Sindrom brugada biasanya terjadi karena faktor keturunan, namun demam yang tinggi juga dapat memicu terjadinya sindrom ini.
Jika berlangsung dalam waktu yang cukup lama, kondisi ini dapat menyebabkan serangan jantung

Meski jarang terjadi, sindrom Brugada bersifat serius, karena memengaruhi sinyal listrik yang melalui jantung. Kondisi ini menyebabkan jantung berdetak terlalu cepat dan tidak teratur.

Individu dengan sindrom brugada mengalami peningkatan detak jantung abnormal pada bilik jantung (ventricular arrhythmias) dan dapat mengancam nyawa. Penyebab dari sindrom brugada adalah gen yang diwariskan oleh ibu atau ayah Anda.

Individu dengan sindrom brugada seringkali tidak mengalami gejala. Sindrom ini lebih umum dialami pria, dibandingkan wanita. Pencegahan dapat dilakukan dengan menghindari obat-obatan yang menjadi pemicu, menurunkan demam, dan jika diperlukan, menggunakan alat medis berupa implantable cardioverter-defibrillator (ICD).

Banyak orang dengan sindrom brugada tidak terdiagnosis. Sebab, seringkali kondisi ini tidak menimbulkan gejala. Tanda paling penting dari sindrom brugada adalah pola abnormal pada elektrokardiogram (EKG), yang disebut tipe 1 pola EKG brugada. Individu dengan tanda maupun pola brugada, bisa saja tidak mengalami gejalanya. Berikut ini gejala-gejala pada sindrom brugada.

  • Kesulitan bernapas, terengah-engah, terutama pada malam hari
  • Pingsan
  • Pusing
  • Detak jantung yang tidak teratur atau berdebar-debar
  • Detak jantung yang sangat cepat dan kacau (henti jantung mendadak)
  • Kejang

Selain itu, demam tinggi bisa memperburuk sindrom brugada.

Sindrom brugada merupakan gangguan detak jantung. Jantung Anda dapat berdetak karena dipicu oleh impuls listrik dari sel-sel khusus di ruang kanan atas (serambi kanan atas) jantung. Setiap sel menghasilkan aktivitas listrik yang memicu jantung Anda berdetak.

Pada penyakit ini, kecacatan pada sel- sel tersebut dapat mengakibatkan jantung berdetak secara tidak normal dan tanpa kendali, serta berbahaya. Kondisi ini menyebabkan jantung tidak dapat memompa dengan normal, sehingga tubuh akan kekurangan darah. Ritme abnormal yang berlangsung sesaat bisa mengakibatkan pingsan. Namun, apabila ritme jantung terus-menerus kacau, jantung bisa berhenti mendadak.

Sindrom brugada biasanya diwariskan, tetapi dapat pula disebabkan oleh kelainan struktural pada jantung yang sulit dideteksi, tidak seimbangnya zat kimia yang mengirimkan sinyal listrik pada tubuh (elektrolit), serta efek samping dari obat-obatan maupun penggunaan kokain.

Adapun faktor yang dapat meningkatkan peluang terkena penyakit ini yaitu:

  • Keluarga dengan sindrom Brugada
  • Laki-laki lebih berpeluang terkena penyakit ini
  • Penyakit ini lebih sering terjadi pada orang asia
  • Demam itu sendiri tidak menyebabkan sindrom Brugada, tetapi demam dapat mengiritasi jantung dan menstimulasi terjadinya pingsan yang dipicu oleh Brugada atau henti jantung secara mendadak, terutama pada anak – anak. 

Jika mencurigai adanya sindrom brugada, dokter akan menyarankan pemeriksaan fisik dengan tes lain, seperti:

Elektrokardiogram (EKG)

Pemeriksaan ini berfungsi untuk mencatat aktivitas listrik jantung dan mencari kemungkinan masalah dengan ritme detak jantung Anda. Alat elektroda dipasang di dada untuk mencatat sinyal listrik di jantung. Obat yang biasanya diberikan melalui infus dapat membantu mendeteksi sindrom brugada.

Studi elektrofisiologi atau electrophysiology studies (EPS)

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi sindrom brugada. Melalui pemeriksaan ini, dokter dapat melihat asal aritmia (kelainan ritme jantung) dan menentukan pengobatan yang tepat. Anda akan mendapat bius total terlebih dahulu sebelum dokter memasang selang yang lentur (kateter) melalui vena di selangkangan yang diarahkan ke jantung.

Tes genetik

Pemeriksaan ini berfungsi untuk menguji sampel darah Anda apakah Anda mempunyai gen yang dapat memicu penyakit ini.

Penanganan terhadap sindrom brugada dilakukan berdasarkan risiko aritmia (detak jantung abnormal). Individu dengan risiko tinggi terhadap sindrom brugada, memiliki:

  • Riwayat kelainan ritme jantung
  • Riwayat pingsan
  • Riwayat henti jantung

Karena kondisi ini memengaruhi ritme jantung secara abnormal, maka dokter tidak menganjurkan pemberian obat, melainkan implantasi defibrillator jantung, sebagai penanganan utama.

Apabila Anda mengalami penyakit ini, dokter akan menyarankan untuk menggunakan alat kecil bernama defibrilator jantung implant atau implantable cardiac defibrillator (ICD), yang hampir sama dengan alat pacu jantung. Alat ini dapat memantau detak jantung. Apabila terjadi gangguan pada detak jantung, maka alat ini akan memberikan kejutan listrik unuk memperbaikinya.

Selain itu, kawat yang lentur (lead) dimasukkan melalui pembuluh darah vena dekat tulang selangka dan diarahkan ke jantung. Kemudian, ujung timah akan menempel di ruang bawah. Sementara itu, ujung lainnya ditempelkan pada shock generator. Dokter menanam alat tersebut pada kulit, tepat di bawah tulang selangka. Dalam prosedur ini, Anda harus menjalani perawatan selama 1-2 hari di rumah sakit.

Obat quinidine bisa dikonsumsi untuk mengontrol detak jantung. Selain itu, diperlukan pemeriksaan rutin untuk memastikan tidak ada perubahan pengobatan yang diperlukan, sekaligus memeriksa adanya potensi masalah baru pada jantung.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko peningkatan denyut jantung, dengan menghindari pemicu berupa:

  • Demam tinggi. Jika mengalami demam diatas 38 derajat Celsius, konsumsilah pereda demam seperti parasetamol untuk menurunkan demam. Segera temui dokter jika obat tersebut tidak membantu menurunkan demam.
  • Konsumsi alkohol berlebihan. Hindari mengonsumsi terlalu banyak alkohol dalam waktu singkat.
  • Carilah pertolongan medis jika mengalami diare atau muntah yang tidak membaik, karena kondisi ini akan menyebabkan tubuh kekurangan cairan dan memperberat kerja jantung.
  • Obat-obatan tertentu. Pastikan tenaga medis mengetahui bahwa Anda mengidap sindrom Brugada, dan hindari mengonsumsi obat yang dapat memicu kondisi tersebut, kecuali disarankan oleh dokter.

 

Apabila Anda mengalami detak jantung yang tidak teratur, pingsan secara mendadak, ataupun memiliki keluarga dengan riwayat penyakit ini, segera berkonsultasi dengan dokter.

Pada saat membuat janji konsultasi, pastikan untuk menanyakan persiapan yang perlu dilakukan, termasuk apa yang mungkin tampak berhubungan dengan gejalanya. Jadi, menyiapkan daftar pertanyaan dapat membuat kunjungan Anda lebih efektif. Untuk sindrom brugada, berikut pertanyaan dasar untuk disampaikan kepada dokter.

  • Apa saja penyebab gejala yang saya alami?
  • Apa penyebab lain dari penyakit ini?
  • Pemeriksaan apa saja yang saya butuhkan?
  • Pengobatan apa yang paling sesuai untuk kondisi saya?
  • Seberat apakah aktivitas fisik yang boleh saya jalani?
  • Seberapa sering dokter harus memantau kondisi saya ini?
  • Jika saya memiliki kondisi kesehatan lainnya, apakah cara yang terbaik untuk menanganinya?
  • Apakah ada pantangan yang harus saya patuhi?
  • Apakah saya harus menemui dokter spesialis?
  • Apakah anggota keluarga saya juga harus menjalani pemeriksaan?

Dokter mungkin akan memberikan beberapa pertanyaan dan sebaiknya Anda memberikan informasi yang jelas agar dokter dapat mendiagnosis lebih baik. Berikut ini pertanyaan yang mungkin diajukan dokter:

  • Apakah ada anggota keluarga Anda mengalami penyakit sindrom Brugada?
  • Kapan Anda mengalami tanda-tanda ini?
  • Apakah gejala Anda terjadi secara terus-menerus atau hanya sesekali saja?
  • Seberapa sering Anda pingsan?

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/brugada-syndrome/symptoms-causes/syc-20370489
Diakses pada 5 Desember 2018

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/brugada-syndrome/
Diakses pada 5 Desember 2018

WebMD. https://www.webmd.com/heart-disease/atrial-fibrillation/brugada-syndrome#1-3
Diakses pada 5 Desember 2018

Artikel Terkait