Stroke adalah keadaan serius dimana suplai darah ke bagian otak terganggu atau berkurang
Stroke disebabkan karena terganggu atau kurangnya suplai darah ke bagian otak.

Stroke adalah suatu kondisi yang menyebabkan suplai darah ke otak terganggu atau berkurang.

Stroke terjadi ketika pembuluh darah yang membawa oksigen dan nutrisi ke otak tersumbat oleh darah yang menggumpal atau pecah. Ketika hal itu terjadi, sel-sel otak kekurangan oksigen dan mati.

Kemampuan tubuh yang dikendalikan oleh area otak seperti memori dan kontrol otot akan hilang. Besarnya efek akibat stroke bergantung pada letak stroke yang terjadi di bagian otak dan seberapa besar kerusakan yang terjadi pada otak.

Sebagai contoh, ketika seseorang hanya mengalami stroke ringan, ia mungkin hanya akan mengalami masalah kecil, seperti kelemahan kaki atau lengan sementara. Namun ketika stroke berat terjadi, maka seseorang akan mengalami kelumpuhan permanen di satu sisi tubuh atau kehilangan kemampuan berbicara.

Stroke merupakan penyebab kematian utama di hampir seluruh RS di Indonesia, yaitu sekitar 15,4% dan mengalami peningkatan di setiap tahunnya. Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemenkes RI tahun 2018 prevalensi stroke di Indonesia ada di angka 12,1 per mil yang berarti sebanyak 10,9 per 1.000 penduduk Indonesia telah mengalami stroke.

 

Gejala-gejala stroke dapat termasuk:

  • Kelumpuhan
  • Mati rasa atau lemah pada lengan, wajah, dan kaki, terutama pada satu sisi tubuh
  • Kesulitan berbicara atau memahami pembicaraan
  • Kebingungan
  • Berbicara kasar
  • Bermasalah dalam penglihatan, seperti kesulitan melihat di satu atau kedua mata dengan penglihatan menghitam atau kabur, maupun penglihatan ganda
  • Kesulitan berjalan
  • Kehilangan keseimbangan atau koordinasi
  • Pusing
  • Sakit kepala mendadak dengan penyebab yang tidak diketahui

Pada 2017, Kementerian Kesehatan RI memperkenalkan alat penilaian sederhana untuk mengenali gejala stroke dengan akronim “SEGERA KE RS”, yang berarti:

Se

:

Senyum tidak simetris (miring ke satu sisi), tersedak, sulit menelan air minum secara tiba-tiba

Ge

:

Kemampuan gerak separuh anggota tubuh tiba-tiba melemah

Ra

:

Bicara pelo, tiba-tiba tidak dapat bicara, atau tidak mengerti kata-kata maupun pembicaraan orang lain

Ke

:

Kebas, baal atau kesemutan separuh tubuh

R

:

Rabun, pandangan satu mata kabur, yang terjadi tiba-tiba

S

:

Sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba dan tidak pernah dirasakan sebelumnya. Gangguan fungsi keseimbangan seperti terasa berputar, gerakan sulit dikoordinasi

 

Stroke dapat disebabkan oleh arteri yang tersumbat (stroke iskemik/penyumbatan) atau bocornya pembuluh darah (stroke perdarahan). Adapun penyebab lainnya adalah gangguan sementara aliran darah ke otak (transient ischemic attack atau TIA) yang tidak menyebabkan kerusakan permanen.

Sekitar 80% stroke yang terjadi merupakan stroke iskemik. Kondisi ini terjadi ketika arteri ke otak menyempit atau terhambat dan menyebabkan aliran darah ke otak sangat berkurang (iskemik). Stroke iskemik yang paling umum adalah stroke thrombosis dan stroke emboli.

  • Stroke trombosis: Stroke ini terjadi ketika gumpalan darah (trombosis) terbentuk di salah satu arteri yang memasok darah ke otak. Gumpalan tersebut mungkin disebabkan oleh deposit lemak yang menumpuk di arteri dan mengurangi aliran darah ke otak. Stroke trombosis juga mungkin dapat terjadi pada kondisi arteri lainnya.
  • Stroke emboli: Stroke ini terjadi ketika gumpalan darah atau serpihan lainnya menjauh dari otak dan tersapu melalui aliran darah ke arteri otak yang lebih sempit. Jenis gumpalan darah ini disebut embolus.

Stroke perdarahan atau hemoragik: Stroke ini terjadi ketika pembuluh darah di otak bocor atau pecah dan menimbulkan perdarahan. Pendarahan otak dapat disebabkan oleh banyak kondisi, termasuk:

  • Tekanan darah tinggi atau hipertensi yang tidak terkontrol 
  • Pengobatan dengan pengencer darah
  • Pelemahan dinding pembuluh darah
  • Kondisi tertentu seperti pecahnya jalinan abnormal pembuluh darah berdinding tipis (malformasi arteri vena)

Jenis stroke perdarahan meliputi:

  • Perdarahan intraserebral: Pembuluh darah di otak pecah dan darah masuk ke jaringan otak di sekitarnya, serta merusak sel-sel otak. Penyebabnya antara lain tekanan darah tinggi, trauma, malformasi vaskular, penggunaan obat pengencer darah dan kondisi lainnya yang dapat menyebabkan perdarahan intraserebral.
  • Perdarahan subarakhnoid: Arteri yang berada di atau dekat permukaan otak menyembur dan darah masuk ke ruang antara permukaan otak dan tengkorak. Perdarahan ini sering ditandai dengan sakit kepala yang tiba-tiba dan parah.

Transient Ischemic Attack (TIA): Dikenal sebagai ministroke. Kondisi ini merupakan kondisi sementara yang ditandai dengan gejala yang mirip dengan gejala stroke. Contohnya adalah penurunan sementara pasokan darah ke bagian otak yang bisa berlangsung hanya beberapa menit. Jika seseorang pernah mengalami TIA, itu berarti kemungkinan ada arteri mengarah ke otak yang tersumbat atau menyempit, maupun gumpalan di jantung.

Adapun faktor risiko yang dapat meningkatkan terjadinya storek meliputi:

Faktor risiko gaya hidup

  • Kelebihan berat badan atau obesitas
  • Jarang bergerak atau berolahraga
  • Konsumsi alkohol berlebihan
  • Penyalahgunaan obat-obatan terlarang seperti kokain dan metamfetamin

Faktor risiko medis

  • Memiliki penyakit tekanan darah tinggi (hipertensi)
  • Merokok atau sering terpapar asap rokok
  • Kolesterol tinggi
  • Diabetes
  • Obstructive sleep apnea
  • Penyakit kardiovaskular, termasuk gagal jantung, kelainan jantung, infeksi jantung atau irama jantung yang tidak normal, seperti fibrilasi atrium
  • Memiliki keluarga dengan riwayat stroke, serangan jantung atau serangan iskemik sementara
  • Infeksi Covid-19

Faktor-faktor lain terkait dengan risiko stroke yang lebih tinggi termasuk:

  • Orang yang berusia 55 tahun atau lebih tua memiliki risiko stroke yang lebih tinggi daripada individu yang lebih muda.
  • Orang Afrika dan Amerika memiliki risiko lebih tinggi terkena stroke daripada ras lain.
  • Jenis kelamin. Pria memiliki risiko stroke lebih tinggi daripada wanita. Wanita biasanya mengalami stroke di usia yang lebih tua
  • Penggunaan pil KB atau terapi hormon yang mencakup estrogen bisa meningkatkan kemungkinan terjadinya stroke.

Ketika seseorang menunjukkan gejala stroke atau TIA, dokter akan segera mengumpulkan informasi dan membuat diagnosis melalui tindakan-tindakan berikut ini:

Pemeriksaan riwayat medis pasien:

  • Menanyakan obat yang Anda konsumsi
  • Memeriksa tekanan darah
  • Mendengarkan detak jantung Anda dengan stetoskop

Pemeriksaan fisik dan neurologis, untuk memeriksa:

  • Keseimbangan
  • Koordinasi
  • Kelemahan
  • Mati rasa di lengan, wajah, atau kaki
  • Tanda-tanda kebingungan
  • Masalah penglihatan

Tes laboratorium (darah) tertentu untuk memantau:

  • Kadar gula darah
  • Adanya infeksi
  • Tingkat trombosit
  • Kecepatan pembekuan darah

CT scan atau MRI:

MRI dapat membantu melihat kerusakan jaringan atau sel-sel otak. CT scan akan memberikan gambaran rinci dan jelas yang menunjukkan adanya perdarahan atau kerusakan di otak. Tes diagnostik ini juga dapat menunjukkan kondisi otak lainnya yang dapat menjadi penyebab gejala stroke.

Elektrokardiogram (EKG):

Tes sederhana ini dilakukan untuk merekam aktivitas listrik di jantung, mengukur ritme dan mencatat kecepatan detak jantung. Dengan EKG, dokter dapat menentukan kondisi jantung yang mungkin menyebabkan stroke, seperti serangan jantung sebelumnya atau fibrilasi atrium.

Angiogram serebral:

Tes ini dilaksanakan untuk melihat tampilan rinci pada arteri di leher dan otak Anda. Angiogram serebral dapat menunjukkan penyumbatan atau gumpalan yang mungkin menjadi penyebab gejala.

Ultrasonografi karotis:

Ultrasonografi karotis, juga disebut scan dupleks karotis, dapat menunjukkan timbunan lemak (plak) di arteri karotis yang memasok darah ke wajah, leher, dan otak. Tes ini juga dapat menunjukkan penyempitan maupun penyumbatan arteri karotis.

Ekokardiogram

Ekokardiogram dilaksanakan untuk menemukan sumber gumpalan di hati Anda. Gumpalan yang terjadi di hati dapat menyebar ke otak dan menyebabkan stroke.

 

Pengobatan untuk stroke tergantung pada jenis stroke dan lokasinya di bagian otak. Berikut ini jenis-jenis pengobatannya:

Pengobatan stroke iskemik dan TIA

Stroke stroke iskemik dan TIA biasanya ditangani dengan obat-obatan dan tindakan medis, sebagai berikut ini:

Obat-obatan

  • Antiplatelet dan antikoagulan:
    Aspirin yang dijual bebas sering menjadi lini pertahanan pertama terhadap kerusakan akibat stroke. Obat antikoagulan dan antiplatelet harus diminum dalam waktu 24-48 jam setelah gejala stroke muncul.
  • Obat pemecah gumpalan darah:
    Obat trombolitik dapat memecah gumpalan darah di arteri otak sehingga dapat, menghentikan stroke dan mengurangi kerusakan pada otak.
    Salah satu jenis obat tersebut yaitu, tissue plasminogen activator (tPA), dianggap sebagai standar dalam pengobatan stroke iskemik. Obat ini bekerja dengan melarutkan gumpalan darah dengan cepat, jika diberikan pada 3-4,5 jam pertama setelah gejala stroke dimulai. Orang-orang yang menerima suntikan tPA dengan segera, lebih mungkin untuk pulih dari stroke, dan lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami kecacatan permanen akibat stroke.

Tindakan medis

  • Trombektomi mekanik (mechanical thrombectomy):
    Melalui prosedur ini, dokter akan memasukkan kateter ke pembuluh darah besar di dalam kepala Anda. Dokter kemudian akan menarik bekuan darah keluar dengan menggunakan suatu alat. Operasi ini dapat berlangsung selama 6-24 jam sejak gejala stroke dimulai.
  • Stent
    Jika dokter Anda menemukan dinding arteri yang telah melemah, pemasangan stent akan dilakukan untuk mengembangkan arteri yang yang telah menyempit.
  • Operasi
    Jika semua perawatan di atas tidak berhasil, dokter dapat melakukan operasi untuk menghilangkan bekuan darah dan plak dari arteri Anda. Operasi tersebut dapat dilakukan dengan kateter. Jika gumpalannya sangat besar, dokter dapat membedah arteri untuk menghilangkan penyumbatan.

Stroke perdarahan (hemoragik)

Stroke yang disebabkan oleh perdarahan atau kebocoran di otak memerlukan strategi perawatan yang berbeda. Perawatan untuk stroke hemoragik meliputi:

  • Obat-obatan

Berbeda dari stroke iskemik, jika Anda mengalami stroke hemoragik, tujuan perawatannya adalah untuk menciptakan bekuan darah. Karena itu, Anda mungkin mendapatkan obat untuk menangkal pengencer darah yang Anda telah konsumsi sebelumnya. Anda juga mungkin akan mengonsumsi obat untuk mengurangi tekanan darah di otak, mencegah kejang, dan mencegah penyempitan pembuluh darah.

  • Coiling

Coiling adalah suatu tindakan medis yang dilakukan menggunakan tabung panjang yang dimasukkan ke daerah perdarahan atau pembuluh darah yang melemah. Sebuah perangkat seperti kumparan kemudian akan dipasang untuk menghambat aliran darah ke daerah tersebut, sehingga perdarahan pun dapat berkurang.

  • Clamping

Melalui tes pencitraan, dokter mungkin menemukan aneurisma yang belum mengalami perdarahan atau perdarahannya telah terrhenti. Untuk mencegah perdarahan tambahan, dokter dapat menempatkan penjepit kecil di dasar aneurisma demi menghentikan suplai darah.

  • Operasi

Jika aneurisma telah pecah, dokter mungkin akan melakukan operasi untuk memotong aneurisma dan mencegah perdarahan lanjutan. Selain itu, kraniotomi mungkin diperlukan untuk meringankan tekanan pada otak setelah stroke besar.

  • Fisioterapi pasca stroke

Tindakan ini bertujuan untuk mengoptimalkan kemampuan fisik dan kemampuan fungsional pasien stroke, sehinga dapat beraktivitas secara mandiri dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Program ini ditujukan bagi penderita stroke yang sebagian besar mobilisasinya menggunakan kursi roda.,alat bantu seperti tongkat, tripod ataupun walker.

 

Untuk mengurangi risiko terkena stroke, dokter akan menyarankan agar Anda menerapkan gaya hidup sehat, termasuk dengan:

  • Mengonsumsi makanan sehat dan bergizi,
  • Berolahraga secara teratur
  • Tidak mengonsumsi alkohol secara berlebihan
  • Tidak merokok dan menghindari paparan asap rokok
  • Mengurangi kondisi yang meningkatkan risiko stroke. Misalnya menjaga kadar kolesterol atau menurunkan tekanan darah tinggi dengan mengonsumsi obat-obatan.

 

Jika Anda mengalami atau melihat seseorang terkena gejala stroke atau TIA segera hubungi dokter atau rumah sakit terdekat. Dokter akan memeriksa dan melakukan diagnosis dan memberikan pengobatan serta melakukan pencegahan stroke.

Stroke yang tidak ditangani segera akan menimbulkan berbagai komplikasi seperti:

  • Kelumpuhan atau kehilangan gerakan otot
  • Kesulitan berbicara atau menelan. Stroke dapat memengaruhi kontrol otot-otot di mulut dan tenggorokan, sehingga Anda sulit berbicara dengan jelas, menelan, atau makan. Anda juga mungkin mengalami kesulitan dengan bahasa, termasuk berbicara atau memahami pembicaraan, membaca, atau menulis.
  • Hilang ingatan atau kesulitan berpikir. Banyak orang yang mengalami stroke mengalami kehilangan ingatan. Orang lain mungkin mengalami kesulitan berpikir, bernalar, membuat penilaian dan memahami konsep.
  • Masalah emosional. Orang yang mengalami stroke mungkin lebih sulit mengendalikan emosinya, atau mengalami depresi.
  • Nyeri, mati rasa atau sensasi tidak biasa lainnya dapat terjadi pada bagian-bagian tubuh yang terkena stroke.
  • Perubahan perilaku dan kemampuan merawat diri. Orang yang mengalami stroke mungkin menjadi tidak mandiri dan membutuhkan bantuan untuk merawat diri dan melakukan aktivitas sehari-hari.

 

 

Ada beberapa hal yang perlu anda persiapkan sebelum berkonsultasi dengan dokter, diantaranya adalah:

  1. Buatlah janji dengan dokter yang tepat: Jika Anda mengalami atau mendampingi seseorang yang menderita stroke, buatlah janji dengan dokter spesialis saraf, ataupun dokter spesialis penyakit dalam.
  2. Bawalah hasil tes yang mendukung pemeriksaan: Jika telah menjalani pemeriksaan sebelumnya Anda dapat membawa hasil pemeriksaan untuk mempermudah dokter mendiagnosis.
  3. Jika mengalami stroke, lebih baik Anda didampingi oleh orang lain: Pastikan Anda didampingi oleh kerabat atau orang terdekat untuk membantu dan menemani.

 

Pada saat konsultasi, pertama-tama dokter akan membaca riwayat kesehatan dan hasil tes pasien. Kemudian, dokter akan menanyakan hal-hal yang terkait dengan kondisi yang Anda alami seperti riwayat kesehatan dan keluarga, gejala, kekhawatiran, serta kondisi lainnya. Setelah sesi tanya-jawab tersebut selesai, dokter akan memberikan gambaran umum terhadap yang dialami pasien. Jika dibutuhkan, dokter akan merekomendasikan pasien untuk menjalani tes-tes lain.

Setelah hasil tes terbaru keluar, dokter akan mendiagnosis keadaan pasien dan memberikan rekomendasi pengobatan, seperti fisioterapi atau obat-obatan lainnya.

 

Stroke Center.
http://www.strokecenter.org/patients/about-stroke/what-is-a-stroke/
diakses pada 13 Juli 2020
Mayo Clinic.
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/stroke/symptoms-causes/syc-20350113
diakses pada 13 Juli 2020
Healthline.
https://www.healthline.com/health/stroke#symptoms
diakses pada 13 Juli 2020

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/stroke/treatment/
diakses pada 21 September 2018

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
http://www.depkes.go.id/article/view/201407200001/presiden-resmikan-rs-pusat-otak-nasional.html
diakses pada 21 September 2018

Stroke. http://www.stroke.org/understand-stroke/what-stroke/stroke-facts
diakses pada 21 September 2018

Stroke Association.
http://www.strokeassociation.org/STROKEORG/AboutStroke/Treatment/Diagnosis/Stroke-Diagnosis_UCM_310890_Article.jsp#.W5N0UpMzaRs
diakses pada 21 September 2018

Kementerian Kesehatan Republik.Indonesia
http://p2ptm.kemkes.go.id/artikel-sehat/hari-stroke-sedunia-2019-otak-sehat-sdm-unggul
diakses pada 13 Juli 2020

Kementerian Kesehatan Republik.Indonesia
http://p2ptm.kemkes.go.id/artikel-sehat/germas-cegah-stroke
diakses pada 13 Juli 2020

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
http://yankes.kemkes.go.id/read-fisioterapi-upaya-untuk-meringankan-sakit-stroke-5573.html
diakses pada 13 Juli 2020

Artikel Terkait