Perut

Trauma Abdomen

14 Sep 2021 | Dedi IrawanDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Trauma Abdomen
Trauma abdomen atau cedera perut
Trauma abdomen adalah kondisi rongga perut mengalami luka, yang lazim ditemui di unit gawat darurat. Penyebabnya sangat beragam, mulai dari benturan langsung ke perut, terjatuh, tertusuk benda tajam, hingga tertembus peluru.Kondisi yang juga disebut trauma atau cedera perut ini dapat menyebabkan kerusakan pada organ-organ di dalam perut manusia. Sebagaimana yang kita ketahui, rongga perut merupakan tempat bagi semua organ pencernaan (seperti lambung, usus halus, usus besar, pankreas, hati, dan kantung empedu), ginjal, serta limpa.Abdomen dapat mengalami cedera atau trauma dengan berbagai tingkat keparahan. Kondisi ini tergantung pada mekanisme terjadinya cedera serta jenis benda yang terlibat. 

Jenis-jenis trauma abdomen

Trauma abdomen bisa dikelompokkan dalam dua jenis berikut:
  • Trauma tumpul

Trauma tumpul abdomen terjadi ketika perut mengalami benturan keras. Benturan ini bisa muncul akibat kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, terjatuh, cedera saat berolahraga, atau pukulan. Organ yang paling sering terkena adalah limpa, hati, dan usus halus.
  • Trauma tembus

Trauma tembus abdomen biasanya muncul karena robekan pada rongga perut akibat luka tembak atau luka tusuk. Misalnya cedera oleh pisau, peluru, atau ledakan.Trauma tembus ini akan mencederai organ vital dalam abdomen. Hati menjadi merupakan organ yang paling sering mengalami luka. 
Trauma Abdomen
Dokter spesialis Bedah
GejalaSakit perut, perdarahan, tanda vital tak stabil
Metode diagnosisMetode ATLS, CT scan, USG
PengobatanOperasi, laparotomi, angio-embolisasi
ObatAntibiotik
KomplikasiResusitasi tidak memadai, sepsis intraabdominal
Kapan harus ke dokter?Mengalami cedera di perut
Gejala trauma abdomen bisa berbeda-beda dan tergantung pada jenis yang dialami oleh pasien. Mari simak penjelasannya di bawah ini:

Gejala trauma tumpul di perut

Gejala trauma tumpul sering tidak muncul seketika setelah terjadi benturan. Tapi keluhan yang muncul bisa berupa:
  • Sakit perut
  • Memar pada lokasi benturan
  • Perdarahan di saluran pencernaan bagian bawah
  • Tanda-tanda vital yang tidak stabil, seperti denyut nadi yang cepat, tekanan darah yang rendah, serta pernapasan abnormal
  • Nyeri yang menjalar ke bahu kiri (bisa menjadi gejala cedera pada limpa)
  • Hematuria, yakni darah dalam urine (bisa menjadi gejala cedera ginjal)
  • Perut terasa kaku (bisa menjadi gejala peritonitis, yakni peradangan lapisan dinding dalam perut)
Karena keluhan yang jadang terlihat secara langsung, diagnosis trauma abdomen jenis ini sulit dilakukan dan kerap memakan waktu.

Gejala trauma tembus di perut

Gejala trauma tembus umumnya bisa langsung terlihat. Contohnya, perdarahan dari perut dan munculnya lubang atau luka di perut.Meski begitu, jenis keluhan yang muncul bisa pula tergantung pada berbagai faktor. Mulai dari jenis senjata atau benda tajam yang terlibat, letak dan besar cedera, organ mana yang terluka, serta jumlah luka.Penderita mungkin akan mengalami kehilangan darah dan pingsan, sehingga bisa berakibat fatal jika tidak ditangani dengan segera. 
Penyebab trauma abdomen biasanya dikategorikan berdasarkan jenis maupun mekanisme terjadinya cedera berikut:

Penyebab trauma tumpul

  • Pukulan langsung ke perut
  • Benturan dengan benda tumpul
  • Terjatuh dari ketinggian
  • Kecelakaan lalu lintas
  • Cedera saat berolahraga
  • Kecelakaan kerja

Penyebab trauma tembus

  • Tusukan beda tajam seperti pisau
  • Tembakan
  • Bom atau ledakan

Penyebab trauma abdomen pada anak-anak

  • Kecelakaan saat sepeda, misalnya terjatuh
  • Kecelakaan karena sepeda motor
 

Faktor risiko trauma abdomen

Beberapa faktor di bawah ini dapat meningkatkan kemungkinan seseorang untuk mengalami cedera perut:
  • Sering tidak mematuhi aturan lalu lintas, sehingga rawan mengalami kecelakaan
  • Berkendara di bawah pengaruh alkohol atau obat-obatan terlarang
  • Memiliki profesi yang berisiko cedera, seperti atlet, pembalap, polisi, serta tentara
 
Untuk memastikan diagnosis trauma abdomen dan kondisi pasien, dokter dapat menereapkan sederet langkah pemeriksaan di bawah ini:

Metode ATLS

Trauma abdomen harus ditangani sesuai dengan algoritma advanced trauma life support (ATLS) yang meliputi:
  • A (airway)

Menilai jalan nafas. Apakah pasien dapat bernafas dengan bebas tanpa adanya sumbatan. Perhatikan seluruh bagian wajah dan leher apakah ada memar, luka atau cedera laiinya. Jika tidak ada dapat dilakukan chinlift untuk membuka jalan napasnya. Cara melakukan chinlift adalah gunakan jari tengah dan jari telunjuk untuk memegang tulang dagu pasien lalu angkat dan dorong dagu ke atas.
  • B (breathing and ventilation)

Menilai pernapasan pasien, apakah pasien mengalami kesulitan bernapas? apakah ada bunyi napas dan gerakan dada saat bernapas? jika tidak, dapat memberikan napas buatan 
  • C (circulation)

Pada tahap sirkulasi adalah tahap penilaian apakah denyut teraba? Jika tidak teraba nadi maka lakkan cardiopulmonary resuscitation (CPR), lalu mintalah bantuan oranglain untuk menghubungi ambulans. Selain itu, jika melihat adanya pendarahan maka pendarahan tersebut dapat dibalut dengan kain bersih. Namun, apabila terdapat pisau yang masih tertancap di perut maka jangan dilepaskan karena akan berakibat pendarahan.
  • D (disability)

Pada tahap disability, dokter akan melakukan penilaian kesadaran dengan cepat, apakah pasien sadar, hanya respons terhadap nyeri atau sama sekali tidak sadar. Apakah pasien bisa bergerak? apakah pasien dalam keadaan sadar?
  • E (exposure)

Dokter akan melepaskan baju dan penutup tubuh pasien agar dapat mencari cedera yang mungkin
ada pada tubuh pasien.
Metode ATLS bisa dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
  • Melihat tanda vital, seperti pernapasan, sirkulasi (peredaran darah), dan ada tidaknya sumbatan pada saluran napas (ABC)
  • Memperhatikan tingkat kesadaran (D) untuk mendeteksi gangguan saraf
  • Memeriksa lokasi luka (E) dengan memeriksa semua permukaan tubuh
  • Mengetahui jenis senjata atau benda yang memicu cedera
  • Memperhatikan jumlah kehilangan darah yang terjadi

Pemeriksaan lainnya

Pemeriksaan yang selanjutnya dilakukan adalah pemeriksaan sekunder. Metode ini mencakup pengecekan fisik dari kepala hingga kaki pasien secara lengkap yang bisa berupa:
  • Pasien dengan trauma abdomen yang mengancam jiwa

Operasi diperlukan secepatnya untuk trauma intraabdomen yang signifikan, terutama yang mengakibatkan perdarahan dan menunjukkan gejala. Misalnya, hipotensi (dengan atau tanpa keluhan perut kembung), denyut nadi melemah, denyut jantung cepat, pernapasan yang cepat atau lambat, serta tanda peritonitis.
  • Pemeriksaan laboratorium

Jika operasi darurat diperlukan, pasien dengan trauma tembus harus menjalani tes laboratorium dasar, seperti tes golongan darah, tes urine, dan pemeriksaan lainnya.
  • Tes pencitraan

Tes ini bisa meliputi CT scan, USG, serta MRI. 
Pengobatan trauma abdomen harus diawali dengan survei primer cepat guna mengidentifikasi masalah langsung yang kemungkinan mengancam jiwa. Jika dibutuhkan, pasien bisa mendapatkan resusitasi.
  • Cara mengobati trauma abdomen jenis tembus

Pasien trauma abdomen tembus harus dibawa ke rumah sakit sesegera mungkin. Seberapa cepat penanganan dan proses menghentikan pendarahan merupakan kunci keselamatan pasien.Cedera tembus kemungkinan akan ditangani oleh dokter spesialis bedah. Misalnya dengan laparotomi, yakni melakukan sayatan di perut.Sementara pengobatan non-terapeutik sebaiknya diminimalisir pada pasien trauma tembus supaya tidak menunda diagnosis maupun pengobatan cedera.
  • Cara mengobati trauma abdomen jenis tumpul

Perawatan dengan metode non-operasi banyak dipakai untuk mengatasi cedera tumpul pada perut. Misalnya dengan mengandalkan prosedur MDCT (Multi-detector row computed tomography) dan tindakan medis minim invasi seperti angio-embolisasi.Pengobatan tanpa operasi biasanya diterapkan pada pasien yang memiliki tekanan darah stabil. Namun untuk pasien dengan kondisi parah, dokter juga bisa menyarankan laparotomi.Jika membutuhkan obat pereda sakit, dokter akan memberikannya sesuai dengan kondisi pasien. Sementara obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) tidak akan diberikan karena berpotensi menyebabkan perdarahan. 

Komplikasi trauma abdomen

Bila tidak ditangani dengan cepat dan benar, trauma abdomen bisa menyebabkan komplikasi berupa:
  • Cedera perut yang tidak diketahui dan semakin parah
  • Sepsis intraabdominal
  • Pecahnya limpa
  • Pendarahan
 
Cara mencegah trauma abdomen bisa dilakukan dengan langkah-langkah berupa:
  • Mengutamakan keselamatan dalam bekerja dan beraktivitas
  • Menaati peraturan keselamatan selama berkendara, seperti memakai sabuk pengaman dan mematuhi batas kecepatan serta rambu-rambu lalu lintas
  • Menggunakan alat pelindung diri ketika melakukan kegiatan yang rawan cedera, misalnya olahraga yang menuntut kontak fisik atau berprofesi sebagai pembalap
  • Selalu waspada terhadap lingkungan sekitar
 
Trauma tembus di perut umumnya akan langsung terlihat, sehingga pasien bisa segera dilarikan ke UGD terdekat. Namun cedera tumpul pada perut biasa jarang bergejala.Padahal, trauma abdomen, baik tumpul maupun tembus, termasuk kondisi gawat darurat medis yang memerlukan perawatan yang cepat dan tepat. Karena itu, segera ke rumah sakit jika Anda mengalami gejala berupa:
  • Nyeri perut, terutama yang muncul saat ditekan
  • Perut bengkak
  • Demam
  • BAB berdarah
  • Mual dan muntah terus-menerus
  • Berat badan turun tanpa sebab
  • Kulit dan bagian putih mata yang tampak kekuningan (jaundice)
 
Pasien yang mengalami cedera tembus di perut biasanya akan langsung dibawah ke UGD terdekat. Jadi tidak ada persiapan yang bisa dilakukan.Sedangkan untuk pasien cedera tumpul di perut, persiapkan beberapa hal di bawah ini sebelum melakukan kunjungan ke dokter:
  • Buatlah daftar seputar gejala yang muncul.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang dialami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang dikonsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberi dukungan moral maupun membantu mengingat informasi yang disampaikan dokter.
 
Dokter kemungkinan akan mengajukan pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang dirasakan oleh pasien?
  • Sejak kapan gejala muncul?
  • Apa yang memicu cedera?
  • Apakah pasien memiliki faktor risiko terkait trauma abdomen?
  • Apakah pasien rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah pasien pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah dicoba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis trauma abdomen agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK431087/
Diakses pada 1 Maret 2019
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/symptoms/abdominal-pain/basics/when-to-see-doctor/sym-20050728
Diakses pada 1 Maret 2019
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/ruptured-spleen/symptoms-causes/syc-20352317
Diakses pada 1 Maret 2019
Clerkship Directors in Emergency Medicine. http://saem.org/cdem/education/online-education/m4-curriculum/group-m4-trauma/abdominal-trama
Diakses pada 1 Maret 2019
Patient Info. https://patient.info/doctor/abdominal-trauma#nav-2
Diakses pada 28 April 2021
MDS Manual. https://www.msdmanuals.com/professional/injuries-poisoning/abdominal-trauma/overview-of-abdominal-trauma
Diakses pada 28 April 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email