Tukak duodenum dapat menyebabkan rasa sakit hingga orang terbangun pada malam hari
Salah satu penyebab umum tukak duodenum adalah infeksi bakteri helicobacter pylori.

Gejala tukak duodenum sering kali disamakan dengan gejala tukak lambung. Untuk membedakannya, maka perlu untuk mengetahui kapan dan dimana gejala tersebut muncul.

Gejala tukak duodenum cenderung mengikuti pola. Nyeri biasanya hilang pada saat bangun tidur dan muncul kembali pada pertengahan pagi hari. Minum susu atau makan atau mengonsumsi obat antasida akan meredakan rasa sakit, tetapi biasanya akan timbul kembali 2 sampai 3 jam kemudian. Rasa sakit yang menyebabkan orang terbangun pada malam hari adalah kondisi yang umum dialami. Seringkali rasa sakit dirasakan satu kali atau lebih dalam satu hari, dalam periode satu sampai beberapa minggu, dan dapat menghilang tanpa perawatan.

Gejala yang umumnya terjadi berkaitan dengan penyakit ini adalah:

  • Panas atau nyeri pada perut
  • Perut terasa begah, kembung dan sering bersendawa
  • Intoleransi makanan berlemak
  • Mual
  • Heartburn yaitu sensasi perih pada area dada

Namun, sebagian besar penderita tukak duodenum tidak merasakan gejala atau tanda-tanda tertentu dan penyakit ini jarang mengindikasikan penyakit serius.

Penyebab umum tukak duodenum adalah:

  • Adanya infeksi bakteri Helicobacter pylori (H. pylori) yang dapat merusak lapisan mukosa pada usus kecil. Infeksi bakteri ini kebanyakan dialami saat kecil dan baru terdeteksi ketika dewasa.
  • Obat anti inflamasi non-steroid (OAINS) seperti ibuprofen atau aspirin yang dikonsumsi dalam jangka waktu lama dan dalam dosis tinggi
  • Kondisi medis lainnya seperti sindrom Zollinger-Ellison yang dapat menyebabkan munculnya tumor ganas maupun jinak. Tumor ini memproduksi hormon tertentu yang menyebabkan tingginya kadar asam lambung.

Selain itu penderita yang berisiko tinggi mengalami tukak duodenum adalah:

  • Lansia berumur 70 tahun atau lebih
  • Peminum alkohol
  • Penderita dengan riwayat medis tukak lambung
  • Perokok
  • Adanya riwayat cedera atau trauma fisik berat

Selain itu, terdapat obat–obatan selain OAINS yang dapat pula meningkatkan risiko untuk menderita tukak lambung, seperti:

  • Pengobatan untuk osteoporosis, seperti alendronate, risedronate
  • Antikoagulan seperti warfarin, clopidogrel
  • SSRI (selective serotonin reuptake inhibitors)
  • Beberapa obat kemoterapi tertentu

Makanan pedas belum dapat dipastikan dapat meningkatkan risiko atau menyebabkan tukak duodenum. Namun, dalam beberapa kasus, terdapat beberapa makanan yang dapat mengiritasi lambung dan duodenum.

Sebelum melakukan diagnosa, dokter biasanya akan menanyakan informasi tertentu yang berkaitan dengan riwayat medis dan gejala yang dialami pasien. Beberapa pemeriksaan  perlu dilakukan untuk mengetahui tukak duodenum. Jika kondisi Anda disebabkan oleh bakteri H. pylori maka beberapa pemeriksaan perlu dilakukan untuk memastikan diagnosa ini, seperti:

  • Tes darah
  • Pemeriksaan feses
  • Urea breath test

Selain itu pemeriksaan lainnya untuk mendiagnosa tukak duodenum yaitu:

  • Esophagogastroduodenoscopy (EGD) untuk mengetahui area duodenum yang abnormal, mencari lokasi tukak dan untuk mengambil beberapa sampel jaringan (biopsi). Pemeriksaan ini bahkan dapat dilakukan untuk menangani kondisi medis tertentu.
  • Upper gastrointestinal series untuk mengetahui kondisi esofagus, lambung dan usus kecil

Dokter akan memberikan obat-obatan tertentu untuk mengatasi tukak duodenum yang tidak terlalu berat. Pengobatan yang diberikan meliputi tergantung dari penyebab dan seberapa berat gejala yang dialami.

  • Antibiotik dan PPI untuk membasmi bakteri H. pylori dan membantu penyembuhan. Hal ini akan dilakukan jika ditemukan adanya bakteri dalam saluran pencernaan.
  • Mengurangi atau menghindari OAINS apabila obat-obatan dari golongan ini yang menyebabkan tukak duodenum.
  • Antasida untuk menetralisir asam lambung
  • Obat-obatan untuk melindungi lapisan usus kecil
  • Jika tukak tersebut berdarah secara aktif, maka akan dilakukan penanganan kauterisasi (teknik menghentikan perdarahan dengan pembakaran jaringan) melalui endoskopi.
  • Jika obat – obatan atau terapi melalui endoskopi tidak berhasil, maka operasi akan disarankan oleh dokter.
  • Jika tukak tersebut dalam dan dapat menyebabkan terbentuknya lubang pada dinding usus kecil, maka kondisi ini merupakan kondisi darurat medis dan membutuhkan penanganan segera dengan operasi.

Tingginya kadar asam lambung dapat menyebabkan luka pada duodenum atau bagian atas usus kecil. Umumnya, kadar asam lambung yang tinggi disebabkan oleh bakteri tertentu atau konsumsi obat pereda nyeri yang berlebihan.

Bakteri tersebut dapat merusak lapisan lambung dan menjadikannya lebih mudah luka. Jika tukak disebabkan oleh H. pylori, pastikan untuk mengonsumsi obat–obatan yang diberikan sesuai instruksi.

Konsumsi obat pereda nyeri golongan NSAID seperti ibuprofen, aspirin dan naproxen sodium perlu dilakukan dengan hati-hati, khususnya jika dikonsumsi dalam dosis tinggi dan dalam jangka waktu yang lama. Gantilah dengan obat golongan lain jika harus mengonsumsi obat pereda nyeri OAINS secara teratur. Ketika tetap harus mengonsumsi OAINS, maka konsumsilah bersama dengan makanan atau dengan obat–obatan yang dapat melindungi lapisan lambung dan usus kecil.

Hindari merokok karena dapat memperlambat proses penyembuhan dan meningkatkan risiko akan kanker saluran cerna.

Ambillah langkah-langkah untuk meningkatkan aktivitas fisik yang dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan dapat menurunkan reaksi inflamasi (radang) didalam sel dan jaringan tubuh.

Segera hubungi dokter jika Anda mengalami nyeri yang disertai gejala berikut,

  • Muntah atau muntah disertai darah berwarna merah atau gelap seperti bubuk kopi.
  • Feses yang disertai darah berwarna gelap atau hitam seperti tar.
  • Kesulitan bernafas
  • Lemas
  • Nafsu makan yang berubah
  • Penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas

Sebelum berkonsultasi dengan dokter sebaiknya Anda menyiapkan hal berikut untuk memudahkan dokter memahami kondisi Anda. Beberapa hal tersebut antara lain,

  • Ketahui larangan tertentu sebelum berkonsultasi seperti menjalani diet tertentu atau berpuasa
  • Kenali dan catat gejala dan tanda-tanda yang Anda alami
  • Informasi pribadi Anda
  • Riwayat medis Anda serta obat-obatan yang Anda konsumsi

Ketika berkonsultasi, dokter mungkin akan menanyakan beberapa pertanyaan untuk memahami kondisi Anda. Beberapa pertanyaan yang mungkin akan ditanyakan dokter, antara lain,

  • Bagaimana nyeri dimulai?
  • Apakah gejala yang Anda alami berlangsung secara terus-menerus atau hanya sesekali?
  • Seberapa berat gejala yang Anda alami?
  • Apakah gejala memburuk ketika Anda lapar?
  • Adakah hal yang Anda lakukan untuk mengurangi gejala tersebut?
  • Adakah hal yang dapat membuat gejala yang Anda alami membaik atau memburuk?
  • Apakah Anda mengonsumsi obat-obatan tertentu seperti obat pereda nyeri atau aspirin? Jika iya, seberapa sering?
  • Apakah Anda merasa mual dan muntah-muntah?
  • Apakah Anda pernah muntah darah atau muntahan yang berwarna gelap?
  • Apakah feses Anda berdarah atau berwarna hitam?

Healthline. https://www.healthline.com/health/gastric-and-duodenal-ulcers
Diakses pada 9 Januari 2019

MayoClinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/peptic-ulcer/symptoms-causes/syc-20354223
Diakses pada 9 Januari 2019

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/stomach-ulcer/
Diakses pada 9 Januari 2019

WebMD. https://www.webmd.com/digestive-disorders/understanding-ulcers-treatment#1/
Diakses pada 9 Januari 2019

Artikel Terkait