Kandungan

Solusio Plasenta

Diterbitkan: 20 May 2019 | Lenny TanDitinjau oleh dr. Reni Utari
image Solusio Plasenta
Kebiasaan merokok sejak sebelum kehamilan adalah salah satu faktor risiko dari solusio plasenta
Solusio plasenta (solutio plasenta) adalah lepasnya sebagian atau seluruh plasenta dari dinding rahim bagian dalam sebelum persalinan. Kondisi ini juga dikenal dengan nama abruptio plasenta.Solusio plasenta adalah komplikasi kehamilan yang jarang terjadi. Secara keseluruhan, solusio plasenta terjadi pada satu dari 100 kehamilan di seluruh dunia. Meski cukup jarang, komplikasi ini dapat berakibat sangat serius.Lepasnya plasenta seringkali terjadi secara tiba-tiba. Bila tidak mendapatkan penanganan yang tepat, komplikasi ini dapat membahayakan janin maupun sang ibu.Plasenta adalah organ yang memasok oksigen dan nutrisi bagi bayi yang sedang bertumbuh kembang dalam kandungan. Ketika plasenta lepas sebagian atau seluruhnya sebelum melahirkan, asupan nutrisi dan oksigen pada janin akan berkurang atau bahkan berhenti sama sekali.Hal ini dapat meningkatkan risiko bayi lahir prematur dengan berat lahir rendah (BBLR), kematian bayi dalam kandungan (stillbirth), dan kematian bayi setelah dilahirkan akibat asfiksia neonatorum.Solusio plasenta juga bisa menyebabkan perdarahan hebat pada ibu setelah melahirkan yang berakibat fatal.
Solusio Plasenta
Dokter spesialis Kandungan
Solusio plasenta umumnya terjadi pada trimester ketiga masa kehamilan, terutama beberapa minggu sebelum waktunya melahirkan. Namun, tidak menutup kemungkinan plasenta terlepas setelah usia kehamilan mencapai 20 minggu.Secara umum, ciri-ciri dan gejala solusio plasenta adalah:
  • Munculnya perdarahan dari area vagina, bisa sedikit seperti flek atau banyak; kadang bisa tidak muncul karena perdarahan terjadi di dalam.
  • Nyeri pada area perut maupun bagian punggung, yang datang tiba-tiba.
  • Kontraksi rahim secara terus-menerus dan terasa sakit.
  • Munculnya gawat janin (fetal distress) yang ditandai dengan detak jantung janin tidak normal.
  • Cairan ketuban sedikit.
Tingkat keparahan gejala dan tanda tergantung pada sudah seberapa jauh plasenta terlepas dan berapa banyak kehilangan darah.Saat pemisahan plasenta berlanjut, rahim mungkin terasa nyeri dan lunak atau kaku.Tidak semua ibu hamil yang mengalami solusio plasenta menunjukkan ciri-ciri dan gejala serupa. Mungkin saja ada tanda dan gejala yang tidak disebutkan.Bila Anda memiliki pertanyaan atau kekhawatiran akan gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter.
Penyebab solusio plasenta sampai saat ini belum diketahui.Akan tetapi, beberapa faktor di bawah ini diduga dapat meningkatkan risiko seorang ibu hamil untuk mengalaminya:
  • Tekanan darah tinggi selama kehamilan yang memicu preeklampsia maupun eklampsia.
  • Trauma atau cedera pada bagian perut ibu, seperti kecelakaan, terjatuh, dsb)
  • Kebiasaan merokok
  • Konsumsi alkohol dan minuman keras.
  • Menggunakan kokain selama masa kehamilan.
  • Mengalami chorioamnionitis (infeksi pada kantung dan cairan ketuban).
  • Ketuban pecah dini
  • Pernah menderita solusio plasenta pada kehamilan sebelumnya, yang buka disebabkan oleh trauma.
  • Ketuban pecah dini, yang menyebabkan kebocoran cairan ketuban sebelum masa kehamilan berakhir.
  • Ketuban pecah terlambat (prolonged rupture of membranes); yang berlangsung lebih dari 18-24 jam sebelum melahirkan.
  • Memiliki penyakit kencing manis (diabetes).
  • Usia di atas 40 saat hamil atau lebih muda daripada 20 tahun.
  • Sedang mengandung lebih dari satu bayi (mengandung bayi kembar).
Beberapa metode pemeriksaan yang dapat dilakukan oleh dokter untuk memastikan diagnosis solusio plasenta adalah:
  • Pemeriksaan fisik guna mengecek kondisi rahim.
  • Tes darah dan tes urine untuk melihat apakah Anda mengalami perdarahan pada area vagina (vaginal bleeding), yang merupakan salah satu gejala solusio plasenta.
  • Pemeriksaan dalam pada vagina dan serviks (leher rahim) dengan menggunakan spekulum.
  • Pemeriksaan ultrasound (USG) guna melihat kondisi rahim Anda, mengetahui lokasi perdarahan, serta memeriksa keadaan janin.
  • Pemeriksaan detak jantung janin.
Meski demikian, diagnosis solutio plasenta kerap tidak dapat dipastikan hingga bayi telah lahir.Pada saat ini, plasenta akan keluar bersama bekuan atau gumpalan darah yang tampak tidak segar. Plasenta umumnya akan dikirim ke laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Abruptio plasenta dapat sangat berbahaya dan mengancam nyawa ibu maupun bayinya.Beberapa komplikasi yang dapat terjadi apabila solusio plasenta tidak mendapat penanganan cepat adalah:
  1. Komplikasi pada ibu
    • Kehilangan banyak darah, sehingga memerlukan transfusi darah.
    • Mengalami shock akibat kehilangan banyak darah.
    • Mengalami gagal ginjal ataupun gagal organ lain karena kehilangan banyak darah.
    • Mengalami masalah pembekuan darah (disseminated intravascular coagulation).
    • Kematian.
  2. Komplikasi pada bayi
    • Lahir prematur.
    • Tidak mendapatkan oksigen yang cukup.
    • Pertumbuhan yang terhambat akibat tidak mendapatkan nutrisi yang cukup.
    • Bayi dapat meninggal setelah dilahirkan (stillbirth).
    • Kematian.
Penanganan solusio plasenta harus dilakukan secara cepat dan tepat untuk mencegah komplikasi pada ibu dan bayi, termasuk kematian.Setengah dari kasus-kasus tersebut dapat dikategorikan sebagai kasus ringan dan bisa dirawat dengan pengawasan ketat oleh dokter. Sementara itu, separuh lainnya dikategorikan sebagai tingkat sedang hingga parah.Tidak ada prosedur medis yang bertujuan untuk merekatkan kembali plasenta yang sudah terlepas.Akan tetapi, perawatan medis masih dapat dilakukan meski bergantung pada tingkat keparahan kondisi, jumlah perdarahan, lokasi terlepasnya plasenta, serta usia kehamilan. Berikut penjelasannya:
  • Apabila solusio plasenta termasuk ringan, detak jantung bayi normal, dan terlalu dini untuk melahirkan (umumnya usia kehamilan dibawah 34 minggu), langkah penanganan biasanya adalah menjalani rawat inap untuk memantau kondisi ibu dan janin secara ketat. Jika perdarahan sudah berhenti dan kondisi janin stabil, prosedur rawat jalan juga dapat dilakukan. Dalam beberapa kasus, obat-obatan guna memperkuat paru-paru bayi juga dapat diberikan sebagai antisipasi bila kelahiran prematur diperlukan.
  • Apabila lepasnya plasenta terjadi pada usia kehamilan di atas 34 minggu dan termasuk ringan, persalinan normal (vaginal delivery) dengan pengawasan ketat dapat dilakukan. Akan tetapi, bila kondisi tergolong parah serta membahayakan kesehatan ibu dan janin, operasi caesar harus segera dilakukan. Transfusi darah juga mungkin diperlukan jika perdarahan sangat banyak.
Solutio plasenta tidak dapat dicegah. Meski begitu, Anda dapat mengurangi risikonya dengan mengeliminasi faktor-faktor yang berpotensi menimbulkan kondisi ini lewat:
  • Berhenti merokok.
  • Tidak menggunakan obat-obatan terlarang, seperti kokain, terutama selama masa kehamilan.
  • Memperhatikan keamanan Anda selama masa kehamilan dengan mencegah cedera pada area perut.
  • Mengonsumsi asam folat yang cukup selama masa kehamilan.
  • Segera berkonsultasi pada dokter apabila Anda memiliki tekanan darah tinggi.
Segera konsultasi dengan dokter apabila Anda mengalami ciri-ciri serta gejala yang mengarah pada solusio plasenta, khususnya perdarahan di trimester ketiga kehamilan.Jika Anda pernah mengalami solusio plasenta, dan Anda merencanakan kehamilan lagi, bicarakan dengan dokter kandungan Anda sebelum mulai program hamil untuk mengetahui apakah ada cara untuk mengurangi risiko selanjutnya.
Placental Abruption (Abruptio Placentae) https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK482335/ Diakses pada 9 Juli 2020Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/placental-abruption/symptoms-causes/syc-20376458
Diakses pada 20 April 2019
American Pregnancy. https://americanpregnancy.org/pregnancy-complications/placental-abruption/
Diakses pada 20 April 2019
Better Health Channel. https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/healthyliving/placental-abruption
Diakses pada 20 April 2019
Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/9435-placental-abruption
Diakses pada 20 April 2019
Medlineplus. https://medlineplus.gov/ency/article/000901.htm
Diakses pada 20 April 2019
EMedicine. https://emedicine.medscape.com/article/252810-overview
Diakses pada 9 uli 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Dokter Terkait

Artikel Terkait

Kapan Terminasi Kehamilan Boleh Dilakukan?

Terminasi kehamilan adalah pilihan untuk menghentikan kehamilan demi menyelamatkan nyawa ibu dan janin. Terminasi kehamilan hanya boleh dilakukan jika ada kasus medis yang benar-benar berat dan dilakukan oleh tenaga medis profesional.
26 Feb 2020|Azelia Trifiana
Baca selengkapnya
Untuk mengetahui apakah terminasi kehamilan perlu dilakukan, tentu membutuhkan pemeriksaan secara berkala dengan dokter spesialis kandungan

Nesting adalah Insting Bumil Sebelum Melahirkan, Kenali Tandanya!

Nesting adalah insting seorang ibu hamil untuk membersihkan serta mempersiapkan lingkungannya beberapa minggu menjelang persalinan. Apa saja tanda-tanda nesting yang perlu dipahami?
19 Oct 2020|Fadli Adzani
Baca selengkapnya
Nesting adalah insting seorang ibu hamil yang datang sebelum persalinan.

IUGR adalah Komplikasi Berbahaya pada Bayi Baru Lahir

IUGR adalah kondisi ketika pertumbuhan janin di dalam kandungan terhambat dan ditandai dengan ukuran atau berat badan lahir bayi yang rendah.
08 Aug 2019|Dina Rahmawati
Baca selengkapnya
IUGR adalah komplikasi pada bayi baru lahir