Penyakit Lainnya

Syok Anafilaksis

Diterbitkan: 28 Oct 2020 | dr. Joni Indah SariDitinjau oleh dr. Anandika Pawitri
image Syok Anafilaksis
Syok anafilaksis bisa memicu gangguan pada berbagai bagian tubuh
Syok anafilaksis adalah gejala syok reaksi alergi yang berat dan dapat memengaruhi berbagai sistem organ. Kondisi ini tergolong berbahaya karena dapat mengancam nyawa penderita.Di Indonesia, penyebab utama syok anafilaksis adalah gigitan serangga. Sementara penyebab lainnya meliputi zat kontras pada prosedur pemindaian dan obat penisilin.Reaksi syok anafilaksis dapat terjadi dalam hitungan menit, bahkan detik sejak penderita terpapar pemicu alergi (alergen). Gejalanya bisa berupa tekanan darah yang rendah (hipotensi), kehilangan kesadaran, serta penyempitan saluran pernapasan sehingga penderita sulit bernapas.Oleh karena itu, penderita syok anafilaksis membutuhkan penanganan secepat mungkin agar nyawanya tertolong. 
Syok Anafilaksis
Dokter spesialis Kulit, Penyakit Dalam
GejalaSulit bernapas, pusing, kehilangan kesadaran
Faktor risikoRiwayat syok anafilaksis dan alergi, asma
Metode diagnosisTes darah, skin prick test
PengobatanPenanganan darurat
ObatEpinefrin, kortikosteroid, antihistamin
KomplikasiGagal organ, aritmia, kematian
Kapan harus ke dokter?Mengi, reaksi alergi pada kulit, kesemutan
Kebanyakan orang yang mengalami syok anafilaksis mengalami gejala dalam beberapa menit setelah terpapar alergen (pemicu alergi).

Gejala awal syok anafilaksis

Syok anafilaksis diawali dengan gejala-gejala yang mungkin bersifat ringan dan tidak terlalu khas. Gejala yang harus diwaspadai meliputi:
  • Kulit pucat atau membiru
  • Pembengkakan pada bibir atau wajah
  • Batuk kering
  • Gangguan pernapasan
  • Mengi, yakni ada bunyi ‘ngik’ saat menarik napas
  • Bentol-bentol di beberapa area tubuh

Gejala utama syok anafilaksis

Gejala dari syok anafilaksis yang utama bisa berupa:
  • Kesulitan bernapas
  • Pusing
  • Tiba-tiba merasa lemah
  • Penurunan tingkat kesadaran atau pingsan
Mungkin saja ada tanda dan gejala syok anafilaksis yang tidak disebutkan. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter.Baca Juga: Penyebab Badan Lemas dan Gejala Lain yang Harus Diwaspadai 
Penyebab utama syok anafilaksis adalah reaksi sistem kekebalan tubuh yang berlebihan terhadap zat asing.Sistem kekebalan tubuh (imun) biasanya menghasilkan protein yang dikenal sebagai antibodi, untuk melawan benda asing seperti virus dan bakteri. Namun pada beberapa orang, sistem imun bereaksi secara berlebihan terhadap zat seharusnya tidak menyebabkan reaksi alergi.Sederet alergen atau pemicu reaksi alergi yang umum meliputi:
  • Kacang tanah
  • Kacang-kacangan lain, seperti kacang mede, hazelnut, kenari, pistachio, almond, dan banyak lagi
  • Ikan
  • Kerang-kerangan
  • Susu dan produk olahannya
  • Obat-obatan tertentu, seperti antibiotik, aspirin, dan anakgesik
  • Zat kontras yang digunakan pada proses pemindaian
  • Gigitan serangga, seperti lebah, tawon, dan semut api
  • Bahan tertentu, seperti lateks
Meski jarang terjadi, beberapa orang juga bisa mengalami syok anafilaksis akibat olahraga tertentu seperti jogging. Bahkan aktivitas fisik yang ringan, seperti berjalan, dapat pula menjadi peicu kondisi ini.Mengonsumsi makanan tertentu sebelum berolahraga atau berolahraga dalam cuaca panas, dingin, atau lembap juga memiliki kaitan dengan syok anafilaksis pada sebagian orang.Jika tidak mengetahui pemicu reaksi alergi, pemeriksaan tertentu dapat membantu pasien dalam mengidentifikasi alergen. Namun dalam beberapa kasus, penyebab syok anafilaksis juga tidak dapat diketahui. Kondisi ini disebut anafilaksis idiopatik. 

Faktor risiko syok anafilaksis

Terdapat beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko syok anafilaksis. Faktor-faktor risiko ini meliputi:
  • Riwayat syok anafilaksis, yang membuat seseorang memiliki risiko lebih tinggi untuk kembali mengalaminya. Gejalanya juga bisa lebih berat daripada reaksi pertama.
  • Riwayat syok anafilaksis dalam keluarga.
  • Riwayat alergi atau penyakit asma.
  • Menderita penyakit tertentu, seperti penyakit jantung dan kondisi medis yang memicu peningkatan sel-sel darah putih tertentu (mastositosis) secara abnormal.
 
Syok anafilaksis adalah kondisi darurat medis, jadi dokter biasanya langsung memberikan penanganan. Setelah kondisi pasien stabil, dokter baru akan melakukan langkah-langkah di bawah ini untuk menentukan diagnosis syok anafilaksis:

1. Tanya jawab

Dokter akan menanyakan gejala, riwayat medis, serta faktor risiko yang dimiliki oleh pasien. Demikian pula dengan hal-hal yang mungkin menjadi alergen.

2. Pemeriksaan fisik

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mencari tanda syok anafilaksis maupun kondisi lain yang meningkatkan risiko kondisi ini. Pemeriksaan ini bisa berupa:
  • Mengamati ada tidaknya bentol-bentol atau gejala alergi di kulit, bibir, dan kulit kepala
  • Memeriksa suara napas pasien dengan stetoskop untuk mengetahui ada tidaknya bunyi abnormal seperti mengi

3. Tes darah

Tes darah mungkin dianjurkan untuk mengukur jumlah enzim tertentu. Misalnya, tryptase yang dapat meningkat hingga tiga jam setelah syok anafilaksis terjadi.

4. Skin prick test

Padaskin prick test atau uji tusuk kulit, dokter akan meneteskan beberapa jenis alergen di kulit pasien dan mencungkil kulit pasien, tapi tidak sampai berdarah. Dokter lalu mengamati reaksi kulit pasien.Bila ada reaksi alergi yang muncul, pasien bisa dikatakan mengalami alergi terhadap alergen tersebut. Dengan ini, jenis alergen bisa diketahui. 
Syok anafilaksis adalah kondisi emergensi yang memerlukan penanganan darurat. Karena itu, penderita harus segera di bawah ke fasilitas kesehatan terdekat.Sederet cara mengobati syok anafilaksis di bawah ini bisa diperhatikan:

Pertolongan pertama

  • Berikan adrenaline auto-injector jika tersedia, pada paha atau lengan atas pasien. Tapi pastikan Anda benar-benar memahami cara pakainya.
  • Segera hubungi ambulans.
  • Identifikasi dan hentikan kontak dengan sesuatu yang berpotensi menjadi alergen.
  • Baringkan penderita dalam posisi telentang di atas permukaan yang datar. Namun jika penderita sedang hamil, tak sadarkan diri, atau kesulitan bernapas, baringkan dalam posisi miring.
  • Khusus untuk waninta hamil, baringkan miring di sisi kiri untuk menghindari tekanan berlebih pada pembuluh darah vena besar yang mengarah ke jantung.
  • Berikan suntikan kedua setelah 5-10 menit. Ulangi suntikan jika tersedia ketika gejala pasien tidak membaik.
  • Bila pasien mengalami kesulitan bernapas, jangan biarkan ia berbaring. Segera bantu pasien untuk duduk untuk mempermudah proses bernapas.
  • Bila pasien pingsan, letakkan pasien pada posisi pemulihan atau recovery position. Dengan ini, jalan napasnya akan tetap terbuka.
  • Usahakan penderita untuk tetap berada pada salah satu tubuh, yakni iring kanan atau kiri.
  • Pastikan agar penderita tidak akan terguling atau terjatuh.
  • Angkat dagu penderita supaya jalan napasnya terbuka.
  • Hindari perubahan postur ke posisi tegak secara mendadak. Misalnya, tiba-tiba berdiri atau duduk. Gerakan ini bisa menurunkan tekanan darah, sehingga berbahaya.
  • Jika pernapasan atau jantung pasien berhenti, lakukan resusitasi jantung paru-paru (RJP) atau CPR.

Penanganan di rumah sakit

Penanganan di rumah sakit diperlukan agar kondisi pasien bisa kembali stabil. Dokter akan menyarankan pemantauan selama 6-12 jam setelah gejala syok anafilaksis berhasil diatasi. Pasalnya, gejala rentan kembali terjadi dalam periode tersebut.Penderita syok anafilaksis berat biasanya akan menjalani prosedur medis sebagai berikut:
  • Pemberian oksigen
  • Pemasangan alat bantu napas dengan mesin ventilator
  • Penyuntikan obat golongan agonis beta untuk mengurangi pembengkakan pada saluran napas
  • Pemberian obat antihistamin guna mengurangi keparahan reaksi alergi
  • Pemberian obat golongan vasopressor untuk meningkatkan tekanan darah bila tekanan darah pasien sangat rendah
  • Pemberian obat kortikosteroid untuk membantu dalam menghentikan reaksi alergi dan mengurangi pembengkakan
  • Pemberian cairan lewat infus apabila tekanan darah pasien sangat rendah
Pasien biasanya diperbolehkan pulang ketika gejalanya sudah berhasil dikendalikan dan dipastikan tidak akan kambuh dalam waktu dekat. Namun pasien dengan syok anafilaksis berat akan membutuhkan perawatan yang lebih lama di rumah sakit.Dokter juga bisa menganjurkan pasien untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis alergi. Dengan ini, pasien bisa mendapat saran mengenai cara menghindari syok anafilaksis di masa mendatang. 

Komplikasi syok anafilaksis

Bila tidak segera ditangani, syok anafilaksis dapat menyebabkan komplikasi berupa:
Baca Juga: Mengenal Cara Mengatasi Alergi Debu yang Efektif 
Cara mencegah syok anafilaksis dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut:
  • Mengetahui jenis alergen

Anda bisa menyelidiki alergen dengan membuat catatan makanan dan minuman yang dikonsumsi, serta menjalani tes alergi.
  • Menghindari alergen

Langkah yang dapat dilakukan untuk menjauhi alergen meliputi selalu memeriksa label produk sebelum digunakan atau menanyakan bahan yang digunakan pada pramusaji restoran bila Anda memiliki alergi makanan tertentu.Anda juga perlu menhindari sengatan serangga bila hewan ini menjadi pemicu alergi. Misalnya, lebah.Jangan lupa pula untuk memberitahukan kondisi alergi Anda pada dokter sebelum menjalani prosedur medis apapun. 
Segera cari pertolongan medis apabila Anda atau orang di sekitar Anda mengalami gejala anafilaksis di bawah ini sebelum berujung pada kondisi syok:
  • Reaksi kulit, seperti bentol, kulit merah, atau pucat
  • Tiba-tiba merasa sangat panas
  • Sensasi seperti ada yang mengganjal di tenggorokan atau kesulitan menelan
  • Mual, muntah, atau diare
  • Sakit perut
  • Detak jantung yang lemah, namun cepat
  • Hidung berair dan bersin-bersin
  • Lidah atau bibir yang bengkak
  • Mengi atau kesulitan bernapas
  • Sensasi seperti ada yang salah pada tubuh Anda
  • Tangan, kaki, mulut, atau kulit kepala yang kesemutan
 
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali muncul?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait syok anafilaksis?
  • Apakah Anda atau orang terdekat Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik atau pemeriksaan lainnya. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis syok anafilaksis serta mencari pencetus alergi agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
American Academy of Allergy Asthma & Immunology. https://www.aaaai.org/conditions-and-treatments/allergies/anaphylaxis
Diakses pada 11 November 2018
Emedicine Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/135065-overview
Diakses pada 11 November 2018
Healthline. https://www.healthline.com/health/anaphylactic-shock
Diakses pada 11 November 2018
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/anaphylaxis/symptoms-causes/syc-20351468
Diakses pada 11 November 2018
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/anaphylaxis/
Diakses pada 11 November 2018
WebMD. https://www.webmd.com/allergies/anaphylaxis#1
Diakses pada 11 November 2018
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/321118
Diakses pada 28 Oktober 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email