Spermatokel adalah kista jinak yang terbentuk di epididimis. Epididimis merupakan saluran yang melingkar di belakang kedua testis, yang berfungsi mengantarkan sperma yang diproduksi oleh testis

Kista ini berada di dekat testis, namun tidak menimbulkan rasa sakit. Spermatokel berisi cairan berwarna putih seperti susu atau bening, dan mengandung sperma. 

Spermatokel dapat menimbulkan gejala-gejala seperti:

Penyebab spermatokel belum diketahui secara pasti. Namun para pakar menduga bahwa kemunculan kista jinak ini disebabkan oleh adanya hambatan di saluran epididimis yang membawa dan menyimpan sperma di buah zakar.

Untuk proses diagnosis spermatokel, dibutuhkan pemeriksaan secara lengkap pada area kelamin penderita. Dokter juga melakukan pemeriksaan fisik dengan mencari tahu bagian yang nyeri ketika disentuh.

Selain pemeriksaan fisik tersebut, serangkaian tes di bawah ini pun akan dianjurkan:

  • USG yang digunakan untuk melihat ke struktur skrotum bagian dalam. Langkah ini bertujuan mencari kista yang mungkin terdapat dalam skortum
  • Transiluminasi dapat dilakukan dengan menyinari skrotum dengan senter. Cahaya akan tembus jika skrotum berisi cairan, dan tidak tembus bila terdapat sesuatu yang padat di dalamnya.

Pada kebanyakan kasus, pengobatan spermatokel yang tidak nyeri tidak dibutuhkan. Namun Anda tetap perlu berkonsultasi dengan dokter ketika kista tumbuh terlalu besar dan mulai menyebabkan yeri.

Untuk mengobati spermatokel, dapat dilakukan beberapa cara berikut:

  • Terapi invasif minimal

Dokter akan mengalirkan cairan pada spermatokel dan menggunakan skleroterapi, yaitu menyuntikkan zat pada kista yang dapat menyembuhkan atau mengurangi cairan di dalamnya.

  • Terapi bedah atau spermatocelectomy

Prosedur ini dilakukan untuk mengeluarkan kista dari epididimis sekaligus mempertahankan fungsi sistem reproduksi penderita. Pasien juga umumnya tidak perlu menginap di rumah sakit dan bisa bulang di hari yang sama.

Tidak ada cara untuk mencegah spermatokel. Tapi Anda dapat melakukan pemeriksaan sendiri pada skrotum, yang akan membantu Anda dalam mewaspadai gejala spermatokel sekaligus mempercepat pemeriksaan spermatokel.

Berikut cara memeriksa buah zakar yang benar:

  • Berdirilah di depan cermin.
  • Amati buah zakar Anda, misalnya apakah ada peradangan berupa bengkak atau kemerahan pada kulit skrotum.
  • Periksa masing-masing testis dengan kedua tangan dengan cara meletakkan jari telunjuk dan jari tengah di bagian bawah testis dan ibu jari di bagian atas
  • Geserlah testis di antara ibu jari dan jari lainya secara perlahan-lahan.

Testis biasanya lunak, lonjong, dan agak keras. Normal jika ukuran kedua testis tidak sama. Perlu diingat juga bahwa tali pusat yang naik ke bagian testis (epididimis) adalah bagian normal dari skrotum.

Sebelum menemui dokter, Anda sebaiknya mempersiapkan hal-hal berikut ini:

  • Mencatat semua gejala yang dirasakam.
  • Mencatat informasi pribadi maupun medis secara lengkap, termasuk penyakit yang diidap, serta obat, suplemen, vitamin, dan obat herba yang dikonsumsi.

Anda juga perlu mencatat sederet pertanyaan yang ingin diajukan pada dokter. Berikut contohnya:

  • Apa penyebab dari gejala yang saya alami?
  • Perawatan atau pengobatan apa yang Anda sarankan untuk mengatasi gejala saya?
  • Apakah kondisi ini dapat memengaruhi kesuburan saya?
  • Apakah jenis dari efek samping yang ditimbulkan melalui pengobatan tersebut?
  • Setelah operasi, berapa lama baru saya boleh melakukan aktivitas seksual?
  • Apakah saya harus menjalani perawatan tertentu?
  • Apakah kondisi ini bisa kambuh setelah perawatan?
  • Apakah kondisi ini bisa disembuhkan?
  • Tes apa saja yang perlu saya lakukan?

Sebelum berkonsultasi dengan dokter, sebaiknya Anda catat gejala yang dimiliki, informasi pribadi, dan daftar pertanyaan, seperti:

  • Apa penyebab dari gejala yang saya alami?
  • Perawatan atau pengobatan apa yang Anda sarankan untuk mengobati gejala saya?
  • Apakah kondisi ini dapat memengaruhi kesuburan saya?
  • Apakah jenis dari efek samping yang ditimbulkan melalui pengobatan ini?
  • Berapa lama setelah operasi saya dapat melakukan aktivitas seksual?
  • Apakah saya harus menerima perawatan tertentu?
  • Apakah kondisi ini akan kambuh kembali setelah perawatan?
  • Apakah Anda memiliki selebaran informasi untuk saya baca?
  • Apakah kondisi ini dapat benar-benar sembuh?
  • Jenis tes apa yang perlu saya lakukan?

Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:

  • Gejala apa saja yang Anda alami?
  • Kapan Anda pertama kali mengalami gejala tersebut?
  • Apakah gejala yang dialami terjadi secara intens?
  • Apakah ada hal yang membuat gejala membaik dan memburuk?
  • Apakah Anda pernah mengalami cedera pada daerah skrotum?

Healthline. https://www.healthline.com/health/mens-health/spermatocele
Diakses pada 25 September 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/es-es/diseases-conditions/spermatocele/symptoms-causes/syc-20377829
Diakses pada 25 September 2019

Artikel Terkait