Stres

Diterbitkan: 26 Nov 2019 | dr. Reisia Palmina Brahmana
Ditinjau oleh dr. Reni Utari
pengertian, penyebab, ciri-ciri, dan cara menghilangkan stres
Stres dapat merusak suasana hati, menurunkan daya tahan tubuh, dan meningkatkan risiko penyakit

Stres (stress) adalah cara tubuh merespons perubahan tertentu yang dianggap sebagai bahaya, ancaman, atau tekanan. Tubuh menanggapi stres dengan bereaksi secara fisik, mental, dan emosional.

Stress sebetulnya adalah bagian yang normal dari hidup.  Hampir setiap orang bisa mengalami stres, termasuk anak-anak yang notabene selalu tampak ceria.

Pasalnya, tubuh manusia memang dirancang untuk menghadapi tekanan mental dan bereaksi terhadapnya. Kondisi ini dapat memberikan dampak positif atau negatif.

Respon alami tubuh ini ada untuk membantu kita bisa tetap waspada, sigap, dan siap mengantisipasi bahaya. Namun, tekanan mental bisa jadi berdampak negatif ketika terus berlanjut hingga sulit untuk dikendalikan.

Dalam jangka panjang, stres kronis yang dibiarkan dapat mengganggu suasana hati dan meningkatkan risiko penyakit serta masalah kesehatan fisik lainnya.

Setiap orang mungkin bereaksi berbeda terhadap pemicu stres. Itu sebabnya, masing-masing orang bisa menunjukkan ciri-ciri dan gejala yang bervariasi saat sedang stress.

Respons stress berkepanjangan dapat menimbulkan gejala yang tampak jelas pada tubuh, baik secara fisik maupun emosional.

Tanda dan gejala stres yang bisa memengaruhi perilaku dan suasana hati Anda secara umum adalah:

  • Selalu gelisah.
  • Mudah marah atau uring-uringan.
  • Sering murung.
  • Tidak mampu merasa rileks.
  • Merasa rendah diri.
  • Merasa kesepian dan tidak berguna.
  • Menghindari orang lain, misalnya enggan bertemu keluarga maupun teman.
  • Terus merasa cemas.

Sementara itu, ciri-ciri stres yang umum berdampak pada kesehatan fisik adalah:

  • Penurunan daya tahan tubuh; jadi mudah sakit.
  • Sakit kepala.
  • Nyeri dada.
  • Peningkatan detak jantung; jantung berdebar-debar.
  • Nyeri otot.
  • Nyeri sendi.
  • Tubuh lemas, lesu, lunglai; tidak bertenaga.
  • Sakit perut.
  • Gangguan pencernaan, berupa diare atau konstipasi (sembelit).
  • Insomnia (sulit tidur).
  • Sering mengalami pilek.
  • Mulut yang kering.
  • Kesulitan menelan.
  • Tidak memiliki gairah seks.
  • Disfungsi seksual.
  • Tangan dan kaki yang berkeringat.

Gejala stres yang berdampak pada kemampuan kognitif umumnya meliputi:

  • Sering lupa.
  • Tidak bisa berkonsentrasi.
  • Merasa pesimis.
  • Selalu memandang sesuatu dari sisi negatif.
  • Tidak bisa mengambil keputusan dengan baik.

Mungkin saja ada tanda dan gejala stres yang tidak disebutkan. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan gejala tertentu yang mendera Anda, konsultasikanlah dengan dokter.

Penyebab utama dari munculnya stres adalah respons alami tubuh yang dikenal sebagai fight of flight response, alias respons "melawan atau lari".

Respons ini diaktifkan oleh sistem saraf ketika tubuh mendeteksi keadaan darurat atau adanya hal-hal lain yang dianggap membahayakan diri. Beragam hal ini disebut sebagai pemicu stres.

Pemicu dapat berasal dari faktor luar seperti lingkungan sekitar atau perubahan gaya hidup, maupun dari dalam tubuh dan pikiran sendiri.

Penting untuk mengetahui apa saja yang dapat menjadi pemicu stress dalam kehidupan sehari-hari. Penyebab stres juga dapat berbeda pada tiap orang. 

Faktor lingkungan yang dapat meningkatkan risiko stres

  • Beban pekerjaan.
  • Tidak memiliki pekerjaan.
  • Merawat orang yang sakit kronis.
  • Kehilangan orang yang dicintai.
  • Perceraian.
  • Masalah keuangan atau kondisi perekonomian.
  • Masalah emosional, misalnya tidak percaya diri.
  • Kejadian traumatis, seperti bencana alam, kekerasan seksual, dan kekerasan fisik (misalnya, KDRT).
  • Akan menikah.
  • Masalah pendidikan.

Faktor internal yang dapat menjadi penyebab stress

1. Ketakutan dan kekhawatiran

Rasa takut atau cemas terhadap hal yang tidak bisa dikendalikan sering memicu stres. 

2. Persepsi yang negatif

Persepsi Anda terhadap suatu keadaan atau kondisi akan menentukan seperti apa efeknya secara fisik dan emosional.

Sebagai contoh, kehilangan mobil mungkin tidak membuat Anda terlalu tertekan karena akan ada ganti rugi dari asuransi.

Namun bila Anda terus berpikir bahwa Anda mengalami kerugian yang besar, Anda bisa dilanda stress.

3. Ekspektasi yang berlebihan

Jika Anda memiliki harapan berlebih atau tidak realistis terhadap sesuatu, Anda bisa mengalami stres ketika harapan tersebut tidak terkabul. 

4. Ketidakmampuan mengontrol emosi

Apabila Anda tidak mampu untuk menenangkan pikiran ketika merasakan emosi negatif (seperti marah dan sedih), Anda akan lebih rentan mengalami stress.

Di luar itu, beberapa faktor lain yang dapat jadi penyebab meningkatnya risiko Anda mengalami stres atau justru memperburuknya adalah:

  • Konsumsi alkohol berlebihan.
  • Penggunaan obat-obatan terlarang.
  • Konsumsi kafein berlebihan.
  • Mengalami gangguan tidur kronis.
  • Memiliki masalah atau gangguan kesehatan mental, seperti depresi, gangguan cemas, serangan panik.
  • Memiliki masalah kesehatan atau penyakit kronis, seperti obesitas, penyakit jantung, diabetes, dan asma.

Dokter umumnya menentukan diagnosis stres berdasarkan tanya jawab dan wawancara dengan penderita.

Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk menceritakan semua gejala fisik dan emosi dengan jujur.

Bila dirasa perlu, Anda juga bisa dirujuk untuk menemui dokter spesialis jiwa atau psikolog. Dengan ini, diagnosis yang akurat bisa Anda dapatkan.

Cara menghilangkan stres yang utama adalah dengan menyelesaikan masalah yang menjadi pemicu.

Anda perlu menjalani manajemen stres sesuai petunjuk dari dokter maupun psikolog, serta meminta dukungan keluarga dan teman dalam mengatasi masalah kejiwaan ini.

Dokter biasanya memberikan obat anticemas, obat golongan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs), dan obat antidepresan untuk mengurangi gejala stres.

Anda juga bisa menerapkan beberapa langkah berikut sebagai cara untuk mengatasi stres dan menenangkan pikiran:

  • Berolahraga secara teratur.
  • Melakukan relaksasi, seperti meditasi, yoga, dan latihan pernapasan.
  • Meluangkan waktu untuk berkumpul dengan teman dan keluarga.
  • Melakukan hobi.
  • Menerapkan jadwal makan yang teratur.
  • Melatih diri untuk selalu berpikir positif.
  • Tidur dengan jadwal teratur dan durasi yang cukup.

Stres kronis yang tidak ditangani dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan.

Penelitian menunjukkan bahwa stres dapat menyebabkan atau memperburuk gejala penyakit tertentu. Beberapa penyakit yang mungkin muncul sebagai dampak stress kronis di antaranya meliputi:

Melansir Cleveland Clinic, stress kronis terkait dengan enam penyebab utama kematian, yaitu penyakit jantung, kanker, penyakit paru-paru, kecelakaan, sirosis hati, dan bunuh diri.

Cara mencegah stres dapat dilakukan dengan berbagai perubahan gaya hidup sederhana. Mulai dari rutin berolahraga, berpikir positif, melakukan teknik relaksasi, berkumpul dengan teman maupun keluarga, melakukan hobi, tidur teratur, dan masih banyak lagi.

Jika Anda merasa mengalami stress dalam jangka panjang, atau telah melakukan berbagai cara untuk mengatasi stres tapi tidak membaik, sebaiknya berkonsultasi ke dokter.

Umumnya, segera konsultasi ke dokter jika Anda menunjukkan gejala dan ciri-ciri stres kronis berikut ini:

  • Lekas marah dan cepat tersinggung (iritabilitas yang ekstrem).
  • Kelelahan kronis.
  • Sakit kepala jangka panjang atau berulang-ulang.
  • Sulit konsentrasi, atau tidak mampu berpikir logis.
  • Pikiran tidak teratur; overthinking (memikirkan banyak hal sekaligus secara bersamaan).
  • Sulit tidur kronis.
  • Masalah pencernaan berulang, tanpa sebab jelas.
  • Perubahan nafsu makan secara drastis, tanpa penyebab jelas.
  • Merasa putus asa, tidak berdaya.
  • Merasa kehilangan kontrol atas diri sendiri dan kehidupan.
  • Kehilangan kepercayaan diri.
  • Kehilangan gairah seksual dalam jangka panjang.
  • Kecemasan atau kegugupan kronis.
  • Sering sakit atau sering terjangkit infeksi berulang.
  • Menunjukkan ciri-ciri depresi atau gangguan psikologis lainnya.

Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:

  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat kondisi dan situasi yang akhir-akhir ini Anda alami.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.

Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:

  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki beban pikiran saat ini?
  • Apakah Anda mengalami kejadian traumatis akhir-akhir ini?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan mungkin menganjurkan pemeriksaan penunjang guna memastikan diagnosis stres. Bantuan psikolog juga bisa disarankan jika dianggap perlu.

Cleaveland. https://my.clevelandclinic.org/health/articles/11874-stress
Diakses pada 25 November 2019.

WebMD. https://www.webmd.com/balance/stress-management/stress-symptoms-effects_of-stress-on-the-body#2
Diakses pada 25 November 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/stress-management/in-depth/stress-symptoms/art-20050987
Diakses pada 25 November 2019

Help Guide. https://www.helpguide.org/articles/stress/stress-symptoms-signs-and-causes.htm
Diakses pada 25 November 2019.

Artikel Terkait