Penyakit Lainnya

Tirotoksikosis

08 Sep 2021 | Popy Hervi PutriDitinjau oleh dr. Anandika Pawitri
image Tirotoksikosis
Tirotoksikosis adalah kondisi hormon tiroid yang berlebih dalam aliran darah. Hormon yang diproduksi oleh kelenjar tiroid ini berfungsi mengatur metabolisme tubuh.Terlalu banyak hormon tiroid (tiroksin dan triiodotironin) akan mempercepat metabolisme dan menyebabkan gejala tirotoksikosis. Penyakit yang berhubungan dengan kelenjar tiroid sepuluh kali lebih umum ditemukan pada wanita daripada pria.Menurut beberapa penelitian yang telah dilakukan, terdapat tiga kasus baru tirotoksikosis terjadi pada wanita setiap tahunnya.Tirotoksikosis umumnya disebabkan oleh hipertiroidisme atau suatu kondisi yang terjadi ketika kelenjar tiroid menghasilkan terlalu banyak hormon. Kondisi ini umumnya bisa diobati dengan mengonsumsi obat yang bermanfaat untuk mengendalikan kelenjar agar tidak terlalu banyak mengeluarkan hormon. 
Tirotoksikosis
Dokter spesialis Penyakit Dalam
GejalaDetak jantung yang cepat, penurunan berat badan, insomnia
Faktor risikoHipotiroidisme, tiroiditis, Graves’ disease
Metode diagnosisTanya jawab, pemeriksaan fisik, tes darah
PengobatanObat-obatan, radioactive iodine, operasi
ObatObat antitiroid, beta blocker
KomplikasiGangguan irama jantung, osteoporosis
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala tirotoksikosis
Pada penderita tirotoksikosis ringan, tanda-tanda penyakit ini biasanya tidak terlihat. Gejala mulai muncul seiring dengan tirotoksikosis yang berkembang ke arah yang lebih serius.Gejala-gejala tirotoksikosis dapat berbeda-beda pada tiap pasien. Beberapa indikasi umumnya dapat berupa:
  • Rasa cemas
  • Detak jantung yang cepat atau berdebar
  • Gondok atau goiter
  • Pada lansia dapat terjadi gagal jantung
  • Penurunan berat badan
  • Susah tidur atau insomnia
  • Suasana hati (mood) yang dapat berubah-ubah
  • Kelelahan
  • Rambut menjadi rontok
  • Kulit menjadi tipis
  • Terlalu peka terhadap panas
  • Rasa nyeri atau sakit pada otot
  • Aliran darah menstruasi yang lebih sedikit. Apabila lebih parah, kondisi ini dapat mengurangi kesuburan wanita.
  • Rasa lemah pada lengan bagian atas maupun pada paha
  • Keringat berlebih
  • Tangan yang gemetar (tremor)
  • Lebih banyak buang air besar
  • Adanya peradangan atau iritasi pada mata, dikenal juga dengan istilah bulging eyes
 
Penyebab utama tirotoksikosis adalah hipertiroidisme, yaitu keadaan di mana kelenjar tiroid bekerja terlalu aktif (overactivity). Sebagai akibatnya, produksi hormon tiroid menjadi berlebihan. 

Faktor risiko tirotoksikosis

Beberapa faktor risiko tirotoksikosis meliputi:
  • Asupan hormon tiroid berlebihan pada penderita hipotiroidisme (keadaan di mana kelenjar tiroid kurang aktif) yang sedang menjalani perawatan. Hal ini menyebabkan peningkatan hormone tiroid.
  • Peradangan kelenjar tiroid atau tiroiditis. Kondisi ini dapat menyebabkan pelepasan hormon tiroid dalam jumlah besar dalam aliran darah.
  • Obat-obatan jenis tertentu, seperti amiodarone dan lithium, juga dapat memicu produksi hormon tiroid yang berlebih.
  • Graves’ disease yang merupakan salah satu kondisi hipertiroidisme. Hal ini akan menyebabkan sistem kekebalan tubuh menjadi salah mengira sel-sel kelenjar tiroid sebagai benda asing dan menyerangnya dengan antibodi.
  • Nodul pada kelenjar tiroid. Benjolan ini dapat menimbulkan dampak pada seberapa banyak hormon yang akan dihasilkan oleh sebuah kelenjar. Nodul tunggal disebut toxic nodular adenoma.
  • Apabila muncul lebih dari satu, akan disebut multinodular goiter atau Plummer’s disease. Penyakit ini juga lebih sering ditemukan pada wanita dibandingkan dengan pria.
  • Struma ovarii, yaitu salah satu jenis tumor ovarium langka yang sebagian besar terbuat dari jaringan tiroid. Kondisi ini dapat menyebabkan hipertiroidisme dalam beberapa kasus.
 
Diagnosis tirotoksikosis dilakukan dengan cara tanya jawab, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Berikut penjelasannya.
  • Tanya jawab dan pemeriksaan fisik

Menanyakan mengenai gejala-gejala yang timbul serta obat-obatan yang sedang dikonsumsi. Selain itu, dokter juga akan memeriksa apakah denyut nadi Anda terlalu cepat atau tiroid Anda yang terlalu terlalu besar
  • Tes darah

Tes darah bermanfaat untk untuk melihat kadar thyroid stimulating hormone (TSH) dalam tubuh penderita.
  • Pemeriksaan penunjang

Pada beberapa kasus, dokter mungkin akan menyarankan Anda melakukan pemeriksaan penunjang, seperti USG. Hal ini bermanfaat untuk membantu dokter mendapatkan gambaran tiroid kelenjar tyang lebih jelas. 
Cara mengobati tirotoksikosis umumnya akan tergantung dari tingkat keparahan penyakit dan seberapa lama pasien sudah mengalami kondisi tersebut. Beberapa pilihan Beberapa pilihan penanganan penyakit ini meliputi:

Obat-obatan

Terdapat beberapa jenis obat-obatan yang dapat digunakan untuk menangani tirotoksikosis, yaitu:
  • Obat antitiroid untuk menghambat kelenjar tiroid dalam memproduksi hormon tiroid, contohnya adalah methimazole(tapazole) dan propylthiouracil (PTU).
  • Beta blockersguna mengurangi gejala-gejala yang timbul akibat tirotoksikosis. Beberapa contoh obat jenis ini adalah propanololatenololnadolol, dan metoprolol.

Radioactive iodine

Radioactive iodine adalah zat tidak berwarna dan tanpa berasa yang dikonsumsi oleh penderita tirotoksikosis. Fungsinya untuk merusak sel-sel tiroid secara permanen.Setelah dicerna, zat ini akan terserap dalam aliran darah dan diambil oleh sel-sel tiroid yang terlalu aktif. Kelenjar tiroid akan menyusut dalam beberapa minggu.Kadar hormon tiroid dalam darah dan thyroid stimulating hormon (TSH) pun akan kembali normal.
Agar hasilnya optimal, pengobatan ini dapat dilakukan lebih dari satu kali.
Tetapi penderita kemudian kerap mengalami hipotiroidisme akibat kelenjar tiroid tak mampu memproduksi hormon tiroid yang cukup lagi. Akibatnya, penderita butuh pengobatan lanjutan berupa terapi asupan hormon tiroid pengganti setiap harinya.

Operasi

Dokter mungkin menyarankan Anda menjalani operasi untuk mengangkat semua atau sebagian kelenjar tiroid. Hal ini perlu dilakukan jika satu atau lebih nodul pada kelenjar terlalu aktif.Namun, jika banyak nodul yang terlibat atau jika seluruh kelenjar tiroid Anda terlalu aktif, dokter mungkin menyarankan agar sebagian besar atau semuanya diangkat. 

Komplikasi tirotoksikosis

Jika tidak ditangani dengan benar, tirotoksikosis bisa menyebabkan komplikasi berupa: 
 
Cara mencegah tirotoksikosis yang bisa dilakukan meliputi:
  • Mengurangi stres, gangguan kecemasan, dan rasa gugup.
  • Mengurangi konsumsi kafein. Konsumsi kafein berlebih dapat memicu beragam komplikasi, seperti peningkatan detak jantung dan kesulitan konsentrasi.
  • Menghentikan kebiasaan merokok. Pasalnya, Graves’ disease sering ditemukan pada perokok.
 
Hubungi dokter bila Anda mengalami gejala yang mengarah pada tirotoksikosis. Demikian pula jika Anda memiliki tanda atau gejala lain yang tidak disebutkan maupun kekhawatiran serta pertanyaan lainnya. 
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait tirotoksikosis?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis tirotoksikosis agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Virginia Mason. https://www.virginiamason.org/thyrotoxicosis
Diakses pada 8 September 2021
You & Your Hormones. http://www.yourhormons.info/endocrine-conditions/thyrotoxicosis/
Diakses pada 8 September 2021
Clinical Medicine. http://www.clinmed.rcpjournal.org/content/17/3/274.full
Diakses pada 8 September 2021
WebMD. https://www.webmd.com/women/thyrotoxicosis-hyperthyroidism#2
Diakses pada 8 September 2021
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1476727/
Diakses pada 8 September 2021
On My Health. https://www.onlymyhealth.com/preventive-measures-hyperthyroidism-1346820619
Diakses pada 8 September 2021
Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/121865-clinical#b1
Diakses pada 13 Maret 2019
Endocrine Surgery. http://www.endocrinesurgery.net.au/thyrotoxicosis/
Diakses pada 13 Maret 2019
Royal Australian College of General Practitioners. https://www.racgp.org.au/afp/2012/august/evaluating-and-managing-patients-with-thyrotoxicosis/
Diakses pada 13 Maret 2019
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email