Stres adalah suatu respons tubuh terhadap adanya perubahan tertentu. Reaksi ini bisa memengaruhi kemampuan kognitif maupun kondisi mental dan fisik Anda.

Banyak hal yang bisa menyebabkan stres. Mulai dari pemicu yang bersumber dari pikiran dan fisik Anda sendiri hingga pengaruh faktor lingkungan.

Tubuh manusia sejatinya dirancang untuk menghadapi stres. Kondisi ini dapat memberikan pengaruh positif atau negatif.

Stres dapat membuat Anda terjaga, termotivasi, dan siap menghindari bahaya. Namun stres juga bisa memberikan pengaruh buruk bagi kesehatan, terutama jika Anda mengalami stres jangka panjang (kronis). 

Gejala stres yang bisa memengaruhi perilaku Anda meliputi:

  • Selalu gelisah.
  • Mudah marah atau uring-uringan.
  • Sering murung.
  • Tidak mampu merasa rileks.
  • Merasa rendah diri.
  • Merasa kesepian dan tidak berguna.
  • Menghindari orang lain, misalya enggan bertemu keluarga maupun teman.
  • Terus merasa cemas.

Gejala stres pada fisik Anda bisa berupa:

  • Sakit kepala.
  • Nyeri dada.
  • Jantung berdebar-debar.
  • Nyeri sendi dan otot.
  • Tubuh yang lemas.
  • Sakit perut.
  • Diare atau konstipasi.
  • Insomnia, yakni sulit tidur.
  • Sering mengalami pilek.
  • Mulut yang kering.
  • Kesulitan menelan.
  • Tidak memiliki gairah seks.
  • Disfungsi seksual.
  • Tangan dan kaki yang berkeringat.

Gejala stres yang berdampak pada kemampuan kognitif umumnya meliputi:

  • Sering lupa.
  • Tidak bisa berkonsentrasi.
  • Merasa pesimis.
  • Selalu memandang sesuatu dari sisi negatif.
  • Tidak bisa mengambil keputusan dengan baik.

Penyebab stres berbeda-beda pada tiap penderita. Stres bisa bersumber dari dalam diri sendiri maupun dari faktor lingkungan.

Faktor lingkungan yang dapat menyebabkan stres

  • Beban pekerjaan.
  • Tidak memiliki pekerjaan.
  • Merawat orang yang sakit kronis.
  • Kehilangan orang yang dicintai.
  • Perceraian.
  • Masalah keuangan atau kondisi perekonomian keluarga.
  • Masalah emosional, misalnya tidak percaya diri.
  • Kejadian traumatis, seperti bencana alam, pelecehan seksual, dan pemerkosaan.
  • Akan menikah.

Faktor dari dalam diri yang dapat memicu stres

  • Ketakutan dan kekhawatiran

Rasa takut atau cemas terhadap hal yang tidak bisa dikendalikan sering memicu stres. 

  • Persepsi yang negatif

Persepsi Anda akan menentukan efek dari suatu keadaan pada Anda. Contohnya, jika kehilangan mobil, tapi tidak terlalu tertekan karena akan ada ganti rugi dari asuransi, Anda mungkin tidak akan didera stres. Namun bila Anda terus berpikir bahwa Anda mengalami kerugian yang besar, Anda bisa dilanda serangan stres.

  • Ekspektasi yang tidak berlebihan

Jika Anda memiliki harapan berlebih atau tidak realistis terhadap sesuatu, Anda bisa mengalami stres ketika harapan tersebut tidak terkabul. 

  • Kemampuan mengontrol emosi

Apabila Anda tidak memiliki kemampuan untuk menenangkan diri ketika merasakan emosi yang negatif (seperti marah dan sedih), Anda akan lebih rentan terserang stres.

Dokter umumnya menentukan diagnosis stres berdasarkan tanya jawab dan wawancara dengan penderita. Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk menceritakan semua gejala fisik dan emosi dengan jujur.

Bila dirasa perlu, Anda juga bisa dirujuk untuk menemui dokter spesialis jiwa atau psikolog. Dengan ini, diagnosis yang akurat bisa Anda dapatkan.

Penanganan stres yang utama adalah dengan menyelesaikan masalah yang menjadi sumber stres. Anda perlu menjalani langkah penanganan sesuai petunjuk dari dokter maupun psikolog, serta meminta dukungan keluarga dan teman dalam mengatasi masalah kejiwaan ini. Dokter biasanya memberikan obat anticemas, obat golongan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs), dan obat antidepresan untuk mengurangi gejala stres.

Anda juga bisa dapat menerapkan beberapa langkah berikut sebagai cara untuk mengatasi stres:

  • Berolahraga secara teratur.
  • Melakukan teknik relaksasi, seperti meditasi dan latihan pernapasan.
  • Meluangkan waktu untuk berkumpul dengan teman dan keluarga.
  • Melakukan hobi.
  • Menerapkan jadwal makan yang teratur.
  • Melatih diri untuk selalu berpikir positif.
  • Tidur dengan jadwal teratur dan durasi yang cukup.

Stres kronis yang tidak ditangani dapat memicu berbagai gangguan kesehatan. Beberapa di antaranya meliputi:

Gangguan pencernaan, seperti gastritis dan gastroesophageal reflux disease (GERD).

Pencegahan stres dapat dilakukan dengan berbagai cara. Mulai dari rutin berolahraga, berpikir positif, melakukan teknik relaksasi, berkumpul dengan teman maupun keluarga, melakukan hobi, tidur teratur, dan banyak lagi.

Jika Anda merasa bahwa Anda mengalami stres atau telah melakukan berbagai cara untuk mengatasi stres tanpa perbaikan kondisi, Anda sebaiknya berkonsultasi ke dokter.

Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:

  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat kondisi dan situasi yang akhir-akhir ini Anda alami.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.

Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:

  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki beban pikiran saat ini?
  • Apakah Anda mengalami kejadian traumatis akhir-akhir ini?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan mungkin menganjurkan pemeriksaan penunjang guna memastikan diagnosis stres. Bantuan psikolog juga bisa disarankan jika dianggap perlu.

Cleaveland. https://my.clevelandclinic.org/health/articles/11874-stress
Diakses pada 25 November 2019.

WebMD. https://www.webmd.com/balance/stress-management/stress-symptoms-effects_of-stress-on-the-body#2
Diakses pada 25 November 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/stress-management/in-depth/stress-symptoms/art-20050987
Diakses pada 25 November 2019

Help Guide. https://www.helpguide.org/articles/stress/stress-symptoms-signs-and-causes.htm
Diakses pada 25 November 2019.

Artikel Terkait