Infeksi

Toksoplasmosis

Diterbitkan: 19 Mar 2021 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Toksoplasmosis
Toksoplasmosis terjadi akibat infeksi parasit Toxoplasma gondii
Toksoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi parasit Toxoplasma gondii. Penyakit ini dapat menyebabkan gejala seperti gejala flu, meski sebagian besar orang tidak mengalami gejala apa pun.Namun, bayi yang terinfeksi toksoplasma dari ibunya dapat mengalami komplikasi yang berat. Parasit toksoplasma masuk ke dalam tubuh dalam bentuk kista.Kista ini dapat menginfeksi bagian tubuh mana saja, seperti otak, otot, ataupun jantung. Jika daya tahan tubuh baik, maka parasit menjadi nonaktif dan tubuh tidak sakit.Akan tetapi, apabila daya tahan tubuh menurun akibat penyakit lain atau muncul efek samping obat tertentu, infeksi dapat terjadi kembali dan menyebabkan komplikasi berbahaya.   
Toksoplasmosis
Dokter spesialis Umum, Penyakit Dalam
GejalaDemam, sakit kepala, kaku otot
Faktor risikoHIV/AIDS, kemoterapi
Metode diagnosisPemeriksaan antibodi, pada ibu hamil dilakukan amniosentesis dan USG 
PengobatanPemberian obat-obatan
ObatPirimetamin, sulfadiazin
KomplikasiInfeksi mata, kebutaan, gangguan pendengaran
Kapan harus ke dokter?Jika mengalami gejala, terutama dengan faktor risiko
Orang dewasa yang sehat umumnya tidak mengalami gejala apa pun jika terinfeksi toksoplasma. Namun beberapa individu dapat mengalami:
  • Demam
  • Sakit kepala
  • Pembengkakan kelenjar getah bening
  • Nyeri badan
  • Kelelahan yang berat (fatigue)
Sementara itu pada orang dewasa dengan daya tahan tubuh yang menurun, misalnya akibat HIV/AIDS atau kemoterapi untuk kanker, toksoplasma dapat mengalami reaktivasi dan menyebabkan gejala yang lebih berat, seperti:
  • Sakit kepala
  • Kejang
  • Penurunan kesadaran
  • Pneumonia
  • Pandangan kabur akibat peradangan pada retina
Jika ibu hamil terkena toksoplasmosis, perpindahan parasit ke bayi dapat terjadi. Risikonya menjadi paling tinggi jika infeksi terjadi pada trimester ketiga kehamilan.Toksoplasmosis dapat menyebabkan keguguran atau bayi lahir meninggal. Jikapun bertahan hidup, bayi dapat mengalami:
  • Jaundice (penyakit kuning)
  • Infeksi mata berat
  • Kejang
  • Pembesaran hati dan limpa
 
Toksoplasmosis disebabkan oleh parasit bernama Toxoplasma gondii. Parasit ini dapat menginfeksi berbagai hewan, termasuk burung, domba, kambing, sapi, babi, dan unggas.

Namun parasit tersebut umumnya menjangkiti kucing, baik itu kucing liar mau pun domestic atau peliharaan.
Toxoplasma gondii tidak dapat ditularkan melalui kontak antarmanusia, kecuali bayi dalam kandungan yang terjangkit dari ibunya.Umumnya, manusia dapat terinfeksi Toxoplasma gondii karena:
  • Konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi
  • Kontak dengan kotoran kucing yang terinfeksi
  • Konsumsi sayur atau buah yang tidak dicuci bersih
  • Menggunakan pisau, talenan, atau alat masak lain yang terkena daging mentah terinfeksi
  • Transplantasi organ atau transfusi darah, meski jarang terjadi
Ketika masuk ke dalam tubuh manusia, umumnya melalui jalur pencernaan, parasit akan meledak di usus dan menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah.


Faktor risiko

Setiap orang bisa terinfeksi toksoplasmosis. Namun, beberapa orang dengan kondisi berikut ini lebih rawan untuk terjangkit.
  • Mengidap HIV/AIDS yang mengganggu sistem kekebalan tubuh
  • Sedang menjalani kemoterapi. Sebab, kemoterapi memengaruhi sistem kekebalan, sehingga tubuh sulit melawan infeksi yang ringan sekalipun.
  • Menggunakan steroid atau obat imunosupresan lainnya
  • Tinggal di daerah yang beriklim panas dan lembap. Toxoplasma gondii bertahan hidup lebih lama di lingkungan tersebut.
Baca juga: Tidur Bersama Kucing, Sehatkah? 
Dokter dapat mendiagnosis toksoplasmosis melalui pemeriksaan antibody, maupun pemeriksaan ibu hamil dan janin.

1. Pemeriksaan antibodi

Toksoplasmosis dapat didiagnosis melalui pemeriksaan antibodi terhadap parasit toksoplasma. Pemeriksaan ini bisa menemukan infeksi aktif maupun riwayat infeksi.

2. Pemeriksaan ibu hamil dan janin

Bagi ibu hamil yang ternyata mengalami infeksi aktif, pemeriksaan lanjutan untuk memeriksa toksoplasmosis pada bayi diperlukan, yaitu melalui amniosentesis, atau pemeriksaan cairan ketuban dan darah bayi.Selain itu, pemeriksaan USG juga dapat membantu mendeteksi adanya kelainan pada bayi akibat toksoplasmosis. 
Pada umumnya infeksi toksoplasmosis tidak membutuhkan pengobatan karena dapat sembuh dengan sendirinya pada orang dewasa dengan status imun baik.Namun jika gejala yang ditimbulkan berat dan memengaruhi mata, pengobatan dapat diberikan menggunakan obat pirimetamin dan sulfadiazin.Pengobatan toksoplasmosis pada ibu hamil bergantung pada apakah infeksi juga terjadi pada bayi atau tidak. Jika dibutuhkan, pengobatan dengan antibiotik spiramisin atau kombinasi sulfadiazin/pirimetamin dapat diberikan untuk mencegah penularan ke bayi.Pertimbangan pemberian antibiotik disesuaikan dengan kemungkinan efek samping antibiotik tersebut dalam kehamilan, seperti penekanan sumsum tulang dan efek toksik pada hati.Pada umumnya infeksi toksoplasmosis tidak membutuhkan pengobatan karena dapat sembuh sendirinya pada orang dewasa dengan sistem kekebalan tubuh yang baik.Namun jika gejala yang ditimbulkan berat dan memengaruhi mata, pengobatan dapat diberikan menggunakan obat-obatan pirimetamin dan sulfadiazin.Pengobatan toksoplasmosis pada ibu hamil bergantung pada infeksi pada bayi. Jika dibutuhkan, pengobatan dengan antibiotik spiramisin atau kombinasi sulfadiazine atau pirimetamin dapat diberikan untuk mencegah penularan ke bayi.Pemberian antibiotik disesuaikan dengan kemungkinan efek samping obat tersebut dalam kehamilan, seperti penekanan sumsum tulang dan efek keracunan pada hati.


Komplikasi

Tanpa perawatan yang tepat, toksoplasmosis dapat menimbulkan berbagai komplikasi berbahaya pada pasien dengan sistem kekebalan yang lemah, antara lain berupa:
  • Infeksi mata
  • Kebutaan
  • Ensefalitis (infeksi otak)
Sementara itu, transmisi pada bayi dari ibu yang terinfeksi dapat menyebabkan komplikasi berupa:
  • Gangguan pendengaran
  • Gangguan mental
  • Infeksi mata yang serius
Sayangnya, seringkali komplikasi dari toksoplasmosis tidak tampak saat bayi lahir, tetapi baru muncul di kemudian hari.Baca jawaban dokter: Infeksi Tokso Pada Hewan Peliharaan Kucing Bikin Susah Hamil, Benarkah? 
Beberapa cara untuk mencegah toksoplasmosis, antara lain dengan:
  • Tidak mengonsumsi daging yang mentah atau setengah matang, terutama daging sapi, domba, atau babi
  • Mencuci peralatan dapur dengan air hangat dan sabun yang sesuai
  • Mencuci tangan setelah memegang daging mentah
  • Mencuci sayur dan buah dengan bersih
  • Menggunakan sarung tangan saat berkebun
  • Menghinindari minum susu yang belum dipasteurisasi.
  • Rutin memeriksakan janin bagi ibu hamil, salah satu caranya dengan menjalani pemeriksaan TORCH. Pemeriksaan ini dilakukan sebagai deteksi dini infeksi pada ibu hamil, termasuk keberadaan parasit toksoplasma.
Apabila Anda memiliki faktor risiko terhadap toksoplasmosis atau sedang hamil dan tetap ingin memelihara kucing, lakukan langkah berikut ini untuk mencegah terjadinya toksoplasmosis.

1. Menjaga kesehatan kucing pelihataan

Biasakan untuk memelihara kucing Anda di dalam ruangan, beri makanan kering atau kalengan, bukan daging mentah. Kucing dapat terinfeksi setelah memakan mangsa yang terinfeksi atau daging kurang matang dengan parasit.

2. Tidak memungut atau bermain dengan kucing liar

Kebanyakan kucing tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi toksoplasmosis, jadi tetaplah berhati-hati. Jika ingin mengadopsi kucing liar, periksakan ke dokter hewan terlebih dahulu.

3. Berhati-hati dalam membersihkan bak pasir kucing

Mintalah orang lain untuk membersihkan bak pasir kucing Anda. Jika tidak memungkinkan, kenakan sarung tangan dan masker wajah saat membersihkannya. Buang kotoran kucing setiap hari untuk menghindari kemungkinan adanya parasit di bak pasir.Baca juga: Mengenal Pemeriksaan TORCH demi Kesehatan Janin dalam Kandungan 
Toksoplasmosis biasanya tidak menyebabkan gejala. Oleh karena itu, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter jika:
  • Pemeriksaan antibodi toksoplasma menunjukkan hasil positif dan infeksi bersifat aktif
  • Daya tahan tubuh tidak optimal (misalnya karena kemoterapi, HIV/AIDS, maupun menerima donor organ dalam pengobatan steroid)
  • Sedang hamil atau merencanakan kehamilan
     
Sebelum berkonsultasi dengan dokter, ada baiknya melakukan beberapa hal berikut ini.
  • Catat gejala yang Anda alami
  • Catat informasi tentang keberadaan hewan peliharaan kucing di rumah
  • Catat kebiasaan mengonsumsi makanan atau minuman mentah
  • Catat usia kehamilan dan riwayat kontak, apabila sedang hamil
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
    
Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut ini.
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terhadap toksoplasmosis?
Selanjutnya, dokter akan:
  • Memastikan tingkat keparahan gejala dan efeknya pada mata
  • Menentukan tingkat keaktifan toksoplasmosis dan Riwayat infeksi
  • Merujuk atau melakukan pemeriksaan lanjut terhadap janin, untuk mengantisipasi penularan, jika Anda sedang hamil
Langkah-langkah tersebut bertujuan memastikan diagnosis toksoplasmosis agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/toxoplasmosis/diagnosis-treatment/drc-20356255
Diakses pada 12 Oktober 2019
Healthline. https://www.healthline.com/health/toxoplasmosis#prevention
Diakses pada 12 Oktober 2019
KidsHealth. https://kidshealth.org/en/parents/toxoplasmosis.html
Diakses pada 12 Oktober 2019
CCOHS. https://www.ccohs.ca/oshanswers/diseases/toxoplasmosis.html
Diakses pada 30 Oktober 2020
CDC. https://www.cdc.gov/parasites/toxoplasmosis/epi.html
Diakses pada 30 Oktober 2020
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5924842/
Diakses pada 30 Oktober 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email