Prosedur aborsi dilakukan antara lain ketika kehamilan telah mengancam nyawa ibu maupun janin,
Aborsi hanya boleh dilakukan oleh tim dokter atas indikasi medis tertentu.

Apa itu prosedur aborsi?

Aborsi merupakan tindakan medis penuh risiko, yang dilakukan untuk mengangkat janin atau hasil konsepsi dan plasenta (ari-ari) dari rahim. Secara umum, istilah janin dan plasenta digunakan setelah 8 minggu kehamilan. Jaringan kehamilan dan hasil konsepsi merujuk pada jaringan yang diproduksi oleh penyatuan sel telur dan sperma sebelum 8 minggu.

Di Indonesia, tindakan aborsi harus dilakukan berdasarkan pertimbangan matang, baik dari sisi medis maupun psikologis. Prosedur ini hanya boleh dijalankan oleh dokter atas indikasi medis yang memang membahayakan ibu maupun janin. Untuk menjalani aborsi, pasien bisa menjalani rawat jalan maupun mengonsumsi obat dengan pengawasan ketat oleh dokter.

Mengapa prosedur aborsi perlu dilakukan?

Prosedur aborsi dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi-kondisi berikut ini:

  • Risiko kesehatan bagi ibu
  • Potensi gangguan medis yang berbahaya atau mengancan nyawa janin

Apa yang perlu dipersiapkan sebelum menjalani prosedur aborsi?

Sebelum prosedur aborsi dilakukan, pasien harus menjalani evaluasi oleh tim medis, yang meliputi:

  • Kesiapan psikologis pasien dalam menghadapi prosedur dan konsekuensi aborsi
  • Pemeriksaan oleh psikolog, jika diperlukan
  • Diskusi dengan dokter tentang metode aborsi yang tersedia, termasuk segala risiko dan komplikasi yang berkaitan
  • Scan ultrasound atau USG untuk memeriksa usia kehamilan
  • Tes infeksi menular seksual (IMS)
  • Tes lain seperti tes darah, tergantung pada kondisi medis yang dimiliki atau tahap (umur) kehamilan

Jika telah yakin siap menghadapi aborsi, pasien akan diminta untuk menandatangani formulir persetujuan. Selanjutnya, tim medis akan menentukan jadwal prosedur.

Apa yang dilakukan dokter pada prosedur aborsi?

Dokter dapat memberikan obat (aborsi medis), melakukan pembedahan, atau kombinasi keduanya untuk mengakhiri kehamilan, tergantung pada usia kandungan, riwayat kesehatan dan preferensi pasien.

Untuk usia kehamilan di bawah 9 minggu, dokter bisa memberikan obat-obatan. Sementara itu jika umur kandungan mencapai 9-14 minggu, dokter akan melakukan pembedahan. Obat-obatan tetap bisa menjadi pilihan untuk melunakkan dan membuka leher rahim.

Setelah 14 minggu, aborsi dilakukan dengan menggunakan obat-obatan induksi persalinan untuk memancing kontraksi uterus, yang dikombinasikan dengan pembedahan. Berikut ini penjelasan mengenai aborsi medis (dengan obat-obatan), serta aborsi dengan pembedahan.

1. Aborsi medis

Aborsi medis dilakukan dengan 2 obat yang berbeda untuk mengakhiri kehamilan. Obat akan diresepkan oleh rumah sakit atau klinik, biasanya diminum dalam 1-2 hari terpisah. Obat-obatan ini hanya boleh diberikan oleh dokter. Penggunaannya pun diawasi oleh dokter. Setelah mengonsumsi obat ini, janin akan keluar melalui vagina, beberapa jam setelah pasien mengonsumsi obat pada jadwal kedua.

2. Aborsi dengan pembedahan

Aborsi dengan pembedahan merupakan tindakan operasi untuk mengangkat janin dari rahim. Prosedur ini dilakukan dengan anestesi lokal, sedasi sadar, atau sedasi dalam.

Selama 1-2 hari bahkan beberapa jam sebelum tindakan ini dilakukan, dokter akan memberikan obat untuk membuka serviks. Berikut ini jenis-jenis aborsi melalui prosedur pembedahan.

1. Aspirasi vakum

Umumnya prosedur ini dilakukan pada usia kehamilan dibawah 14 minggu. Tim medis akan memasukkan tabung ke dalam rahim melalui serviks (lubang ke rahim dari vagina), dan janin diangkat. Dokter mungkin perlu menggunakan alat khusus untuk membantu mengangkat janin, tergantung usia kehamilan. Aspirasi vakum memakan waktu sekitar 5-10 menit dan umumnya pasien dapat pulang beberapa jam kemudian.

2. Dilatasi dan evakuasi (D&E)

Umumnya dilakukan pada usia kehamilan diatas 14 minggu. Alat khusus yang disebut “forceps” dimasukkan melalui serviks dan ke dalam rahim untuk mengangkat janin. D&E biasanya dilakukan dengan sedasi dalam atau anestesi umum. Sehingga, pasien membutuhkan sekitar 10-20 menit untuk Anda pulih setelah prosedur dilakukan. Pasien biasanya dapat pulang pada hari yang sama.

Hasil apa yang didapatkan dari prosedur aborsi?

Tindakan aborsi dinyatakan berhasil apabila janin telah dikeluarkan dari rahim.

Apa risiko dari prosedur aborsi?

Prosedur aborsi memiliki sejumlah risiko yang harus diwaspadai, sebagai berikut ini:

  • Dibutuhkan prosedur lain apabila janin tidak juga berhasil dikeluarkan
  • Perdarahan berat
  • Kerusakan rahim
  • Sepsis
  • Infeksi atau cedera rahim
  • Gangguan kesuburan
  • Pelvic inflammatory disease (PID)
  • Infertilitas
  • Kehamilan ektopik di masa mendatang

Harvard Health Publishing, Harvard Medical School
https://www.health.harvard.edu/medical-tests-and-procedures/abortion-termination-of-pregnancy-a-to-z
Diakses pada 27 Mei 2020

World Health Organization.
https://www.who.int/health-topics/abortion#tab=tab_1
Diakses pada 27 Mei 2020

National Health Service.
https://www.nhs.uk/conditions/abortion/risks/
Diakses pada 27 Mei 2020

Health Direct.
https://www.healthdirect.gov.au/abortion
Diakses pada 27 Mei 2020

Artikel Terkait

Keputihan saat hamil tua juga bisa terjadi dan bisa tergolong abnormal

Mengalami Keputihan Saat Hamil Tua, Normal atau Tidak?

Keputihan dapat terjadi saat hamil, bahkan keluar keputihan saat hamil tua bisa bertambah banyak. Tentunya hal ini seringkali agak mengkhawatirkan. Apakah kondisi keputihan saat hamil tua termasuk normal atau tidak?