Penyakit Lainnya

Tuli Sensorineural

13 Sep 2021 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Tuli Sensorineural
Gangguan pada telinga bagian dalam menyebabkan tuli sensorineural
Tuli sensorineural adalah gangguan pendengaran yang terjadi karena kerusakan pada telinga bagian dalam, saraf yang menghubungkan telinga ke otak (saraf pendengaran), atau kerusakan pada otak itu sendiri. Hal ini juga dapat terjadi ketika sel-sel rambut pada koklea hilang atau rusak.Penderita kondisi ini sulit mendengarkan suara pelan maupun keras. Kemampuan telinga yang normal dapat mendengar dari 0 sampai 140 desibel. Suara manusia dalam percakapan sehari-hari biasanya ada di rentang 40 desibel. Suara yang lebih nyaring dari itu berarti memiliki decibel yang lebih besar.Gangguan pendengaran yang disebabkan oleh kondisi ini dapat terjadi pada tingkat ringan atau bahkan mengakibatkan hilang pendengaran total.. Derajat keparahan tuli sensoneural dikategorikan sebagai berikut:
  • Gangguan pendengaran ringan. Tidak bisa mendengar suara  antara 26 sampai 40 desibel.
  • Gangguan pendengaran sedang. Tidak bisa mendengar suara  antara 41 hingga 55 desibel.
  • Kehilangan pendengaran yang parah. Kehilangan pendengaran pada lebih dari 71 desibel.
Tuli sensorineural bukanlah kondisi yang mengancam nyawa. Akan tetapi, gangguan pendengaran ini dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk berkomunikasi jika tidak ditangani dengan benar.
Tuli Sensorineural
Dokter spesialis THT
GejalaSulit mendengar suara pelan, sulit memahami kata-kata
Metode diagnosisTes audiogram
PengobatanTerapi, alat bantu dengar
ObatKortikosteroid
Kapan harus ke dokter?Saat mengalami gangguan pendengaran secara tiba-tiba, terutama pada satu telinga
Gejala yang dialami oleh penderita tuli sensorineural meliputi:
  • Kesulitan mendengar suara dengan latar suara bising
  • Kesulitan memahami suara anak-anak dan wanita
  • Merasa pusing 
  • Bermasalah dengan keseimbangan tubuh
  • Kesulitan mendengar suara bernada tinggi
  • Suara keras terdengar redam
  • Merasa seperti dapat mendengar suara tetapi tidak dapat memahaminya
  • Tinnitus (telinga berdenging)
Penyebab tuli sensorineural ada dua, yaitu tuli bawaan dan tuli akibat kondisi tertentu. Tuli sensorineural bawaan merupakan cacat bawaan yang paling sering ditemui, Kondisi ini dialami oleh 1-3 dari 1000 bayi. Penyebab tuli sensorineural bawaan meliputi faktor genetik serta faktor lingkungan.Di luar dari masalah genetik, penyebab paling umum tuli sensorineural adalah paparan suara yang keras. Terus-terusan mendengar suara amat keras (lebih dari 85 dB) akan merusak sel-sel rambut di telinga bagian dalam yang disebut  streocilia. Streocilia normalnya berfungsi untuk mengubah getaran dari gelombang suara menjadi sinyal yang dibawa oleh saraf pendengaran ke otak untuk diubah menjadi suara yang bisa didengar.Selain itu, terdapat beberapa penyebab yang dapat memicu tuli sensorineural, antara lain:
  • Infeksi virus.
  • Obat-obatan yang dapat merusak fungsi pendengaran (ototoxic medication). seperti loop diuretik, obat-obatan kemoterapi, aspirin,  dan antibiotik golongan aminoglikosida
  • Berusia lanjut atau yang disebut presbikusis.
  • Pukulan atau benturan di kepala.
  • Malformasi telinga bagian dalam.
  • Penyakit autoimun yang menyerang telinga bagian dalam.
  • Tumor.
  • Pertumbuhan abnormal di telinga (otosclerosis).
  • Penyakit Ménière, kondisi yang ditandai dengan perubahan pendengaran, pusing, telinga pengap, atau telinga berdering.
  • Penyakit saraf pusat
Diagnosis tuli sensorineural meliputi penelusuran gejala dan penyebab  struktural dari masalah pendengaran yang diderita. Dengan ini, dokter dapat mengetahui tingkat keparahan dan jenis gangguan pendengaran yang dialami, apakah konduktif, sensorineural, atau kombinasi keduanya.Diagnosis tuli sensorineural dilakukan dengan sejumlah pemeriksaan berikut:
  • Tanya jawab dan pemeriksaan fisik
    Dokter akan menanyakan gejala yang dialami pasien dan riwayat kesehatan pasien dan juga keluarganya. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dengan memeriksa kondisi telinga dari mulai kotoran telinga hingga kemungkinan adanya peradangan akibat infeksi.
  • Tes skrining umum
    Dokter dapat memeriksa pendengaran pasien dengan tes bisikan. Pasien akan diminta untuk menutup satu telinga pada satu waktu untuk melihat seberapa baik pasien dapat mendengar kata-kata yang diucapkan pada berbagai volume dan bagaimana ia merespons suara lain.
  • Tes pendengaran
    Tes pendengaran dilakukan untuk mengukur seberapa baik fungsi pendengaran seseorang. Salah satu pemeriksaan yang diberikan pada tes ini adalah tes garpu tala. Garpu tala adalah instrumen logam bercabang dua yang menghasilkan suara saat dipukul. Evaluasi ini dapat mengungkapkan di mana di bagian mana telinga mengalami kerusakan.
  • Tes audiometri
    Audiometri adalah prosedur pemeriksaan yang bertujuan untuk menunjukkan intensitas dan nada suara, fungsi keseimbangan, dan masalah lainnya pada kinerja telinga bagian dalam.
  • Timpanometri
    Pemeriksaan ini dilakukan pada membran telinga bagian dalam untuk menilai tekanannya.
  • Pemindaian struktur telinga
    Dokter dapat memeriksa struktur telinga secara mendalam dengan melakukan tes pencitraan scan CT atau MRI.
Perawatan tuli sensorineural diberikan tergantung pada penyebabnya. Pilihan pengobatan dan perawatan tuli sensorineural dapat meliputi:
  • Terapi obat-obatan
    Terapi medis menggunakan kortikosteroid (oral atau injeksi melalui gendang telinga) bertujuan untuk mengurangi pembengkakan dan peradangan sel rambut koklea setelah terpapar suara keras. Ada pula terapi pemberian diuretik untuk tuli sensorineural yang disebabkan karena penyakit Ménière.
  • Pemasangan alat bantu dengar
    Alat bantu dengar berfungsi memperbesar getaran suara yang masuk ke saluran telinga. Meski telinga bagian dalam telah mengalami kerusakan, sel-sel yang masih tersisa akan dapat menangkap suara yang masuk untuk kemudian diteruskan ke otak. Bagi penderita tuli sensorineural, dapat digunakan alat bantu dengar yang dipasang di telinga bagian tengah untuk membantu menggerakkan tulang-tulang yang terletak di sana saat suara masuk ke saluran telinga.
  • Terapi medis lain
    Terapi ini ditujukan untuk menyasar jalan sel yang mati atau mempengaruhi proses stres oksidasi (yang berpengaruh terhadap proses penuaan seseorang) di neuroepithelium sensor koklea (suatu bagian di telinga dalam).
  • Terapi yang sedang dikembangkan
    Hingga saat ini, para peneliti tengah mengembangkan terapi gen yang dapat mencegah terjadinya tuli sensorineural bawaan.
    Selain itu, ada juga terapi yang berfokus pada penggantian sel rambut telinga bagian dalam, yang juga masih dalam tahap pengembangan dan belum mendapat persetujuan untuk dipraktikkan.
Kondisi tuli sensorineural dapat dicegah dengan menghindari suara-suara keras yang melebihi 80 desibel. Telinga pada dasarnya hanya mampu mendengarkan suara keras sebentar saja. Sebagai contoh, suara yang mencapai 100 desibel (volume pada konser musik rock), hanya dapat didengar selama 15 menit saja oleh telinga. Lebih dari waktu tersebut, telinga dapat rusak. Berikut beberapa cara yang dapat membantu mencegah tuli sensorineural:
  • Menerapkan peraturan 60/60, maksudnya, saat mendengarkan musik menggunakan headphone, batasi waktunya menjadi hanya 60 menit pada 60% dari volume maksimal.
  • Melindungi telinga saat konser musik langsung, dengan cara menggunakan penyumbat telinga yang terbuat dari busa atau menggunakan alat bantu dengar khusus seperti yang dipakai para musisi. Kedua alat ini dapat membatasi suara yang masuk ke telinga hanya terbatas pada musik yang diperdengarkan saja.
  • Melindungi telinga saat di rumah maupun saat bekerja, Gunakan pelindung telinga jika Anda bekerja dan atau berkegiatan di lingkungan yang bising. 
Gangguan pendengaran karena usia biasanya terjadi secara bertahap, sehingga awalnya, mungkin tidak disadari. Namun, jika Anda tiba-tiba kehilangan pendengaran, khususnya di satu telinga, segera hubungi dokter atau bantuan medis. Konsultasikan dengan dokter jika gangguan pendengaran yang Anda alami mengganggu kehidupan sehari-hari.
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter, misalnya:
    • Apa yang menyebabkan gangguan pendengaran yang saya alami?
    • Apakah gangguan pendengaran saya akan semakin memburuk seiring waktu?
    • Perawatan/pengobatan apa yang dapat saya lakukan?
    • Apa risiko dari operasi tuli sensorineural?
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
Sebelum melakukan pemeriksaan fisik, dokter mungkin akan menanyakan sejumlah pertanyaan, misalnya:
  • Apa gejala yang Anda alami?
  • Apakah Anda mengalami nyeri atau telinga kering?
  • Apakah gejala yang Anda alami muncul secara tiba-tiba?
  • Apakah Anda merasakan dering, menderu, atau mendesis di telinga?
  • Apakah Anda mengalami pusing atau masalah keseimbangan?
  • Apakah Anda memiliki riwayat infeksi telinga, trauma telinga, atau operasi telinga?
  • Apakah Anda bekerja di tempat dengan suara bising?
  • Apakah Anda kesulitan memahami seseorang yang berbicara kepada Anda dengan suara rendah?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis tuli sensorineural agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
Atlanta Hearing Associates. https://www.hearatlanta.com/hearing-loss-articles/prevent-treat-sensorineural-hearing-loss/
diakses pada 20 Agustus 2021
American Speech-Language-Hearing Association. https://www.asha.org/public/hearing/Sensorineural-Hearing-Loss/
diakses pada 25 Maret 2019
ENT Health. https://www.enthealth.org/conditions/sensorineural-hearing-loss/
diakses pada 25 Maret 2019
hear.com. https://www.hear.com/hearing-loss/sensorineural/
diakses pada 25 Maret 2019
Healthline. https://www.healthline.com/health/sensorineural-hearing-loss
diakses pada 20 Agustus 2021
Hearing Loss Association of America. https://www.hearingloss.org/hearing-help/hearing-loss-basics/types-causes-and-treatment/
diakses pada 25 Maret 2019
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hearing-loss/diagnosis-treatment/drc-20373077
diakses pada 25 Maret 2019
Medline Plus. https://medlineplus.gov/ency/article/003291.htm
diakses pada 20 Agustus 2021
National Center for Biotechnology Information. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5465007/
diakses pada 20 Agustus 2021
National Institute on Deafness and Other Communication Disorders. https://www.nidcd.nih.gov/health/hearing-aids
diakses pada 20 Agustus 2021
Widex. https://global.widex.com/en/hearing-loss/types-of-hearing-loss/sensorineural-hearing-loss
diakses pada 25 Maret 2019
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email