Sindrom kelelahan kronis adalah suatu kondisi yang membuat penderita merasakan kelelahan yang ekstrem. Kondisi ini bukan disebabkan oleh suatu penyakit, dan tidak kunjung hilang atau membaik meski penderita sudah beristirahat.

Sindrom ini dapat membuat penderita sulit atau tidak dapat melakukan rutinitas dengan lancar. Bahkan bangun tidur pun bisa terasa sangat sulit.

Gejala sindrom kelelahan kronis umumnya meliputi:

  • Rasa lelah yang berlebihan. Gejala ini bisa berlangsung lebih dari 24 jam setelah Anda melakukan latihan fisik atau mental.
  • Sulit konsentrasi dan melupakan memori tertentu.
  • Sering sakit tenggorokan.
  • Gangguan tidur, terutama insomnia kronis.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening pada leher atau ketiak.
  • Nyeri otot atau sendi tanpa penyebab dan ciri yang jelas.
  • Sering sakit kepala.
  • Sering bangun tidur dengan kondisi tidak segar.

Gejala bahkan bisa hilang di satu waktu, kemudian kembali menyerang di waktu lainnya. Inilah yang membuat sindrom kelelahan kronis sulit terdeteksi.

Penyebab sindrom kelelahan kronis belum diketahui secara pasti. Tetapi para pakar menduga bahwa ada kombinasi dari beberapa faktor yang diperkirakan bisa meningkatkan risikonya. Apa sajakah faktor risiko tersebut?

  • Infeksi virus.
  • Masalah kekebalan tubuh.
  • Ketidakseimbangan hormon.
  • Sindrom kelelahan kronis lebih sering terjadi pada orang yang berusia 40-50 tahun.
  • Jenis kelamin. Wanita lebih rentan mengalami sindrom kelelahan kronis dibandingkan pria.
  • Kondisi stres yang sulit diatasi bisa menjadi salah satu pemicu sindrom kelelahan kronis.

Diagnosis sindrom kelelahan kronis cukup sulit dilakukan. Pasalnya, gejala penyakit ini kerap dianggap sebagai rasa lelah pada umumnya.

Untuk memastikan diagnosis dan menyingkirkan kemungkinan penyebab lain dari kondisi Anda, dokter perlu melakukan serangkaian langkah di bawah ini:

  • Menanyakan semua gejala yang Anda alami, dan riwayat medis Anda serta keluarga.
  • Melakukan pemeriksaan terhadap kesehatan fisik maupun mental.
  • Melakukan pemeriksaan penunjang, seperti tes darah, tes urine, dan lain-lain.

Bila hasil pemeriksaan tidak menunjukkan adanya penyakit yang menjadi penyebab dari gejala Anda, barulah diagnosis sindrom kelelahan kronis dapat dipastikan oleh dokter.

Hingga saat ini, belum ada pengobatan sindrom kelelahan kronis yang spesifik. Dokter biasanya memberikan anjuran penanganan untuk mengurangi dan meredakan gejala yang Anda rasakan.

Langkah-langkah yang bisa disarankan oleh dokter meliputi:

Obat antidepresan

Penderita sindrom ini juga umumnya mengalami depresi, jadi obat antidepresan dapat diberikan untuk mengatasinya. Tak hanya itu, antidepresan dosis rendah juga dapat membantu dalam memperbaiki kualitas tidur dan meredakan nyeri pada penderita.

Psikoterapi

Anda bisa berbicara pada psikolog untuk membantu Anda dalam menentukan cara mengatasi hambatan yang Anda rasakan akibat sindrom kelelahan kronis.

Perubahan gaya hidup

Anda bisa melakukan perubahan sederhana pada kebiasaan Anda guna mengurangi gejala sindrom ini. Misalnya, membatasi konsumsi alkohol dan kafein, tidak merokok, menerapkan jadwal tidur yang rutin, jangan tidur siang bila ini penyebab Anda sulit tidur di malam hari.

Jika ingin berolahraga, lakukanlah secara bertahap. Jangan sampai Anda kelelahan.

Bila tidak ditangani dengan baik, sindrom kelelahan kronis dapat menimbulkan komplikasi berupa aktivitas yang terhambat, pekerjaan yang berantakan karena sering absen, hingga depresi.

Segeralah berkonsultasi dengan dokter bila Anda mengalami gejala sindrom kelelahan kronis, terutama bila gejalanya sudah menghambat aktivitas sehari-hari.

Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:

  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.

Saat pemeriksaan, dokter mungkin akan mengajukan beberapa pertanyaan berikut ini:

  • Apa saja gejala yang Anda alami?
  • Kapan gejala tersebut mulai Anda rasakan?
  • Apa saja kegiatan atau hal yang membuat gejala memburuk atau membaik?
  • Apakah Anda mengalami masalah konsentrasi dan mengingat sesuatu?
  • Seberapa sering Anda mengalami depresi atau khawatir?
  • Apakah Anda mengalami masalah tidur?
  • Seberapa banyak gejala Anda membatasi aktivitas Anda sehari-hari?
  • Apa saja pengobatan yang sudah Anda coba? Bagaimana hasilnya?

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan bisa menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis Sindrom Kelelahan Kronis.

Healthline. https://www.healthline.com/health/chronic-fatigue-syndrome
Diakses pada 17 Desember 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/chronic-fatigue-syndrome/symptoms-causes/syc-20360490
Diakses pada 17 Desember 2019

Medline Plus. https://medlineplus.gov/chronicfatiguesyndrome.html
Diakses pada 17 Desember 2019

WebMD. https://www.webmd.com/chronic-fatigue-syndrome/default.htm
Diakses pada 17 Desember 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/325069.php
Diakses pada 17 Desember 2019

Artikel Terkait