Psikologi

Skizofrenia

Diterbitkan: 26 Nov 2018 | dr. Joni Indah SariDitinjau oleh dr. Anandika Pawitri
image Skizofrenia
Penderita skizofrenia mengalami halusinasi dan delusi
Skizofrenia adalah gangguan mental kronis. Kelainan jiwa ini ditandai dengan gangguan pola pikir, perilaku, dan emosi, serta kesulitan menerima realita.Gejala-gejala skizofrenia tersebut menyebabkan penderita sering mengalami masalah di sekolah, pekerjaan, maupun hubungan sosial dengan orang lain.Gejala skizofrenia biasanya pertama kali muncul di akhir masa remaja atau awal usia 20 tahun pada pengidap laki-laki, dan pada usia 20-30 tahun pada penderita wanita.Skizofrenia tidak dapat disembuhkan dan gejalanya dapat hilang timbul. Penderita harus menjalani pengobatan seumur hidup supaya dapat mengendalikan gejala-gejala yang dialami dan beraktivitas dengan normal. 
Skizofrenia
Dokter spesialisPsikolog, Jiwa
GejalaHalusinasi, delusi
Faktor risikoKeturunan, biologis, lingkungan
Metode diagnosisWawancara psikiatri, pemeriksaan fisik, pedoman DSM
PengobatanPemberian obat, intervensi psikososial, ECT
ObatAntipsikotik, antidepresan, anticemas
KomplikasiBunuh diri
Kapan harus ke dokter?Melakukan kekerasan, percobaan bunuh diri
Gejala skizofrenia terbagi menjadi empat bagian di bawah ini:

1. Gejala negatif

Gejala negatif ditandai dengan:
  • Hiangnya berbagai macam emosi yang dirasakan dan ditampilkan
  • Penurunan kemampuan untuk berbicara
  • Berkurangnya minat dan motivasi
Penderita skizofrenia juga memiliki keinginan untuk tetap merasa lesu dan malas, serta menolak untuk berubah. 

2. Gejala positif

Gejala positif meliputi ciri-ciri psikosis yang meliputi:
  • Halusinasi, yang biasanya berbentuk suara-suara atau bayangan yang sebenarnya tak nyata
  • Delusi, misalnya berkhayal bahwa dirinya dikejar-kejar organisasi tertentu
  • Perilaku dan cara bicara yang tidak teratur (meracau)

3. Gejala kognitif

Gejala kognitif yang ditandai dengan:
  • Penurunan fungsi memori
  • Sukar konsentrasi
  • Bekurangnya kemampuan untuk mengatur serta berpikir abstrak
  • Kesulitan dalam menangkap dan memahami sinyal atau tanda-tanda dalam hubungan interpersonal 

4. Gejala suasana hati (mood)

Penderita terkadang merasa senang atau sedih dengan cara yang sulit dimengerti. Penderita juga dapat merasa murung atau tertekan.Penderita skizofrenia umumnya tidak menyadari kondisinya. Karena itu, bantuan dari orang-orang di sektarnya sangat dibutuhkan untuk mengenali ciri-ciri gangguan mental ini pada pengidap, sehingga bisa membujuknya untuk berkonsultasi ke dokter maupun psikolog.Baca juga: Berbagai Jenis Terapi Perilaku untuk Mengatasi Gangguan Psikologis 
Penyebab skizofrenia belum diketahui hingga saat ini. Namun kombinasi faktor genetik, biologis, dan lingkungan diperkirakan ikut andil dalam mempertinggi risiko terjadinya gangguan jiwa ini.
  • Faktor biologis

Faktor risiko skizofrenia ini bisa berupa kelainan pada struktur otak atau adanya zat-zat kimia tertentu dalam otak (seperti dopamin dan glutamat). 
  • Faktor genetik

Orang yang memiliki anggota keluarga kandung dengan skizofrenia, akan mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk mengalami gangguan jiwa yang sama.
  • Faktor lingkungan

Salah satu contoh faktor risiko dari lingkungan adalah konsumsi obat-obatan psikoaktif atau psikotropika, yang mampu mengubah persepsi dan pemikiran saat seseorang masih remaja. Orang tersebut lebih rentan untuk mengalami skizofrenia.Demikian pula pada anak yang lahir dari seorang ibu yang mengalami komplikasi kehamilan, misalnya paparan zat beracun atau virus tertentu. Pasalnya, komplikasi ini dapat mengganggu perkembangan otak janin. 
Diagnosis skizofrenia dapat dipastikan melalui beberapa pemeriksaan yang meliputi:

1. Evaluasi kejiwaan

Dokter spesialis kejiwaan atau psikolog dapat:
  • Mengamati penampilan dan sikap pasien
  • Memberikan sederet pertanyaan mengenai suasana hati, delusi, halusinasi, penggunaan zat-zat tertentu, serta latar belakang diri dan keluarga. Langkah ini juga memungkinkan dokter untuk menilai tingkat risiko pasien dalam membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

2. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan lebih lanjut ini bisa berupa:
  • Tes darah dan tes urine untuk menentukan penyebab gejala yang dialami oleh penderita
  • Pemindaian, seperti CT scan dan MRI pada kepala

Kategori psizofrenia menurut DSM-5

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5), seseorang dianggap mengidap skizofrenia apabila ia:
  • Mengalami setidaknya dua gejala dari deretan gejala skizofrenia dalam DSM-5. 
  • Salah satu dari kedua gejala yang dialami harus memiliki halusinasi, delusi, atau cara bicara yang meracau. 
  • Gejala-gejala yang dialami harus berlangsung terus-menerus selama setidaknya enam bulan.
  • Gejala-gejala tetap berlangsung selama setidaknya satu bulan dan menyebabkan gangguan dalam bidang pekerjaan dan sosial. Gejala ini bisa berkurang jika penanganan efektif.
  • Gejala yang dialami tidak dapat dijelaskan dengan sebagai ciri-ciri penyakit lain.
Baca jawaban dokter: Sering berhalusinasi, merasa takut/cemas, apakah penyebabnya? 
Cara mengobati skizofrenia akan tergantung pada tingkat keparahan penyakit dan seberapa lama penderita sudah mengalaminya. Beberapa jenis penanganan skizofrenia yang dianjurkan oleh dokter umumnya meliputi:

Obatan-obatan

Pilihan obat yang biasanya digunakan untuk mengatasi gejala skizofrenia adalah obat golongan anti-psikotik. Obat anti-psikotik bekerja dengan cara mempengaruhi neurotransmiter (zat kimiawi) dalam otak yaitu dopamin.Tujuan diberikannya anti-psikotik adalah untuk mengatasi gejala skizofrenia dengan dosis terendah yang efektif. Selain anti-psikotik, dokter juga mungkin akan meresepkan obat anti-depresan atau anti-cemas.  

Intervensi psikososial

Intervensi psikososial yang dapat dilakukan untuk mengatasi gejala skizofrenia antara lain:
  • Terapi individu dengan psikoterapi: terapi ini bertujuan untuk membantu penderita memperbaiki pola pikir penderita skizofrenia, menghadapi stres, dan mengenali tanda awal kambuhnya gejala
  • Terapi sosial: terapi ini bertujuan untuk memperbaiki kemampuan komunikasi, interaksi sosial, serta kemampuan penderita skizofrenia untuk berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari.
  • Terapi keluarga: terapi ini bertujuan untuk menyediakan dukungan dan pengetahuian bagi keluarga penderita skizofrenia. Penting sekali bagi keluarga penderita skizofrenia mengenali apa itu skizofrenia agar mereka dapat membantu dan memahami penderita skizofrenia dengan lebih baik.
  • Terapi rehabilitasi vokasional: terapi ini bertujuan membantu penderita skizofrenia mempersiapkan, mencari, dan kembali bekerja.

Terapi elektrokonvulsif (ECT)

Terapi ECT ditujukan bagi penderita skizofrenia yang tidak berespon terhadap terapi obat-obatan dan pada panderita skizofrenia yang menunjukkan gejala depresi. 

Komplikasi skizofrenia

Skizofrenia yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan sederet komplikasi berikut:
  • Percobaan bunuh diri
  • Melakukan tindakan yang membahayakan orang lain
  • Depresi
  • Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan
  • Masalah dalam kehidupan kerja atau sekolah
  • Masalah keuangan
  • Pengangguran
  • Dikucilkan oleh masyarakat sekitar
  • Masalah kesehatan fisik
 
Langkah pencegahan skizofrenia belum diketahui secara pasti. Pasalnya, penyebab gangguan mental ini juga tidak diketahui.Namun beberapa hal di bawah ini dapat dilakukan oleh penderita untuk mencegah kambuhnya gejala skizofrenia:
  • Patuh pada pengobatan dan anjuran yang diberikan dokter.
  • Berbicara dengan orang-orang terdekat Anda mengenai masalah yang dihadapi atau mengikuti komunitas-komunitas dengan orang-orang yang mengalami hal yang serupa agar dapat berdiskusi dan saling mendukung satu sama lainnya.
  • Meminta bantuan kepada orang lain atau organisasi-organisasi tertentu yang dapat membantu Anda untuk memenuhi kehidupan sehari-hari Anda, seperti transportasi, tempat tinggal, dan sebagainya.
  • Mempelajari tentang kondisi yang Anda alami
  • Mempelajari teknik-teknik untuk mengatur stres dan relaksasi, seperti meditasi, yoga, dan sebagainya.
  • Menerapkan pola hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan yang bergizi, berolahraga, serta cukup beristirahat.
Baca juga: 5 Teknik Relaksasi yang Patut Dicoba untuk Redakan Stres
Penderita skizofrenia umumnya tidak menyadari bahwa dirinya mengalami masalah mentalnya. Mereka juga mungkin tidak merasa bahwa perilakunya mengganggu kehidupan maupun orang-orang di sekitarnya.Oleh karena itu, penting bagi orang terdekat pengidap untuk mengenali gejala skizofrenia dan membujuknya untuk memeriksakan diri ke psikolog atau dokter. Anda juga perlu segera menghubungi dokter bila penderita:
  • Berniat melukai diri sendiri
  • Merencanakan atau melakukan percobaan bunuh diri
  • Melakukan hal yang berbahaya bagi dirinya sendiri atau orang lain
 
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat membantu penderita skizofrenia untuk mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang dirasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang dialami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarganya.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang dikonsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Dampingi penderita ketika berkonsultasi ke dokter. Anda bisa memberikan dukungan moral maupun membantu penderita dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang dirasakan?
  • Kapan gejala pertama kali muncul?
  • Apakah penderita memiliki faktor risiko terkait penyakit skizofrenia?
  • Apakah penderita rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah penderita pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah penderita coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis gangguan bipolar agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/schizophrenia/symptoms-causes/syc-20354443
Diakses pada 18 Oktober 2018
Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/288259-overview
https://emedicine.medscape.com/article/1154851-overview
Diakses pada 18 Maret 2019
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/schizophrenia/
Diakses pada 18 Oktober 2018
Healthline. https://www.healthline.com/health/hallucinations
Diakses pada 11 Juli 2020
WebMD. https://www.webmd.com/schizophrenia/mental-health-schizophrenia#1
Diakses pada 11 Juli 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Perilaku Sering Pura-pura Sakit: Apakah Perlu Konsultasi Psikologi?

Sindrom Munchausen adalah gangguan psikologis yang menyebabkan penderitanya sering pura-pura sakit. Tujuannya, untuk mendapatkan perhatian. SIndrom Munchausen ini diakibatkan oleh kekerasan pada anak yang berdampak pada perilakunya.
13 Jun 2019|Nina Hertiwi Putri
Baca selengkapnya
Konsultasi psikologi adalah satu-satunya pilihan perawatan untuk mengatasi sindrom Munchausen

Mengenal Gejala Gangguan Mental Skizofrenia Hebefrenik

Skizofrenia hebefrenik umumnya digejalai dengan emosi yang tidak sesuai dan juga halusinasi yang singkat. Kondisi juga biasa disebut skizofrenia disorganisasi.Baca selengkapnya
Gejala skizofrenia hebefrenik

Disorientasi, Saat Seseorang Bingung dengan Lingkungan dan Identitasnya Sendiri

Disorientasi adalah perubahan kondisi mental yang membuat seseorang bingung dengan lokasinya berada, identitas dirinya, maupun waktu dalam situasi tersebut. Disorientasi dapat disebabkan beragam hal, terutama kondisi delirium, demensia, dan efek samping obat-obatan.
29 Aug 2020|Arif Putra
Baca selengkapnya
Disorientasi adalah perubahan kondisi mental yang membuat seseorang kebingungan dan tidak mengetahui identitas dirinya