Sleep Apnea

Ditinjau dr. Fridawati
Penyumbatan pada dinding tenggorokan dapat mengganggu pernapasan pada saat tidur.
Penyumbatan pada dinding tenggorokan dapat mengganggu pernapasan pada saat tidur.

Pengertian Sleep Apnea

Sleep apnea adalah suatu kondisi serius, ketika dinding tenggorokan mengendur dan menyempit pada saat tidur, sehingga mengganggu pernapasan normal. Kondisi ini dapat mengganggu tidur dan berdampak besar pada penurunan produktivitas serta kualitas hidup.

Ada dua jenis sleep apnea:

  • Obstructive Sleep Apnea (OSA)
    Jenis ini paling umum terjadi. Penyebabnya adalah penyumbatan saluran udara. Hal ini biasanya terjadi ketika jaringan lunak di belakang tenggorokan mengendur saat tidur.
  • Sleep apnea sentral
    Berbeda dari OSA, pada kondisi ini, saluran atau jalan napas tidak terhalangi. Namun otak gagal memberikan sinyal kepada otot  pernapasan untuk bernapas.

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Gejala sleep apnea di antaranya adalah:

  • Tenggorokan kering dan sakit saat bangun tidur
  • Mendengkur kencang atau ngorok
  • Terkadang bangun dengan sensasi tercekik atau sesak
  • Mengalami episode henti napas, kemudian bangun dengan terengah-engah
  • Mengantuk berat dan lemas di siang hari
  • Mengantuk saat mengemudi
  • Sakit kepala di pagi hari
  • Gelisah saat tidur
  • Pelupa, suasana, mood yang tidak stabil dan lekas marah, serta penurunan gairah seks
  • Susah tidur atau insomnia

Penyebab

Obstructive sleep apnea atau gangguan tidur obstruktif terjadi ketika otot-otot di belakang tenggorokan mengendur. Otot-otot ini menopang jaringan lunak dari langit-langit mulut, uvula, tonsil, dinding samping tenggorokan dan lidah. Hal ini menyebabkan saluran udara menyempit dan tertutup ketika menarik napas, sehingga pasokan oksigen yang masuk tidak cukup.

Kondisi ini pada akhirnya akan menurunkan kadar oksigen dalam darah. Hal ini akan dideteksi otak yang kemudian bereaksi membangunkan kita agar jalan udara terbuka kembali. Gangguan ini dapat terjadi singkat dan berulang-ulang dalam satu jam sepanjang malam, yang mengakibatkan penderita tidak bisa tertidur pulas dan lelap.

Sementara itu, central sleep apnea atau gangguan tidur sentral terjadi ketika otak gagal mengirimkan sinyal ke otot pernapasan. Akibatnya, kita berhenti bernapas sesaat. Penderita akan terbangun dengan napas pendek, dan memiliki kesulitan untuk kembali tidur nyenyak.

Sleep apnea dapat terjadi pada siapapun termasuk anak-anak. Beberapa faktor di bawah ini dapat meningkatkan risiko terhadap gangguan tidur.

  • Obesitas atau berat badan berlebih
    Adanya deposit lemak di jaringan lunak saluran pernapasan atas dapat mengganggu pernapasan.
  • Leher yang besar
    Orang yang memiliki leher dengan ukuran yang lebih besar dari 43 cm, berisiko tinggi mengalami gangguan tidur.
  • Saluran pernapasan yang sempit
  • Jenis kelamin
    Gangguan ini lebih sering terjadi pada pria.
  • Usia
    Orang yang berusia lanjut lebih cenderung mendapatkan gangguan tidur ini.
  • Riwayat keluarga
    Risiko akan meningkat jika memiliki anggota keluarga dengan sleep apnea.
  • Penggunaan alkohol dan obat penenang
    Tiga zat ini melemaskan otot-otot pernapasan yang dapat memperburuk gangguan tidur.
  • Merokok
  • Menopause pada wanita oleh karena perubahan hormonal
  • Hidung yang tersumbat

Diagnosis

Evaluasi dapat diperoleh dari tanda dan gejala serta riwayat tidur. Dokter mungkin akan meminta Anda menjalani tes sleep apnea yang disebut polisomnogram. Tes ini dapat dilakukan di pusat gangguan tidur maupun di rumah.

Polysomnogram adalah tes multi komponen yang akan melakukan transmisi secara elektronik dan mencatat aktivitas fisik tertentu saat tidur. Rekaman inilah yang akan dianalisis oleh orang yang ahli dalam bidang gangguan tidur, untuk menemukan sleep apnea atau gangguan tidur lainnya pada pasien.

Jika menderita sleep apnea, maka Anda akan diminta untuk menjalani tes tambahan untuk menentukan penanganan terbaik.

Tes lain untuk sleep apnea adalah:

  • Electroencephalogram (EEG)
  • Electromyogram (EMG)
  • Elektrokardiogram (EKG)
  • Electro-oculogram (EOG)
  • Sensor aliran udara pada hidung
  • Mikrofon untuk merekam dengkur

Pengobatan

Untuk kasus sleep apnea awal, perubahan gaya hidup yang dapat dilakukan di antaranya adalah:

  • Menurunkan berat badan jika diperlukan
  • Berolahraga secara teratur
  • Hindari atau batasi konsumsi alkohol, dan hindari konsumsi obat penenang
  • Berhenti merokok
  • Menggunakan obat dekongestan hidung dan mengobati alergi yang menyebabkan hidung tersumbat atau gangguan pernapasan lainnya
  • Jangan tidur telentang

Untuk kasus yang lebih berat, pengobatan pengobatan dapat dilakukan dengan:

  • Continuous Positive Airway Pressure (CPAP)
    Ini merupakan alat untuk meniupkan udara bertekanan positif ke dalam hidung saja, atau hidung dan mulut. Aliran udara ini bertujuan mencegah otot-otot tenggorokan menutup. Sehingga, penderita dapat bernapas dengan baik atau meringankan gejala yang ditimbulkan oleh obstructive sleep apnea.
  • Bilevel Positive Airway Pressure (BiPAP)
    Cara kerja alat ini mirip seperti CPAP. Namun, tekanan aliran udara berubah saat menarik dan membuang napas.
  • Mandibular Advancement Device (MAD)
    Alat ini didesain untuk menahan rahang dan lidah ke depan. Tujuannya, supaya tercipta ruang lebih di belakang tenggorokan dan mencegah penyempitan saluran pernapasan yang menyebabkan seseorang mendengkur. Alat ini dipakai di atas gigi ketika penderita sedang tidur. Alat tidak dianjurkan bagi penderita sleep apnea berat, tetapi dapat menjadi pilihan jika penderita tidak dapat menggunakan CPAP. Alat ini sebaiknya dibuat oleh dokter gigi yang mempunyai pengalaman dalam menangani pasien-pasien dengan gangguan tidur.
  • Operasi
    Ini adalah pilihan terakhir dalam menangani sleep apnea. Sebab,penanganan ini tidak terlalu efektif dan memiliki banyak risiko serta Cara ini dianjurkan ketika semua perawatan yang lain gagal dan ketika kondisi penderita sangat berat, serta berpotensi menurunkan kualitas hidup penderita. Beberapa opsinya adalah operasi pengangkatan jaringan berlebih di dalam tenggorokan (uvulopalatopharyngoplasty), tonsilektomi (pengangkatan tonsil), adenoidektomi (pengangkatan adenoid), trakeostomi, bedah bariatric bagi orang yang mengalami obesitas. 

Informasi Dokter

Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Berkonsultasi dengan Dokter?

Ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk mempersiapkan konsultasi dengan dokter, di antaranya adalah:

  • Buat daftar pertanyaan tentang hal-hal yang perlu Anda lakukan, seperti membuat catatan tidur, atau hal lainnya.
  • Tuliskan setiap gejala yang Anda alami.
  • Tuliskan informasi pribadi Anda, seperti masalah kesehatan, riwayat keluarga dengan sleep apnea atau gangguan tidur lainnya dan stres yang Anda alami.
  • Tuliskan daftar semua obat dan dosis yang Anda sedang konsumsi saat ini termasuk suplemen dan vitamin.
  • Bawa pasangan tidur atau anggota keluarga yang mengetahui pola tidur Anda, jika memungkinkan. Dokter mungkin akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada pasangan tidur Anda untuk mengetahui kualitas tidur Anda.
  • Tuliskan pertanyaan yang ingin Anda ajukan kepada dokter.

Apa yang Akan Dilakukan Dokter pada Saat Konsultasi?

Sebelum mendiagnosa keadaan Anda, dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan seperti:

  • Kapan pertama kali gejala muncul?
  • Apakah gejala tersebut datang sesekali atau selalu muncul?
  • Apakah Anda mendengkur? Apakah dengkuran Anda mengganggu tidur orang lain?
  • Apakah Anda mendengkur di semua posisi tidur atau hanya ketika tidur telentang?
  • Adakah Anda pernah berhenti bernapas saat tidur? Jika ya, berapa kali kira-kira terjadi dalam semalam?
  • Seberapa segarkah tubuh Anda ketika bangun tidur? Apakah Anda lelah atau mengantuk di siang hari?
  • Apakah Anda memiliki anggota keluarga dengan masalah tidur?
Referensi

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/obstructive-sleep-apnea/symptoms-causes/syc-20352090
Diakses pada 18 Oktober 2018

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/obstructive-sleep-apnoea
Diakses pada 18 Oktober 2018

WebMD. https://www.webmd.com/sleep-disorders/sleep-apnea
Diakses pada 18 Oktober 2018

Back to Top