1 Jun 2021
Ditinjau oleh dr. Anandika Pawitri
Telinga berdenging merupakan salah satu gejala dari tinnitus
Tinnitus adalah telinga berdenging. Seseorang bisa merasakan sensasi suara berdering, berdenging, mendesis, berkicau, bersiul, atau bunyi lainnya di telinga.
Suara ini bisa muncul dan hilang secara bergantian, atau terus berlangsung. Selain itu, tingkat kenyaringan bunyi yang didengar penderita pun dapat berbeda-beda.
Telinga berdengung sering memburuk ketika keadaan di sekitar penderita lebih hening dari biasanya. Tak heran jika banyak yang merasakannya di malam hari menjelang tidur.
Pada kasus yang jarang, suara akan terasa berdetak selaras dengan denyut jantung penderita. Kondisi ini biasa disebut dengam pulsatile tinnitus.
Munculnya dengungan di telinga termasuk kondisi yang umum terjadi. Pada kebanyakan orang, gejala ini bersifat sementara. Namun pada kasus yang parah, tinnitus bisa membuat penderita susah konsetrasi dan tidur.
Gangguan ini kemudian membuat rutinitas penderita terganggu. Misalnya, pekerjaan atau studi. Jika terus berlanjut, stres emosiobal bisa saja mendera penderita.
Memiliki masalah pendengaran bukan berarti seseorang akan memiliki mengalami tinnitus. Demikian juga sebaliknya, orang yang mengidap tinnitus tak berarti pasti mempunya masalah pendengaran.
Dalam beberapa kasus, tinnitus justru membuat seseorang menjadi sangat sensitif terhadap suara. Hanya saja, suara berdengung dalam telinga sering dikaitkan dengan gangguan pendengaran.
Tinnitus terbagi menjadi dua jenis di bawah ini:
Seseorang dianggap mengalami tinnitus objektif jika ia dan orang lain dapat mendengar suara di telinga penderita. Kondisi ini erat kaitannya dengan pembuluh darah yang tidak normal di dalam dan sekitar telinga.
Saat jantung berdetak, penderita maupun orang lain bisa mendengar suara denyutan yang berbeda dari biasanya.
Kondisi tinnitus subjektif merupakan kejadian yang lebih sering muncul. Pada kondisi ini, pengidap lebih sering mendengar aneka suara dalam telinganya sendiri dan orang lain tidak dapat mendengarnya.
Gejala tinnitus yang paling umum adalah telinga berdenging, padahal tidak ada suara dari luar. Namun ada juga jenis suara lain yang mungkin didengar oleh penderita. Beberapa suara lain yang mungkin muncul meliputi:
Penyebab tinnitus pada kebanyakan kasus kerap tidak diketahui dengan pasti. Namun beberapa faktor risiko tinnitus berikut dapat meningkatkan kemungkinan kondisi ini:
Pada telinga bagian dalam, terdapat sel-sel rambut. Bagian ini akan bergerak ketika ada gelombang suara yang menerpa telinga.
Gerakan tersebut akan memicu sinyal yang kemudian berubah menjadi suara. Jika rambut-rambut ini bengkok atau patah, tinnitus bisa terjadi.
Beberapa hal bisa menyebabkan sel-sel rambut tersebut bengkok dan patah. Mulai dari penuaan hingga mendengar suara keras berkelanjutan.
Penyebab lain dari tinnitus adalah infeksi atau penyumbatan saluran telinga, seperti penumpukan cairan, kotoran, dan benda asing lain. Akibatnya, tekanan dalam telinga bisa berubah.
Penyebab lain dari tinnitus bisa meliputi cedera pada kepala atau leher. Trauma ini mungkin memengaruhi telinga bagian dalam, saraf pendengaran, atau fungsi otak yang terkait pendengaran. Umumnya, cedera jenis ini menyebabkan tinnitus hanya di satu telinga.
Mengonsumsi sejumlah obat bisa juga menyebabkan atau memperburuk tinnitus. Semakin tinggi dosis obat yang dikonsumsi, makin buruk kondisi ini.
Pada kebanyakan kasus, tinnitus akan hilang saat menghentikan penggunaan obat. Beberapa obat yang bisa menyebabkan tinnitus antara lain:
Konsumsi aspirin dalam dosis besar sudah sejak lama dikenal sebagai penyebab tinnitus. Faktanya, aspirian memang digunakan untuk menghasilkan telinga berdenging pada hewan percobaan.
Kina dan obat malaria lainnya terkadang bisa menyebabkan tinnitus jika diberikan dalam dosis tinggi dan jangka panjang.
Dalam kasus jarang, dosis rendah juga dapat memicu tinnitus yang bersifat sementara. Keluhan ini akan berhenti setelah pasien menghentikan penggunaan obat.
Beberapa jenis antibiotik bisa pula menyebabkan telinga berdenging. Kelompok obat ini biasa dikenal dengan antibiotik aminoglikosida, contohnya streptomisin dan gentamisin.
Obat lain yang mungkin bisa merusak telinga bagian dalam adalah golongan obat sitotoksik. Namun kerusakan pada telinga akibat obat ini jarang terjadi.
Konsumsi obat diuretik juga bisa menyebabkan tinnitus. Obat ini biasa digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi, gagal jantung, dan gangguan ginjal. Bahkan, dosis besar diuretik bisa menyebabkan kerusakan permanen jika dikonsumsi dengan obat ototoksik lainnya.
Pada sekelompok kecil pasien mungkin akan mengalami reaksi tak terduga terhadap obat tertentu. Kondisi ini biasa disebut dengan reaksi idiosinkratik. Jika mencurigai hal ini, sebaiknya konsultasikan dengan dokter guna mendapat alternatif lain.
Tinnitus bisa dijadikan sebagai indikasi seseorang mengalami penyakit Meniere. Penyakit ini merupakan kelainan telinga bagian dalam yang mungkin disebabkan oleh tekanan cairan telinga bagian dalam yang tidak normal.
Kondisi ini terjadi ketika saluran di telinga yang menghubungkan telinga tengah ke tenggorokan bagian atas. Disfungsi terjadi ketika saluran ini tetap mengembang sepanjang waktu. Alhasil, telinga Anda kemudian akan terasa penuh.
Jika tulang di telinga tengan mengalami kerusakan sehingga bisa memengaruhi pendengaran dan tinnitus. Kondisi ini bisa terjadi karena faktor turunan dan merupakan pertumbuhan tulang yang tidak normal.
Otot telinga bagian dalam bisa mengalami tegang sehingga muncul tinnitus, gangguan pendengaran, dan perasaan penuh di telinga. Kadang, kondisi ini terjadi tanpa penyebab yang jelas. Namun, penyakit neurolohgis seperti sklerosis ganda bisa menyebabkan hal ini.
Sendi temporomandibular yang melingkupi sendi setiap sisi kepala di depan telinga dan tempat pertemuan tulang rahang bawah dan tenggorak. Jika TMJ tersebut mengalami masalah, tinnitus bisa muncul.
Neuroma akustik adalah tumor jinak yang berkembang pada saraf kranial bisa menyebabkan tinnitus. Saraf ini membentang dari otak ke telinga bagian dalam. Fungsinya adalah mengontrol keseimbangan serta pendengaran. Tumor lain di kepala, leher, dan otak juga bisa menyebabkan tinnitus.
Pembuluh darah yang mengalami gangguan seperti aterosklerosis, tekanan darah tinggi, atau pembuluh yang rusak bisa menyebabkan tinnitus. Hal ini terjadi karena darah yang mengalir melalui pembuluh darah dan arteri menjadi lebih kuat. Kondisi ini juga bisa memperjelas adanya tinnitus.
Beberapa kondisi kronis seperti diabetes, kelenjar tiroid bermasalah, migrain, anemia, rheumatoid, lupus, dan gangguan autoimun lain bisa juga menyebabkan telinga berdengung.
Beberapa faktor risiko tinnitus yang harus diwaspadai meliputi:
Suara bising dan keras seperti suara dari alat berat, gergaji mesin, dan senjata api adalah sumber umum terjadinya gangguan pendengaran terkait kebisingan. Perangkat musik portable juga bisa menyebabkan hal yang sama jika diputar dalam waktu lama dan dengan volume yang tinggi.
Makin tua usia seseorang, jumlah serabut saraf di telinga yang tetap berfungsi akan berkurang. Kondisi ini berpotensi memicu masalah pendengaran yang sering dikaitkan dengan tinnitus.
Mereka yang berjenis kelamin pria memiliki risiko lebih tinggi untuk menderita telinga berdenging.
Perokok dan orang yang minum alkohol juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi ini.
Beberapa masalah medis seperti obesitas, masalah kardiovaskular, tekanan darah tinggi, pernah menderita artritis atau cedera kepala juga bisa meningkatkan risiko terkena tinnitus.
Untuk memastikan diagnosis tinnitus, dokter bisa melakukan beberapa metode pemeriksaan di bawah ini:
Pengujian ini dilakukan di ruangan kedap suara di mana telinga akan dipakaikan earphone guna mendeteksi seberapa baik pendengaran seseorang.
Dokter akan memeriksa gerakan mata, rahang, leher, lengan, dan kaki pasien. Ketika bergerak dan tinnitus memburuk, maka dokter akan terbantu dalam mendiagnosis kondisi ini.
Tes ini akan dilakukan sesuai dengan dugaan awal terjadinya tinnitus. CT scan dan MRI digunakan untuk melihat kelainan atau kerusakan pada telinga.
Sementara itu, pemindaian sinar-X dilakukan untuk mengetahui masalah terkait tumor, kelainan pembuluh darah, atau kelainan yang mungkin memengaruhi pendengaran.
Pemeriksaan darah akan dilakukan guna mendeteksi anemia, masalah pada kelenjar tiroid, penyakit jantung, atau kekurangan vitamin.
Diagnosis tinnitus juga akan lebih baik jika pasien menggambarkan dengan baik suara yang didengarnya. Berdasarkan bunyi yang muncul di bawah ini, dokter mungkin akan mengidentifikasi penyebab yang mendasarinya:
Suara jenis ini biasanya mengindikasikan adanya kontraksi otot di dalam dan di sekitar telinga.
Biasanya suara ini terkait masalah pembuluh darah, seperti tekanan darah tinggi. Pasien mungkin menyadarinya saat berolahraga atau mengubah posisi, seperti saat berbaring atau berdiri.
Jenis suara ini kebanyakan terkait dengan sumbatan saluran telinga, penyakit Meniere, atau tulang telinga bagian dalam menjadi kaku (otosklerosis).
Ini merupakan jenis suara yang paling umum didengar penderita telinga berdenging. Kemungkinan penyebabnya bisa berupa terpapar suara keras, gangguan pendengaran, dan obat-obatan. Jika suara ini terdengar terus-menerus, penyebabnya kemungkinan neuroma akustik.
Advertisement
Cara mengobati tinnitus dilakukan setelah dokter mengidentifikasi kondisi kesehatan pasien terlebih dahulu. Jika keluhan ini disebabkan oleh kondisi kesehatan tertentu, dokter akan merekomendasikan pengobatan untuk mengurangi kebisingan. Langkah ini meliputi:
Untuk mengurangi tinnitus, salah satu cara yang bisa digunakan adalah mengangkat kotoran telinga.
Jika disebabkan oleh masalah terkait pembuluh darah, maka mengobati kondisi ini bisa memperbaiki tinnitus.
Untuk mengatasi telinga berdenging disebabkan oleh gangguan pendengaran karena kebisingan atau usia, memakai alat bantu dengar maka bisa jadi solusi.
Kondisi yang disebabkan oleh penggunaan obat, maka gantilah dengan ibat lainnya.
Noise suppression dapat menjadi alternatif untuk beberapa kasus. Dokter mungkin akan menyarankan penggunaan perangkat elektronik untuk mengurangi kebisingan. Perangkat tersebut diantaranya:
Alat ini menghasilkan suara lingkungan yang menenangkan seperti suara hujan atau gelombang laut. Alat ini dipercaya efektif membantu tidur dan merupakan pengobatan efektif untuk tinnitus
Masking device merupakan alat yang menghasilkan suara putih (white noise) tingkat rendah terus menerus yang menurunkan gejala tinnitus
Meredakan tinnitus juga bisa dilakukan dengan terapi untuk mengubah cara berpikir dan merasakan gejala. Seiring waktu, telinga berdengung kemungkinan tidak akan lagi terlalu mengganggu penderitanya. Terapi yang bisa dilakukan antara lain:
Program ini diberikan oleh profesional dengan cara menggabungkan penyamaran suara dan konseling. Seiring waktu, terapi ini akan membantu pasien untuk menutupi gejala dan mengurangi stres karena tinnitus.
Terapi ini diberikan oleh psikolog yang bekerja mengatasi masalah untuk mengurangi gejala telinga berdenging. Konseling ini bisa juga membantu masalah lain terkait kondisi ini termasuk kecemasan dan depresi.
Obat juga bisa digunakan untuk mengurangi gejala telinga berdenging. Obat yang bisa diberikan adalah antidepresan dan anticemas seperti xanax, amitriptyline, dan nortriptyline. Hanya saja, obat-obatan di atas bisa menyebabkan efek samping, seperti:
Dalam kasus yang jarang, obat-obatan tersebut bisa menyebabkan masalah jantung.
Komplikasi tinnitus akan berbeda pada setiap individu. Pada beberapa orang, kondisi ini mungkin memengaruhi kualitas hidup secara signifikan. Beberapa komplikasi yang mungkin dirasakan antara lain:
Tinnitus merupakan suatu kondisi yang tidak dapat dicegah. Namun, ada beberapa tindakan yang dapat membantu mencegah jenis tinnitus tertentu, diantaranya:
Temui dokter Anda sesegera mungkin jika:
Sebelum melakukan kunjungan ke dokter, persiapkan beberapa hal di bawah ini:
Dokter kemungkinan akan mengajukan pertanyaan berikut:
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis tinnitus agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
Advertisement
Penyakit Terkait
Artikel Terkait
Advertisement
Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.
© SehatQ, 2023. All Rights Reserved