Salah satu gejala TBC atau tuberkulosis adalah batuk berkelanjutan
TB atau TBC dapat menular melalui batuk, bersin, berbicara, atau meludah.

Tuberkulosis atau TBC adalah adalah salah satu penyakit yang biasanya menyerang paru-paru. Penyakit yang juga sering disingkat TB ini bisa menular langsung dari manusia ke manusia.

Terdapat 2 jenis infeksi TBC, yaitu TB aktif dan TB laten. Berikut penjelasannya:

  • TB aktif

Pada penderita TB aktif, beberapa gejala umumnya meliputi batuk berkepanjangan lebih dari 3 minggu, nyeri dada, dan penurunan berat badan. Orang dengan TB aktif dapat menularkan bakteri pada orang lain melalui percikan ludah ketika batuk, bersin, atau berbicara.

  • TB laten

Pada TB laten, penderita tidak menunjukkan gejala, tidak merasa sakit, dan bakteri TB bersifat dorman di dalam tubuhnya. Ini berarti, penderita tidak bisa menularkannya pada orang lain. 

Namun TB laten bisa saja berubah menjadi TB aktif di kemudian hari, sehingga dapat menular ke orang lain.

Pengobatan TBC adalah dengan obat anti tuberculosis (OAT), namun diperlukan waktu yang cukup lama. Penderita mesti menjalani pengobatan secara rutin setidaknya selama enam hingga sembilan bulan.

Sangat penting bagi penderita untuk mengikuti petunjuk dokter dalam pengobatan TBC, agar infeksi tidak berulang. Apabila infeksi kembali terjadi, bakteri kemungkinan besar sudah resisten terhadap antibiotik yang digunakan sebelumnya, sehingga penyakit akan jauh lebih sulit untuk ditangani. 

Anak-anak, orang dengan HIV/AIDS (ODHIV), dan kalangan lanjut usia (lansia) lebih berisiko terkena TBC. Pasalnya, daya tahan tubuh mereka lebih rendah.

Di Indonesia sendiri, TBC merupakan satu dari 10 penyebab kematian tertinggi. Menurut data Kementerian Kesehatan, diperkirakan ada 842.000 kasus TBC pada tahun 2018.

Tidak semua orang yang terinfeksi bakteri TB pasti akan sakit. Sistem kekebalan tubuh biasanya dapat mencegah Anda jatuh sakit.

Karena itu, dokter membuat perbedaan antara 2 jenis infeksi TBC. Pertama, TB aktif dan kedua adalah TB laten.

Gejala TB aktif

Penderita TB aktif biasanya akan memiliki gejala gangguan pernapasan. Ini karena bakteri penyebab tuberkulosis lebih umum menyerang paru-paru. Penderita TB aktif bisa menularkan penyakit ini ke orang lain.

Secara umum, gejala TBC atau tuberkulosis aktif meliputi:

  • Batuk berkepanjangan, baik berdahak maupun tidak berdahak, yang berlangsung selama tiga minggu atau lebih
  • Batuk darah
  • Nyeri dada atau nyeri saat bernapas
  • Batuk-batuk
  • Penurunan berat badan yang tidak disengaja
  • Kelelahan
  • Demam
  • Berkeringat di malam hari meskipun tidak melakukan kegiatan
  • Badan panas dingin
  • Kehilangan nafsu makan

Tuberkulosis juga dapat memengaruhi bagian lain dari tubuh, termasuk tulang, usus, ginjal, kelenjar getah bening, dan otak. Gejala TBC akan bervariasi sesuai dengan organ yang terinfeksi. 

Sebagai contoh, gejala TBC tulang dapat mencakup nyeri punggung, adanya pembengkakan di sekitar tulang belakang, dan rasa kaku. Sementara gejala TBC usus meliputi sering mual dan kembung, serta penurunan nafsu makan secara drastis.

Gejala TB laten

Pada sebagian orang yang terinfeksi, bakteri TB bisa tetap tidak aktif dan tidak menimbulkan gejala. Kondisi ini disebut TB laten, TB tidak aktif, atau infeksi TB tidak menular.

Karena tidak ada gejala pada TB laten, infeksi hanya akan diketahui melalui tes darah atau tes kulit TB. Pengobatan tetap penting untuk penderita karena bakteri bisa menjadi aktif suatu saat ketika kekebalan tubuh menurun.

Gejala TBC pada anak

Karena daya tahan tubuhnya belum berkembang secara sempurna, anak-anak berisiko untuk terkena TBC apabila terpapar bakteri penyebabnya. Berikut gejala yang perlu diperhatikan pada anak-anak:

  • Batuk berkepanjangan lebih dari 2 minggu
  • Demam selama lebih dari 2 minggu
  • Berat badan turun atau tidak kunjung meningkat selama 2 bulan berturut-turut
  • Terlihat lesu dan kurang aktif

Penyebab tuberkulosis adalah bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini menyebar di antara manusia melalui percikan ludah yang dilepaskan ke udara melalui batuk dan bersin.

Penularan TBC bisa terjadi ketika seseorang dengan TB aktif yang batuk, bersin, berbicara atau meludah. Jika udara yang terkontaminasi bakteri TBC ini terhirup, Anda memiliki kemungkinan untuk terinfeksi.

Namun sebenarnya tidak mudah bagi manusia dengan kekebalan tubuh normal untuk tertular bakteri TB. Anda akan memiliki risiko lebih besar untuk tertular tuberkulosis apabila Anda tinggal atau sering berada dekat dengan penderita. Contohnya, anggota keluarga yang tinggal serumah, rekan kerja sekantor, atau teman sekelas.

Selain kontak dekat dengan penderita, penularan TB juga lebih rentan pada orang-orang yang:

Berdasarkan survei prevalensi tuberkulosis yang dilakukan di Indonesia tahun 2017, jumlah penderita TB laki-laki 3 kali lebih banyak daripada perempuan. Kondisi ini diperkirakan terjadi karena kebiasaan merokok dan ketidakpatuhan minum obat yang lebih sering dilakukan oleh laki-laki. Pada survei tersebut juga tercantum bahwa jumlah laki-laki Indonesia yang merokok adalah sebesar 68,5%. Sementara wanita yang merokok hanya sebesar 3,7%. 

Apabila mencurigai bahwa Anda telah terpapar bakteri TBC, Anda sebaiknya tetap berkonsultasi dengan dokter. Tapi sebelum Anda panik, penting untuk mengingat bahwa paparan terhadap bakteri tidak berarti Anda otomatis langsung sakit dan bisa menularkan penyakit pada orang lain.

Jika sistem kekebalan tubuh Anda berfungsi dengan baik, bakteri TBC tidak dapat menjadi aktif.

Diagnosis tuberkulosis umumnya ditentukan berdasarkan proses tanya jawab, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Berikut penjelasannya:

  • Tanya jawab

Dokter akan menanyakan seputar gejala yang dialami oleh pendrita. Demikian pula dengan riwayat medis dan faktor risiko penderita.

  • Pemeriksaan fisik

Selama pemeriksaan fisik, dokter akan mengecek ada tidaknya pembesaran kelenjar getah bening, dan memakai stetoskop untuk mendengarkan suara yang dihasilkan oleh paru-paru saat Anda bernapas. 

  • Pemeriksaan penunjang

Ada 2 jenis tes yang biasanya disarankan oleh dokter untuk mendeteksi bakteri TB dalam tubuh, yaitu tes kulit TB dan tes darah TB.

Tes darah TB merupakan tes yang lebih umum digunakan. Kedua tes tersebut dapat mendeteksi ada tidaknya bakteri M.tuberculosis dalam tubuh Anda.

Apabila hasil tes kulit TB atau tes darah TB adalah positif, dokter biasanya akan merujuk Anda untuk melakukan rontgen dada dan tes sputum (dahak). Tes-tes ini bisa memastikan diagnosis TB laten maupun TB aktif, dan memudahkan dokter dalam menentukan jenis pengobatan yang diperlukan.

Pada anak, uji tuberkulin bermanfaat untuk membantu menegakkan diagnosis TB, khususnya jika riwayat kontak dengan penderita TB tidak jelas. Hasil positif uji tuberkulin menunjukkan adanya infeksi dan tidak menunjukkan ada tidaknya sakit TB. Sebaliknya, hasil negatif uji tuberkulin belum tentu menyingkirkan diagnosis TB. Pada anak yang dilakukan penyuntikan uji tuberkulin harus kembali ke dokter 48-72 jam kemudian untuk dilihat hasil penyuntikannya.

Pengobatan TBC membutuhkan waktu lebih lama daripada penanganan jenis infeksi bakteri lainnya. Pada tuberkulosis, Anda harus minum obat antibiotik setidaknya selama enam hingga sembilan bulan tanpa terhenti.

Jenis obat dan durasi pengobatan yang disarankan akan bergantung pada usia dan kesehatan pasien secara keseluruhan, kemungkinan resistensi obat, jenis TB (laten atau aktif), dan lokasi infeksi di dalam tubuh.

Jika menderita TB laten, Anda biasanya cukup mengonsumsi satu jenis obat TBC saja. Sementara TB aktif, terutama yang kambuh setelah pernah diobati, akan membutuhkan beberapa jenis obat sekaligus. 

Jenis-jenis obat TBC

Obat TBC yang paling umum digunakan meliputi:

Jika Anda memiliki TB yang resisten terhadap antibiotik, akan diperlukan kombinasi antibiotik untuk pengobatannya. Periode pengobatannya pun akan jauh lebih lama, yaitu selama 20 hingga 30 bulan. 

Pengobatan dan penyembuhan TB yang resisten sangat rumit. Apabila tidak ditangani dengan tepat, penyakit ini dapat berakibat fatal. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengikuti anjuran dokter dengan saksama.

Bagaimana cara minum obat TBC yang benar?

Sangat penting bagi Anda untuk mematuhi anjuran dokter dalam pengobatan TBC.

Beberapa minggu setelah mulai meminum antibiotik, Anda biasanya akan merasa lebih baik. Pada tahap ini, bakteri sudah melemah dan mudah untuk dihilangkan dari tubuh. Tetapi Anda harus tetap terus minum obat secara teratur sesuai petunjuk dokter. 

Sayangnya, banyak orang merasa tidak perlu lagi untuk melanjutkan terapi ketika merasa sudah baikan. Padahal, menghentikan pengobatan terlalu cepat atau melewatkan dosis memungkinkan bakteri yang tadinya sudah melemah untuk ‘mengalahkan’ antibiotik karena dosisinya berkurang dalam tubuh.

Sebagai akibatnya, bakteri menjadi resisten terhadap antibiotik yang telah Anda gunakan dan menyebabkan TB yang jauh lebih berbahaya serta sulit diobati. 

Agar penderita TBC bisa bertahan dalam menjalani pengobatan, sebuah program yang disebut terapi pengamatan langsung (directly observed treatment shortcourse/DOTS) bisa direkomendasikan.

Dalam pendekatan DOTS, penderita akan didampingi untuk minum obat agar lebih patuh dalam mengonsumsinya.

Efek samping obat TBC

Obat TBC bisa memengaruhi fungsi hati. Ketika Anda mengonsumsinya, hubungi dokter segera jika Anda mengalami hal-hal berikut:

  • Mual atau muntah
  • Kehilangan nafsu makan
  • Warna kuning pada kulit
  • Warna urine yang gelap
  • Demam lebih dari tiga hari
  • Nyeri di bagian perut

Salah satu perlindungan dari penyakit TBC adalah vaksinasi BCG (Bacillus Calmette-Guerin). Vaksin ini termasuk salah satu vaksin rekomendasi imunisasi dasar anak, dan biasanya diberikan ketika bayi berumur 1 bulan.

Selain vaksin BCG, pencegahan penularan TBC juga dapat dilakukan dengan cara:

  • Menerapkan etika batuk atau bersin, seperti menutup hidung dan mulut, menggunakan masker atau tisu, dan tidak membuang dahak sembarangan
  • Menjaga kebersihan, misalnya selalu membuang masker dan tisu di tempat sampah setelah digunakan
  • Menerapkan gaya hidup sehat, contohnya tidak merokok, rutin berolahraga, serta membuka jendela untuk sirkulasi udara bersih di rumah
  • Minum obat secara teratur sesuai anjuran dokter

Temui dokter jika Anda mengalami demam, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, berkeringat pada malam hari tanpa beraktivitas, atau batuk berkepanjangan yang tidak sembuh-sembuh. Ini bisa menjadi ciri-ciri TB maupun masalah medis lainnya. 

Dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan medis untuk membantu dalam menentukan penyebab gejala yang Anda alami. Sementara Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC) merekomendasikan bahwa orang-orang dengan peningkatan risiko tuberkulosis untuk menjalani tes deteksi infeksi TB laten.

Kelompok orang tersebut meliputi:

  • Orang dengan HIV/AIDS
  • Pengguna obat-obatan terlarang dengan cara disuntik
  • Orang yang mengalami kontak dengan individu yang terinfeksi, misalnya keluarga yang tinggal serumah maupun petugas kesehatan yang merawat penderita TB

Jika Anda mengalami gejala tuberkulosis, segera periksakan diri Anda ke dokter. Jika diperlukan, dokter Anda akan merujuk ke spesialis paru-paru atau spesialis penyakit dalam.

Sebelum berkonsultasi dengan dokter, ada baiknya Anda mempersiapkan hal-hal di bawah ini:

  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga serta faktor risiko yang terkait TBC.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi. Begitu juga dengan riwayat vaksinasi Anda.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.

Anda juga dapat membuat daftar pertanyaan yang akan Anda ajukan pada dokter. Berikut contohnya:

  • Apakah penyebab dari gejala-gejala saya?
  • Pemeriksaan apa yang perlu saya lakukan?
  • Apa pengobatan yang bisa saya dapat? Jenis pengobatan apa yang lebih direkomendasikan?
  • Bagaimana apabila pengobatannya tidak membuahkan hasil?
  • Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pengobatan tersebut?
  • Kapan saya perlu bertemu lagi dengan dokter?

Dokter biasanya dapat mendiagnosis tuberkulosis dengan menanyakan gejala dan melakukan tes dari sampel darah atau dahak Anda. Dokter juga bisa menganjurkan pemeriksaan pemindaian serta tes kulit TB di lengan Anda untuk mendeteksi keberadaan bakteri penyebab TBC.

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/tuberculosis/ 
diakses pada 12 Oktober 2018.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/tuberculosis/diagnosis-treat
ment/drc-20351256
diakses pada 12 Oktober 2018.

Web MD. https://www.webmd.com/lung/tuberculosis-directory
diakses pada 12 Oktober 2018.

Artikel Terkait