Infeksi

Sistiserkosis

Diterbitkan: 28 Mar 2019 | Lenny TanDitinjau oleh dr. Widiastuti
image Sistiserkosis
Hindari makanan yang belum dicuci dan dimasak sampai matang.
Sistiserkosis adalah infeksi jaringan parasit yang disebabkan oleh kista larva dari cacing pita Taenia solium. Kista larva ini menginfeksi otak, otot, jaringan lain dan sususanan saraf pusat (neurocysticercosis). Neurocysticercosis merupakan penyebab utama kejang pada infeksi cacing pita pada orang dewasa, terutama pada negara–negara berkembang seperti Amerika latin, Asia, Afrika–sub Sahara. Seseorang mengalami sistiserkosis karena menelan telur cacing pita yang ditemukan pada feses orang yang sudah terinfeksi cacing ini. Orang yang tinggal bersamaan dengan penderita memiliki risiko tinggi mengalami hal serupa. Mengonsumsi daging babi yang tidak dimasak dengan benar dapat menyebabkan cacing pita yang berada di usus jika daging babi mengandung larva. Babi menjadi terinfeksi karena mengonsumsi telur cacing pita yang terdapat pada feses orang yang terinfeksi cacing pita. 
Sistiserkosis
Dokter spesialis Penyakit Dalam
Seringkali, cacing menetap di dalam otot dan tidak menimbulkan gejala. Gejala yang terjadi tergantung dimana cacing pita tersebut ditemukan dan jumlah dari kista larva.
  • Otak. Kejang pada sekitar 70% dari penderita neurosistiserkosis atau gejala yang sama dengan tumor otak.
  • Mata. Penurunan penglihatan atau kebutaan.
  • Jantung. Ritme jantung yang tidak normal atau gagal jantung.
  • Tulang belakang. Kelemahan atau perubahan dalam berjalan karena kerusakan saraf di tulang belakang.
Sistiserkosis pada manusia disebabkan oleh tertelannya larva dari cacing pita babi, Taenia Solium, yang kemudian membentuk kista di dalam berbagai organ. Ketika telur dari parasit ini tertelan oleh manusia, telur tersebut akan menetas dan embrio berpindah dari dinding usus kedalam pembuluh darah dan aliran darah. Bentuk dari kista pada jaringan tubuh yang berbeda menyebabkan terjadinya gejala yang akan bervariasi tergantung dari lokasi dan jumlah kista.Transmisi atau penularan Manusia merupakan rumah bagi taenia solium, dan manusia dapat membawa cacing pita di dalam usus mereka (taeniasis), seringkali tanpa gejala. Telur–telur cacing pita akan dikeluarkan secara berkala melalui kotoran (feses) manusia yang terinfeksi. Lalu babi akan makan telur cacing pita yang telah terkontaminasi makanan atau minumannya, sehingga babi tersebut kemudian terinfeksi dan berkembang menjadi kista didalam jaringan tubuh mereka. Ketika manusia makan daging babi mentah atau tidak matang dari babi yang telah terinfeksi, maka manusia akan menelan kista yang terdapat didalam daging babi tersebut. Kista–kista tersebut akan menetaskan larva cacing didalam usus manusia dan berkembang menjadi cacing dewasa, sehingga siklus tersebut menjadi lengkap dan berlanjut di dalam tubuh manusia.Sistiserkosis pada manusia akan terjadi setelah manusia makan makanan yang mengandung telur dari taenia solium. Biasanya telur–telur tersebut menyebar melalui makanan, air, atau permukaan yang telah terkontaminasi oleh kotoran yang mengandung telur tersebut. Seringkali, telur cacing pita dapat menyebar melalui tangan dari penderita sistiserkosis yang tidak mencuci tangan dengan baik atau dari buah–buahan dan sayuran yang diberi pupuk atau disiram dengan air yang mengandung kotoran manusia yang telah terinfeksi.Faktor RisikoFaktor risiko yang berhubungan dengan terkenanya sistiserkosis meliputi hidup didaerah yang endemis parasit (yang umumnya di daerah pedesaan dimana babi dapat berkeliaran secara bebas dan kontak dengan kotoran manusia), makan makanan atau minum minuman yang telah terkontaminasi dengan telur cacing pita, dan hidup bersama dimana anggota keluarga lainnya memiliki taeniasis. Orang yang menderita taeniasis dan memiliki kebersihan yang buruk memiliki risiko yang meningkat untuk menginfeksi dirinya sendiri.
Diagnosa dari sistiserkosis terkadang sedikit menyulitkan, banyak penderita yang tidak mengalami gejala dan diagnosis dilakukan setelah penderita mengalami gejala dari penyakit tersebut. Diagnosis membutuhkan kombinasi dari pemeriksaan fisik, penunjang dan pemeriksaan dengan pencitraan.Secara umum, presentasi klinis pasien bersama dengan hasil pemeriksaan pencitraan radiografi abnormal mengarah pada diagnosis neurocysticercosis. Pemeriksaan darah terkadang digunakan sebagai tambahan dalam membuat diagnosis, meskipun tidak selalu membantu atau akurat. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan dalam laboratorium khusus. Biopsi dari jaringan yang terinfeksi dibutuhkan untuk membuat diagnosa, walaupun jarang. Kultur feses terkadang diperlukan karena dapat mengandung telur parasit yang dapat diidentifikasi.
Pengobatan dari sistiserkosis tergantung dari faktor yang beragam, termasuk gejala yang dialami, lokasi dan jumlah dari kista cacing pita, serta tahap dari perkembangan kista. Secara umum, pengobatan dari sistiserkosis disesuaikan dengan kondisi penderita dan persentasi gejala mereka, yang dapat meliputi antihelmintik, kortikosteroid, anti kejang, dan pembedahan.Pada sistiserkosis, pengobatan yang diberikan antara lain:
  • Obat untuk membunuh parasit, seperti albendazole atau praziquantel yang harus digunakan dengan hati–hati jika menderita neurosistiserkosis karena dapat menyebabkan peradangan disekitar kista yang mati.
  • Kortikosteroid atau anti radang untuk mengurangi pembengkakan atau inflamasi.
  • Anti kejang digunakan pada individu dengan neurosistiserkosis yang mengalami kejang atau memiliki risiko tinggi mengalami kejang berulang.
Jika kista terdapat di mata atau otak, kortikosteroid harus digunakan beberapa hari sebelum menggunakan pengobatan lain untuk menghindari masalah yang disebabkan oleh pembengkakan saat pengobatan antiparasit. Tidak semua orang dapat sembuh menggunakan pengobatan antiparasit. Terkadang operasi dibutuhkan untuk menghilangkan parasit dari area yang terinfeksi seperti pada neurosistiserkosis atau sistiserkosis pada mata atau subkutan.
Pencegahan dari sistiserkosis dapat dicapai melalui beberapa langkah berikut, seperti:
  • Edukasi publik mengenai parasit tersebut dan cara penularannya.
  • Hindari makan daging babi mentah atau tidak matang pada daerah endemis untuk mencegah terjadinya infeksi pada usus (taeniasis).
  • Hindari terjadinya penularan secara fecal–oral dengan mencuci tangan secara teratur, dan juga dengan penanganan dan persiapan makanan dengan benar.
  • Inspeksi atau pemeriksaan daging dan membuang daging yang terinfeksi secara benar terutama pada daerah yang endemis.
Serta hindari makanan yang belum dicuci, jangan mengonsumsi makanan yang tidak dimasak ketika bepergian dan selalu cuci buah-buahan dan sayuran dengan baik.
Jika merasa mengalami gejala sistiserkosis, segera hubungi dokter.
CDC. https://www.cdc.gov/parasites/cysticercosis/
Diakses pada 2 Januari 2019
MedicineNet. https://www.medicinenet.com/cysticercosis/article.htm#cysticercosis_pork_tapeworm_infection_facts
Diakses pada 2 Januari 2019
Medlineplus. https://medlineplus.gov/ency/article/000627.htm
Diakses pada 2 Januari 2019
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Ciri-ciri Paru-paru Basah dan Sederet Penyakit yang Jadi Penyebabnya

Paru-paru basah adalah kondisi menumpuknya cairan pada area di sekitar paru-paru dan rongga dada. Ciri-cirinya adalah sakit dada, batuk kering, demam, sesak napas, napas pendek, sering cegukan, dan cepat merasa lelah. Paru-paru basah paling sering disebabkan karena adanya kebocoran dari organ lain, kanker, infeksi bakteri, dan penyakit autoimin.
12 Aug 2019|Armita Rahardini
Baca selengkapnya
Paru-paru basah biasanya baru akan terdeteksi setelah melakukan rontgen dada

Obat Cacing untuk Cegah Cacingan dan Risiko Gizi Buruk

Obat cacing biasa dikonsumsi untuk mencegah dan mengatasi cacingan. Penyakit satu ini perlu segera diatasi agar tidak menyebabkan kurang gizi dan komplikasi lainnya.
31 Oct 2019|Armita Rahardini
Baca selengkapnya
Obat cacing sangat efektif untuk mengobati cacingan

Mengenal Penyebab, Gejala, dan Cara Menyembuhkan Bronkopneumonia pada Anak

Bronkopneumonia pada anak terjadi ketika ada peradangan di paru-paru. Jangan diabaikan, penyakit ini merupakan salah satu penyebab kematian balita terbesar.
30 Jan 2020|Azelia Trifiana
Baca selengkapnya
Bronkopneumonia pada anak adalah penyakit mematikan