Psikologi

Stres

31 Mar 2021 | Lenny TanDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Stres
Stres dapat merusak suasana hati, menurunkan daya tahan tubuh, dan meningkatkan risiko penyakit
Stress atau stres adalah cara tubuh merespons perubahan tertentu yang dianggap sebagai bahaya, ancaman, atau tekanan. Tubuh menanggapinya dengan bereaksi secara fisik, mental, dan emosional.Stres sebetulnya adalah bagian normal dari kehidupan.  Hampir semua orang bisa mengalaminya, termasuk anak-anak. Kenapa?Tubuh manusia memang dirancang untuk menghadapi tekanan mental dan bereaksi terhadapnya. Kondisi ini dapat memberikan dampak positif atau negatif.Respons alami tubuh tersebut membantu kita untuk tetap waspada, sigap, dan siap mengantisipasi bahaya. Namun tekanan mental bisa saja berdampak negatif ketika terus berlangsung hingga sulit dikendalikan.Dalam jangka panjang, stres bisa mengganggu suasana hati, meningkatkan risiko penyakit, serta masalah kesehatan fisik lain. 
Stres
Dokter spesialis Jiwa, Psikolog
GejalaGelisah, uring-uringan, sakit kepala
Faktor risikoBeban kerja, perceraian, trauma
Metode diagnosisTanya jawab
PengobatanPenanganan mandiri, psikoterapi, obat-obatan
ObatAnticemas, antidepresan
KomplikasiDepresi, penyakit jantung, rambut rontok
Kapan harus ke dokter?Cepat tersinggung, sulit tidur, kelelahan
Tiap orang bisa memiliki reaksi berbeda-beda terhadap pemicu stres. Secara umum, tanda dan gejala stres dpaat berupa:

Gejala pada perilaku dan suasana hati

  • Selalu gelisah
  • Mudah marah atau uring-uringan
  • Sering murung
  • Tidak mampu merasa rileks
  • Rendah diri
  • Merasa kesepian dan tidak berguna
  • Menghindari orang lain, misalnya enggan bertemu keluarga maupun teman
  • Terus merasa cemas

Gejala pada kesehatan fisik

  • Penurunan daya tahan tubuh, sehingga mudah sakit
  • Sakit kepala
  • Nyeri dada
  • Jantung berdebar-debar
  • Nyeri otot dan sendi
  • Tubuh lemas, lesu, lunglai, tidak bertenaga
  • Gangguan pencernaan, seperti sakit perut, diare, atau konstipasi (sembelit)
  • Insomnia aias sulit tidur
  • Mulut yang kering
  • Kesulitan menelan
  • Tidak memiliki gairah seks
  • Disfungsi seksual
  • Tangan dan kaki yang berkeringat

Gejala pada kemampuan kognitif

  • Sering lupa
  • Tidak bisa berkonsentrasi
  • Merasa pesimis
  • Selalu memandang sesuatu dari sisi negatif
  • Tidak bisa mengambil keputusan dengan baik
 
Penyebab stres yang utama adalah respons alami tubuh yang dikenal sebagai fight of flight response, yakni reaksi 'melawan atau lari'.Respons tersebut diaktifkan oleh sistem saraf ketika tubuh mendeteksi keadaan darurat atau hal-hal lain yang dianggap membahayakan diri. Beragam hal ini disebut pemicu stres. Apa sajakah itu?

Faktor lingkungan

  • Beban pekerjaan
  • Tidak memiliki pekerjaan
  • Merawat orang yang sakit kronis
  • Kehilangan orang yang dicintai
  • Perceraian
  • Masalah keuangan atau kondisi perekonomian
  • Masalah emosional, misalnya tidak percaya diri
  • Kejadian traumatis, seperti bencana alam, kekerasan seksual, dan kekerasan fisik (misalnya, KDRT)
  • Akan menikah
  • Masalah pendidikan

Faktor internal

  • Ketakutan dan kekhawatiran

Rasa takut atau cemas terhadap hal yang tidak bisa dikendalikan sering memicu stres. 
  • Persepsi yang negatif

Persepsi Anda terhadap suatu keadaan atau kondisi akan menentukan seperti apa efeknya secara fisik dan emosional.Sebagai contoh, kehilangan mobil mungkin tidak membuat Anda terlalu tertekan karena akan ada ganti rugi dari asuransi. Namun bila Anda terus berpikir bahwa Anda mengalami kerugian yang besar, Anda bisa dilanda stress.
  • Ekspektasi yang berlebihan

Jika Anda memiliki harapan berlebih atau tidak realistis terhadap sesuatu, Anda bisa mengalami stres ketika harapan tersebut tidak terkabul. 
  • Ketidakmampuan dalam mengendalikan emosi

Apabila Anda tidak mampu untuk menenangkan pikiran ketika merasakan emosi negatif (seperti marah dan sedih), Anda akan lebih rentan mengalami stres.

Faktor lainnya

Di luar itu, beberapa faktor lain yang dapat jadi penyebab meningkatnya risiko Anda mengalami stres atau justru memperburuknya adalah:
  • Konsumsi alkohol berlebihan
  • Penggunaan obat-obatan terlarang
  • Konsumsi kafein berlebihan
  • Mengalami gangguan tidur kronis
  • Memiliki masalah atau gangguan kesehatan mental, seperti depresi, gangguan cemas, serangan panik
  • Memiliki masalah kesehatan atau penyakit kronis, seperti obesitas, penyakit jantung, diabetes, dan asma
 
Dokter umumnya menentukan diagnosis stres berdasarkan tanya jawab dan wawancara dengan penderita. Jadi penting bagi pasien untuk menceritakan semua gejala fisik dan emosi dengan jujur serta terbuka.Bila dirasa perlu, Anda juga bisa dirujuk untuk menemui dokter spesialis jiwa atau psikolog. Dengan ini, diagnosis yang akurat bisa Anda dapatkan. 
Cara menghilangkan stres yang utama adalah dengan menyelesaikan masalah yang menjadi pemicunya.Pasien perlu menjalani manajemen stres sesuai petunjuk dari dokter maupun psikolog, serta meminta dukungan keluarga dan teman dalam mengatasi masalah kejiwaan ini.Penanganan yang diberikan bisa berupa:

Penanganan mandiri

Pasien bisa menerapkan beberapa langkah berikut sebagai cara untuk mengatasi stres dan menenangkan pikiran:
  • Berolahraga secara teratur.
  • Melakukan relaksasi, seperti meditasi, yoga, dan latihan pernapasan
  • Meluangkan waktu untuk berkumpul dengan teman dan keluarga
  • Melakukan hobi
  • Menerapkan jadwal makan yang teratur
  • Melatih diri untuk selalu berpikir positif
  • Tidur dengan jadwal teratur dan durasi yang cukup

Psikoterapi

Pasien bisa diminta untuk menjalani psikoterapi dengan psikolog maupun psikiater. Pakar kejiwaan akan mengajak pasien untuk bercerita dan mendeteksi penyebab tekanan mental pada pasien. Pasien kemudian diajarkan untuk menangani stres dengan cara yang lebih positif.

Obat-obatan

Jika dirasa perlu, dokter akan memberikan obat anticemas golongan selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI), dan obat antidepresan untuk mengurangi gejala stres. 

Komplikasi stres

Stres kronis yang tidak ditangani dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan. Kondisi ini juga bisa menyebabkan atau memperburuk gejala penyakit tertentu.Beberapa penyakit yang mungkin muncul sebagai dampak stres kronis meliputi:
  • Masalah mental, seperti depresi, gangguan kecemasan, dan gangguan kepribadian
  • Penyakit kardiovaskular, contohnya stroke dan hipertensi
  • Kelebihan berat badan dan obesitas
  • Gangguan mentruasi, misalnya haid tidak teratur
  • Rambut rontok
  • Penyakit kulit, misalnya jerawat dan psoriasis
  • Gangguan pencernaan, seperti gastritis dan gastroesophageal reflux disease (GERD)
  • Keinginan atau percobaan bunuh diri
 
Cara mencegah stres dapat dilakukan dengan berbagai perubahan gaya hidup sederhana berikut:
 
Jika merasa mengalami stres dalam jangka panjang, atau telah melakukan berbagai cara untuk mengatasi stres, tapi tidak membaik, Anda sebaiknya berkonsultasi ke dokter. Terupata bila Anda menunjukkan gejala berikut:
  • Lekas marah dan cepat tersinggung (iritabilitas yang ekstrem)
  • Kelelahan kronis
  • Sakit kepala jangka panjang atau berulang-ulang
  • Sulit konsentrasi, atau tidak mampu berpikir logis
  • Pikiran tidak teratur; overthinking (memikirkan banyak hal sekaligus secara bersamaan)
  • Sulit tidur kronis
  • Masalah pencernaan berulang, tanpa sebab jelas
  • Perubahan nafsu makan secara drastis, tanpa penyebab jelas
  • Merasa putus asa, tidak berdaya
  • Merasa kehilangan kontrol atas diri sendiri dan kehidupan
  • Kehilangan kepercayaan diri
  • Kehilangan gairah seksual dalam jangka panjang
  • Kecemasan atau kegugupan kronis
  • Sering sakit atau sering terjangkit infeksi berulang
  • Menunjukkan ciri-ciri depresi atau gangguan psikologis lainnya
 
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat kondisi dan situasi yang akhir-akhir ini Anda alami.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Sejak kapan gejala muncul?
  • Apakah Anda memiliki beban pikiran saat ini?
  • Apakah Anda mengalami kejadian traumatis akhir-akhir ini?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan mungkin menganjurkan pemeriksaan penunjang guna memastikan diagnosis stres. Bantuan psikolog juga bisa disarankan jika dianggap perlu. 
Cleaveland. https://my.clevelandclinic.org/health/articles/11874-stress
Diakses pada 25 November 2019
WebMD. https://www.webmd.com/balance/stress-management/stress-symptoms-effects_of-stress-on-the-body#1
Diakses pada 25 November 2019
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/stress-management/in-depth/stress-symptoms/art-20050987
Diakses pada 25 November 2019
Help Guide. https://www.helpguide.org/articles/stress/stress-symptoms-signs-and-causes.htm
Diakses pada 25 November 2019
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email