Psikologi

Sleepwalking

Diterbitkan: 04 Dec 2019 | dr. Reisia Palmina BrahmanaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Sleepwalking
Sleepwalking adalah gangguan medis yang menyebabkan penderita berjalan atau melakukan aktivitas dalam keadaan tidur. Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal dengan istilah somnambulism.Aktivitas yang dilakukan penderita sangat beragam. Mulai dari duduk di tempat tidur, berbicara, hingga menyetir.Perlu diketahui bahwa proses tidur terbagi menjadi dua tahapan, yaitu non-rapid eye movement (NREM) dan rapid eye movement (REM). Pada NREM, terdapat empat siklus hingga seseorang akhirnya dapat tidur dan bermimpi di fase REM.Sleepwalking terjadi pada fase NREM, tepatnya fase N3. Fase N3 merupakan salah satu fase tidur yang terjadi ketika seseorang telah tertidur lelap.Prevalensi sleepwalking diperkirakan sekitar 1-15 persen. Anak yang mengompol, mengalami sleep apnea, atau sleep terror juga seringkali mengalami tidur berjalan.Sleepwalking umumnya menyerang anak-anak, khususnya di umur empat hingga delapan tahun. Kondisi ini kemudian menghilang ketika anak menginjak usia remaja.Orang dewasa juga dapat mengalami sleepwalking. Pada beberapa kasus, kondisi ini bisa terus terjadi sejak penderita masih anak-anak hingga ia dewasa. Hal ini seringkali disebabkan oleh masalah psikiologi.
Sleepwalking biasanya muncul pada satu atau dua jam setelah penderita tidur. Kondisi ini dapat berlangsung selama lima hingga lima belas menit.Walaupun disebut sebagai sleepwalking atau tidur berjalan, aktivitas yang dilakukan oleh penderita tidak hanya sebatas berjalan kaki. Penderita dapat melakukan berbagai kegiatan dalam keadaan tidak sadar.Aktivitas tersebut bisa mulai dari yang sederhana seperti duduk di tempat tidur hingga yang rumit seperti menyetir. Namun sesuai namanya, gejala sleepwalking yang paling sering adalah berjalan.Selain itu, penderita tidur berjalan juga bisa mengalami hal-hal berikut:
  • Tidak mengingat kejadian selama sleepwalking.
  • Sulit untuk dibangungkan.
  • Berbicara dalam kondisi tidak sadar (sleeptalking).
  • Gejala ini sering terjadi pada penderita anak-anak.
  • Kejadian ini kerap dialami oleh penderita yang mengalami jika sleepwalking bersama dengan sleep terror.
  • Penderita yang melawan atau kebingungan ketika dibangunkan.
  • Mata penderita terbuka, tapi tatapannya kosong.
  • Tidak merespons ketika diajak berbicara.
Penyebab sleepwalking belum diketahui secara pasti hingga saat ini. Namun kondisi ini memiliki kecenderungan untuk diturunkan dalam keluarga atau bersifat keturunan.Sleepwalking juga diduga berhubungan dengan sleep terror. Anak yang memiliki anggota keluarga yang pernah mengalami sleepwalking atau sleep terror lebih berisiko untuk mengalami tidur berjalan.Walaupun penyebab pastinya tidak diketahui, beberapa faktor di bawah ini diduga dapat berpengaruh. Contohnya, stres, kurang tidur, demam, serta jadwal tidur yang terganggu.Di samping itu, ada pula kondisi-kondisi medis yang dapat mengganggu tidur, sehingga berujung pada sleepwalking. Beberapa di antaranya meliputi:
  • Gangguan pernapasan saat tidur, misalnya obstructive sleep apnea (OSA). OSA menyebabkan napas penderita tiba-tiba berhenti, sehingga terbangun.
  • Konsumsi obat-obatan tertentu, seperti obat sedatif, hiponotik atau obat lainnya yang digunakan untuk gangguan kejiwaan.
  • Konsumsi alkohol.
  • Restless legs syndrome.
  • Penyakit asam lambung naik atau gastroesophageal reflux disease (GERD).
  • Serangan asma di malam hari.
  • Serangan kejang di malam hari.
  • Masalah kejiwaan, contohnya gangguan stres pascatrauma, serangan panik, atau gangguan identitas disosiatif.
Dokter menentukan diagnosis sleepwalking berdasarkan tanya jawab mengenai gejala, faktor risiko, dan riwayat penyakit yang pernah dialami. Dokter kemudian akan mengecek kondisi fisik pasien, misalnya suhu tubuh dan detak jantung.Serangkaian pemeriksaan berikut ini juga bisa dilakukan untuk memastikan diagnosis:
  • Polysomnography

Penderita akan diminta untuk menginap di rumah sakit, tepatnya di sleep lab. Detak jantung, gelombang otak, dan pergerakan penderita selama tidur akan dicatat agar bisa dianalisis.
  • Elektroensefalografi (EEG)

EEG bertujuan memeriksa aktivitas listrik dalam otak pasien. Pemeriksaan ini hanya disarankan jika dokter mencurigai adanya kondisi serius di balik sleepwalking.
Anak yang hanya sesekali mengalami sleepwalking umumnya tidak membutuhkan pengobatan. Orangtua hanya harus memastikan bahwa anak dalam kondisi aman ketika tidur berjalan, sehingga tidak terluka atau cedera.Namun sleepwalking yang parah hingga menganggu penderita maupun orang di sekitarnya memerlukan penanganan lebih lanjut. Beberapa penanganan sleepwalking dari dokter bisa berupa:

Memastikan lingkungan di sekitar penderita aman

Langkah ini bertujuan mencegah cedera ketika penderita mengalami sleepwalking. Berikut langkah-langkah yang perlu dilakukan:
  • Menutup dan mengunci semua jendela maupun pintu ketika penderita tidur.
  • Mengamankan benda-benda tajam.
  • Jangan membiarkan penderita tidur di ranjang bertingkat.
  • Memastikan tidak ada kabel di lantai yang dapat membuat penderita tersandung.

Membimbing penderita kembali tidur di tempat tidur

Penderita yang sedang mengalami sleepwalking boleh dibangunkan. Hal ini tidak berbahaya, namun penderita umumnya akan bangun dalam kondisi bingung.Oleh karena itu, penderita sebaiknya tidak dibangun dan dituntun kembali tidur di ranjangnya.

Mengatasi kondisi yang memicu sleepwalking

Jika sleepwalking disebabkan oleh penyakit tertentu, dokter akan memberikan penanganan terhadap penyakit tersebut.

Mengganti jenis obat yang diberikan pada penderita

Untuk sleepwalking yang dipicu oleh obat-obatan, dokter bisa meresepkan obat baru untuk mengganti obat tersebut.

Mengonsumsi obat antidepresan

Pada beberapa kasus tidur berjalan, dokter mungkin akan meresepkan obat antidepresan seperti benzodiazepine.

Menjalani hipnosis

Hipnosis harus dilakukan oleh psikolog profesional. Tujuan terapi ini adalah agar penderita merasa rileks, sehingga mencegah gangguan tidur seperti sleepwalking.

Menjalani psikoterapi atau konseling

Terapi ini bertujuan mengurangi stres dan meningkatkan perasaaan rileks pada penderita.

Melakukan teknik anticipatory awakenings

Teknik ini dilakukan pada anak yang sering mengalami sleepwalking. Pertama-tama, orangtua diminta untuk mencatat jam tidur anak dan kapan ia mengalami sleepwalking.Kemudian selama beberapa hari, orangtua diminta untuk membangunkan anak 15 menit sebelum waktu perkiraan sleepwalking muncul.

Menerapkan sleep hygiene

Sleepwalking umumnya dapat membaik dengan kuantitas dan kualitas tidur yang baik. Hal ini dapat dilakukan dengan menerapkan sleep hygiene yang meliputi:
  • Memastikan kamar dalam kondisi nyaman, tenang dan cukup gelap.
  • Mendengarkan musik ketika tidur untuk membantu penderita merasa rileks.
  • Menerapkan jadwal tidur siang dan tidur malam di waktu yang sama. Tidur siang untuk anak-anak dapat mencegah kondisi kurang tidur. Sementara membiasakan tidur malam di jam yang sama bisa membantu dalam mengatasi sulit tidur.
  • Menghindari konsumsi banyak air sebelum tidur. Tidur akan terganggu jika penderita ingin buang air kecil saat sedang terlelap.
  • Menjauhi konsumsi kafein di dekat waktu tidur, misalnya kopi, teh, minuman bersoda, atau cokelat.
Anda dapat menghindari sleepwalking dengan menjauhi faktor-faktor risiko maupun pemicunya.
Jika sleepwalking sampai menganggu penderita atau orang-orang di sekitarnya, ada baiknya penderita diajak untuk memeriksakan diri ke dokter. Khususnya bila sleepwalking terjadi berulang kali atau dialami oleh orang dewasa.
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang dirasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang dialami.
  • Cari tahu apakah ada anggota keluarga Anda yang juga pernah mengalami sleepwalking.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang dialami oleh penderita?
  • Apakah penderita memiliki faktor risiko terkait sleepwalking?
  • Apakah ada anggota keluarga yang pernah mengalami keluhan yang sama?
  • Apakah penderita rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah penderita sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan bisa menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis sleepwalking.
Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/14292-sleepwalking
Diakses pada 5 Desember 2019
WebMD. https://www.webmd.com/sleep-disorders/sleepwalking-causes
Diakses pada 5 Desember 2019
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/sleepwalking/symptoms-causes/syc-20353506
Diakses pada 5 Desember 2019
Natioanal Sleep Foundation. https://www.sleepfoundation.org/articles/sleepwalking
Diakses pada 5 Desember 2019
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/sleepwalking/
Diakses pada 5 Desember 2019
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Kenali 7 Cara Menumbuhkan Mental yang Kuat dari Diri Sendiri

Cara menumbuhkan mental yang kuat harus diawali dari diri sendiri. Bersyukur dan berani menerima perubahan dalam hidup merupakan salah satu cara untuk mendapatkan mental yang kuat.
15 Oct 2020|Nina Hertiwi Putri
Baca selengkapnya
Cara menumbuhkan mental yang kuat

Psikoterapi: Metode untuk Atasi Gangguan Mental dan Emosional

Psikoterapi adalah metode terapi yang bertujuan membantu pasien dalam mempelajari cara-cara yang lebih baik untuk menyelesaikan masalah atau kesulitan dalam hidup.
20 Mar 2020|Rieke Saraswati
Baca selengkapnya
Pasien dianjuran bercerita sebebasnya dengan terapis

Kenali Manfaat Mendengarkan Musik untuk Kesehatan yang Luar Biasa

Ternyata, ada beragam manfaat mendengarkan musik untuk kesehatan, seperti membantu mengurangi stres dan gangguan kecemasan, meningkatkan memori, hingga meredakan nyeri.
01 Nov 2019|Nina Hertiwi Putri
Baca selengkapnya
Manfaat mendengarkan musik untuk kesehatan ada beragam mulai dari meredakan stres hingga nyeri