Psikologi

Sleep Paralysis

14 Sep 2021 | Dedi IrawanDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Sleep Paralysis
Di Indonesia, sleep paralysis juga dikenal dengan istilah ketindihan
Sleep paralysis adalah kondisi yang ditandai dengan tubuh sulit bergerak saat awal tidur atau kesulitan saat akan bangun tidur. Ketika mengalaminya, kesadaran serta indra-indra penderita tetap bekerja, tapi tubuh terasa seperti ditekan sehingga penderita menjadi sulit bernapas. Kondisi ini juga dapat disertai oleh halusinasi dan rasa takut.Di Indonesia, sleep paralysis sering disebut ketindihan saat tidur. Kondisi ini tidak membahayakan nyawa, namun bisa menimbulkan gangguan kecemasan. Sleep paralysis juga bisa timbul seiring dengan gangguan tidur lain seperti narkolepsi.Gangguan tidur ini kerap mulai dialami saat penderita masih kecil. Lalu, pada usia 20-30 tahun, sleep paralysis menjadi lebih sering terjadi. Meski begitu, ketindihan bukanlah kondisi medis yang serius. 
Sleep Paralysis
Dokter spesialis Jiwa, Psikolog
GejalaTidak bisa bergerak, sensasi tercekik atau ditindih, paranoia
Faktor risikoKurang tidur, stres, narkolepsi
Metode diagnosisPolysomnogram, elektromiogram, multiple sleep latency test (MSLT)
PengobatanObat-obatan, mengubah kebiasaan tidur, mengobati penyebab
ObatObat antidepresan
KomplikasiMengantuk di siang hari, stres, depresi
Kapan harus ke dokter?Mengalami ketindihan terlalu sering, kecemasan sehingga sulit tidur, sangat mengantuk di siang hari
Gejala sleep paralysis bisa meliputi:

Sadar, tapi tidak bisa bergerak atau bicara

Gejala yang paling umum muncul biasa terjadi saat seseorang bangun tidur atau sedang terlelap. Penderita ketindihan bisa tetap sadar, tapi tidak mampu bergerak atau bicara.

Gejala penyerta

  • Mengalami halusinasi dan ketakutan
  • Merasakan tekanan di dada
  • Mengalami kesulitan bernapas
  • Merasa seolah-olah kematian mendekat
  • Berkeringat
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
Gejala ketindihan bisa terjadi selama beberapa detik hingga beberapa menit. Penderita akan kembali dapat bergerak dan berbicara seperti biasa setelahnya, tapi rasa cemas dan ketakutan untuk kembali tidur mungkin terus berlanjut. 
Hingga kini, penyebab sleep paralysis belum diketahui dengan jelas. Namun para pakar enduga bahwa kondisi ini berkaitan dengan sejumlah faktor.Faktor-faktor risiko sleep paralysis tersebut meliputi:
  • Gangguan REM

Kondisi ketindihan dipercaya berkaitan dengan gangguan pada siklus tidur. Saat tidur, manusia akan melalui berbagai tahap, termasuk REM (rapid eye movement).Saat memasuki tahap REM, tubuh akan mengalami paralisis. Akibatnya, penderita tidak bisa menggerakan tubuh saat bermimpi. Pada kondisi ini, otot akan mengalami relaksasi yang dinamakan kondisi atonia.Tidak hanya saat tidur, atonia juga dapat terjadi saat seseorang terjaga. Inilah yang membuat penderita tidak bisa bergerak meski sedang sadar dan digambarkan sebagai ketindihan.
  • Gangguan psikologis

Masalah psikologis diyakini berhubungan erat dengan sleep paralysis, seperti gangguan kecemasan, depresi, PTSD, serta serangan panik.
  • Penyalahgunaan obat dan alkohol

Orang yang menyalahgunakan obat-obatan dan alkohol dikatakan lebih rentan untuk mengalami ketindihan.
  • Posisi tidur

Pada kebanyakan kasus, sleep paralysis terjadi saat penderita tidur dengan posisi terlentang. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa gangguan tidur ini juga bisa terjadi pada orang yang tidur tengkurap dan miring.
  • Waktu tidur
Durasi tidur yang kurang dapat menjadi salah satu faktor risiko sleep paralysis. Begitu juga dengan orang yang memiliki jadwal tidur yang tidak teratur atau berubah-ubah.
  • Faktor risiko lain

Sleep paralysis dipercaya berhubungan dengan gangguan tidur lain, seperti apnea tidur, insomnia, dan narkolepsi.
  • Riwayat keluarga

Jika memiliki anggota keluarga kandung yang sering ketindihan, seseorang juga diduga dapat mengalami kondisi serupa. 
Sleep paralysis umumnya tidak termasuk sebagai kondisi medis. Tapi jika kondisi ini sudah mengganggu rutinitas seseorang, konsultasi ke dokter mungkin diperlukan.Dokter dapat melakukan langkah-langkah pemeriksaan di bawah ini untuk menentukan diagnosis sleep paralysis:
  • Tanya jawab

Dokter akan menanyakan hal-hal berikut: durasi dan frekuensi ketindihan, riwayat medis pasien maupun keluarga, serta penggunaan obat-obatan.
  • Polysomnogram

Polysomnogram atau sleep study diperlukan untuk mengumpulkan data tidur pasien agar bisa dianalisis. Metode ini dilakukan dengan mencatat gelombang otak, detak jantung, dan pernapasan pasien selama tidur.
  • Elektromiogram (EMG)

Elektromiogram (EMG) akan menunjukkan aktivitas listrik di dalam otak pasien. Jika aktivitasnya sangat rendah, pasien kemungkinan besar mengalami ketindihan.
  • Multiple sleep latency test (MSLT)

Metode MSLT bertujuan mengetahui seberapa cepat pasien bisa tidur siang. Kondisi ini dapat membantu dalam menunjukkan jenis tidur sekaligus ada tidaknya gejala narkolepsi. 
Pengobatan sleep paralysis secara medis mungkin tidak dibutuhkan. Pasalnya, kondsi ini dapat membaik sendiri seiring waktu.Dokter mungkin bisa menganjurkan penanganan sebagai berikut:

Penanganan mandiri

Sederet penanganan mandiri di bawah ini bisa Anda coba untuk mengurangi risiko munculnya ketindihan:
  • Mengubah kebiasaan tidur, misalnya tidur dan bangun di jam yang sama setiap hari
  • Menciptakan kondisi agar tidur yang lebih berkualitas, seperti kamar yang tenang dengan cahaya redup dan suhu tidak terlalu panas atau dingin, atau menyetel musik yang menenangkan
  • Mencukupi waktu tidur, contohnya 6-8 jam untuk orang dewasa
  • Jangan makan sesaat sebelum tidur, dan berikan jeda 3-4 jam
  • Berhenti merokok
  • Menangani kecanduan alkohol
  • Jangan mengonsumsi kafein sesaat sebelum tidur
  • Rutin berolahraga, tapi jangan melakukannya pada 3-4 sebelum tidur
  • Jangan menonton televisi atau main HP ketika hendak tidur

Penanganan medis

Jika diperlukan, dokter dapat merekomendasikan beberapa langkah penanganan berikut sleep paralysis tidak mengurangi kualitas tidur:
  • Mengonsumsi obat antidepresan
  • Mengobati masalah kesehatan mental yang dialami
  • Menangani gangguan tidur lain yang dialami
 

Komplikasi sleep paralysis

Sleep paralysys yang terus terjadi bisa menyebabkan komplikasi berupa:
  • Terganggunya rutinitas pasien
  • Masalah belajar atau dalam pekerjaan, misalnya karena mengantuk di pagi atau siang hari
  • Stres dan depresi, contohnya karena kurang tidur
 
Karena penyebabnya tidak diketahui, cara mencegah sleep paralysis juga belum tersedia. Namun Anda bisa mengurangi risikonya dengan langah-langkah berikut:
  • Mengelola stres, misalnya melakukan yoga,meditasi, atau latihan pernapasan
  • Berolahragalah secara teratur, tapi jangan mendekati waktu tidur
  • Istirahat yang cukup
  • Terapkan jadwal tidur yang teratur
  • Perhatikan obat-obatan yang Anda minum dan efek sampingnya
  • Ketahui interaksi berbagai obat yang dikonsumsi agar Anda dapat menghindari potensi efek samping, termasuk ketindihan
  • Menjalani konseling atau psikoterapi sesuai dengan anjuran dokter
  • Mengatasi masalah mental yang dialami, seperti gangguan kecemasan dan depresi
 
Pada kebanyakan kasus, sleep paralysis hanya terjadi sesekali. Kondisi ini juga tidak berbahaya dan umumnya bukan pertanda dari penyakit tertentu.Meski begitu, tidak ada salahnya bila Anda memeriksakan diri ke dokter jika:
  • Sering mengalami ketindihan
  • Merasa cemas saat mulai tidur
  • Mengalami sulit tidur
  • Sangat mengantuk di siang hari, atau pernah ketiduran secara tiba-tiba
 
Sebelum melakukan kunjungan ke dokter, persiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buatlah daftar seputar gejala yang muncul.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberi dukungan moral maupun membantu mengingat informasi yang disampaikan dokter.
 
Dokter kemungkinan akan mengajukan pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Sejak kapan ketindihan muncul?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait sleep paralysis?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis sleep paralysis agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
WebMD. https://www.webmd.com/sleep-disorders/guide/sleep-paralysis#1
Diakses pada 10 Juni 2019
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/295039.php
Diakses pada 10 Juni 2019
Verywell Health. https://www.verywellhealth.com/what-causes-sleep-paralysis-3014700
Diakses pada 10 Juni 2019
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/sleep-paralysis/
Diakses pada 10 Juni 2019
Healthline. https://www.healthline.com/health/sleep/isolated-sleep-paralysis
Diakses pada 28 April 2021
American Academy of Sleep Medicine. http://sleepeducation.org/sleep-disorders-by-category/parasomnias/sleep-paralysis/diagnosis-treatment
Diakses pada 28 April 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email