Sleep Paralysis

Ditulis oleh Nina Hertiwi Putri
Ditinjau dr. Reni Utari
Di Indonesia, sleep paralysis sering disebut ketindihan.
Di Indonesia, sleep paralysis sering disebut ketindihan.

Pengertian Sleep Paralysis

Sleep paralysis adalah suatu kondisi yang ditandai dengan tubuh yang sulit bergerak saat awal tidur atau saat akan bangun tidur. Ketika mengalaminya, kesadaran serta indra-indra Anda tetap bekerja, namun tubuh terasa seperti ditekan sehingga Anda menjadi sulit bernapas. Kondisi ini juga dapat disertai dengan halusinasi dan rasa takut.

Di Indonesia, sleep paralysis sering disebut dengan ketindihan saat tidur. Kondisi ini tidak membahayakan nyawa, namun bisa menimbulkan gangguan kecemasan. Sleep paralysis juga bisa timbul seiring dengan gangguan tidur lain, seperti narkolepsi.

Gangguan tidur ini kerap mulai dialami saat masa anak-anak. Lalu, pada usia 20-30 tahun, sleep paralysis menjadi lebih sering terjadi. Kondisi ini bukanlah risiko kesehatan yang serius.

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Gejala yang paling umum muncul adalah penderita yang merasakan kesadaran penuh akan keadaan sekitar, tapi tidak dapat bergerak atau berbicara. Gejala ini biasa terjadi saat seseorang akan bangun tidur serta sedang tertidur.

Saat mengalami kondisi ini, Anda mungkin akan mengalami hal-hal yang umumnya dirasakan oleh orang yang sedang ketindihan. Beberapa di antaranya meliputi:

  • Sulit untuk menarik napas dalam-dalam dan dada terasa sesak dan seperti ada tekanan.
  • Tubuh sulit bergerak, kecuali mata. Namun pada beberapa orang, mata pun tidak bisa digerakkan.
  • Mengalami halusinasi yang membuat Anda merasa ada sesuatu atau seseorang di kamar tidur. Sebagian orang juga bisa merasa dirinya terancam.
  • Merasa sangat takut.

Ketindihan bisa terjadi selama beberapa detik hingga beberapa menit. Anda akan kembali bisa bergerak dan berbicara seperti biasa setelahnya, tapi mungkin akan merasa cemas dan ketakutan untuk kembali tidur.

Penyebab

Sleep paralysis bisa disebabkan oleh beberapa hal. Berikut penjelasannya:

1. Gangguan siklus tidur REM

Kondisi ketindihan dipercaya berkaitan dengan gangguan pada siklus tidur. Saat tidur, manusia akan melalui berbagai tahapan, termasuk tahap REM (Rapid Eye Movement).

Saat memasuki tahap REM, tubuh akan mengalami paralisis. Akibatnya, kita tidak bisa menggerakan tubuh saat bermimpi. Pada kondisi ini, otot akan mengalami relaksasi yang dinamakan kondisi atonia.

Tidak hanya saat tidur, atonia juga dapat terjadi saat Anda terjaga. Inilah yang membuat Anda tidak bisa bergerak meski sedang sadar. Kondisi seperti ini seringkali digambarkan sebagai ketindihan.

2. Gangguan psikologis

Kondisi psikologis, seperti gangguan kecemasan dan depresi, juga diyakini berhubungan erat dengan sleep paralysis. Demikian pula dengan penggunaan obat-obatan tertentu dan konsumsi alkohol.

3. Posisi tidur

Pada kebanyakan kasus yang dilaporkan, sleep paralysis terjadi saat penderita tidur dengan posisi terlentang. Meski begitu, tidak menutup kemungkinan bahwa gangguan tidur ini juga bisa terjadi pada orang yang tidur dengan posisi tengkurap dan miring.

4. Waktu tidur

Kebanyakan orang mengalami ketindihan saat tertidur, namun tidak sedikit juga yang mengalaminya saat baru saja terbangun dari tidur. Meski umumnya terjadi saat malam hari, ketindihan tidak jarang bisa muncul saat Anda tidur siang.

5. Penyebab lainnya

Sleep paralysis juga dapat berhubungan dengan gangguan tidur lainnya, seperti apnea tidur dan narkolepsi. Kondisi ini bisa pula muncul jika Anda kurang tidur. Oleh sebab itu, ketindihan lebih rentan dialami oleh orang dengan jadwal kerja di malam hari.

Diagnosis

Sleep paralysis umumnya tidak termasuk sebagai suatu diagnosis medis. Namun jika Anda mengalami gejala-gejala yang serupa dengan indikasi di atas, Anda kemungkinan memang mengalami kondisi ini.

Pengobatan

Sleep paralysis dapat membaik seiring berjalannya waktu. Anda juga bisa memperbaiki kebiasaan tidur dan kondisi kamar tidur Anda agar mendapatkan tidur yang lebih berkualitas. Tak hanya itu, beberapa langkah di bawah ini pun dapat Anda lakukan:

  • Usahakan untuk tidur di jam yang sama setiap malam dan bangun di waktu yang sama pada pagi hari. Idealnya orang dewasa membutuhkan waktu 6-8 jam untuk tidur di malam hari.
  • Buat lingkungan tidur yang nyaman, tenang, gelap, dan tidak terlalu panas maupun terlalu dingin.
  • Hindari konsumsi makanan yang terlalu berat, merokok, atau minum alkohol dan kafein sesaat sebelum tidur.
  • Olahraga teratur, tapi jangan melakukannya dalam jangka waktu empat jam sebelum tidur.

Pencegahan

Untuk mencegah terjadinya sleep paralysis, cara terbaik yang dapat Anda lakukan adalah tidur dengan teratur dan durasi yang cukup. Langkah ini akan membantu Anda untuk menghindari kondisi-kondisi yang bisa memicu ketindihan.

Informasi Dokter

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Pada kebanyakan kasus, sleep paralysis merupakan kondisi yang hanya terjadi sesekali. Kondisi ini juga tidak berbahaya dan umumnya bukan pertanda suatu penyakit tertentu. Meski begitu, tidak ada salahnya Anda memeriksakan diri ke dokter apabila:

  • Sering mengalami ketindihan.
  • Merasa cemas saat memasuki waktu tidur atau kesulitan untuk mendapatkan tidur yang cukup.
  • Sangat mengantuk di siang hari, atau pernah mengalami ketiduran secara tiba-tiba.

Selain itu, Anda juga disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter apabila otot di tubuh pernah mengalami kehilangan kekuatan secara tiba-tiba. Dokter akan membantu Anda menjalani langkah-langkah yang tepat untuk memerbaiki siklus dan kualitas tidur Anda.

Apa yang Akan Dilakukan Dokter pada Saat Konsultasi?

Saat pemeriksaan, dokter akan mengumpulkan informasi seputar kondisi yang Anda alami, dengan melakukan beberapa langkah di bawah ini:

  • Meminta Anda untuk menyebutkan gejala dan membuat catatan tidur selama beberapa minggu.
  • Mendiskusikan riwayat kesehatan Anda, termasuk riwayat kesehatan keluarga dan riwayat gangguan tidur lain yang mungkin Anda alami.
  • Merujuk Anda ke dokter spesialis yang bisa memberikan perawatan gangguan tidur secara lebih rinci.
Referensi

WebMD. https://www.webmd.com/sleep-disorders/guide/sleep-paralysis#1
Diakses pada 10 Juni 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/295039.php
Diakses pada 10 Juni 2019

Very Well Health. https://www.verywellhealth.com/what-causes-sleep-paralysis-3014700
Diakses pada 10 Juni 2019

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/sleep-paralysis/
Diakses pada 10 Juni 2019

Back to Top