Sindrom mielodisplasia adalah penyakit langka yang umumnya menyerang kalangan lanjut usia
Sindrom mielodisplasia umumnya menyerang kalangan lanjut usia.

Sindrom mielodisplasia adalah suatu kondisi kelainan sumsum tulang belakang yang menyebabkan terhambatnya produksi sel darah yang sehat untuk tubuh. Kondisi ini umumnya menyerang para lansia yang berusia di atas 65 tahun. Namun bisa juga terjadi pada orang yang berusia lebih muda.

Sindrom ini dikelompokkan sebagai salah satu jenis kanker darah yang langka. Tidak hanya satu jenis, sindrom mielodisplasia dibagi lagi menjadi beberapa tipe yang berbeda. Sebagian dapat terus berada dalam fase ringan selama bertahun-tahun, namun sebagian lagi bisa berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

Pada tahap awal, penyakit ini umumnya tidak menimbulkan gejala. Seiring berjalannya waktu, sindrom mielodisplasia dapat menyebabkan:

  • Timbulnya rasa kelelahan.
  • Sulit bernapas.
  • Kulit terlihat pucat karena jumlah sel darah merah yang rendah (anemia).
  • Tubuh menjadi mudah memar dan mudah berdarah karena kurangnya trombosit di dalam darah.
  • Muncul bercak-bercak merah di bawah permukaan kulit yang disebabkan oleh perdarahan. Kondisi ini dinamakan petechiae.
  • Sering mengalami infeksi akibat rendahnya kadar sel darah putih di tubuh.

Umumnya, penyebab pasti dari penyakit ini tidak diketahui. Namun beberapa orang dipercaya memang lebih berisiko terkena sindrom mielodisplasia.

Hal tersebut dapat dipicu oleh beberapa faktor eksternal, seperti akibat radiasi maupun sebagai efek samping penggunaan obat-obatan pada kemoterapi. Selain itu, dapat disebabkan karena perubahan DNA yang menyebabkan gangguan pada sumsum tulang dalam memproduksi sel darah

Sindrom mielodisplasia juga bukanlah penyakit menurun, seperti pada beberapa jenis kanker lainnya. Meski penyebabnya masih kurang jelas, mekanisme terjadinya penyakit ini telah diketahui.

Dalam keadaan normal, sumsum tulang manusia akan memproduksi tiga jenis sel darah, yaitu:

  • Sel darah merah yang akan membawa oksigen ke seluruh tubuh.
  • Sel darah putih yang berfungsi membantu tubuh dalam melawan infeksi.
  • Platelet yang akan membantu proses pembekuan darah.

Pada penderita sindrom ini, sumsum tulang tidak mampu memproduksi sel darah yang matang dalam jumlah yang cukup. Justru, yang diproduksi adalah sel darah abnormal yang belum sepenuhnya matang sehingga sel darah tersebut mudah rusak dan tidak berfungsi dengan optimal pada tubuh.

Seiring berjalannya waktu, sumsum tulang akan dipenuhi oleh sel darah yang abnormal tersebut, sehingga terjadi kerusakan lebih jauh. Hal ini membuat jumlah sel darah sehat yang mengalir di pembuluh darah kian berkurang.

Kondisi ini dapat terjadi perlahan-lahan atau secara agresif. Pada beberapa orang, sindrom mielodisplasia bahkan dapat berkembang menjadi salah satu jenis leukimia bernama acute myeloid leukemia (AML).

Untuk mendiagnosis penyakit ini, perlu dilakukan tes darah serta pemeriksaan sumsum tulang. Tes darah yang dilakukan akan menunjukkan jumlah sel darah yang sehat dan yang tidak.

Sedangkan pemeriksaan sumsum tulang dilakukan dengan mengambil sampel sumsum tulang. Prosedur ini biasanya dilakukan di tulang pinggul dan di bawah pengaruh bius lokal.

Pengobatan sindrom mielodisplasia dilakukan dengan tujuan untuk memperlambat perkembangan penyakit. Selain itu, beberapa perawatan lain juga akan dianjurkan guna meredakan gejala yang dirasakan. Beberapa di antaranya meliputi:

  • Pemberian obat – obatan golongan growth factor seperti Eritropoietin untuk meningkatkan jumlah sel darah putih dan sel darah merah di tubuh.
  • Transfusi darah untuk menambah jumlah sel darah merah atau trombosit
  • Pemberian obat untuk membuang kelebihan zat besi yang umumnya terjadi setelah prosedur transfusi darah.
  • Pemberian obat antibiotik untuk meredakan infeksi jika jumlah sel darah putih terhitung rendah.

Jika Anda tidak merasakan gejala apapun, namun sudah terdiagnosis mengalami sindrom ini, dokter umumnya akan menyarankan untuk memantau kondisi Anda. Dokter juga akan melakukan serangkaian pemeriksaan berkala dan tes laboratorium untuk melihat sejauh mana penyakit ini sudah berkembang.

Pada tahap lebih lanjut, dokter mungkin akan memberikan obat-obatan, seperti lenalidomide dan azaticidine. Penderita sindrom mielodisplasia yang berisiko terkena AML mungkin akan disarankan untuk melakukan kemoterapi. Setelah kemoterapi, perawatan dapat dilanjutkan dengan prosedur transplantasi sumsum tulang.

Hingga saat ini, belum ada cara pasti yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya sindrom mielodisplasia. Namun beberapa hal di bawah ini dipercaya dapat membantu menurunkan risiko Anda terkena penyakit ini:

1. Hindari kebiasaan merokok

Kebiasaan merokok dipercaya dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terkena penyakit ini. Jadi, menghindarinya dianggap dapat menurunkan risiko. Tidak hanya sindrom ini, berhenti merokok juga dapat  mengurangi risiko Anda terkena jenis kanker lainnya.

2. Jauhi paparan radiasi maupun kimia berbahaya

Bahan kimia, seperti benzene, dapat menyebabkan kanker. Di samping itu, terapi radiasi dan kemoterapi juga dapat meningkatkan risiko seseorang terkena sindrom mielodisplasia. Dokter akan menyesuaikan perawatan dengan menghindari penggunaan jenis obat kemoterapi tersebut.

Meski begitu, manfaat yang akan didapatkan dari terapi radiasi dan kemoterapi pada para penderita kanker umumnya sangat besar jika dibandingkan dengan kemungkinan terjadinya sindrom mielodisplasia yang tergolong rendah.

Periksakan diri Anda ke dokter apabila Anda merasa mengalami gejala yang serupa dengan kondisi ini.

Saat gejala pertama kali dirasakan, Anda mungkin akan mendatangi dokter umum terlebih dahulu. Jika mencurigai bahwa kondisi yang Anda alami adalah sindrom mielodsplasia, dokter akan merujuk Anda ke dokter spesialis.

Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:

  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat kondisi-kondisi yang mungkin dapat memicu Anda merasakan gejala, seperti baru terpapar bahan kimia berbahaya atau pernah menjalani terapi untuk pengobatan kanker.
  • Catat semua obat dan vitamin yang sedang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.

Saat pemeriksaan, dokter mungkin akan mengajukan beberapa pertanyaan berikut ini:

  • Apakah gejala dirasakan terus menerus atau hanya kadang-kadang?
  • Seberapa parah gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah ada hal yang pernah Anda lakukan yang sekiranya membuat gejala terasa membaik atau bertambah parah?

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/myelodysplasia/
Diakses pada 15 Mei 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/myelodysplastic-syndrome/symptoms-causes/syc-20366977
Diakses pada 15 Mei 2019

American Cancer Society. https://www.cancer.org/cancer/myelodysplastic-syndrome/causes-risks-prevention/prevention.html
Diakses pada 15 Mei 2019

MDS Foundation. https://www.mds-foundation.org/what-is-mds/
Diakses pada 15 Mei 2019

Artikel Terkait