Sindrom Nefrotik

Ditinjau dr. Miranda Rachellina
Penyebab sindrom nefrotik adalah terjangkit penyakit ginjal seperti ginjal diabetik dan nefropati membranosa
Mengonsumsi makanan yang rendah lemak dan rendah kolesterol membantu mengurangi risiko terjangkit sindrom nefrotik.

Pengertian Sindrom Nefrotik

Sindrom nefrotik adalah sebuah kumpulan gejala yang menunjukkan adanya gangguan ginjal. Di Indonesia, terdapat sebanyak 150.000 kasus sindrom nefrotik setiap tahunnya. Sindrom nefrotik meliputi gejala berupa:

  • Albuminuria – jumlah protein albumin yang banyak dalam urine
  • Hiperlipidemia – jumlah kolesterol dan lemak yang tinggi dalam darah
  • Edema – pembengkakan yang umumnya terjadi pada kaki, tangan, atau wajah
  • Hipoalbuminemia– jumlah protein albumin yang rendah dalam darah

Albumin merupakan protein yang bersifat seperti spons karena dapat menyerap air berlebih dalam tubuh, membawanya pada aliran darah, kemudian dibawa ke ginjal untuk dikeluarkan dari tubuh. Ketika albumin keluar secara berlebih dalam urine atau terjadinya albuminuria, maka tubuh akan kehilangan kapasitas untuk menyerap air yang berlebih. Maka dari itu, tubuh akan mengalami edema atau pembengkakan.

Sindrom nefrotik terjadi karena adanya masalah pada sistem penyaringan ginjal. Ginjal memiliki komponen penyaring yang disebut dengan glomeruli. Glomeruli adalah kumpulan pembuluh darah yang sangat kecil, yang berfungsi untuk membersihkan sisa-sisa metabolisme tubuh dan mengeluarkan cairan berlebih. Cairan dan sisa metabolisme tersebut kemudian menjadi urine dan dialirkan ke kandung kemih.

Saat darah melewati ginjal yang sehat, glomeruli akan menyaring sisa-sisa metabolisme (metabolit), sehingga metabolit yang masih diperlukan oleh tubuh akan terserap kembali, dan yang tidak dibutuhkan akan dibuang. Namun jika terjadi kerusakan pada glomeruli, maka dapat terjadi kebocoran pada ginjal, sehingga protein seperti albumin yang semestinya ditahan dalam tubuh, dapat keluar ke dalam urine. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya albuminuria.

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Gejala sindrom nefrotik umumnya merupakan gejala yang kurang khas, seperti adanya penambahan berat badan, penurunan nafsu makan, rasa lelah, terjadi edema atau pembengkakan, dan urine yang berbusa. Untuk gejala pasti, dibutuhkan pemeriksaan lab berupa pemeriksaan urine. Dari pemeriksaan urine, gejala yang menunjukan sindrom nefrotik adalah jumlah albumin urine >3 gram dalam 24 jam, yakni 20 kali di atas normal.

Sindrom nefrotik dapat terjadi pada siapa saja, tetapi prevalensi terjadinya lebih banyak pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Pada anak-anak, sindrom nefrotik paling sering terjadi pada golongan usia 2-6 tahun. Faktor lain yang dapat meningkatkan kejadian sindrom nefrotik adalah memiliki penyakit ginjal seperti glomerulosklerosis fokal segmental (pengerasan pembuluh darah glomeruli), diabetes melitus, konsumsi antibiotik atau obat anti-inflamasi non-steroid, dan memiliki infeksi lain seperti HIV, hepatitis B, hepatitis C, dan malaria.

Penyebab

Sindrom nefrotik umumnya disebabkan oleh penyakit yang menyerang ginjal. Jika sindrom nefrotik disebabkan oleh penyakit yang hanya menyerang ginjal, maka kondisi tersebut dinamakan sindrom nefrotik primer. Namun, jika sindrom nefrotik disebabkan oleh penyakit lain di luar ginjal, maka dinamakan sindrom nefrotik sekunder. Penyakit yang umum menyebabkan sindrom nefrotik adalah:

  • Penyakit ginjal diabetik. Diabetes dapat mencetuskan nefropati diabetik atau kerusakan ginjal akibat diabetes.
  • Minimal change disease. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit paling sering yang menyebabkan sindrom nefrotik pada anak-anak. Minimal change disease menyebabkan fungsi ginjal yang abnormal, tetapi pada pemeriksaan mikroskopis, sel ginjal yang bermasalah tersebut akan tampak normal. Penyebab utama minimal change disease hingga saat ini belum sepenuhnya dimengerti.
  • Glomerulosklerosis fokal segmental. Penyakit ini ditandai dengan adanya jaringan parut atau bekas luka pada glomeruli yang menyebabkan pengerasan atau kekakuan pada pembuluh darah glomeruli. Hal ini disebabkan oleh penyakit lain, kelainan genetik, atau dapat terjadi secara spontan.
  • Nefropati membranosa. Kelainan ginjal ini terjadi akibat menebalnya membran glomeruli, sering kali disebabkan oleh penyakit lain seperti hepatitis B, lupus, kanker, dan malaria.
  • Sistemik lupus eritematosus. Penyakit ini merupakan sebuah inflamasi kronik yang dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal.
  • Kelainan ini terjadi ketika sebuah protein yang disebut amiloid terakumulasi pada organ dalam tubuh. Jika amiloid tertumpuk dalam ginjal, maka hal ini akan mengganggu fungsi filtrasi (penyaringan) ginjal.
  • Pembekuan darah pada vena (pembuluh darah balik) ginjal. Kondisi ini umumnya disebut trombosis vena ginjal, hal ini terjadi ketika terjadinya pembekuan darah yang terjebak dalam vena ginjal.

Diagnosis

Untuk menegakkan diagnosis sindrom nefrotik, dibutuhkan dokter spesialis nefrologi, yakni dokter yang memiliki spesialisasi dalam penyakit dan kelainan ginjal. Berikut adalah prosedur dan tes yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis:

  • Penelusuran gelaja: dokter dapat menanyakan hal-hal seperti adanya tanda dan gejala sindrom nefrotik yang dirasakan, apakah pasien memiliki penyakit ginjal, sedang minum obat-obatan tertentu, dan lain-lain.
  • Pemeriksaan urine: pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat apakah adanya kelainan pada urine seperti jumlah protein albumin yang tinggi.
  • Pemeriksaan darah: pemeriksaan darah bertujuan untuk melihat jumlah serum albumin dalam darah. Angka yang rendah dapat menandakan sindrom nefrotik. Selain itu, jumlah kolesterol dan trigliserid juga akan dilihat apakah terjadi peningkatan atau tidak. Kemudian, serum kreatinin dan urea darah juga akan dilihat untuk menilai fungsi ginjal secara keseluruhan. 
  • Biopsi ginjal: untuk lebih pasti, dokter dapat meminta sampel jaringan ginjal yang disebut dengan prosedur biopsi ginjal.

Pengobatan

Tujuan dari pengobatan sindrom nefrotik adalah untuk meminimalisir gejala, mencegah terjadinya komplikasi, dan memperlambat kerusakan ginjal. Untuk mengontrol sindrom nefrotik, maka penyakit yang mendasari juga harus diobati. Berikut adalah beberapa obat yang mungkin diberikan oleh dokter: 

  • ACE inhibitors atau angiotensin receptor blockers yang digunakan untuk menurunkan tekanan darah untuk memperlambat kerusakan ginjal, serta dapat digunakan untuk mengurangi jumlah protein yang hilang dalam urin.
  • Kortikosteroid
  • Statin untuk mengontrol jumlah kolesterol dan trigliserid yang tinggi dalam darah.
  • Suplemen vitamin D
  • Pengencer darah apabila terjadi pembekuan darah pada vena ginjal

Selain obat-obatan, perubahan gaya hidup juga harus diterapkan. Pasien biasanya diminta untuk mengonsumsi makanan yang rendah lemak, rendah kolesterol, rendah garam, dan rendah protein. 

Pencegahan

Hingga saat ini, belum ditemukan cara apa pun untuk mencegah terjadinya sindrom nefrotik. Namun, mengobati masalah atau penyakit yang mendasari serta melakukan perubahan gaya hidup dapat meminimalisir gejala dari sindrom nefrotik.

Informasi Dokter

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Jika Anda merasakan adanya gejala dan tanda-tanda dari sindrom nefrotik segera berobatlah ke dokter. Apabila dokter Anda mencurigai adanya kelainan ginjal, maka ia dapat merujuk Anda pada dokter spesialis penyakit dalam atau dokter spesialis nefrologi.

Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Berkonsultasi dengan Dokter?

Ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk mempersiapkan diri sebelum berkonsultasi dengan dokter, yaitu:

  • Buatlah janji dengan dokter yang tepat, dokter yang menangani sindrom nefrotik adalah seorang dokter spesialis nefrologi.
  • Buatlah daftar gejala yang telah Anda rasakan, obat-obatan yang diminum secara rutin, dan pertanyaan yang ingin Anda tanyakan pada dokter.
  • Jika Anda telah melakukan pemeriksaan laboratorium seperti pemeriksaan darah atau pemeriksaan urine, bawalah hasil tes tersebut agar dokter dapat melihat riwayat medis Anda.
  • Jika diperlukan, ajaklah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkunjung, agar dapat membantu Anda secara emosional dalam diskusi dengan dokter.

 

Apa yang Akan Dilakukan Dokter pada Saat Konsultasi?

Pada saat konsultasi, dokter akan melengkapi identitas dan keluhan yang Anda rasakan. Setelah itu dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, seperti mengukur tekanan darah dan mendengarkan detak jantung. Dokter kemudian akan meminta Anda untuk melakukan pemeriksaan laboratorium lain yang mendukung diagnosis, seperti pemeriksaan darah. Setelah hasil didapatkan, maka diagnosis dapat ditegakkan. Dokter kemudian akan berdiskusi dengan Anda mengenai metode pengobatan yang terbaik dan paling cocok dengan Anda.

Referensi

Departemen Kesehatan. http://www.depkes.go.id/article/print/18030700007/cegah-dan-kendalikan-penyakit-ginjal-dengan-cerdik-dan-patuh.html
Diakses pada 6 Maret 2019.

Kidneyfund.  http://www.kidneyfund.org/kidney-disease/other-kidney-conditions/rare-diseases/nephrotic-syndrome/
Diakses pada 17 November 2018].

Mayoclinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/nephrotic-syndrome/diagnosis-treatment/drc-20375613
Diakses pada 17 November 2018.

Medlineplus. https://medlineplus.gov/ency/article/000490.htm
Diakses pada 17 November 2018.

Back to Top