Psikologi

Sindrom Munchausen

23 Jun 2021 | dr. Levina FeliciaDitinjau oleh dr. Reni Utari
image Sindrom Munchausen
Sindrom Munchausen termasuk penyakit yagn sangat sulit terdeteksi
Sindrom Munchausen adalah gangguan mental yang dicirikan dengan penderitanya yang sering pura-pura sakit. Kondisi ini disebut juga dengan factitious disorder dan umumnya berkaitan dengan trauma masa kecil.Sindrom yang paling sering dialami oleh orang berusia dewasa muda ini, tergolong sebagai masalah mental karena berkaitan dengan gangguan emosional yang berat.Penderita Munchausen syndrome bertindak dengan tujuan menarik simpati dan perhatian orang lain. Kondisi ini juga dapat terjadi ketika anggota keluarga atau pengasuh salah menganggap seorang anak mengidap penyakit atau disabilitas.Orang dengan sindrom Munchausen bisa tampak sangat meyakinkan. Akibatnya, dokter memberikan akan penanganan yang tidak perlu, seperti obat atau operasi.Meski begitu, penderita tidak berpura-pura sakit demi mendapatkan keuntungan pribadi. Misalnya, obat resep atau uang. Alasan mereka lebih bersifat psikologis, seperti ingin mendapatkan perhatian dan simpati. 
Sindrom Munchausen
Dokter spesialis Jiwa, Psikolog
GejalaMerasakan berbagai gejala penyakit yang tidak saling berhubungan, punya pengetahuan luas tentang banyak penyakit, sering ke dokter
Faktor risikoTrauma masa kecil, gangguan kepribadian
Metode diagnosisDSM-5
PengobatanPsikoterapi atau konseling
KomplikasiCedera atau kematian akibat penyakit yang dibuat-buat, masalah medis akibat infeksi, atau operasi yang sebenarnya tidak diperlukan, penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan terlarang
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala sindrom Munchausen
Penderita sindrom munchausen mendapatkan kepuasan tersendiri dari simpati yang diraih jika mereka berpura-pura sakit atau menjadi korban. Beberapa gejala yang menandakan kondisi ini di antaranya:
  • Memiliki riwayat pernah melakukan berbagai macam tes kesehatan, prosedur medis, bahkan operasi yang sebenarnya tidak saling berhubungan dengan kondisi kesehatan.
  • Merasakan berbagai gejala penyakit yang tidak saling berhubungan satu sama lain.
  • Meski telah melalui pemeriksaan medis secara intensif, tidak ditemukan gangguan kesehatan yang signifikan.
  • Gejala baru yang berbeda-beda, namun setelah tes medis menunjukkan hasil negatif.
  • Memiliki pengetahuan yang sangat luas tentang berbagai macam penyakit.
  • Sering mengunjungi dokter, bahkan hingga ke luar kota atau ke luar negeri.
  • Kerap datang ke unit gawat darurat, biasanya di berbagai rumah sakit yang berbeda.
  • Justru meminta anjuran untuk operasi atau prosedur medis lain di tubuhnya meski tidak diperlukan.
  • Saat sakit, sulit untuk sembuh walau telah menjalani berbagai perawatan. Penyakit yang dialami pun sering kambuh tanpa alasan yang jelas.
  • Riwayat medis yang diberikan dramatis (berlebihan) tapi tidak konsisten.
  • Gejala yang dialami tidak jelas, tidak terkontrol, dan menjadi makin parah atau berubah setelah pengobatan dimulai.
  • Terdapat luka bekas operasi yang banyak
  • Pasien enggan memberi kesempatan bagi dokter untuk bertemu atau berbicara dengan keluarga, teman, atau dokter lain.
  • Mengalami masalah identitas dan kepercayaan diri.
 
Penyebab sindrom Munchausen tidak diketahui secara pasti. Namun para pakar kesehatan menduga bahwa ada sederet faktor yang berperan dalam meningkatkan kemungkinan seseorang untuk mengalami gangguan mental ini.Faktor-faktor risiko sindrom Munchausen tersebut meliputi:

Trauma masa kecil

Sindrom munchausen bisa disebabkan oleh orangtua yang menelantarkan anaknya, hingga menimbulkan trauma. Kondisi ini juga bisa muncul akibat kurangnya perhatian orangtua pada anak.Karena trauma ini, anak mungkin memiliki masalah yang tidak terselesaikan dengan orangtua. Sebagai akibatnya, mereka memalsukan kondisi sakitnya. Anak bisa berpura-pura sakit karena:
  • Memiliki kecenderungan untuk melukai diri sendiri (masokisme) karena merasa dirinya tidak berharga
  • Merasa perlu untuk dianggap penting dan menjadi pusat perhatian
  • Merasa perlu untuk menyerahkan tanggung jawab serta perawatan atas dirinya sendiri pada orang lain
Selain itu, ada juga bukti yang menyebutkan bahwa seseorang yang pernah mengalami berbagai operasi serta prosedur medis saat kecil, lebih mungkin terkena gangguan ini. Apa alasannya?Hal tersebut mungkin berhubungan dengan ingatan masa kecil, yang membuat penderita merasa mendapatkan perhatian yang saat itu membuatnya nyaman. Maka dari itu, saat beranjak dewasa pun, mereka ingin tetap mendapatkan perhatian yang sama dengan berpura-pura sakit.

Gangguan kepribadian

Beberapa gangguan kepribadian di bawah ini juga dapat dikaitkan dengan sindrom munchausen:
  • Gangguan kepribadian antisosial

Beberapa orang mungkin merasakan kesenangan tersendiri saat memanipulasi dan menipu dokter, dan membuat mereka merasa memiliki kekuatan untuk mengaturnya.
  • Gangguan kepribadian ambang

Gangguan kepribadian ambang (borderline personality disorder) menyebabkan penderita kesulitan untuk mengontrol perasaan mereka.
  • Gangguan kepribadian narsisistik

Gangguan kepribadian narsisistik akanmembuat penderitanya merasa dirinya sangat spesial dan takut merasa tidak berharga.Selain itu, rasa tidak senang terhadap sosok yang memiliki otoritas juga bisa menjadi pemicu seseorang mengalami sindrom ini. Contohnya, orang tua atau tenaga medis profesional. 
Mendiagnosis sindrom Munchausen sangatlah sulit. Pasalnya, kebanyakan penderitanya tidak bisa jujur. Dokter harus mengeliminasi setiap penyakit fisik maupun mental sebelum memastikan diagnosis sindrom ini.Jika mendapati bahwa gejala fisik yang dialami pendrerita ternyata palsu atau dibuat-buat, dokter akan merujuk pasien ke dokter spesialis jiwa (psikiater). Psikiater akan mengajukan sederet pertanyaan dari kriteria khusus yang dikenal dengan diagnostic and statistical manual of mental disorders (DSM-5). Dokter spesialis jiwa baru akan menentukan diagnosis sindrom Munchausen setelah mengeleminasi berbagai kemungkinan penyakit mental lain. Dokter juga akan melakukan pengamatan pada perilaku penderita. 
Meski sering mengunjungi dokter untuk mencari perawatan medis, penderita tidak pernah mencari penanganan yang benar-benar ditujukan untuk sindrom Munchausen sendiri. Akibatnya, tingkat keberhasilannya sangatlah kecil.Jika penderita sudah menyadari kondisinya dan ingin melakukan perawatan, tahap pertama yang harus dilakukan adalah berusaha mengubah perilakunya. Hal ini bertujuan mengurangi frekuensi penyalahgunaan segala sesuatu yang berhubungan dengan medis.Upaya pengobatan sindrom Munchausen tersebut dapat dilakukan melalui psikoterapi atau konseling. Pengobatan berfokus untuk mengubah pola pikir dan perilaku yang dilakukan dengan cognitive-behavioral therapy (CBT). Terapi keluarga juga diperlukan agar keluarga tidak membenarkan perilaku pasien.Setelah target tersebut tercapai, perawatan dilakukan dengan tujuan lain, yaitu menyelesaikan masalah psikologis yang bisa menjadi pemicu timbulnya sindrom Munchausen.Selain itu, perawatan juga dilakukan agar pasien terhindar dari prosedur medis berbahaya, seperti operasi yang sebenarnya tidak perlu dilakukan.Harap diingat bahwa tidak ada obat yang dapat menyembuhkan sindrom Munchausen. Obat-obatan hanya diberikan apabila dokter menemukan adanya penyakit kejiwaan pada pasien, seperti depresi atau gangguan kecemasan.Penggunaan obat-obatan perlu dipantau secara hati-hati. Pasalnya, penderita juga berisiko menyalahgunakan obat tersebut. 

Komplikasi sindrom Munchausen

Komplikasi sindrom Munchausen meliputi:
  • Cedera atau kematian akibat kondisi medis yang dibuat-buat
  • Masalah medis akibat infeksi, operasi, atau prosedur medis lain yang sebenarnya tidak diperlukan
  • Hilangnya organ atau amputasi dari operasi yang tidak diperlukan
  • Penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan terlarang
  • Masalah dalam kehidupan sehari-hari, seperti pekerjaan dan hubungan sosial
  • Kekerasan
 
Hingga saat ini, belum diketahui cara yang bisa dilakukan sebagai cara mencegah sindrom Munchausen. Pasalnya, penyebabnya pun tidak bisa dijelaskan dengan pasti. 
Orang dengan gangguan ini mungkin sadar bahwa tindakan mereka bisa membahayakan dirinya bahkan menyebabkan kematian. Namun mereka tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Mereka juga umumnya tidak mencari pengobatan untuk mengatasi sindrom munchausen sendiri. Setelah ada bukti-bukti pemeriksaan hingga rekaman video yang diperlihatkan pun, mereka umumnya tetap akan menolak untuk menjalani perawatan.Jika merasa ada kerabat yang mengalami kondisi in, Anda bisa mencoba menyampaikan kekhawatiran Anda dengan lembut dan perlahan-lahan. Bantu orang tersebut untuk menjalani hidup yang lebih sehat, daripada hanya berfokus pada penyakit yang ia percaya ia derita.Apabila kondisi ini sampai membuat penderita melukai dirinya sendiri atau bahkan memicu bunuh diri, segera hubungi nomor gawat darurat. 
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang dirasakan oleh pasien.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang dialami oleh pasien.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang dikonsumsi oleh pasien.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan pada dokter.
  • Minta keluarga atau teman untuk mendampingi saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Saat pemeriksaan, dokter mungkin akan mengajukan beberapa pertanyaan di bawah ini:
  • Apa penyakit yang akhir-akhir ini sedang dirasakan atau pernah dirasakan?
  • Pernahkah penderita didiagnosis menderita kondisi kesehatan tertentu?
  • Perawatan medis apa saja yang pernah diterima? Pernahkah hingga operasi?
  • Seberapa sering penderita berganti rumah sakit?
  • Adakah sosok yang kira-kira bisa memicu gangguan ini, seperti dokter, keluarga, atau orang terdekat lainnya?
  • Apakah gejala yang dirasakan sampai mengganggu aktivitas sehari-hari?
  • Pernahkah penderita terpikir untuk menyakiti diri sendiri atau berusaha bunuh diri?
  • Apakah ada hal yang menyebabkan trauma masa kecil, seperti kekerasan oleh orangtua atau penyakit yang parah?
  • Sudahkan penderita menyampaikan kondisi ini pada orang terdekat?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis sindrom Munchausen. Dengan ini, penanganan bisa diberikan secara tepat. 
Better Health Channel. https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/ConditionsAndTreatments/munchausen-syndrome
Diakses pada 24 Mei 2019
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/munchausens-syndrome/
Diakses pada 24 Mei 2019
WebMD. https://www.webmd.com/mental-health/munchausen-syndrome#1
Diakses pada 24 Mei 2019
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/factitious-disorder/symptoms-causes/syc-20356028
Diakses pada 24 Mei 2019
Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/9833-munchausen-syndrome-factitious-disorder-imposed-on-self
Diakses pada 23 Juni 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email