Sindrom Mallory-Weiss

Ditinjau dr. Widiastuti
Sindrom Mallory-Weiss dapat menyebabkan robeknya pembuluh darah yang mungkin akan membutuhkan pembedahan.
Sindrom Mallory-Weiss dapat menyebabkan robeknya pembuluh darah yang mungkin akan membutuhkan pembedahan.

Pengertian Sindrom Mallory-Weiss

Sindrom Mallory–Weiss adalah kondisi yang ditandai oleh sobekan pada jaringan selaput lendir atau lapisan dalam gastroesophageal junction, tempat kerongkongan (esofagus) dan lambung (gaster) bertemu.

Sobekan disebabkan oleh faktor apapun yang menyebabkan periode muntah atau batuk yang berkepanjangan dan berat, gerakan yang menyebabkan tekanan atau terjadinya cedera pada perut dapat pula menyebabkan robekan.

Sebagian besar sobekan akan sembuh sendirinya tanpa pengobatan dalam 7 sampai 10 hari, tetapi robekan Mallory–Weiss menyebabkan robeknya pembuluh darah, sehingga menyebabkan terjadinya pendarahan baik ringan maupun berat. Tergantung pada keparahan robekan, pembedahan mungkin diperlukan untuk memperbaiki kerusakan.

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Sindrom Mallory–Weiss tidak selalu menimbulkan gejala. Kondisi ini lebih umum dimana robekan pada esofagus hanya menyebabkan perdarahan yang sedikit dan sembuh dengan cepat tanpa pengobatan.

Namun, pada sebagian besar kasus, gejala sindrom Mallory–Weiss akan timbul, diantaranya adalah:

  • Muntah darah (hematemesis) atau darah dalam feses atau feses berwarna hitam seperti tar (melena).
  • Muntah yang terlihat seperti ampas kopi karena mengandung darah. Terkadang dapat pula berwarna merah.
  • Muntah hebat yang tidak dapat dikontrol
  • Sesak napas
  • Nyeri di perut bagian atas atau punggung
  • Lemah, pusing atau pingsan
  • Kulit pucat

Sebagian besar kasus, perdarahan dapat berhenti dengan sendirinya. Tetapi pada kasus yang sangat jarang, perdarahan tersebut dapat mengancam nyawa.

Penyebab

Penyebab umum sindrom Mallory–Weiss adalah muntah yang berat atau berkepanjangan. Walaupun jenis muntah seperti ini dapat terjadi pada penyakit lambung, gejala ini juga dapat terjadi pada kasus penyalahgunaan alkohol kronis atau bulimia.

Kondisi lain yang dapat menyebabkan robekan pada esofagus, diantaranya adalah:

  • Trauma pada dada atau perut
  • Cegukan berat atau berkepanjangan
  • Batuk hebat
  • Mengangkat benda berat
  • Penyakit pencernaan, seperti gastritis (radang selaput lambung), obstruksi saluran keluar lambung
  • Hiatal hernia atau kondisi yang terjadi ketika bagian perut mendorong melalui bagian diafragma
  • Kejang
  • Menerima resusitasi jantung paru (RJP)
  • Penyakit hati yang berat
  • Pada wanita ketika proses melahirkan atau hiperemesis gravidarum (mual dan muntah berat selama kehamilan)
  • Penggunaan aspirin atau obat–obatan anti inflamasi non–steroid
  • Penderita kanker yang sedang menjalani kemoterapi. Sindrom ini timbul sebagai komplikasi dari kemoterapi.

Sindrom Mallory–Weiss lebih umum terjadi pada pria dibandingkan wanita. Dan seringkali terjadi pada pecandu alkohol. Selain itu, orang yang berusia antara 40-60 tahun lebih mungkin terkena sindrom ini. Namun, beberapa kasus terjadi pada anak–anak dan dewasa muda. 

Diagnosis

Dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan tentang kondisi medis pasien, termasuk asupan alkohol setiap harinya dan penyakit yang baru-baru ini terjadi. Hal ini diperlukan untuk mengidentifikasi penyebab gejala pasien.

Jika kondisi pasien menunjukkan perdarahan aktif di kerongkongan, dokter akan melakukan esophagogastroduodenoscopy (EGD). Pasien perlu minum obat penenang dan penghilang rasa sakit untuk mencegah ketidaknyamanan selama prosedur ini. Dokter akan memasukkan selang kecil yang fleksibel dengan kamera yang terpasang, yang disebut endoskop. Alat ini akan masuk ke kerongkongan dan ke dalam lambung. Prosedur ini membantu dokter melihat kondisi kerongkongan dan mengidentifikasi lokasi sobekan.

Pemeriksaan lain yang akan dilakukan dokter adalah pemeriksaan sampel feses. Pemeriksaan ini berguna untuk memeriksa darah dalam feses.

Dokter juga akan melakukan hitung darah lengkap untuk mengonfirmasi jumlah sel darah merah. Jumlah sel darah merah mungkin rendah jika pasien mengalami pendarahan di kerongkongan. Dokter akan menentukan apakah pasien memiliki sindrom Mallory–Weiss berdasarkan pemeriksaan ini.

Pengobatan

Pendarahan karena sindrom Mallory–Weiss biasanya berhenti sendiri dalam 48 jam. Perawatan tidak diperlukan kecuali sobekannya parah atau perdarahan yang tidak berhenti.

Pengobatan untuk sindrom Mallory–Weiss, diantaranya adalah:

  • Endoskopi dapat dilakukan untuk menghentikan pendarahan. Obat yang diinjeksikan (skleroterapi) atau arus listrik akan digunakan untuk menghentikan pendarahan.
  • Obat–obatan dapat diberikan untuk menurunkan jumlah asam yang dihasilkan lambung dan mengendalikan muntah dan mual seperti famotidine atau lansoprazole.
  • Cairan dapat diberikan melalui infus jika pasien kehilangan banyak darah atau mengalami dehidrasi.
  • Transfusi darah diperlukan jika pasien kehilangan banyak darah.
  • Pembedahan secara laparoskopik diperlukan untuk memperbaiki sobekan dengan menjahit robekan tersebut jika perawatan lain tidak berhasil.

Pencegahan

Untuk mencegah sindrom Mallory–Weiss, penting untuk merawat kondisi yang menyebabkan episode panjang dari muntah berat.

Penggunaan alkohol berlebihan dan sirosis dapat memicu episode berulang sindrom Mallory–Weiss. Seseorang yang memiliki sindrom Mallory–Weiss perlu menghindari alkohol dan membicarakan kepada dokter tentang cara mengelola kondisi untuk mencegah pengulangan di kemudian hari.

Informasi Dokter

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Cari perawatan darurat segera jika Anda:

  • Anda Bingung atau kurang waspada dibandingkan biasanya.
  • Detak jantung atau pernapasan Anda lebih cepat dari biasanya
  • Anda pusing atau pingsan
  • Anda muntah-muntah
  • Anda berkeringat dan kulit Anda pucat
  • Bibir atau kuku Anda berwarna biru
  • Anda buang air kecil sedikit atau tidak buang air kecil sama sekali
Referensi

Healthline. https://www.healthline.com/health/mallory-weiss-tear
Diakses pada 7 Januari 2019

Drugs. https://www.drugs.com/cg/mallory-weiss-syndrome.html
Diakses pada 7 Januari 2019

Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/931141-overview
Diakses pada 7 Januari 2019

Medline Plus. https://medlineplus.gov/ency/article/000269.htm
Diakses pada 7 Januari 2019

Rarediseases. https://rarediseases.org/rare-diseases/mallory-weiss-syndrome/
Diakses pada 7 Januari 2019

Back to Top