Perut

Sindrom Mallory-Weiss

12 Sep 2021 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Sindrom Mallory-Weiss
Sindrom Mallory-Weiss dapat menyebabkan robeknya pembuluh darah yang mungkin akan membutuhkan pembedahan.
Sindrom Mallory-Weiss (MWS) adalah kondisi ketika terjadi robekan pada lapisan lendir (mukosa) kerongkongan yang berbatasan dengan lambung. Sobekan ini dapat menyebabkan perdarahan saat muntah maupun BAB.Penyakit MWS umumnya terjadi karena muntah atau batuk berat yang berkepanjangan. Muntah-muntah atau batuk keras yang berulang dapat menyebabkan peningkatan tekanan pada saluran kerongkongan. Hal ini kemudian dapat menimbulkan cedera atau trauma yang menjalar dari tenggorokan ke perut.Pada kasus lain, penyebab Sindrom Mallory-Weiss adalah karena trauma dada. Sindrom Mallory Weiss karena trauma dada dapat dipicu oleh kondisi yang meningkatkan tekanan di dada dan perut, seperti hernia hiatus atau persalinanSebagian besar sobekan akan sembuh sendiri tanpa pengobatan dalam 7 sampai 10 hari. Akan tetapi, sobekan yang menyebabkan perdarahan parah biasanya butuh tindakan medis lebih lanjut.
Sindrom Mallory-Weiss
Dokter spesialis Penyakit Dalam
GejalaMuntah darah, feses berdarah, sakit perut
Faktor risikoKonsumsi alkohol berlebihan
Metode diagnosisEsophagogastroduodenoscopy (EGD), tes darah, uji sampel feses
PengobatanObat-obatan, transfusi darah, terapi endoskopi
ObatFamotidine, lansoprazole, prometazin dan ondansetron
KomplikasiPerdarahan internal yang parah, syok hipovolemik, kematian
Kapan harus ke dokter?Jika mengalami muntah-muntah, kulit pucat, detak jantung dan frekuensi napas cepat
Sindrom Mallory–Weiss tidak selalu menimbulkan gejala.  Pada kasus yang ringan, robekan biasanya menghasilkan perdarahan dalam yang tidak bisa dilihat secara kasat mata.Namun dari kasus yang pernah dilaporkan, tanda dan gejala Mallory-Weiss Syndrome adalah:
  • Muntah darah (hematemesis)
  • Muncul darah dalam feses atau feses berwarna hitam seperti tar (melena).
  • Muntah yang terlihat seperti ampas kopi karena mengandung darah. Terkadang dapat pula berwarna merah.
  • Muntah hebat yang tidak dapat dikontrol
  • Sesak napas
  • Diare
  • Nyeri di perut bagian atas, dada, atau punggung
  • Lemah, pusing atau pingsan
  • Kulit pucat
Pada sebagian besar kasus, perdarahan dapat berhenti dengan sendirinya. Tetapi pada kasus yang sangat jarang, perdarahan dapat mengancam nyawa.
Penyebab umum Mallory-Weiss Syndrome adalah muntah yang berat atau berkepanjangan.Di samping itu, sejumlah kondisi lain yang dapat menyebabkan robekan pada esofagus adalah:
  • Trauma pada dada atau perut
  • Cegukan berat atau berkepanjangan
  • Batuk hebat
  • Mengangkat benda berat
  • Penyakit pencernaan, seperti gastritis (radang selaput lambung), obstruksi saluran keluar lambung
  • Hiatal hernia atau kondisi yang terjadi ketika bagian perut mendorong melalui bagian diafragma
  • Kejang
  • Menerima resusitasi jantung paru (RJP)
  • Penyakit hati yang berat
  • Proses melahirkan
  • (mual dan muntah berat selama kehamilan)
  • Mengidap bulimia
  • Penggunaan aspirin atau obat–obatan anti inflamasi non–steroid
  • Penderita kanker yang sedang menjalani kemoterapi. Sindrom ini timbul sebagai komplikasi dari kemoterapi.

Faktor risiko

Mallory-Weiss Syndrome adalah kondisi yang lebih umum terjadi pada pria dibandingkan wanita. Sering kali terjadi pada pecandu alkohol dengan konsumsi alkohol yang terlalu tinggiSelain itu, orang yang berusia antara 40-60 tahun lebih mungkin terkena sindrom ini. Namun, beberapa kasus terjadi pada anak–anak dan dewasa muda. Baca juga: Radang Tenggorokan Dapat Mengakibatkan Batuk Berdarah, Apa Iya?
Dokter akan melakukan sejumlah pemeriksaan dalam mendiagnosis sindrom Mallory–Weiss, antara lain:
  • Tanya jawab dan pemeriksaan fisik
Dokter biasanya akan menanyakan riwayat penyakit serta gaya hidup selama ini, termasuk soal kebiasaan minum alkohol, untuk mengidentifikasi penyebab gejala yang dirasakan.
  • Pemeriksaan esophagogastroduodenoscopy (EGD)
Jika masih tampak perdarahan aktif dalam kerongkongan pasien, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang bernama EGD.Dokter akan memasukkan endoskop (sebuah alat berbentuk selang kecil fleksibeldengan kamera di ujungnya) ke dalam kerongkongan sampai lambung.Prosedur ini membantu dokter melihat kondisi kerongkongan lebih jelas untuk menemukan lokasi robekan. Sebelum memasukkan endoskop, pasien akan diminta untuk mengonsumsi obat penenang terlebih dulu agar tidak merasakan sakit selama prosesnya.
  • Pemeriksaan sampel feses
Sampel feses pasien akan diambil untuk selanjutnya diperiksa di laboratorium. Pemeriksaan ini berguna untuk menganalisis darah dalam feses.
  • Tes hitung darah lengkap
Dokter juga akan melakukan tes hitung darah lengkap untuk memastikan jumlah sel darah merah pasien. Sebab, perdarahan berat akibat robekan di kerongkongan dapat menurunkan jumlah sel darah merah.
Perdarahan karena Mallory–Weiss Syndrome biasanya akan berhenti dengan sendirinya dalam 48 jam. Umumnya, perawatan ditujukan untuk menstabilkan kondisi pasien, terutama pada kasus yang sobekannya parah atau mengalami perdarahan tak kunjung berhenti.Pengobatan untuk sindrom Mallory–Weiss adalah:

Penanganan perdarahan

Pasien dengan perdarahan hebat harus dibawa ke instalasi gawat darurat. Begitu masuk, pasien akan diberikan resusitasi. Dokter akan memeriksa jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi.Selanjutnya, dokter dapat memberikan terapi berikut:
  • Terapi cairan, diberikan melalui infus jika pasien kehilangan banyak darah atau mengalami dehidrasi.
  • Transfusi darah diperlukan jika pasien kehilangan kadar hemoglobin kurang dari 8 gm/dl atau jika pasien datang dengan tanda-tanda syok.
  • Dekompresi nasogastrik menggunakan selang nasogastrik dapat dilakukan, terutama pada pasien yang diduga memiliki varises esofagus.
  • Obat–obatan seperti famotidine atau lansoprazole dapat diberikan untuk menurunkan asam lambung yang dapat menghambat pemulihan mukosa lambung dan esofagus. golongan penghambat pompa proton seperti lansoprazole tersebut juga biasa diberikan kepada pasien yang akan menjalani pemeriksaan endoskopi. Sementara itu, antiemetik seperti prometazin dan ondansetron diberikan untuk mengontrol mual dan muntah.
  • Endoskopi dapat dilakukan untuk setelah pasien stabil. Obat yang diinjeksikan (skleroterapi) atau arus listrik akan digunakan untuk menghentikan perdarahan. Jika perdarahan sudah terhenti pada saat endoskopi, biasanya tidak diperlukan penanganan lebih lanjut.
  • Angioterapi dengan injeksi agen vasokonstriksi seperti vasopresin atau embolisasi transkateter dengan busa gel untuk mengangkat bagian lambung kiri dapat dipertimbangkan ketika endoskopi tidak tersedia atau gagal menangani perdarahan.
  • Pembedahan secara laparoskopik diperlukan untuk memperbaiki sobekan dengan menjahit robekan tersebut jika perawatan lain tidak berhasil.
Baca juga: Begini Proses Pembekuan Darah Sehingga Perdarahan Terhenti pada Luka

Komplikasi

Jika tidak ditangani dengan baik, Mallory–Weiss Syndrome dapat menimbulkan komplikasi berupa:
  • Perdarahan internal yang parah
  • Denyut nadi yang cepat
  • Penurunan tekanan darah
  • Masalah produksi urin
  • Syok
  • Anemia, kelelahan, dan sesak napas.
  • Syok hipovolemik
  • Gangguan metabolisme
  • Infark miokard
  • Perforasi esofagus
  • Sindrom Mallory Weiss yang kembali kambuh
Salah satu cara untuk mencegah sindrom Mallory–Weiss adalah dengan menghindari kondisi pemicu muntah parah dengan durasi yang panjang.Konsumsi alkohol berlebihan dan sirosis dapat memicu episode berulang sindrom Mallory–Weiss. Seseorang yang memiliki sindrom Mallory–Weiss perlu menghindari alkohol dan membicarakan kepada dokter tentang cara mengelola kondisi untuk mencegah pengulangan di kemudian hari.Baca jawaban dokter: Bagaimana cara berhenti dari kecanduan alkohol?
Cari perawatan darurat segera jika Anda mengalami kondisi berikut ini:
  • Anda bingung atau kurang waspada dibandingkan biasanya.
  • Detak jantung atau pernapasan Anda lebih cepat dari biasanya
  • Anda pusing atau pingsan
  • Anda muntah-muntah
  • Anda berkeringat dan kulit Anda pucat
  • Bibir atau kuku Anda berwarna biru
  • Anda buang air kecil sedikit atau tidak buang air kecil sama sekali
Pasien mungkin memerlukan perawatan darurat dengan segera. Oleh karena itu pasien dan pendampingnya dapat dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang pasien rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang pasien alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang pasien konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan pada dokter.
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut pada pasien yang masih sadar atau pendampingnya:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait Mallory Weiss Syndrome?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis sindrom Mallory Weiss agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
National Center for Biotechnology Information. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK538190/
Diakses pada 9 Agustus 2021
Cedar Sinai. https://www.cedars-sinai.org/health-library/diseases-and-conditions/m/mallory-weiss-tear.html
Diakses pada 9 Agustus 2021
Rarediseases. https://rarediseases.org/rare-diseases/mallory-weiss-syndrome/
Diakses pada 9 Agustus 2021
Healthline. https://www.healthline.com/health/mallory-weiss-tear
Diakses pada 7 Januari 2019
Drugs. https://www.drugs.com/cg/mallory-weiss-syndrome.html
Diakses pada 7 Januari 2019
Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/931141-overview
Diakses pada 7 Januari 2019
Medline Plus. https://medlineplus.gov/ency/article/000269.htm
Diakses pada 7 Januari 2019
Hopkins Medicine. https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/malloryweiss-tear
Diakses pada 9 Agustus 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email