Infeksi

Vaginitis

07 Apr 2021 | dr. Levina FeliciaDitinjau oleh dr. Reni Utari
image Vaginitis
Vaginitis juga dapat disebabkan karena penurunan estrogen
Vaginitis adalah infeksi atau peradangan pada vagina yang dapat menyebabkan keputihan, gatal, dan sakit. Infeksi atau gangguan keseimbangan jumlah bakteri dan jamur yang normal ditemukan pada vagina merupakan penyebabnya.Penurunan kadar hormon estrogen setelah menopause dan penyakit kulit juga dapat menyebabkan vaginitis.Selain cairan vagina yang tidak normal (keputihan) dan rasa tidak nyaman, vaginitis dapat menimbulkan bau yang berbeda dari biasanya. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri, jamur, atau virus juga dapat terjadi.Bahan kimia dari sabun, spray, atau bahkan pakaian yang bersentuhan dengan area kewanitaan juga dapat mengiritasi kulit dan jaringan vagina.Kondisi yang dikenal juga dengan sebutan vulvovaginitis ini selain menyebabkan radang vagina juga dapat mempengaruhi vulva (bibir vagina). Vaginitis merupakan kondisi yang umum terjadi terutama pada wanita usia subur. Terdapat berbagai jenis vaginitis dengan penyebab, gejala, dan terapi yang berbeda-beda.Pengobatan vaginitis bervariasi berdasarkan penyebabnya. Perawatan rawat inap biasanya tidak diindikasikan, kecuali jika ada infeksi panggul yang serius. 

Jenis-jenis vaginitis

Terdapat beberapa jenis vaginitis yang umum dijumpai, antara lain:
  • Vaginosis bakterialis

Vaginosis bakterialis disebabkan oleh perubahan bakteri normal pada vagina sampai adanya pertumbuhan organisme lain. Kondisi ini biasanya menimbulkan bau amis yang kuat.
  • Infeksi ragi

Infeksi ragi biasanya disebabkan oleh jamur yang disebut Candida albicans. Jamur ini normalnya hanya ditemukan dalam jumlah yang sedikit di dalam vagina.
  • Klamidia

Klamidia adalah infeksi menular seksual yang paling sering ditemukan pada wanita, Umumnya dialami oleh wanita berusia 18-35 tahun dengan pasangan seksual lebih dari satu.
  • Trichomoniasis

Trichomoniasis biasa disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis dan biasanya ditularkan melalui hubungan seksual.
  • Gonore

Gonore merupakan infeksi menular yang ditularkan melalui hubungan seksual. Kondisi ini biasanya muncul bersamaan dengan klamidia.
  • Vaginitis virus

Vaginitis virus adalah radang vagina yang disebabkan oleh virus seperti herpes simpex virus (HSV) atau human papillomavirus (HPV) yang disebarkan melalui hubungan seksual. Bekas luka atau kutil pada kemaluan dapat terasa nyeri. 
Vaginitis
Dokter spesialis Kulit
GejalaPerubahan pada warna, bau, dan jumlah keputihan, gatal di vagina, kemerahan di sekitar vagina
Faktor risikoPerubahan hormon, aktivitas seksual, mengidap infeksi menular seksual
Metode diagnosisPemeriksaan panggul, pemeriksaan sampel cairan keputihan, tes pH vagina
PengobatanObat-obatan
ObatMetronidazole, miconazole, clotrimazole
KomplikasiPenularan infeksi menular seksual, kelahiran prematur dan berat bayi lahir rendah pada ibu hamil
Kapan harus ke dokter?Jika mengalami keputihan yang berbau dan terasa gatal
Tanda dan gejala vaginitis antara lain:
  • Perubahan dari warna, bau, atau jumlah cairan yang dikeluarkan dari vagina
  • Gatal atau iritasi dari vagina
  • Kemerahan sekitar vagina
  • Sakit saat berhubungan seksual
  • Sakit saat buang air kecil/berkemih
  • Pendarahan vagina atau bercak darah
Tiap jenis vaginitis memiliki karakteristik gejala berupa keputihan (cairan vagina) yang berbeda-beda. Contohnya:
  • Vaginosis bakterialis

Vaginosis bakterialis disebabkan oleh kombinasi beberapa bakteri yang hidup di vagina. Bakteri ini tumbuh ketika keseimbangan pH vagina terganggu. Vaginosis bakteri bukan merupakan infeksi menular seksual, tetap lebih sering terjadi pada orang yang aktif secara seksualPada vaginosis bakterialis, cairan keputihan berwarna putih keabuan dan berbau. Baunya seringkali dideskripsikan sebagai bau yang amis dan akan sangat tercium setelah melakukan hubungan seksual dengan konsistensi tipis.Beberapa wanita dengan vaginosis bakteri tidak memiliki gejala sama sekali dan hanya ditemukan selama pemeriksaan kandungan rutin.
  • Infeksi ragi atau jamur

Gejala utama infeksi ini adalah gatal disertai keputihan yang berwarna putih dan tebal  yang menyerupai keju, dan biasanya tidak berbau. tetapi mungkin akan mengalami keputihan yang berwarna putih dan kental menyerupai keju.
  • Infeksi trikomoniasis

Trikomoniasis disebabkan oleh organisme bersel tunggal yang dikenal sebagai protozoa.Ketika organisme ini menginfeksi vagina, penderita bisa mengalami keputihan berwarna kuning kehijauan yang disertai bau busuk, gatal, dan nyeri di vagina serta vulva, dan rasa terbakar saat buang air kecil. Vaginitis jenis ini dapat ditularkan melalui hubungan seksual. 
Penyebab vaginitis berbeda-beda tergantung jenisnya. Apa sajakah itu?
  • Vaginosis bakterialis

Penyebab vaginitis yang paling umum terjadi ini disebabkan oleh adanya perubahan bakteri normal yang terdapat di dalam vagina, seperti pertumbuhan satu atau beberapa organisme lainnya.Biasanya bakteri yang normal ditemukan di vagina (laktobasilus) kalah jumlah dengan bakteri lain yang ada di vagina (anaerob). Jika bakteri anaerob menjadi lebih banyak, keseimbangan bakteri menjadi terganggu dan menyebabkan vaginitis.
  • Infeksi jamur

Infeksi ini terjadi ketika organisme seperti jamur tumbuh (biasanya candida albicans) didalam vagina. Candida albicans juga menyebabkan infeksi didaerah yang lembab seperti mulut, lipatan kulit, dan kulit dibawah kuku. Jamur juga dapat menyebabkan ruam popok.
  • Penyakit menular seksual

Penyakit menular seksual yang ditularkan oleh satu sel parasit yang disebut trichomonas vaginalis. Organisme ini menyebar saat berhubungan seksual dengan orang yang memiliki infeksi.Pada laki-laki, organisme biasanya menginfeksi saluran kemih tetapi seringkali tidak menimbulkan gejala. Pada wanita, trichomoniasis menyebabkan infeksi pada vagina dan dapat menimbulkan gejala.
  • Vaginitis noninfeksi

Semprotan vagina, membersihkan vagina dengan cairan pembersih kewanitaan, sabun yang wangi, detergen yang diberi wewangian atau produk yang mengandung spermitisida dapat menyebabkan reaksi alergi pada vagina atau menyebabkan iritasi pada vulva atau jaringan vagina.Objek asing seperti kertas tisu atau tampon yang tertinggal di dalam vagina juga dapat mengiritasi vagina.
  • Sindrom genitourinary menopause (atrofi vagina)

Penurunan kadar hormon estrogen setelah menopause atau operasi pengangkatan ovarium dapat menyebabkan dinding vagina menipis dan terkadang menyebabkan iritasi vagina, terasa panas dan kering.
  • Penyakit menular seksual lain

Penyakit menular seksual lainnya yang dapat menyebabkan vaginitis antara lain gonorrhea, klamidia, dan herpes genitalis. 

Faktor risiko vaginitis

Faktor risiko vaginitis antara lain:
  • Perubahan hormon, seperti yang berkaitan dengan kehamilan, kontrasepsi, atau menopause
  • Aktivitas seksual
  • Infeksi yang ditularkan dengan berhubungan seksual
  • Obat seperti antibiotik atau steroid
  • Pemakaian spermisida sebagai kontrasepsi.
  • Diabetes yang tidak terkontrol
  • Penggunaan produk kesehatan seperti bubble bath, semprotan vagina, atau deodorant vagina
  • Penggunaan cairan pembersih kewanitaan untuk membilas.
  • Mengenakan pakaian yang ketat atau lembab.
  • Penggunakan alat intrauterin untuk mengontrol kehamilan
 
Untuk menegakkan diagnosis vaginitis, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan seperti:
  • Tanya jawab

Dokter akan melakukan tanya jawab terkait gejala, faktor risiko, dan riwayat infeksi vagina atau infeksi menular seksual lainnya.
  • Pemeriksaan panggul

Pada pemeriksaan panggul, dokter akan menggunakan alat (spekulum) untuk melihat ke dalam vagina. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mencari peradangan atau keputihan yang tidak normal.
  • Pemeriksaan laboratorium

Dokter akan mengambil sampel dari serviks atau cairan keputihan dari vagina untuk diperiksa di laboratorium. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengonfirmasi jenis vaginitis yang diderita.
  • Tes pH (asam basa)

Dokter akan melakukan tes pH vagina dengan menggunakan stick pH atau kertas pH pada dinding vagina. Peningkatan kadar pH dapat menunjukan vaginosis bakterialis atau trichomoniasis. 
Pengobatan vaginitis berbeda-beda tergantung dengan jenisnya.

Vaginosis bakterialis

Untuk tipe vaginitis ini, dokter akan meresepkan metronidazole tablet yang dikonsumsi, metronidazole gel atau clindamycin krim yang dapat digunakan pada vagina. Penderita akan diperiksa dan diberikan resep untuk obat-obatan ini.

Vaginitis akibat infeksi jamur

Infeksi jamur biasanya diobati dengan krim antijamur atau suppository (dimasukkan melalui anus) seperti miconazole, clotrimazole, atau terconazole. Infeksi jamur juga dapat disembuhkan dengan obat minum antijamur, seperti fluconazole.

Trichomoniasis

Dokter akan meresepkan metronidazole atau tinidazole tablet. Pasangan seks pasien dengan infeksi ini harus diobati dan menghindari untuk berhubungan seksual sampai kedua pasangan telah diobati dan tidak menunjukkan gejala.

Sindrom genitourinary menopause

Terapi hormon estrogen dalam bentuk krim vagina dam tablet dapat dengan efektif mengobati kondisi ini. Pengobatan ini tersedia dengan resep dokter setelah mempertimbangkan faktor risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi.

Vaginitis noninfeksi

Untuk mengobati tipe vaginitis ini,sumber iritasi harus diidentifikasi dan dari sumber yang memungkinkan termasuk sabun baru, detergen, pembalut wanita, atau tampon. 

Komplikasi vaginitis

Komplikasi vaginitis adalah risiko yang lebih tinggi untuk tertular infeksi karena hubungan seksual, terutama pada wanita dengan trichomoniasis atau vaginosis bakterialis.Pada wanita hamil, gejala vaginosis bakteri dan trichomoniasis terkait dengan kelahiran prematur dan bayi lahir dengan berat badan yang rendah. 
Menjaga kebersihan organ kewanitaan dapat mencegah beberapa jenis vaginitis meringankan beberapa gejala vaginitis. Beberapa cara mencegah vaginitis antara lain:
  • Hindari pemandian atau bak air panas.
  • Jangan menggunakan produk kewanitaan yang dapat memicu iritasi, termasuk tampon dengan parfum, pembalut, cairan pembersih organ kewanitaan, dan sabun yang wangi.
  • Bersihkan vagina dengan sabun biasa serta bilas dengan bersih area luar vagina setelah mandi dan keringkan dengan saksama untuk mencegah iritasi.
  • Basuh area vagina dari depan ke belakang setelah menggunakan BAB atau buang air kecil.
  • Hindari penggunaan cairan pembersih kewanitaan untuk membilas. Vagina tidak membutuhkan pembersih khusus selain mandi seperti biasa. Penggunaan produk ini akan mengganggu organisme normal di dalam vagina serta meningkatkan risiko infeksi vagina.
  • Gunakan kondom latex karena dapat membantu dalam mencegah penyebaran penyakit menular seksual.
  • Gunakan celana dalam berbahan katun. Jika memungkinkan, dan apabila Anda merasa nyaman, jangan memakai pakaian dalam saat tidur. Hal ini dapat menurunkan resiko Anda terserang vaginitis karena jamur tumbuh dengan baik pada area yang lembap.
  • Tidak menggunakan celana terlalu ketat.
  • Kontrol gula darah secara berkala, karena gula darah tinggi dapat memicu terjadinya infeksi.
 
Temui dokter jika terdapat ketidaknyamanan pada vagina, terutama jika:
  • Memiliki bau yang tidak enak, keputihan, atau gatal.
  • Tidak pernah memiliki infeksi vagina sebelumnya. Temui dokter untuk mengetahui penyebab dan membantu mengidentifikasi tanda dan gejala.
  • Pernah mengalami infeksi vagina sebelumnya.
  • Berganti pasangan seks atau pasangan baru. Hal ini dapat menyebabkan infeksi menular seksual. Beberapa infeksi menular seksual yang ditularkan dengan berhubungan memiliki tanda dan gejala yang sama dengan infeksi jamur atau bakteri vaginosis.
  • Penderita sudah menyelesaikan minum obat yang dijual bebas dan gejalanya tidak membaik.
  • Demam, meriang dan sakit pada panggul.
Penderita tidak harus menemui dokter setiap kali mengalami iritasi vagina dan keputihan, terutama jika:
  • Penderita pernah didiagnosis memiliki infeksi jamur sebelumnya dan tanda serta gejala yang terjadi sama dengan yang sebelumnya.
  • Penderita mengetahui tanda dan gejala infeksi jamur dan yakin akan apa yang dialami.
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat riwayat bepergian yang baru-baru ini Anda lakukan.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
Anda juga dapat meminta keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter. 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait vaginitis?
  • Apakah ada anggota keluarga atau orang di sekitar Anda dengan gejala yang sama?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis vaginitis. Dengan ini, penanganan bisa diberikan secara tepat.
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/vaginitis/symptoms-causes/syc-20354707
Diakses pada 14 November 2018
WebMD. https://www.webmd.com/women/guide/sexual-health-vaginal-infections#1
Diakses pada 14 November 2018
Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/257141-overview
Diakses pada 9 September 2019
Medline Plus. https://medlineplus.gov/vaginitis.html
Diakses pada 27 Maret 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email