Kulit & Kelamin

Vulvovaginitis

20 Aug 2021 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Vulvovaginitis
Vulvovaginitis dapat mengakibatkan keputihan yang berbau dan gatal pada vagina.
Vulvovaginitis adalah kondisi peradangan atau infeksi yang terjadi pada vulva dan vagina. Kondisi ini umum dialami oleh wanita dan anak perempuan pada berbagai usia, tetapi paling banyak dialami oleh perempuan usia subur.Beberapa orang menyebut kondisi ini dengan vulvitis serta vaginitis. Vulvovaginitis bisa disebabkan oleh banyak hal, namun penyebab paling umumnya adalah infeksi bakteri. Hampir sepertiga dari kasus vulvovaginitis disebabkan oleh infeksi bakteri. Selain bakteri, penyakit ini juga bisa terjadi akibat jamur, virus, hingga infeksi menular seksual. 
Vulvovaginitis
Dokter spesialis Kulit
GejalaTidak nyaman pada saat buang air kecil, terasa gatal pada area kelamin, iritasi pada daerah kelamin
Faktor risikoInfeksi bakteri, ragi, virus
Metode diagnosisWawancara, pemeriksaan fisik, mengambil sampel cairan dari vagina untuk pengujian di laboratorium.
PengobatanObat-obatan, Pengobatan dan perawatan dapat dilakukan berdasarkan penyebab vulvovaginitis
ObatAntibiotik, antifungal, krim estrogen
Kapan harus ke dokter?Saat gejala muncul
Gejala yang ditimbulkan oleh vulvovaginitis bervariasi, tergantung dari penyebabnya. Secara umum, gejala yang ditimbulkan di antaranya:
  • Tidak nyaman pada saat buang air kecil
  • Terasa gatal pada area kelamin
  • Iritasi pada daerah kelamin
  • Keputihan pada vagina yang semakin lama semakin berbau tajam
  • Terdapat peradangan sekitar labia dan daerah perineum
  • Vagina bengkak
  • Muncul ruam dan lentingan-lentingan seperti bisul di area vagina serta vulva
  • Perdarahan ringan
  • Nyeri saat berhubungan seks
Tidak semua wanita yang mengalami vulvovaginitis akan mengalami gejala yang sama. Namun, sebagian besar pengidap penyakit ini merasakan keputihan yang tidak normal.
Penyebab dari vulvovaginitis dapat beraneka ragam, termasuk:

1. Bakteri

Bakteri merupakan penyebab vulvovaginits yang paling umum.Saat vulva mengalami infeksi bakteri, gejala yang dapat muncul berupa keluarnya keputihan berwarna putih keabu-abuan, disertai dengan bau yang amis.Jenis bakteri yang menginfeksi adalah streptococcus, gardnerella, dan staphylococcus.

2. Jamur

Ragi atau jamur merupakan salah satu penyebab umum dari vulvovaginitis. Kondisi ini menyebabkan gatal pada kelamin dan keputihan berwarna putih dan kental dengan tekstur seperti keju.

3. Virus

Virus juga bisa memicu terjadinya vulvovaginitis. yang ditularkan melalui hubungan seksual, seperti herpes dan human papillomavirus (HPV).

4. Parasit

Parasit seperti cacing kremi, kudis, dan kutu dapat menyebabkan radang vulva dan vagina

5. Faktor lingkungan

Faktor lingkungan yang bisa memicu vulvovaginits adalah kebersihan tubuh yang buruk dan paparan alergen.Selain itu, memakai pakaian yang ketat juga dapat menyebabkan iritasi dan membuat area vagina menjadi lembap.Kulit yang teriritasi lebih rentan terhadap vulvovaginitis dan dapat menyebabkan penundaan pemulihan.

6. Infeksi menular seksual

Penyakit atau infeksi menular seksual seperti klamidia, gonorrhea dan herpes dapat menyebabkan vulvovaginitis. Jika hal ini sampai terjadi, penderitanya biasanya akan mengalami gejala seperti gatal, ketidaknyamanan, keputihan yang banyak dan dapat berwarna kuning, abu-abu, atau hijau, disertai dengan bau yang sangat menyengat. 

7. Bahan kimia

Bahan kimia yang menyebabkan reaksi alergi sering ditemukan pada sabun, parfum, kontrasepsi vaginal, cairan pembersih kewanitaan dan detergen. 
Untuk mendiagnosis penyakit vulvovaginitis, dokter biasanya akan menanyakan riwayat penyakit dan tanda serta gejala yang dialami pasien. Dokter juga akan mengumpulkan sampel cairan dari vagina untuk pengujian di laboratorium.Selain itu, Dokter juga akan melakukan pemeriksaan panggul untuk memantau vulva, vagina dan serviks (leher rahim).Dalam kasus yang jarang, biopsi dari vulva akan dilakukan untuk mengindentifikasi organisme, dengan mengambil sedikit jaringan dari vulva. Biopsi biasanya dilakukan jika pengobatan secara tradisional tidak berhasil.
Pengobatan dan perawatan dapat dilakukan berdasarkan penyebab vulvovaginitis, seperti:
  • Menghentikan penggunaan bahan tertentu

Jika vulvovaginitis yang dialami disebabkan oleh alergi terhadap bahan tertentu seperti sabun, jenis pakaian dalam, atau detergen, maka menghentikan penggunaan barang-barang tersebut bisa jadi solusi penyembuhan yang paling efektif.
  • Krim estrogen

Krim estrogen dapat diresepkan dokter untuk meredakan gejala vulvovaginitis yang disbebakan oleh ketidakseimbangan hormon.
  • Krim antibiotik atau antifungal

Pada vulvovaginits atau vulvitis yang disebabkan oleh infeksi bakteri maupun jamur, pengobatan berupa krim antibiotik maupun antifungal bisa membantu meredakan infeksi. 
  • Konsumsi obat-obatan

Dokter dapat meresepkan antibiotik untuk vulvovaginitis yang disebabkan oleh bakteri, antifungal untuk infeksi jamur, dan antihistamin untuk alergi.
Terdapat beberapa cara untuk mengurangi risiko terkena vulvovaginitis, termasuk:
  • Tidak berganti pasangan seksual
  • Memakain proteksi seperti kondom ketika melakukan hubungan seksual
  • Hindari penggunaan cairan antiseptik atau cairan pembersih kewanitaan, karena produk-produk tersebut akan mengganggu keseimbangan bakteri yang dapat menyebabkan infeksi
  • Jaga kebersihan alat bantu seksual
  • Hindari pakaian yang menahan panas, menahan kelembapan, celana ketat maupun celana dalam yang bukan berbahan katun
  • Berkonsultasi dengan dokter jika menemukan gejala-gejala vulvovaginitis
Sebelum berkonsultasi dengan dokter, persiapkan terlebih dahulu pertanyaan untuk diajukan pada dokter, seperti:
  • Apa penyebab vulvovaginitis yang saya alami?
  • Pengobatan atau perawatan apa yang direkomendasikan untuk kondisi saya?
  • Apakah saya perlu melakukan pemeriksaan tertentu, seperti pemeriksaan untuk infeksi menular seksual?
  • Apakah aman bagi saya untuk berhubungan seksual?
  • Kapan saya perlu menemui dokter spesialis, berdasarkan gejala yang saya alami?
 Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait vulvovaginitis?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis vulvovaginitis agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
Family Doctor. https://familydoctor.org/condition/vaginitis/Diakses pada 3 Desember 2018Healthline. https://www.healthline.com/health/vulvovaginitisDiakses pada 20 Juli 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email