Syok Kardiogenik

Ditulis oleh Lenny Tan
Ditinjau dr. Anandika Pawitri

Pengertian Syok Kardiogenik

Syok kardiogenik adalah keadaan di mana jantung mendadak tidak mampu memompa darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

Umumnya, syok kardiogenik disebabkan oleh kerusakan otot jantung akibat serangan jantung berat. Namun tidak semua kasus serangan jantung akan berujung pada komplikasi ini.

Syok kardiogenik dapat membahayakan jiwa apabila tidak segera ditangani. Pengobatan lebih dini dapat memberikan peluang hidup lebih besar pada penderita.

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Kekurangan darah yang kaya oksigen pada otak, ginjal, kulit, dan bagian tubuh lainnya akan menyebabkan pasien mengalami gejala syok kardiogenik. Beberapa di antaranya meliputi:

  • Terasa nyeri atau sesak pada dada.
  • Dapat mengalami koma (kehilangan kesadaran).
  • Intensitas buang air kecil menurun atau tidak ada urine sama sekali.
  • Bernapas terlalu cepat.
  • Detak jantung yang terlalu cepat.
  • Berkeringat secara berlebihan.
  • Hilangnya konsentrasi dan kewaspadaan.
  • Merasa gelisah dan bingung.
  • Mengalami sesak napas yang mendadak dan berat.
  • Kulit berubah pucat.
  • Denyut nadi yang melemah.
  • Kulit terasa dingin saat disentuh, termasuk pada kaki dan tangan.

Penyebab

Pada umumnya, kekurangan oksigen pada jantung disebabkan oleh serangan jantung yang merusak ventrikel atau bilik kiri jantung. Pasalnya, bagian jantung ini merupakan ruang pemompaan utama jantung.

Apabila Anda kekurangan darah yang kaya akan oksigen ke jantung, otot jantung akan melemah dan menyebabkan munculnya syok kardiogenik. 

Sekitar 3% dari kasus syok kardiogenik disebabkan oleh ventrikel atau bilik kanan jantung yang tidak bekerja dengan baik. Kondisi ini memicu ketidakmampuan jantung untuk memompa darah ke dalam paru-paru, di mana darah yang kaya karbondioksida akan disaring dan digantikan dengan oksigen untuk masuk kembali ke dalam jantung kiri dan dipompa ke seluruh tubuh. 

Adapun beberapa penyebab lain yang dapat memicu syok kardiogenik meliputi:

  • Mengidap peradangan otot jantung (miokarditis).
  • Mengalami infeksi katup jantung akibat endokarditis.
  • Melemahnya jantung karena berbagai penyebab.
  • Mengalami emboli paru (sumbatan mendadak dari pembuluh darah arteri paru).
  • Terlalu banyak mengonsumsi obat tertentu atau mengalami efek samping dari zat tertentu.

Di samping penyebab di atas, faktor-faktor di bawah ini juga berpotensi untuk meningkatkan risiko syok kardiogenik:

Diagnosis

Syok kardiogenik biasanya terdeteksi dalam keadaan darurat. Dokter akan mencari dan memeriksa gejala-gejala yang mengarah pada syok. Pada saat inilah, penanganan darurat harus segera dimulai.

Untuk mengetahui apa yang menjadi penyebab syok kardiogenik, dokter akan melakuaknsederet pemeriksaan berikut:

  • Pengukuran tekanan darah

Orang dengan mengalami syok kardiogenik biasanya memiliki tekanan darah yang sangat rendah.

  • Elektrokardiogram (EKG)

Tes ini berfungsi memantau dan mencatat aktivitas listrik jantung, dengan cara menempelkan elektroda pada kulit Anda. EKG akan menunjukkan seberapa cepat jantung berdetak dan apakah ritme jantung teratur atau tidak.

Selain itu, EKG juga dapat merekam kekuatan dan waktu dari sinyal listrik ketika melewati berbagai bagian dari jantung. Dokter menggunakan EKG dalam mendiagnosis serangan jantung dan memonitor kondisi jantung.

Apabila Anda mempunyai gangguan pada jantung (seperti kerusakan otot jantung, gangguan aktivitas listrik, atau penumpukan cairan di sekitar jantung), jantung tidak akan mengantarkan impuls listrik secara normal.

  • Rontgen dada

Rontgen dada akan membantu dokter dalam melihat ukuran, struktur, dan pembuluh darah pada jantung. Ada atau tidaknya penumpukan cairan di paru-paru juga bisa dilihat dari rontgen ini.

  • Pemeriksaan darah

Pada pemeriksaan ini, dokter akan mengambil dan memeriksa sampel darah guna memastikan kerusakan organ. Misalnya, pemeriksaan fungsi hati. fungsi ginjal, adanya infeksi, atau serangan jantung.

Pemeriksaan darah bernama analisis gas darah arteri juga bisa dilakukan. Tes ini berfungsi mengukur kadar oksigen, karbondioksida, dan pH dalam darah.

  • Echocardiogram (ECG)

Pemeriksaan ini menggunakan gelombang suara yang menghasilkan gambar jantung. Tujuannya adalah menggambarkan ukuran dan bentuk dari jantung, serta tingkat kinerja ruang dan katup jantung bekerja.

Echocardiogram juga dapat mendeteksi aliran darah yang buruk ke jantung, area dari otot jantung yang tidak berkontraksi dengan baik, dan kerusakan akibat serangan jantung.

  • Kateterisasi jantung (angiogram)

Pemeriksaan ini menggunakan cairan pewarna yang dimasukkan ke arteri (biasanya arteri kaki) menuju jantung melalui selang panjang dan tipis (kateter). Cairan tersebut akan membantu dokter dalam proses pemeriksaan dengan x-ray untuk menunjukkan area penyumbatan atau penyempitan.

  • Pemeriksaan enzim jantung

Ketika sel-sel pada jantung mati, mereka akan melepaskan enzim ke dalam darah. Enzim ini disebut penanda (markers/biomarkers).

Pengukuran kadar enzim jantung dapat menunjukkan apakah jantung mengalami kerusakan atau tidak, dan seberapa parah tingkat kerusakannya.

  • Kateterisasi arteri paru-paru

Prosedur ini dilakukan dengan memasukkan kateter ke dalam vena pada lengan, leher, atau dekat dengan tulang selangka. Kateter kemudian diarahkan menuju arteri paru-paru yang menghubungkan jantung kanan ke paru-paru.

Kateterisasi arteri paru-paru digunakan untuk memeriksa tekanan darah di dalam pembuluh darah arteri paru. Tekanan yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan memerlukan penanganan.

Pengobatan

Pengobatan syok kardiogenik berfokus untuk meminimalkan kerusakan akibat kurangnya kadar oksigen pada otot jantung dan organ tubuh lainnya. Dokter harus mencari dan mengobati penyebab terlebih dahulu.

Apabila kondisi ini terjadi karena serangan jantung, dokter akan memberikan asupan oksigen pada Anda. Lalu dokter memasukkan kateter ke dalam arteri untuk menghilangkan penyempitan dan penyumbatan. 

Jika syok kardiogenik disebabkan oleh detak jantung yang terlalu cepat (aritmia), dokter mungkin akan memberikan pengobatan dengan alat kejut listrik atau defibrilasi. Dokter juga bisa memberikan obat untuk meningkatkan tekanan darah maupun kadar darah yang dipompa oleh jantung.

Pencegahan

Cara mencegah syok kardiogenik adalah dengan mengubah gaya hidup dan menjaga diri agar tetap sehat. Beberapa hal di bawah ini mungkin bisa Anda terapkan:

  • Tidak merokok atau berhenti merokok.
  • Hindari menjadi perokok pasif. 
  • Menjaga berat badan agar tetap berada pada batas ideal.
  • Mengurangi konsumsi makanan yang mengandung lemak, terutama lemak jenuh.
  • Mengurangi konsumsi gula maupun alkohol.
  • Berolahraga secara teratur.

Informasi Dokter

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Mintalah keluarga atau kerabat untuk mengantarkan Anda karena syok kardiogenik biasanya menyerang secara mendadak. Kondisi ini termasuk kegawatdaruratan medis, jadi Anda harus segera dibawa ke unit gawat darurat terdekat.

Referensi

Healthline. https://www.healthline.com/health/cardiogenic-shock
Diakses pada 7 Desember 2018

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/cardiogenic-shock/symptoms-causes/syc-20366739
Diakses pada 7 Desember 2018

Medline Plus. https://medlineplus.gov/ency/article/000185.htm
Diakses pada 7 Desember 2018

NIH. https://www.nhlbi.nih.gov/health-topics/cardiogenic-shock
Diakses pada 7 Desember 2018

Back to Top