Infeksi

Vaginosis Bakteri

Diterbitkan: 17 Mar 2021 | dr. Levina FeliciaDitinjau oleh dr. Reni Utari
image Vaginosis Bakteri
Gejala umum vaginosis bakteri berupa gatal dan iritasi pada vagina hingga nyeri saat pipis
Vaginosis bakteri atau vaginosis bakterialis adalah peradangan pada vagina yang disebabkan oleh pertumbuhan bakteri berlebih pada vagina. Bakteri tersebut normal ditemukan di dalam vagina, namun ketika jumlahnya berlebih akan mengganggu keseimbangan dan menimbulkan keputihan.Vaginosis bakteri paling sering ditemukan pada wanita usia subur, namun dapat juga dialami wanita usia berapapun. Penyebabnya belum diketahui secara pasti, namun beberapa perilaku seperti berhubungan seksual tanpa pengaman atau membersihkan kemaluan dengan cairan pembersih vagina dapat meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini.Penyakit ini bukan infeksi menular seksual, namun dapat meningkatkan risiko dari infeksi menular seksual, seperti klamidia dan HIV.Vaginosis bakteri terkait dengan gangguan pada organ reproduksi seperti kelahiran prematur dan infeksi paskaoperasi seperti operasi pengangkatan rahim (histerektomi). 
Vaginosis Bakteri
Dokter spesialis Kandungan, Kulit
GejalaKeputihan abnormal, vagina gatal, nyeri saat berkemih
Faktor risikoPunya lebih dari satu orang pasangan seksual, douching, sedikitnya bakteri lactobacili
Metode diagnosisPemeriksaan panggul, cairan vagina, dan pH vagina
PengobatanObat-obatan
ObatMetronidazole, klindamisin, timidazole
KomplikasiKelahiran prematur, penyakit radang panggul, infeksi pascaoperasi kandungan
Kapan harus ke dokter?Gejala tidak membaik setelah diobati secara mandiri, pernah mengalami infeksi vagina, keputihan yang berbau atau disertai demam
Pada kebanyakan kasus, vaginosis bakteri tidak menimbulkan gejala apapun. Namun jika ada keluhan, gejala vaginosis bakteri dapat berupa:
  • Keputihan yang tidak normal, misalnya memiliki tekstur encer, berwarna abu-abu, putih atau hijau, dan disertai dengan busa pada beberapa kasus.
  • Bau busuk yang berasal dari bahan kimia bakteri. Menstruasi atau berhubungan seks juga akan memparah bau yang dihasilkan karena bercampur dengan darah dan air seni.
  • Gatal atau iritasi pada vagina.
  • Rasa terbakar dan nyeri saat buang air kecil.
 
Penyebab vaginosis bakteri adalah pertumbuhan bakteri berlebih yang biasanya ditemukan di dalam vagina.Biasanya, jumlah bakteri baik (lactobacili) dalam vagina lebih banyak daripada bakteri jahat (bakteri anaerob). Jumlah bakteri anaerob yang melebihi normal akan mengganggu keseimbangan di dalam vagina dan menimbulkan vaginosis bakteri. 

Faktor risiko vaginosis bakteri

Faktor risiko vaginosis bakteri antara lain:
  • Mempunyai pasangan seksual baru atau lebih dari satu

Hubungan pasti antara aktivitas seksual dan vaginosis bakteri belum diketahui. Tapi kondisi ini ditemukan lebih sering pada wanita dengan pasangan seksual yang banyak atau memiliki pasangan seksual baru.Vaginosis bakteri juga lebih sering ditemukan pada wanita yang berhubungan seks dengan sesama jenis.
  • Melakukan vaginal douching

Douching vagina adalah proses membersihkan kemaluan dengan cairan pembersih vagina. Kegiatan ini dapat memicu pertumbuhan bakteri anaerob dan menimbulkan vaginosis bakteri.Karena vagina dapat bersih dengan sendirinya, vaginal douching sebenarnya tidak diperlukan.
  • Sedikitnya jumlah bakteri lactobacili

Bila dalam keadaan normal jumlah bakteri lactobacili sedikit, seseorang akan lebih rentang mengalami kondisi ini. 
Untuk memastikan diagnosis vaginosis bakteri, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan berikut:
  • Tanya jawab

Dokter akan menanyakan riwayat infeksi vagina atau infeksi menular seksual yang dialami pasien.
  • Pemeriksaan panggul

Selama pemeriksaan panggul, dokter akan melihat keadaan vagina untuk mencari tanda-tanda infeksi. Dokter akan memasukkan dua jari ke dalam vagina sambil menekan area perut dengan tangan lainnya untuk memeriksa adanya kelainan pada organ panggul.
  • Memeriksa sampel cairan vagina

Sampel cairan vagina pasien akan diambil untuk memeriksa adanya pertumbuhan bakteri anaerob di dalam vagina. Dokter juga akan memeriksa cairan vagina di bawah mikroskop untuk mencari keberadaan sel vagina yang dikelilingi bakteri (clue cells). Hal ini adalah tanda khas dari vaginosis bakteri.
  • Memeriksa pH vagina

Dokter dapat memeriksa tingkat keasaman (pH) vagina dengan memasukkan kertas strip pendeteksi pH ke dalam vagina. pH vagina 4.5 ke atas menandakan adanya vaginosis bakteri. 
Cara mengobati vaginosis bakteri adalah dengan meresepkan obat antibiotik. Jenis antibiotik yang diberikan bisa meliputi:
  • Metronidazole

Obat ini tersedia dalam bentuk tablet atau gel yang dioleskan di dalam vagina. Untuk mengurangi efek samping sakit perut dan mual akibat penggunaan obat ini, hindari konsumsi alkohol selama pengobatan dan setidaknya satu hari paskapenggunaan obat.
  • Klindamisin

Obat ini berbentuk krim yang dimasukkan ke dalam vagina. Krim klindamisin dapat merusak kondom berbahan lateks selama pengobatan dan 3 hari paskapenggunaan krim.
  • Tinidazole

Obat ini tersedia dalam bentuk tablet. Seperti metronidazole, obat ini dapat menimbulkan mual dan nyeri perut sehingga pasien perlu menghindari konsumsi alkohol selama pengobatan dan setidaknya satu hari paskapenggunaan obat.Selain pasien, pasangan seksual pasien (sesama jenis) juga perlu dites dan mendapatkan pengobatan. Pengobatan juga sangat penting bagi wanita hamil dengan kondisi ini karena vaginosis bakteri memiliki beberapa komplikasi kehamilan seperti kelahiran prematur dan berat bayi lahir rendah. 

Komplikasi vaginosis bakteri

Jika tidak ditangani dengan benar, vaginosis bakteri dapat menyebabkan komplikasi berupa:
  • Kelahiran prematur

Vaginosis bakteri yang terjadi pada wanita hamil dapat memicu terjadinya kelahiran prematur dan berat bayi lahir rendah.
  • Infeksi menular seksual

Vaginosis bakteri dapat membuat seseorang lebih rentan mengalami infeksi menular seksual seperti HIV, virus herpes simpleks, klamidia, atau gonore. Pasien dengan vaginosis bakteri dan HIV akan lebih berisiko menularkan HIV ke pasangan seksualnya.
  • Risiko infeksi paska operasi kandungan

Vaginosis bakteri akan meningkatkan risiko terjadinya infeksi paskaoperasi pengangkatan rahim (histerektomi) dan kuret.
  • Penyakit radang panggul

Kondisi ini seringkali dapat memicu terjadinya penyakit radang panggul, sebuah infeksi pada rahim dan tuba fallopi yang meningkatkan risiko gangguan kesuburan. 
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah vaginosis bakteri antara lain:
  • Hindari pemakaian pembersih atau sabun yang mengandung parfum pada vagina. Kandungan parfum tersebut dapat mengganggu keseimbangan PH vagina dan meningkatkan risiko infeksi pada vagina.
  • Pilih sabun dengan kandungan kimia yang ringan, nondeodorant, atau kondom tanpa pewangi.
Karena vaginosis bakteri berpotensi meningkatkan risiko infeksi menular seksual, penderita juga sebaiknya melakukan langkah pencegahan terhadap penyakit ini. Cara utamanya adalah dengan menggunakan kondom pada saat berhubungan seks dan tidak berganti-ganti pasangan. 
Anda disarankan untuk segera memeriksakan diri ke doker apabila Anda merasakan gejala-gejala vaginosis bakterialis yang berupa:
  • Mencoba pengobatan sendiri, namun gejala tidak membaik.
  • Pernah mengalami infeksi vagina, tapi warna dan cairan keputihan tampak berbeda.
  • Mengalami keputihan yang berbau, atau disertai demam
  • Berganti pasangan seksual baru-baru ini
 
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat riwayat bepergian yang baru-baru ini Anda lakukan.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait vaginosis bakteri, misalnya melakukan douching?
  • Apakah ada anggota keluarga atau orang di sekitar Anda dengan gejala yang sama?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis vaginosis bakteri. Dengan ini, penanganan bisa diberikan secara tepat. 
Healthline. https://www.healthline.com/health/pregnancy/infections-bacterial-vaginosis
Diakses pada 23 November 2019
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/bacterial-vaginosis/symptoms-causes/syc-20352279
Diakses pada 23 November 2019
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/bacterial-vaginosis/
Diakses pada 23 November 2019
Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/3963-bacterial-vaginosis
Diakses pada 17 Maret 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email