Amputasi

19 Feb 2020|Nurul Rafiqua
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Amputasi merupakan prosedur medis untuk membuang bagian tubuh tertentu.Amputasi bisa menjadi pilihan terakhir untuk menyelamatkan nyawa.

Apa itu prosedur amputasi?

Amputasi adalah operasi pembedahan untuk menghilangkan sebagian atau seluruh bagian anggota tubuh seperti lengan, telapak tangan, jari tangan, tungkai, jari kaki, atau kaki. Selain bentuk operasi, istilah amputasi juga dapat merujuk pada kondisi medis di mana terdapat bagian tubuh yang hilang atau putus.

Amputasi dapat mengubah pengalaman hidup seseorang. Hilangnya bagian tubuh yang diamputasi akan memengaruhi  kemampuan seseorang untuk bergerak, bekerja, berinteraksi, dan kemandirian dalam menjalani kegiatan sehari-hari. 

Oleh karena itu, sebagai bentuk pengobatan, amputasi selalu menjadi pilihan terakhir. Dokter umumnya hanya merekomendasikan tindakan amputasi sebagai prosedur yang benar-benar diperlukan pasien demi keselamatan nyawanya.

Seseorang yang telah menjalani amputasi dapat menggunakan prostesis (bagian tubuh palsu) untuk menggantikan bagian tubuh yang diamputasi sebagai bagian dari rencana pemulihan. 

 

Apa saja penyebab amputasi?

Amputasi bisa terjadi karena banyak hal, umumnya terjadi karena kecelakaan (amputasi traumatik), melalui operasi yang direncanakan, atau karena cacat lahir (congenital), berikut penjelasannya:

1. Amputasi traumatik

Amputasi traumatik adalah jenis amputasi yang terjadi karena cedera parah yang menyebabkan terputusnya bagian tubuh, misalnya akibat:

Amputasi traumatik merupakan penyebab paling umum seseorang kehilangan bagian tubuhnya. Peristiwa ini sering kali sangat berbahaya dan dapat mengancam jiwa. 

Pada kasus amputasi traumatik di mana anggota tubuh tidak dapat disambungkan kembali, operasi dilakukan untuk membersihkan luka, membentuk tulang yang tersisa pada anggota tubuh yang rusak, dan menutup area yang terpotong. Proses ini dapat melibatkan cangkok kulit dan beberapa operasi lainnya. 

2. Operasi amputasi 

Amputasi melalui operasi terencana biasanya dilakukan pada bagian tubuh yang mengalami kerusakan jaringan, infeksi, atau penyakit tertentu. Berikut di antaranya:

  • Kerusakan atau penyempitan pembuluh darah yang mengganggu aliran darah. Tanpa aliran darah yang memadai, sel-sel tubuh tidak bisa mendapatkan oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan sehingga jaringan yang terkena akan mati dan rentan terinfeksi. Kondisi ini biasanya terjadi sebagai komplikasi dari penyakit arteri perifer, tekanan darah tinggi,  atau diabetes.  
  • Kanker, misalnya sarkoma yang tumbuh pada tulang dan jaringan lunak di tungkai
  • Infeksi serius yang tidak membaik dengan pemberian terapi antibiotik dan terapi lainnya
  • Penebalan saraf atau neuroma
  • Radang dingin atau frostbite yang dapat merusak pembuluh darah di jari tangan dan kaki hingga pada akhirnya harus diangkat.  
  • Anggota tubuh mengalami perubahan bentuk, lumpuh, atau tidak dapat berfungsi dengan baik.

3. Amputasi congenital

Amputasi juga dapat terjadi karena cacat lahir yang menyebabkan pada bayi lahir dengan kaki atau tangan yang tidak terbentuk sempurna atau bahkan tidak terbentuk sama sekali. Pada kondisi ini, operasi atau pemasangan prostesis ditujukan untuk memperbaiki gerakan dan fungsi tubuh.

 

Apa yang harus dipersiapkan sebelum menjalani prosedur amputasi?

Amputasi dapat dilakukan sebagai prosedur elektif yang dijadwalkan, maupun prosedur gawat darurat. Keduanya membutuhkan perencanaan, diskusi, dan evaluasi dari tim medis terkait. 

Dokter bedah akan melakukan pemeriksaan medis dan evaluasi pada anggota tubuh yang sehat, karena anggota tubuh tersebut yang nantinya akan bekerja lebih berat setelah bagian lain teramputasi. 

Psikolog akan menentukan seberapa baik pasien mengatasi dampak psikologis dan emosional dari amputasi, dan apakah pasien  memerlukan dukungan tambahan. 

Pasien juga akan bertemu dengan ahli fisioterapi dan ahli prostesis yang nantinya akan membantu saat pemulihan pascaamputasi dan dan pemilihan prostesis.

 

Apa yang akan dilakukan tim medis pada prosedur amputasi?

Prosedur amputasi secara keseluruhan umumnya memakan waktu 5-14 hari termasuk rawat inap. Lamanya prosedur bergantung pada jenis amputasi yang dilakukan dan komplikasi yang terjadi. 

Amputasi dapat dilakukan dengan bius total (pasien tertidur sepanjang tindakan operasi) atau dengan anestesi spinal, yang membuat area di pinggang ke bawah menjadi mati rasa selama operasi.

Tujuan utama dari tindakan amputasi adalah mengambil seluruh jaringan rusak dan menyisakan sebanyak mungkin jaringan yang sehat atau masih bisa diselamatkan. Untuk mengetahui bagian yang akan diamputasi dan yang dipertahankan, dokter bedah akan:

  • Memeriksa denyut nadi di sekitar bagian yang akan mengalami amputasi
  • Membandingkan suhu bagian tubuh yang akan diamputasi dan di daerah yang sehat
  • Memeriksa kemungkinan munculnya tanda kemerahan pada kulit
  • Melakukan tes sensitivitas sentuhan pada daerah yang akan diamputasi

Setelah mempelajari bagian tubuh yang akan diamputasi, berikut tindakan operasi yang dilakukan oleh dokter:

  • Mengambil jaringan dan tulang yang rusak
  • Membuat tulang yang diambil menjadi lebih halus atau tumpul, sehingga tidak melukai jaringan pada saat ditutup
  • Menutup pembuluh darah dan saraf
  • Memotong dan membentuk otot-otot di daerah yang akan diamputasi, dan menjahit kulit untuk menutup jaringan

Dengan demikian, bagian tersebut dapat dipasangi prostesis. Dokter juga akan membuat drainase sebelum menutup kulit, untuk membuang cairan berlebih di dalam jaringan. Untuk menghindari infeksi, dokter akan menutup luka operasi dengan perban atau kasa steril selama beberapa hari.

Pemasangan prostesis dapat dilakukan sekitar 10-14 hari setelah operasi.

 

Apa yang harus dilakukan setelah menjalani prosedur amputasi?

Pemulihan pasca amputasi tergantung pada jenis prosedur dan anestesi yang digunakan pada tindakan amputasi. Dalam kondisi ideal, luka operasi akan sembuh total dalam waktu sekitar 4-8 minggu. Tetapi penyesuaian fisik dan emosional akibat kehilangan anggota tubuh bisa menjadi proses yang panjang.

Pemulihan dan rehabilitasi jangka panjang mencakup:

1. Perawatan area tubuh yang diamputasi 

Staf medis akan mengganti perban pada luka operasi dan mengajari pasien untuk menggantinya. Selain itu pasien juga akan diajari cara merawat stump, yakni sisa tubuh yang diamputasi. 

Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan pasien saat merawat stump:

  • Sangat penting untuk menjaga kulit di permukaan stump agar tetap kering dan bersih untuk mengurangi risiko iritasi atau infeksi.
  • Bersihkan area amputasi dengan lembut setidaknya sekali sehari atau lebih sering jika cuaca sedang panas. Gunakan sabun lembut tanpa pewangi dan air hangat, lalu keringkan dengan hati-hati.
  • Jika pasien sudah dipasang prostesis, bagian soket dari prostesis juga harus dibersihkan secara teratur menggunakan sabun dan air hangat.  
  • Saat mandi, jangan merendam area amputasi dalam waktu lama karena air akan melembutkan kulit stump, sehingga lebih rentan cedera.
  • Jika kulit menjadi kering, gunakan krim pelembab sebelum tidur atau saat prostesik dilepas.
  • Beberapa orang merasa penggunaan kaus kaki pada area amputasi dapat  membantu menyerap keringat dan mengurangi iritasi kulit. Jika menggunakan kaus kaki, gantilah setiap harinya
  • Periksa area amputasi dari tanda-tanda infeksi, seperti kulit hangat, kemerahan, nyeri, keluar cairan atau nanah, pembengkakan yang semakin membesar.

2. Pengelolaan gejala dan kondisi pasien 

Selepas operasi, dokter akan memantau penyembuhan luka dan kondisi lainnya yang dapat mengganggu penyembuhan, seperti mengontrol diabetes atau mengobati pengerasan pembuluh darah.

Dokter juga dapat meresepkan obat untuk mengurangi rasa sakit dan membantu mencegah infeksi. Jika pasien memiliki masalah dengan phantom pain (kesedihan atas anggota tubuh yang hilang), dokter akan meresepkan obat atau merekomendasikan konseling dengan psikolog jika diperlukan.

3. Rehabilitasi medik 

Rehabilitasi medik merupakan bagian penting dari proses pemulihan fisik pasien setelah amputasi agar dapat kembali bekerja dan menjalani aktivitas lainnya. Tahap ini bisa menjadi proses yang panjang, sulit dan membuat frustrasi, tetapi penting untuk terus menjalaninya. 

Program rehabilitasi akan disesuaikan dengan kebutuhan pribadi pasien. Pasien akan bekerja sama dengan ahli fisioterapi dan terapis okupasi

Terapi fisik atau fisioterapi umumnya dimulai segera setelah operasi dengan latihan berikut:

  • Latihan peregangan ringan
  • Latihan “teknik berpindah” untuk membantu pasien agar bergerak lebih mudah, misalnya cara naik kursi roda dari tempat tidur.
  • Latihan untuk meningkatkan kekuatan dan kontrol otot
  • Latihan untuk membantu memulihkan kemampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari dan meningkatkan kemandirian
  • Latihan menggunakan prostesis. Misalnya, cara berjalan dengan kaki palsu atau memegang dengan tangan palsu.

4. Terapi psikologi

Kehilangan anggota tubuh dapat memberikan dampak psikologis yang cukup besar. Banyak orang yang telah mengalami amputasi merasakan emosi seperti kesedihan dan kehilangan, mirip ketika mereka kehilangan orang yang dicintai.

Dukungan emosional, termasuk konseling dapat membantu pasien mengelola kesedihan mereka serta menyesuaikan diri dengan persepsi bentuk tubuh setelah amputasi. 

 

Apa saja risiko dari prosedur amputasi?

Amputasi merupakan prosedur pembedahan mayor yang tentunya memiliki beberapa risiko, baik selama prosedur maupun setelah prosedur dilakukan, seperti:

operasikankerperadanganinfeksi luka pasca operasi

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/amputation/
Diakses pada 9 Agustus 2022

Children’s Healthcare of Atlanta. https://www.choa.org/-/media/Files/Childrens/medical-services/orthopedics/limb-deficiency/amputation/263001-orth-congenitalamputation-fs.pdf?la=en&hash=B8B93FA8D0FE305C30FAA80E43F7757214D75B54
Diakses pada 9 Agustus 2022

WebMD. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/definition-amputation
Diakses pada 9 Agustus 2022

MBM Justice. https://www.mbmjustice.com/blog/common-types-of-traumatic-amputation/
Healthdirect. https://www.healthdirect.gov.au/amputation
Diakses pada 9 Agustus 2022

John Hopkins Medicine. https://www.hopkinsmedicine.org/health/treatment-tests-and-therapies/amputation
Diakses pada 9 Agustus 2022

Amputee Coalition. https://www.amputee-coalition.org/resources/points-to-know/
Diakses pada 9 Agustus 2022

Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/21599-amputation
Diakses pada 9 Agustus 2022

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email