Tenggelam adalah proses gangguan sistem pernapasan akibat seseorang terendam dalam air.  Orang yang paling berisiko tinggi mengalaminya meliputi anak-anak, berjenis kelamin pria, dan orang-orang yang sering melakukan kontak dengan air. Demikian pula dengan penderita epilepsi atau penyakit kejang lainnya. 

Berdasarkan data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), tenggelam adalah penyebab kematian akibat kecelakaan peringkat ketiga di dunia. Secara global, diperkirakan terdapat 360.000 orang yang meninggal akibat tenggelam.

Tenggelam terkadang tidak menimbulkan gejala dan tanda apapun. Korban biasanya menghabiskan energinya untuk menjaga kepalanya agar tetap berada di atas air dan mungkin terlalu lelah untuk berteriak meminta bantuan. 

Bila air telah terhirup oleh korban dan menyebabkan spasme pita suara, korban tenggelam dapat mengalami masalah pernapasan. Seringkali, korban baru ditemukan setelah kehilangan nyawa. 

Bagi korban tenggelam yang selamat, mereka mungkin akan cemas, kebingungan, dan mengalami sesak napas. Penting diingat untuk memprioritaskan fungsi otak dan paru terlebih dahulu pada semua korban tenggelam.

Terdapat beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami tenggelam. Faktor-faktor risiko tersebut meliputi: 

  • Faktor usia

Data global tentang kejadian tenggelam tahun 2014 menunjukkan bahwa usia adalah salah satu faktor risiko utama terjadinya tenggelam. Angka kejadian tenggelam tertinggi adalah pada kelompok usia anak-anak, terutama usia 1-4 tahun.

  • Jenis kelamin laki-laki

Pria lebih berisiko tinggi mengalami tenggelam. Pasalnya, pria lebih sering melakukan aktivitas yang berisiko. Contohnya, berenang sendirian dan mengonsumsi alkohol sebelum berenang atau berlayar

  • Sering kontak dengan air

Orang yang sering melakukan kontak dengan air tentu lebih berisiko untuk mengalami tenggelam. Misalnya, nelayan.

  • Bencana banjir

Risiko tenggelam akan meningkat apabila ada bencana banjir, terutama bila banjir terjadi di negara dengan penghasilan rendah hingga menengah.

  • Menderita penyakit tertentu

Gangguan medis tertentu juga bisa ikut andil dalam meningkatkan risiko tenggelam. Misalnya, kejang, serangan jantung, henti jantung mendadak, dan hipoglikemia (kadar gula darah terlalu rendah).

  • Faktor risiko lainnya

Status sosial ekonomi yang rendah, kelompok minoritas, tingkat pendidikan rendah, serta kurangnya pegawasan pada anak pun akan membuat risiko tenggelam menjadi lebih tinggi.

Karena merupakan kecelakaan yang mendadak terjadi, diagnosis tenggelam ditentukan berdasarkan riwayat tenggelam yang dialami oleh pasien.

Semua orang yang ditemukan bersusah payah bertahan di dalam air umumnya akan mengalami gangguan pernapasan. Jadi bila Anda mengalami masalah pernapasan dan diketahui pernah terendam dalam air dan kesulitan bernapas, Anda dapat dapat dikatakan mengalami tenggelam. 

Pemeriksaan fisik yang pertama kali dilakukan pada korban tenggelam adalah pemeriksaan tanda vital. Mulai dari evaluasi saluran napas, fungsi pernapasan, sirkulasi darah, dan pemeriksaan fungsi neurologis.

Pemeriksaan fisik jantung dan paru juga biasanya dilakukan pada tiap korban tenggelam. Bila korban dicurigai menderita cedera tulang leher dan tulang belakang, imobilisasi perlu dilakukan dulu sebelum pemeriksaan. Langkah ini bertujuan mencegah kerusakan sistem saraf medula spinalis. 

Dokter kemudian bisa menganjurkan pemeriksaan penunjang berupa laboratorium dan rontgen, tergantung dari kondisi klinis korban yang tenggelam.

Penanganan tenggelam yang utama diawali dengan mengenali apakah korban mengalami masalah serius atau tidak, misalnya memeriksa tingkat kesadaran dan kelancaran pernapasan korban. 

Bila korban tenggelam sulit atau tidak bernapas, segera berikan resusitasi jantung paru-paru (cardiopulmonary resuscitation/CPR). Namun tindakan ini hanya boleh dilakukan oleh orang yang sudah terlatih agar tidak mencederai korban. 

Ingat, semua korban tenggelam harus segera mendapatkan bantuan medis profesional. Mintalah bantuan orang lain untuk menghubungi unit gawat darurat sembari Anda melakukan CPR.

Jika tidak ditangani dengan baik, korban tenggelam dapat mengalami komplikasi yang meliputi: 

  • Cedera pada paru karena masuknya cairan ke dalam paru (acute respiratory distress syndrome).
  • Kerusakan otak akibat kekurangan oksigen.
  • Hipotermia, yakni suhu tubuh yang terlalu rendah.

Pencegahan tenggelam dapat Anda lakukan dengan cara-cara berikut:

  • Belajar berenang.
  • Jangan berenang sendirian.
  • Jangan biarkan bayi sendirian di dekat air, baik di bak mandi, kolam renang, maupun penampungan air lainnya).
  • Pagari kolam renang dan kunci agar anak tidak bisa ke sana tanpa pengawasan.
  • Selalu gunakan jaket pelampung ketika beraktivitas di air, seperti naik perahu, memakai jet ski, serta berlayar.

Semua korban tenggelam harus mendapatkan pertolongan medis secepat mungkin.

Peristiwa tenggelam umumnya adalah kecelakaan yang terjadi secara tiba-tiba. Karena itu, dokter biasanya akan menanyakan kronologisnya pada saksi mata serta riwayat medis pasien pada keluarganya. Berikut contohnya: 

  • Apa kegiatan korban sebelum mengalami tenggelam?
  • Bagaimana proses tenggelam yang dialami korban? Misalnya, apakah korban kejang sebelum tenggelam atau tampak sakit sebelum?
  • Catat apa saja riwayat penyakit yang pernah atau sedang dialami oleh penderita.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang dikonsumsi.

Saat pemeriksaan, dokter mungkin akan mengajukan beberapa pertanyaan berikut ini:

  • Berapa usia korban?
  • Apakah korban memiliki riwayat penyakit yang sedang atau pernah diderita?
  • Apakah korban mengonsumsi obat-obatan?
  • Apakah ada riwayat penyalahgunaan obat-obatan atau alkohol?
  • Berapa lama korban seorang diri sebelum ditemukan?
  • Apakah terdapat kemungkinan trauma lain yang berhubungan dengan kejadian?
  • Apakah ada penurunan kesadaran sebelum, selama, atau setelah kejadian tenggelam?
  • Apakah korban pernah ditemukan dalam kondisi kejang?
  • Apakah korban mengeluhkan nyeri dada atau mengalami henti jantung mendadak sebelum tenggelam?
  • Apakah ada perubahan perilaku pada korban setelah diselamatkan?
  • Apakah korban mengalami muntah-muntah?

Selanjutnya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, dan mungkin menganjurkan beberapa pemeriksaan penunjang.

Setelah kondisi korban sudah stabil, dokter bisa merujuknya ke dokter spesialis tertentu, tergantung dari sistem tubuh mana yang mengalami gangguan. Dengan ini, korban dapat memperoleh pemeriksaan dan penanganan yang lebih komprehensif.

WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/drowning
Diakses pada 23 Desember 2019

Medline Plus. https://medlineplus.gov/drowning.html
Diakses pada 23 Desember 2019

Medicinet. https://www.medicinenet.com/drowning/article.htm
Diakses pada 23 Desember 2019

Artikel Terkait