Tuli adalah kondisi medis yang ditandai dengan berkurang atau hilangnya kemampuan mendengar suara. Derajat gangguan pendengaran ini bervariasi, dari ringan hingga sangat berat.

Kondisi tuli dapat disebabkan oleh berbagai hal. Mulai dari cedera, penyakit, kelainan genetik, hingga faktor penuaan.

Derajat ketulian atau gangguan pendengaran dinilai berdasarkan intensitas suara (desibel). Hasilnya meliputi:

  • Normal: 0-25 dB
  • Ringan: 25-40 dB
  • Sedang: 41-65 Db
  • Berat: 66-90 dB
  • Sangat berat: Lebih dari 90 dB

Pasien dengan tuli derajat ringan biasanya mengalami masalah untuk memahami perkataan orang lain, terutama ketika ia berada di lingkungan bising. Lalu penderita tuli derajat ringan memerlukan alat bantu dengar, sementara pasien dengan tuli derajat berat hanya dapat berkomunikasi dengan membaca gerakan bibir.

Namun tuli derajat sangat berat ditandai oleh penderita yang sama sekali tidak bisa mendengar suara, dan memerlukan bantuan gerakan bibir atau bahasa isyarat untuk berkomunikasi.

Gejala tuli atau gangguan pendengaran dapat berupa:

  • Suara yang terdengar redam dan kurang jelas
  • Kesulitan memahami kata-kata, terutama saat berada di lingkungan yang berisik
  • Sulit mendengar huruf konsonan
  • Sering meminta orang lain untuk mengulangi ucapannya dengan lebih pelan, keras, dan jelas
  • Perlu menambah volume saat menonton televisi atau mendengarkan radio
  • Menghindari percakapan dan interaksi sosial

Proses dengar terjadi ketika gelombang suara memasuki telinga, dialirkan dalam saluran telinga, dan mencapai gendang telinga.

Gendang telinga akan bergetar dan getaran ini dialirkan ke telinga tengah, dan menyebabkan tulang-tulang pendengaran ikut bergetar. Tulang pendengaran lalu memperbesar getaran dan ditangkap oleh koklea di telinga dalam.

Dari koklea, getaran suara dibawa ke otak melalui serabut saraf pendengaran. Otak kemudian menginterpretasi getaran suara menjadi suara yang kita dengar.

Apabila terjadi gangguan pada proses dengar tersebut, tuli bisa terjadi. Penyebab tuli atau gangguan pendengaran bervariasi tergantung pada jenisnya.

Secara umum, terdapat tiga jenis gangguan pendengaran berikut:

1. Tuli konduktif

Pada tuli konduktif, gelombang suara tidak dapat dialirkan dari telinga luar ke telinga bagian dalam. Beberapa hal yang dapat menyebabkan kondisi ini meliputi:

  • Kotoran telinga yang menggumpal.
  • Otitis media efusi (glue ear).
  • Infeksi telinga dengan peradangan dan penumpukan cairan dalam telinga.
  • Lubang atau kelainan pada gendang telinga. Kondisi ini juga sering disebut gendang telinga pecah.
  • Gangguan pada tulang pendengaran.

Infeksi dapat menyebabkan timbulnya jaringan parut yang dapat mengurangi fungsi gendang telinga. Tulang pendengaran juga bisa mengalami kerusakan karena cedera, infeksi, atau menyatunya tulang-tulang pendengaran (ankylosis).

2. Tuli sensorineural

Tuli sensorineural disebabkan oleh kerusakan pada telinga bagian dalam. Contohnya, koklea, saraf pendengaran, maupun otak.

Jenis tuli ini biasanya disebabkan oleh:

  • Faktor penuaan. Pasalnya, sel koklea yang mengalami kerusakan seiring bertambahnya usia.
  • Paparan suara nyaring dalam waktu lama. Hal ini juga dapat merusak sel-sel koklea.
  • Infeksi telinga bagian dalam.
  • Kelainan bawaan pada telinga.
  • Cedera kepala.

3. Tuli campuran

Tuli campuran merupakan kombinasi dari tuli konduktif dan sensorineural. Kondisi ini biasanya terjadi karena:

  • Infeksi telinga bagian dalam untuk waktu lama

Kondisi ini dapat merusak gendang telinga dan tulang-tulang pendengaran.

  • Penuaan

Degenerasi karena penuaan dapat merusak struktur telinga bagian dalam.

  • Paparan suara bising

Paparan suara bising dapat merusak sel-sel telinga bagian dalam. Kerusakan bisa terjadi akibat paparan suara berisik dalam waktu yang lama (misalnya kebiasaan mendengarkan musik dengan volume tinggi) maupun seketika (seperti suara tembakan).

  • Faktor genetik

Faktor genetik dapat membuat Anda lebih rentan terhadap kerusakan telinga dari suara keras atau penuaan.

  • Lingkungan kerja yang bising

Orang dengan profesi yang mengharuskannya bekerja di lingkungan yang berisik juga lebih berisiko mengalami kerusakan telinga dalam. Lingkungan pekerjaan ini meliputi sektor konstruksi, pertanian, maupun pabrik.

  • Konsumsi obat-obatan tertentu

Obat-obatan tertentu juga dapat merusak telinga bagian dalam. Contohnya, gentamisin, viagra, dan obat kemoterapi.

Efek samping sementara berupa telinga berdenging (tinnitus) atau berkurangnya pendengaran juga dapat Anda alami setelah mengonsumsi aspirin, obat pereda nyeri, obat antimalaria, atau obat jenis diuretik dalam dosis tinggi.

  • Penyakit tertentu

Penyakit yang melibatkan demam tinggi (seperti meningitis) pun dapat merusak koklea.

Beberapa pemeriksaan untuk mendiagnosis tuli meliputi:

  • Pemeriksaan fisik

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik pada telinga pasien untuk mencari penyebab gangguan pendengaran. Misalnya, penumpukan kotoran telinga atau peradangan karena infeksi.

Dokter juga akan mencari kelainan pada anatomi telinga pasien, yang mungkin menyebabkan ketulian.

  • Skrining pendengaran umum

Dokter dapat melakukan tes bisik untuk memeriksa respons pasien terhadap suara. Pasien akan diminta untuk menutup telinga satu per satu dan membisikkan kata dengan berbagai volume.

  • Tes pendengaran berbasis aplikasi

Tes pendengaran bisa diakses dengan mudah dari ponsel untuk memeriksa gangguan pendengaran.

  • Tes garpu tala

Garpu tala adalah alat khusus berbentuk seperti garpu berbahan dasar logam. Tes pedengaran dengan garpu tala dapat membantu dokter dalam mendeteksi ketulian.

  • Tes audiometri

Dalam pemeriksaan audiometri, pasien akan menggunakan earphone. Mesin audiometri kemudian memperdengarkan suara dengan berbagai nada dan intensitas melalui earphone tersebut.

Pengobatan tuli dan gangguan pendengaran akan ditentukan oleh dokter berdasarkan penyebabnya. Beberapa penanganan yang bisa dilakukan meliputi:

  • Mengangkat kotoran telinga

Kotoran telinga yang menyumbat saluran pendengaran akan diangkat oleh dokter dengan alat pengisap atau alat khusus lainnya.

  • Operasi

Beberapa jenis tuli dapat ditangani dengan operasi. Misalnya, kelainan pada gendang telinga atau tulang-tulang pendengaran.

Bila pasien mengalami infeksi berulang dengan cairan yang terus muncul dalam telinga, dokter dapat memasukkan selang kecil untuk mengeluarkan cairan tersebut.

  • Alat bantu dengar

Jika kondisi tuli disebabkan oleh kerusakan telinga bagian dalam, dokter bisa menyarankan penggunaan alat bantu dengar.

  • Implan koklea

Pasien dengan tuli berat dan tidak bisa membaik meski sudah memakai alat bantu dengar, direkomendasikan untuk melakukan implan koklea. Implan ini dapat membuat jalan pintas agar suara dapat langsung ditangkap oleh saraf-saraf pendengaran.

Tuli perlu titangani dengan saksama. Pasalnya kondisi ini dapat mengganggu kualitas hidup penderitanya.

Sebagai contoh, kalangan lanjut usia (lansia) dengan gangguan pendengaran bisa mengalami depresi karena sulitnya berkomunikasi dan isolasi sosial. Kondisi tuli juga berkaitan dengan gangguan kognitif (fungsi berpikir).

Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencegah tuli meliputi:

  • Melindungi telinga dari paparan suara nyaring dalam waktu lama

Membatasi durasi dan intensitas paparan suara pada telinga adalah upaya pencegahan tuli yang terbaik. Misalnya untuk Anda yang bekerja di lokasi bising, gunakan alat penutup atau penyumbat telinga untuk melindungi telinga dari paparan suara bising.

Anda juga dapat melakukan proteksi kemampuan dengar dengan membatasi volume musik yang didengarkan, terutama ketika Anda memakai earphone atau headphone.

  • Lakukan pemeriksaan telinga secara berkala

Pemeriksaan kesehatan telinga dianjurkan untuk dilakukan secara berkala, khususnya pada orang yang bekerja di lingkungan bising. Ketika kondisi tuli terdeteksi, dokter akan merekomendasikan upaya untuk mencegah kondisi ini semakin parah.

  • Hindari aktivitas berisiko

Aktivitas atau kebiasaan tertentu bisa saja meningkatkan risiko Anda untuk mengalami tuli seiring berjalannya waktu. Misalnya, berburu dengan senjata api, menghadiri konser rock band, atau menggunakan alat-alat pertukangan tertentu.

Anda dapat menggunakan alat pelindung telinga atau berhenti sejenak dari aktivitas tersebut, atau menurunkan volume saat mendengarkan musik.

Segera berkonsultasi ke dokter THT (telinga hidung tenggorokan) bila Anda mengalami:

  • Kemampuan dengar yang hilang secara tiba-tiba, terutama pada salah satu telinga
  • Gangguan pendengaran yang menghambat rutinitas Anda

Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:

  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.

Selama pemeriksaan, dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:

  • Apa saja gejala yang Anda alami?
  • Apakah Anda mengalami nyeri atau keluarnya cairan dari telinga?
  • Apakah gejala muncul secara tiba-tiba?
  • Apakah Anda mengalami pusing atau gangguan keseimbangan?
  • Apakah Anda memiliki riwayat cedera, infeksi, atau operasi telinga?
  • Apakah Anda bekerja di lingkungan dengan paparan suara nyaring?
  • Obat apa yang sedang Anda konsumsi?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis tuli dan gangguan pendengaran agar penanganan yang tepat bisa diberikan.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hearing-loss/symptoms-causes/syc-20373072
Diakses pada 4 Juni 2020

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/249285
Diakses pada 4 Juni 2020

Better Health Channel. https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/conditionsandtreatments/deafness-a-range-of-causes
Diakses pada 4 Juni 2020

Mayfield Clinic. https://mayfieldclinic.com/pe-hearing.htm
Diakses pada 4 Juni 2020

Artikel Terkait