengan segera menyadarinya. 

Prosedur ini dilakukan dengan prosedur bius khusus, sehingga meski operasi dilakukan saat pasien sadar, ia tidak akan merasa sakit

Apa saja persiapan untuk menjalani kraniotomi?

Persiapan sebelum menjalani prosedur ini tergantung pada apakah kondisi yang Anda alami, apakah gawat darurat atau bukan. 

Untuk cedera kepala dan perdarahan dalam otak yang merupakan kondisi darurat, Anda mungkin tidak melakukan persiapan khusus, karena operasi harus dilakukan secepatnya.

Namun, bila kondisi Anda bukanlah kegawatdaruratan (misalnya tumor otak), langkah-langkah persiapan di bawah ini dapat Anda lakukan sebelum menjalani kraniotomi: 

  • Mendiskusikan prosedur dan pilihan metode pengobatan dengan dokter bedah.
  • Melakukan beberapa pemeriksaan yang meliputi rekam jantung, rontgen dada, pemeriksaan darah, dan kehamilan. Langkah ini bertujuan memastikan apakah Anda dapat menjalani operasi atau tidak.
  • Berhenti minum obat-obatan tertentu, seperti obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) dan obat pengencer darah setidaknya satu minggu sebelum pembedahan. 
  • Berhenti merokok, mengunyah tembakau, dan mengonsumsi alkohol minimal satu minggu sebelum operasi hingga dua minggu setelahnya. Pasalnya, aktivitas-aktivitas ini dapat meningkatkan risiko perdarahan. 
  • Menjalani pemeriksaan MRI kepala untuk menentukan lokasi pembedahan.
  • Anda mungkin diminta untuk keramas dengan sampo antiseptik khusus semalam sebelum operasi.
  • Berpuasa semalam sebelum hari operasi.
  • Anda juga mungkin akan diberikan obat penenang sebelum prosedur dimulai untuk membantu Anda rileks.

Bagaimana prosedur kraniotomi dilakukan?

Prosedur craniotomy biasanya berlangsung selama 2,5 jam. Secara umum, langkah-langkah operasi ini meliputi:

  • Rambut Anda akan dicukur terlebih dahulu agar tidak mengganggu proses bedah. Bisa dicukur habis atau sebagian, tergantung luas area tulang tengkorak yang akan dibuka.
  • Anda akan diberi bius total, sehingga tidak akan merasakan nyeri dan tidak sadar selama operasi berlangsung.
  • Kepala Anda akan diposisikan pada bantal khusus agar area kepala yang akan dibedah dapat diakses dengan mudah oleh dokter bedah saraf.
  • Dokter memulai prosedur kraniotomi dengan membuat sayatan pada kulit kepala.
  • Setelahnya, dokter akan memakai alat khusus (perforator) untuk membuat beberapa lubang kecil (burr holes) pada tengkorak.
  • Alat bernama craniotome digunakan untuk memotong tulang tengkorak dari satu burr hole ke yang lainnya, sehingga terbentuk bone flap yang akan diangkat.
  • Setelah bone flap tersebut diangkat, akan terlihat bagian otak yang disebut dura mater, alias selaput otak yang terletak tepat di bawah tulang tengkorak. 
  • Dokter kemudian akan membuka dura mater secara perlahan, hingga otak terlihat.
  • Setelah mendapatkan akses ke otak, dokter akan melakukan pembedahan pada otak sesuai dengan indikasi kraniotomi.    
  • Jika pembedahan telah selesai, bagian tulang tengkorak yang telah diangkat akan dikembalikan ke tempat semula dan direkatkan dengan pelat dan sekrup dari bahan titanium
  • Dokter kemudian menjahit otot dan kulit kepala pasien.
  • Perban atau pembalut steril akan dipasang di atas sayatan.

Apa saja yang perlu diperhatikan selama penyembuhan setelah kraniotomi?

Setelah prosedur craniotomy selesai, dokter dan petugas medis akan melakukan hal-hal berikut:

  • Memindahkan Anda ke ruangan perawatan intensif (ICU) untuk pemantauan secara ketat.
  • Membiarkan alat bantu pernapasan terpasang selama perawatan di ICU sampai efek pembiusan hilang dan Anda dapat bernapas dengan baik.
  • Kepala Anda akan diposisikan 30 derajat lebih tinggi dari bagian tubuh lain untuk mengurangi risiko peningkatan tekanan dalam otak.
  • Menutup luka operasi dengan perban dan menggantinya secara rutin guna mencegah infeksi.
  • Memberikan obat penghilang nyeri.
  • Memantau apakah ada tanda kerusakan atau gangguan pada otak.
  • Melakukan pemeriksaan respons pupil mata dengan menyinari kedua mata Anda menggunakan penlight. Langkah ini bertujuan menilai apakah respons pupil Anda normal atau tidak.
  • Tergantung dari jenis pembedahan otak yang Anda jalani, dokter bisa memberikan obat-obatan seperti obat steroid untuk mengurangi pembengkakan otak serta obat antikejang.

Tergantung pada situasi Anda, dokter mungkin akan memberikan cairan untuk Anda minum, beberapa jam setelah operasi. Pola makan Anda mungkin secara bertahap akan berubah sampai Anda bisa memakan makanan padat.

Anda mungkin juga akan dipasang kateter di kandung kemih untuk mengalirkan urine, biasanya sekitar satu hari, atau sampai Anda bisa bangun dari tempat tidur dan bergerak seperti biasa. 

Anda mungkin perlu menginap di rumah sakit sekitar lima hari sampai dua minggu pascaoperasi craniotomy. Durasi rawat inap ini tergantung pada jenis operasi yang Anda jalani dan ada tidaknya komplikasi.

Sebelum Anda keluar dari rumah sakit, dokter akan menjadwalkan janji temu untuk kontrol kondisi pascaoperasi Anda. 

Setelah diperbolehkan pulang, Anda dapat melakukan sederet langkah berikut untuk mempercepat pemulihan:

  • Merawat area sayatan bekas operasi agar tetap bersih dan kering
  • Rutin meminum obat yang diresepkan oleh dokter.
  • Anda boleh memakai penutup kepala seperti sorban longgar atau topi di atas sayatan. Tapi tidak boleh memakai wig sampai sayatan benar-benar sembuh (sekitar 3-4 minggu setelah operasi).
  • Menghindari konsumsi alkohol selama beberapa waktu setelah operasi karena alkohol dapat berinteraksi dengan obat-obatan yang Anda minum.
  • Istirahat yang cukup. Anda mungkin diizinkan kembali bekerja sekitar enam minggu setelah operasi.
  • Tetap aktif bergerak, tapi lakukan secara bertahap, dari yang ringan dulu. Misalnya, mulai dari aktivitas berjalan.
  • Jangan mengangkat benda berat selama beberapa minggu untuk mencegah sayatan bekas operasi terbuka. 
  • Menghindari olahraga yang dapat mengakibatkan kontak dengan kepala, contohnya sepak bola, dan bola basket.
  • Jangan mengemudi sampai dokter memberi izin.
  • Fisioterapi, terapi okupasi, dan terapi wicara mungkin dianjurkan dokter membantu Anda mengatasi masalah neurologis jika operasi menimbulkan komplikasi.
  • Segera berkonsultasi dengan dokter bila Anda mengalami tanda infeksi luka (seperti kemerahan atau luka berair) atau gejala yang tidak biasa (seperti sakit kepala berat, kejang, muntah, kebingungan, dan nyeri dada). 

Apa saja efek samping dan komplikasi setelah menjalani kraniotomi?

Selama proses pemulihan, Anda mungkin akan mengalami beberapa efek samping, seperti:

  • Kedua mata Anda mungkin akan sedikit bengkak atau lebam pascaoperasi.
  • Luka bekas operasi yang terus terasa nyeri selama beberapa hari setelah operasi.
  • Rasa gatal pada bekas luka operasi yang menandakan pemulihan luka.
  • Kulit di sekitar luka operasi yang terasa sedikit kebas atau mati rasa selama beberapa bulan.
  • Sakit kepala selama dua minggu.
  • Lebih cepat lelah dibandingkan biasanya. Kondisi ini dapat Anda atasi dengan beristirahat cukup, termasuk tidur siang.

Meski demikian, beragam efek samping di atas tergolong normal, sehingga tidak perlu terlalu khawatir. 

Seperti prosedur lainnya, kraniotomi mungkin saja menimbulkan komplikasi. Akan tetapi, sebelum memutuskan menjalani pembedahan, dokter akan terlebih dulu menilai manfaatnya.

Jika manfaat yang diberikan lewat kraniotomi jauh lebih besar daripada risikonya, dokter akan tetap merekomendasikan pembedahan. 

Tidak semua operasi kraniotomi akan menimbulkan komplikasi. Namun, beberapa kasus, sejumlah komplikasi berikut dapat terjadi, antara lain:

  • Gangguan fungsi saraf, baik sementara maupun permanen, seperti stroke
  • Kehilangan kemampuan atau gangguan berbicara
  • Reaksi alergi terhadap obat bius
  • Cedera pada otot wajah
  • Cedera pada rongga sinus
  • Infeksi pada bone flap
  • Kejang-kejang
  • Perdarahan
  • Kebocoran cairan otak
  • Kerusakan otak
  • Pembengkakan otak
  • Stroke
  • Trombosis vena dalam (DVT)

Oleh karena itu, dokter akan mempertimbangkan dengan matang untuk melakukan craniotomy sesuai dengan kaidah bahwa manfaatnya lebih besar dibanding risiko dan komplikasinya. Dokter juga akan berusaha meminimalisir risiko-risiko tersebut selama pembedahan dilakukan.

strokesakit kepalatumor otak

Statpearls. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK560922/
Diakses pada 19 Januari 2022

Neurosurgical Atlas. https://www.neurosurgicalatlas.com/cases/frontal-gbm-incision-craniotomy-burr-hole-and-managing-air-embolism
Diakses pada 19 Januari 2022

WebMD. https://www.webmd.com/brain/what-to-know-about-burr-hole
Diakses pada 19 Januari 2022

Better Health Channel. https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/ConditionsAndTreatments/craniotomy
Diakses pada 19 Januari 2022

Mayfield Clinic. https://mayfieldclinic.com/pe-craniotomy.htm
Diakses pada 11 Februari 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/craniotomy
Diakses pada 19 Januari 2022

The Brain and Spine Foundation. https://www.brainandspine.org.uk/our-publications/our-fact-sheets/craniotomy/
Diakses pada 19 Januari 2022

University of Rochester Medical Center. https://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx?contenttypeid=92&contentid=P08767
Diakses pada 19 Januari 2022

Hopkins medicine. https://www.hopkinsmedicine.org/health/treatment-tests-and-therapies/craniotomy#:~:text=A%20craniotomy%20is%20the%20surgical,brain%20surgery%20has%20been%20done.
Diakses pada 19 Januari 2022

Neurosurgical Atlas. https://www.neurosurgicalatlas.com/foundation/care-and-treatment/craniotomy-what-the-patient-needs-to-know
Diakses pada 19 Januari 2022

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/subdural-haematoma/treatment/#:~:text=craniotomy%20%E2%80%93%20a%20section%20of%20the,to%20help%20drain%20the%20haematoma
Diakses pada 19 Januari 2022

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email