Syok Anafilaksis

Ditulis oleh Olivia
Ditinjau dr. Widiastuti
Syok anafilaksis dapat mengakibatkan gangguan saluran pernapasan dan sistem saraf
Syok anafilaksis dapat mengakibatkan gangguan saluran pernapasan, kulit, mata, jantung, pencernaan, dan sistem saraf.

Pengertian Syok Anafilaksis

Syok anafilaksis atau syok anafilaktik adalah gejala syok yang terjadi akibat reaksi alergi (reaksi hipersensitivitas tipe 1), yang dapat memengaruhi berbagai sistem organ. Gejala yang ditimbulkan antara lain tensi yang rendah (hipotensi), kehilangan kesadaran atau penyempitan saluran pernapasan. Kondisi ini tergolong berbahaya karena dapat mengancam nyawa penderitanya. Reaksi alergi ini dapat terjadi dalam hitungan menit, bahkan detik sejak penderita terpapar pemicu alergi (alergen).

Di Indonesia, penyebab utama syok anafilaksis adalah gigitan serangan. Sementara itu, penyebab lainnya adalah zat kontras radiografi serta obat penisilin. Dengan gejala klinis syok anafilaksis berupa penyempitan saluran pernapasan, penderita dapat mengalami hambatan dalam pernapasan, yang berakibat fatal. Oleh karena itu, penderita syok anafilaksis membutuhkan penanganan sesegera mungkin. Mari kenali reaksi alergi ini lebih lanjut.

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Gejala syok anafilaksis biasanya dapat terlihat dalam 5-30 menit sejak terjadinya kontak dengan alergen. Gejala awal dari syok anafilaksis dapat terlihat seperti umumnya reaksi alergi biasa, yaitu pilek dan ruam pada kulit. Selanjutnya, setelah 30 menit gejala yang lebih berat akan muncul pada:

  • Kulit:
    Kemerahan atau kulit menjadi pucat, dingin dan lembap gatal-gatal, kulit menjadi hangat, pembengkakan (paling sering pada bibir dan lidah), munculnya ruam kulit, biduran (urtikaria)
  • Mata:
    Pembengkakan kelopak mata, mata merah (injeksi konjungtiva) atau gatal
  • Pernapasan:
    Hidung tersumbat, pilek, bersin, bengkak di tenggorokan sehingga terasa sesak, sesak napas atau mengi, batuk, suara serak
  • Jantung:
    Tekanan darah yang rendah (hipotensi), pusing, kelemahan, kehilangan kesadaran, nyeri dada, detak jantung cepat atau tidak teratur (palpitasi)
  • Pencernaan:
    Sulit menelan, mual, muntah, diare, perut kembung, kram
  • Sistem saraf:
    Sakit kepala, pusing, penglihatan kabur, dan kejang (sangat jarang terjadi dan biasanya berhubungan dengan penurunan tekanan darah)
  • Lainnya:
    Rasa logam di mulut (metallic taste), tampak bingung dan gelisah

Penyebab

Sistem kekebalan tubuh atau sistem imun biasanya menghasilkan protein yang dikenal sebagai antibodi, untuk melawan benda asing seperti virus dan bakteri. Namun pada beberapa orang, sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan terhadap zat yang biasanya tidak menyebabkan reaksi alergi.

Penyebab syok anafilaksis yang paling umum pada anak-anak adalah alergi terhadap makanan seperti kacang tanah, kacang-kacangan seperti kacang mede, hazelnut, walnut, pistachio, almond, pine nuts, ikan, kerang dan susu. Selain alergi terhadap makanan, penyebab syok anafilaksis pada orang dewasa antara lain:

  • Obat-obatan tertentu, termasuk antibiotik, aspirin, dan obat penghilang rasa nyeri lainnya yang dapat dibeli di Apotek, zat kontras radiografi intravena (IV) yang digunakan untuk tes pencitraan
  • Sengatan serangga seperti lebah, tawon dan semut api
  • Lateks

Meskipun jarang terjadi, beberapa orang mengalami syok anafilaksis yang disebabkan oleh olahraga aerobik, misalnya jogging. Bahkan aktivitas fisik yang ringan, seperti berjalan pun bisa menjadi penyebab syok tersebut. Mengonsumsi makanan tertentu sebelum berolahraga atau berolahraga dalam cuaca panas, dingin maupun lembap juga memiliki keterkaitan dengan kondisi syok anafilaksis pada beberapa orang.

Jika tidak mengetahui pemicu serangan alergi pemeriksaan tertentu dapat membantu mengidentifikasi alergen. Dalam beberapa kasus, penyebab syok anafilaksis tidak dapat diidentifikasi (anafilaksis idiopatik).

Tidak banyak faktor risiko yang diketahui dalam syok anafilaksis. Namun, beberapa hal berikut ini mungkin meningkatkan risiko terhadap kondisi tersebut.

  • Riwayat syok anafilaksis sebelumnya:
    Jika pernah mengalami syok anafilaksis sebelumnya, Anda akan memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami syok anafilaksis berikutnya. Reaksi selanjutnya mungkin lebih berat daripada reaksi pertama.
  • Riwayat syok anafilaksis dalam keluarga
  • Riwayat alergi atau asma
  • Kondisi tertentu lainnya:
    Hal ini termasuk penyakit jantung dan penyakit dengan peningkatan abnormal dari jenis sel darah putih tertentu (mastositosis).

Diagnosis

Syok anafilaksis terutama didiagnosis melalui gejala klinis. Hasil pemeriksaan laboratorium tidak selalu diperlukan dan jarang membantu. Jika diagnosis tidak jelas, apalagi dengan gejala yang terus berulang, atau jika penyakit lain perlu disingkirkan, maka beberapa penelitian di laboratorium dapat dilakukan.

Dokter akan mengajukan pertanyaan mengenai reaksi alergi sebelumnya, termasuk apakah riwayat reaksi alergi terhadap makanan khusus, obat-obatan, lateks, atau sengatan serangga. Kemudian, untuk membantu memastikan diagnosis:

  • Anda mungkin akan menjalani tes darah untuk mengukur jumlah enzim tertentu (tryptase), yang dapat meningkat hingga tiga jam setelah syok anafilaksis terjadi
  • Anda mungkin menjalani pengujian untuk alergi dengan tes kulit maupun tes darah untuk membantu menentukan pemicu syok anafilaksis. Salah satu metodenya adalah uji tusuk kulit (skin prick test). Dalam tes ini, dokter akan menempatkan setetes kecil alergen pada kulit untuk menentukan zat yang menjadi pemicu alergi.

Pengobatan

Syok anafilaksis adalah keadaan darurat medis yang membutuhkan bantuan medis serta pengobatan segera.

Bagaimana Cara Menangani Seseorang yang Mengalami Gejala Syok Anafilaksis?

Anda bisa menolong penderita syok anafilaksis dengan melakukan langkah-langkah berikut ini.

  1. Suntikkan adrenalin auto-injector (EpiPen/Jext/Emerade/lainnya):
    Beri suntikan di paha atau lengan atas. Pastikan Anda memahami cara penggunaan suntukan ini.
  2. Hubungi ambulans segera:

Tetap hubungi ambulans, meski penderita telah merasa lebih baik. Laporkan juga tentang dugaan adanya syok anafilaksis.

  1. Identifikasi dan hentikan kontak dengan potensi alergen:
    Jika tersengat lebah, lepaskan sengatan lebah dari kulit secara hati-hati.
  2. Baringkan penderita di atas permukaan datar:
    Kecuali jika penderita dalam kondisi hamil, tak sadarkan diri, atau kesulitan bernapas
  3. Berikan suntikan kedua setelah 5-10 menit:
    Ulangi suntikan jika gejala tidak membaik, dan apabila adrenalin auto-injector (EpiPen/Jext/Emerade/lainnya) kedua tersedia.

Jika mengalami syok anafilaksis, Anda pun dapat melakukan langkah-langkah tersebut sendiri bila dirasa mampu.

Pengaturan Posisi untuk Penderita Syok Anafilaksis

Penderita syok anafilaksis harus berada dalam posisi yang nyaman. Oleh karena itu, pelajari posisi-posisi ini.

  • Berbaring secara mendatar.
  • Wanita hamil harus berbaring di sisi kiri untuk menghindari tekanan berlebih pada pembuluh darah vena besar yang mengarah ke jantung.
  • Orang yang mengalami kesulitan bernapas harus segera duduk, untuk mempermudah bernapas.
  • Dalam keadaan tidak sadar, penderita harus ditempatkan dalam posisi pemulihan atau recovery position. Hal ini diperlukan untuk tetap membuka jalan napas. Selain itu, penderita harus berada pada salah satu posisi ini: di sisi kanan atau kiri. Pastikan penderita ditahan oleh kaki dan lengan untuk mencegah terguling atau terjatuh. Dengan mengangkat dagu penderita, jalan napas akan terbuka.
  • Hindari perubahan postur ke posisi tegak secara mendadak. Misalnya berdiri atau duduk tiba-tiba. Kondisi ini berpotensi menurunkan tekanan darah, dan tentu saja berbahaya.

Jika pernapasan atau jantung seseorang berhenti, resusitasi jantung paru-paru (RJP) harus segera dilakukan.

Penanganan di Rumah Sakit

Anda perlu mengunjungi rumah sakit untuk melakukan observasi. Lakukan langkah ini 6-12 jam setelah gejala syok anafilaksis berhasil diatasi. Sebab, gejala ini rentan terjadi lagi dalam periode tersebut. Penderita syok anafilaksis biasanya menjalani prosedur ini ketika berada di rumah sakit.

  • Memakai masker oksigen untuk membantu pernapasan
  • Mendapatkan cairan infus untuk meningkatkan tekanan darah
  • Mendapatkan obat tambahan seperti antihistamin dan steroid untuk meredakan gejala
  • Tes darah untuk mengonfirmasi syok anafilaksis

Pasien biasanya diperbolehkan pulang ketika gejalanya berhasil dikendalikan dan diprediksi tidak akan berulang dalam waktu singkat. Anda mungkin diizinkan meninggalkan rumah sakit setelah mendapatkan penanganan selama beberapa jam. Namun bisa jadi Anda membutuhkan waktu lebih lama di rumah sakit jika mengalami syok anafilaksis yang berat.

Anda seharusnya bisa pulang ketika gejalanya terkendali dan diperkirakan tidak akan kembali dalam waktu yang singkat. Ini biasanya setelah beberapa jam, tetapi mungkin lebih lama jika Anda mengalami syok anafilaksis yang berat.

Ada kemungkinan Anda mendapat rujukan ke dokter spesialis alergi. Melalui konsultasi dengan dokter spesialis alergi, Anda bisa mendapat saran mengenai cara untuk menghindari syok anafilaksis di masa mendatang. Suntikan adrenalin auto-injector (EpiPen/Jext/Emerade/lainnya) dapat disiapkan untuk mengantisipasi terjadinya syok anafilaksis berikutnya.

Pencegahan

Riwayat alergi berat atau syok anafilaksis menjadi faktor risiko terhadap syok akibat alergi tersebut. Tiga langkah di bawah ini dapat dilakukan sebagai pencegahan.

  1. Menjalani tes alergi:
    Untuk mengidentifikasi faktor pencetus atau penyebab (alergen).
  2. Menghindari faktor pencetus:
    Misalnya dengan memeriksa kandungan bahan-bahan makanan sebelum mengonsumsinya, menggunakan losion antiserangga untuk mencegah gigitan, atau menghindari konsumsi obat-obatan tertentu.
  3. Membawa adrenalin auto-injector setiap saat:
    Periksa tanggal kedaluwarsanya secara teratur. Segera lakukan penyuntikan jika syok anafilaksis terjadi.

Informasi Dokter

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Segera temui dokter jika Anda mengalami kondisi-kondisi berikut ini.

  • Gejala awal dari syok anafilaksis berupa pilek, ruam pada kulit dan rasa gelisah
  • Gejala lanjutan yang lebih berat dari syok anafilaksis
  • Temuan laboratorium yang menunjukkan hasil positif alergi terhadap sebuah faktor penyebab syok anafilaksis
  • Faktor risiko untuk syok anafilaksis. Jika tidak menyadari adanya faktor risiko tersebut, Anda tetap dapat berkonsultasi untuk menjalani pemeriksaan seperti tes alergi.

Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Berkonsultasi dengan Dokter?

  1. Tuliskan setiap gejala, termasuk yang mungkin terlihat tidak berkaitan dengan syok anafilaksis.
  2. Tuliskan informasi pribadi seputar riwayat medis keluarga, dan riwayat alergi jika ada.
  3. Buat daftar semua obat, vitamin atau suplemen yang Anda konsumsi. Catat dosisnya masing-masing.
  4. Tuliskan pertanyaan diajukan kepada dokter mengenai kondisi kesehatan Anda.

Apa yang Akan Dilakukan Dokter pada Saat Konsultasi?

Dokter Anda mungkin akan mengajukan sejumlah pertanyaan kepada Anda. Bersiaplah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti berikut:

  • Apakah Anda mengalami kemerahan atau gatal-gatal pada kulit?
  • Apakah Anda mengalami kesulitan bernapas?
  • Apakah Anda mengalami penurunan tekanan darah yang signifikan?
  • Kapan Anda pertama kali mengalami gejala tersebut?
  • Apakah gejala Anda berlangsung terus-menerus atau hilang dan timbul kembali?
  • Apakah Anda pernah mengalami reaksi alergi sebelumnya? Jika iya, bagaimana kondisinya dan kapan berlangsungnya? Apakah Anda mengetahui faktor penyebab reaksi alergi sebelumnya?
  • Apakah Anda memiliki riwayat reaksi alergi terhadap makanan khusus, obat-obatan, lateks, atau sengatan serangga?
  • Apakah Anda baru saja memulai pengobatan baru?
Referensi

American Academy of Allergy Asthma & Immunology. https://www.aaaai.org/conditions-and-treatments/allergies/anaphylaxis
Diakses pada 11 November 2018

Emedicine Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/135065-overview
Diakses pada 11 November 2018

Healthline. https://www.healthline.com/health/anaphylactic-shock
Diakses pada 11 November 2018

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/anaphylaxis/symptoms-causes/syc-20351468
Diakses pada 11 November 2018

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/anaphylaxis/
Diakses pada 11 November 2018

WebMD. https://www.webmd.com/allergies/anaphylaxis#1
Diakses pada 11 November 2018

Back to Top