Penyakit Lainnya

Trombositemia dan Trombositosis

23 Jun 2021 | Popy Hervi PutriDitinjau oleh dr. Anandika Pawitri
image Trombositemia dan Trombositosis
Kadar trombosit diatas batas normal menandakan trombositosis
Trombositemia dan trombositosis adalah kondisi dimana kadar trombosit lebih tinggi dibandingkan kadar trombosit normal, yaitu trombosit di atas 450.000 per mikroliter. Kadar trombosit normal dalam darah adalah berkisar antara 150.000-450.000 trombosit per mikroliter darah.Trombosit di buat sumsum tulang Anda bersama dengan jenis sel darah lainnya. Trombosit berjalan melalui pembuluh darah dan saling menempel (bekuan). Pembekuan membantu menghentikan pendarahan yang mungkin terjadi jika pembuluh darah rusak.Fungsi trombosit atau platelet berperan dalam proses pembekuan darah, sehingga jika terlalu banyak trombosit dapat membahayakan tubuh. Karena bisa memicu pembekuan darah dan pendarahan.Trombositosis terdiri dari dua jenis yaitu trombositosis primer dan trombositosis sekunder. Trombositosis primer lebih jarang terjadi dibandingkan trombositosis sekunder.  Namun, orang dengan trombositosis primer lebih mungkin untuk mengalami tanda dan gejala yang serius dibandingkan orang dengan trombositosis sekunder.  
Trombositemia dan Trombositosis
Dokter spesialis Penyakit Dalam
GejalaSakit kepala, pusing, sakit dada
Faktor risikoWanita usia 30 tahun, Wanita atau pria usia 50-70 tahun
Metode diagnosisTanya jawab, pemeriksaan fisik, tes darah
PengobatanObat-obatan
ObatHydroxyurea, anagrelide, Interferon alfa-2b
KomplikasiLeukemia
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala trombositemia dan trombositosis
Seseorang yang menderita penyakit trombositosis biasanya tidak menimbulkan tanda atau gejala. Kondisi ini seringkali baru diketahui ketika menjalani pemeriksaan rutin darah lengkap.Secara umum, trombositemia dan trombositosis ditandai dengan gejala pendarahan dan pembekuan darah, seperti:

Terbentuknya bekuan darah

Pada trombositemia primer, bekuan darah seringkali terbentuk pada pembuluh darah otak, tangan, dan kaki. Tetapi bekuan darah dapat terjadi dimana saja, termasuk jantung dan usus.Bekuan darah pada otak dapat menyebabkan sakit kepala menahun dan pusing. Pada kasus yang berat, stroke dapat terjadi. Bekuan darah pada pembuluh darah kecil tangan dan kaki akan menyebabkan mati rasa dan berwarna kemerahan.Kondisi ini akan menyebabkan sensasi terbakar yang intens dan sakit berdenyut terutama pada telapak tangan dan telapak kaki. Pada wanita hamil, bekuan darah pada plasenta dapat menyebabkan keguguran atau gangguan dalam perkembangan dan pertumbuhan janin.Wanita dengan trombositemia primer atau trombositosis sekunder dan mengonsumsi pil KB mempunyai risiko yang meningkat untuk terjadinya penggumpalan darah.Pembekuan darah berhubungan dengan faktor dan kondisi lainnya, seperti usia lanjut, pernah mengalami penggumpalan darah sebelumnya, diabetes atau kencing manis, tekanan darah tinggi dan merokok.

Terjadi perdarahan

Jika perdarahan terjadi, seringkali terjadi pada orang dengan jumlah trombosit diatas 1 juta trombosit per mikroliter.Kondisi ini terjadi karena bekuan darah yang terjadi pada trombositemia atau trombositosis dapat menghabiskan trombosit didalam tubuh, yang berarti tidak akan ada jumlah trombosit yang cukup di dalam aliran darah untuk menutupi luka atau kerusakan pada dinding pembuluh darah.  
Penyebab utama trombositemia dan trombositosis bisa berbeda-beda, tergantung dengan jenisnya.

Penyebab trombositosis primer

Pada trombositosis primer atau yang juga dikenal dengan essential trombositosis (ET), ada kelainan pada sumsum tulang belakang yang menyebabkan produksi trombosit berlebihan. Penyebab proses ini tidak diketahui, namun kelainan ini bukan penyakit keturunan.Selain produksi trombosit yang berlebihan, trombosit itu sendiri juga mempunyai bentuk yang tidak normal, dan darah dapat menggumpal dengan sendirinya tanpa alasan yang jelas.

Penyebab trombositosis sekunder atau trombositosis reaktif

Jenis ini merupakan jenis yang disebabkan oleh penyakit, kondisi medis atau faktor luar yang menjadi pemicunya, seperti:
  • Mengalami pendarahan akut dan proses pemulihan dari kehilangan darah yang serius
  • Menderita kanker
  • Terinfeksi virus atau bakteri, contohnya tuberkulosis
  • Kebutuhan zat besi yang tidak tercukupi (anemia karena defisiensi zat besi)
  • Pengangkatan limpa
  • Menderita penyakit anemia hemolitik yang dapat disebabkan oleh penyakit darah tertentu atau penyakit autoimun
  • Penyakit inflamasi seperti inflammatory bowel disease, rheumatoid arthritis, sarkoidosis
  • Efek samping dari pembedahan
  • Respons terhadap aktivitas fisik
  • Reaksi terhadapt obat-obatan
  • Proses penyembuhan dari trombositopenia berat (kadar trombosit yang sangat rendah) karena konsumsi alkohol berlebihan atau dari defisiensi vitamin B12 atau folat
Walaupun kadar trombosit tinggi pada trombositosis sekunder, trombosit itu sendiri normal. Oleh karena itu, orang dengan trombositosis sekunder mempunyai risiko yang lebih rendah untuk terjadinya penggumpalan darah dan perdarahan. 

Faktor risiko trombositemia dan trombositosis

Beberapa faktor risiko trombositemia dan trombositosis meliputi:
  • Perempuan usia 30 tahun
  • Usia 50-70 tahun
 
Diagnosis trombositemia dan trombositosis dilakukan dengan cara tanya jawab mengenai riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Berikut penjelasannya.

Tanya jawab mengenai riwayat penyakit

Pada riwayat penyakit, dokter akan menanyakan faktor-faktor yang dapat berdampak pada trombosit, seperti:
  • Prosedur medis atau transfusi darah yang pernah dijalani
  • Infeksi belakangan ini dan vaksin yang pernah diterima
  • Obat–obatan yang dikonsumsi, termasuk obat yang dijual bebas
  • Kebiasaan makan sehari–hari, termasuk jumlah alkohol yang biasa dikonsumsi sehari–hari
  • Riwayat keluarga dengan jumlah atau kadar trombosit yang tinggi dalam darah

Pemeriksaan fisik

Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mencari tanda dan gejala dari penggumpalan darah dan perdarahan.

Tes darah lengkap

Tes darah lengkap untuk mengukur jumlah sel darah merah, sel darah putih dan trombosit didalam darah Anda.Selain itu dokter juga akan memeriksa:
  • Kadar zat besi dalam darah
  • Mencari tanda peradangan
  • Mendeteksi kanker
  • Melihat apakah hal ini memiliki hubungannya dengan mutasi genetik
  • Pemeriksaan apusan darah untuk melihat kondisi dari trombosit

Biopsi sumsum tulang

Dokter dapat mengambil sampel sumsum tulang pasien untuk diuji lebih lanjut. Pemeriksaan ini ditujukan untuk melihat kondisi dari sumsum tulang, karena sel-sel darah termasuk trombosit diproduksi di dalam sumsum tulang belakang. 
Cara mengobati trombositemia dan trombositosis umumnya akan tergantung dari jenisnya di bawah ini:

Pengobatan trombositosis sekunder atau reaktif

Untuk trombositosis reaktif pengobatan dilakukan berdasarkan pemicunya.
  • Apabila Anda mengalami pendarahan akibat pembedahan atau cedera baru-baru ini, trombositosis akan hilang dengan sendirinya
  • Apabila Anda memiliki infeksi kronis atau peradangan, kondisi ini dapat membuat jumlah trombosit Anda menjadi tinggi sampai kondisi tersebut dapat dikendalikan. Rata-rata, kadar trombosit akan kembali normal setelah pemicunya diobati
  • Apabila Anda telah menjalani pengangkatan limpa, maka Anda akan menderita trombositosis seumur hidup, akan tetapi kondisi ini biasanya tidak memerlukan pengobatan

Pengobatan trombositemia primer atau trombositemia esensial

Pengobatan tidak diperlukan apabila kondisi Anda stabil tanpa ada tanda dan gejala. Akan tetapi, apabila Anda berisiko mengalami penggumpalan darah, maka dokter akan menyarankan Anda untuk mengonsumsi obat aspirin dengan dosis rendah setiap hari untuk membantu mengencerkan darah.Pasien sebaiknya Anda mengonsumsi obat ini dengan resep dokter, karena aspirin dapat menyebabkan perdarahan. Aspirin diberikan pula pada wanita hamil dengan trombositemia primer, karena tidak mempunyai risiko tinggi akan efek samping pada janin.Anda harus mengonsumsi obat-obatan untuk mengurangi kadar trombosit Anda apabila memiliki kondisi seperti:
  • Mempunyai riwayat penggumpalan darah dan perdarahan
  • Mempunyai faktor risiko untuk terkena penyakit jantung, seperti memiliki kadar kolesterol yang tinggi, tekanan darah tinggi atau diabetes (kencing manis).
  • Berusia lebih dari 60 tahun
  • Mempunya kadar trombosit lebih dari 1 juta trombosit per mikroliter.
Obat-obatan ini biasanya dikonsumsi seumur hidup dan meliputi:
  • Hidroksiurea

Hidroksiurea dapat mengurangi jumlah trombosit dalam darah, dan biasanya diberikan pada orang dengan kanker dan penyakit mengancam nyawa lainnya. Pasien yang mendapatkan obat ini harus dimonitor dengan secara ketat.
  • Kombinasi aspirin dan hidroksiurea

Kombinasi kedua obat ini merupakan pengobatan standar pada orang dengan trombositemia primer yang berisiko tinggi mengalami penggumpalan darah.
  • Anagrelide

Obat ini digunakan untuk menurunkan kadar trombosit, tetapi mempunyai hasil akhir yang lebih buruk daripada hidroksiurea.
  • Interferon alfa

Obat ini juga menurunkan jumlah trombosit, tetapi sebanyak 20% pasien tidak tahan dengan efek sampingnya.

Plateletpheresis

Plateletpheresis berfungsi mengurangi kadar trombosit dalam darah Anda dengan cara cepat yang mirip seperti cuci darah atau dialisis.Pengobatan ini dilakukan dengan menggunakan jarum infus yang terhubung ke mesin dimasukkan ke dalam salah satu pembuluh darah lalu darah mengalir ke mesin yang menyaring dan menyingkirkan trombosit dari darah.Darah yang telah disaring kemudian dikembalikan ke tubuh melalui jarum infus di dalam pembuluh darah tersebut. Tindakan ini dilakukan hanya untuk keadaan darurat saat trombositemia primer  menyebabkan stroke.Jika tidak ditangani dengan benar, trombositemia dan trombositosis dapat menyebabkan komplikasi berupa leukemia. 
Langkah pencegahan trombositemia dan trombositosis tidak diketahui hingga saat ini. Pasalnya, penyebabnya juga belum diketahui secara pasti.Namun Anda bisa mengurangi risiko penyakit ini dengan cara:
  • Berhenti merokok
  • Menjalani pola hidup sehat
  • Rutin memeriksakan diri ke dokter, jika Anda memiliki faktor risiko yang telah disebutkan
 
Trombositemia dan trombositosis biasanya tidak menimbulkan tanda dan gejala, sehingga seringkali Anda tidak mengetahui bahwa Anda memiliki kondisi ini, kecuali ketika terdeteksi pada saat pemeriksaan darah rutin. Jika Anda memiliki kondisi ini, maka dokter akan mencoba untuk mencari penyebabnya. 
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait trombositemia dan trombositosis?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis trombositemia dan trombositosis agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
WebMD. https://www.webmd.com/rheumatoid-arthritis/qa/what-is-thrombocytosis
Diakses pada 6 Desember 2018
NIH. https://www.nhlbi.nih.gov/health-topics/thrombocythemia-and-thrombocytosis
Diakses pada 6 Desember 2018
Healthline. https://www.healthline.com/health/primary-thrombocythemia
Diakses pada 6 Desember 2018
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/thrombocytosis/symptoms-causes/syc-20378315
Diakses pada 23 Juni 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email